Tidak semua berbagi itu indah.
...•••...
Tak perlu lama bagi Ayi untuk membuang waktunya membagikan kue yang ia bawa saat seseorang tiba-tiba masuk ke kelas. Karena tidak melakukan kesalahan, maka Ayi tidak perlu takut. Bukankah apa yang ia lakukan itu sendiri adalah kebaikan. Wajah yang muncul dengan ekspresi terkejut itu adalah Yandra.
Ayi ingin menyapa, tapi kalah cepat oleh orang itu.
"Ayla?"
Wajah yang begitu nyaman untuk dipandang terus-menerus itu, langsung membuat Ayi terkekeh. "Pagi, Yandra," sapanya. Ayi sudah ingat namanya. Mengikuti gerakan Yandra yang baru masuk itu, Ayi ikut duduk.
"Kamu hari ini piket?" tanya Yandra, ada percikan air di sekitar pelipis dan alis kirinya yang menjadi perhatian Ayi. Belum sempat ia memberikan jawaban, laki-laki itu kembali bersuara, "Ini?" Sambil memegang kue dengan bungkus transparan, wajah bingungnya sangat mudah dibaca oleh Ayi.
"Gue yang buat. Silahkan dinikmati," ungkap Ayi dengan girang, seperti melakukan hal yang sangat luar biasa. Ia tak segan untuk menyuruh Yandra untuk mencicipinya. Walaupun bentuknya sendiri tidak begitu meyakinkan, tapi orang yang baru saja datang itu masih membuka bungkus dari kue dengan warna cokelat yang ia ambil dari atas mejanya.
Benda yang di mata Ayi disebut kue itu, melesat dengan mulus melewati barisan gigi kecil Yandra.
"Manis," beritahu laki-laki yang sudah duduk itu. Rasanya sangat manis saat Yandra mengunyahnya sambil memerhatikan tawa Ayi. Untuk 'rasa' kue itu sendiri, sendiri ia tidak ingin memberitahunya, walau ekspresinya hampir menunjukkannya.
Ayi tidak mengendurkan pujian pada dirinya sendiri.
"Kan? Sudah gue duga ini memang manis. Ternyata ada juga orang yang lidahnya cocok dengan kue buatan gue. Mama bilang katanya asin. Padahal menurut gue itu juga manis."
"Apakah ini pertama kalinya kamu membuat kue?" tanya Yandra tanpa berusaha menunjukkan kebenaran dari rasa kue tersebut.
Ayi memberikan jawaban lebih dari yang diperlukan. "Benar. Loe memang benar. Ini gue buat kemarin sore, dan juga kali pertama. Tapi, nggak nyangka bahwa buatan pertama gue loe sebut manis ... oh? Bagaimana dengan bagian dalamnya. Apakah cokelatnya benar-benar leleh?"
Yandra tidak cukup yakin dengan apa yang akan ia jawab. Jadi, ia hanya menunjukkan setengah bagian kue yang belum dimakan. Pada bagian dari sisi yang tak terliat oleh Ayi, masih ada gumpalan putih yang tertimbun warna cokelat. Siapa pun pasti tahu bahwa itu adalah tepung yang tidak teraduk dengan rata.
Yandra yang menyadari gerakan Ayi yang seperti berminat pada kuenya, langsung memasukkannya sekaligus ke mulutnya. Seperti ingin menutupi kesalahan yang tak disadari oleh pihak lain.
"Kayaknya loe suka banget, ya? Sampai segitunya," tanya Ayi dengan matanya yang melebar karena perasaan senang. Lalu, kembali melanjutkan, "Kayaknya gue nggak nyesel bagiin sama yang lain juga."
Yang lain? Yandra membatin.
Merasa bahwa bukan dirinya saja yang akan memakan kue tersebut, Yandra mengamati kelasnya untuk melihat dengan gerakan canggung, kemudian berkata dengan sedikit ragu, "Apakah ...."
Akan tetapi, belum sempat laki-laki itu merampungkan apa yang ingin ia katakan, Ayi sudah menjawabnya, "Ya! Gue bagiin sama yang lain juga, tapi lo jangan salah sangka. Bukan karena kuenya banyak, tapi karena gue baik. Gimana menurut lo?"
Yandra yang awalnya hanya bisa menelan dengan susah payah, merasa harus menjawab. Namun, ia tidak tahu apa yang harus dikatakan.
"Tapi lo tenang aja, gue masih punya beberapa sisa." Ayi dengan ringan dan tanpa bersalah mengeluarkan bungkusan lain dari dalam tasnya.
"Meskipun awalnya ini mau gue kasih sama Io, tapi gue berubah pikiran pas loe bilang manis. Yah, salah Io sendiri karena dia nggak datang ke rumah gue kemarin," celutuk Ayi, tidak sedikit pun menyembunyikan wajah senangnya.
Perasaan ragu-ragu Yandra yang sebelumnya sempat ia rasakan, kini hilang saat Ayi terlihat jujur. Ia merasa bersalah karena hendak menolak. Namun, apa yang hanya ingin ia lakukan adalah agar tidak menyinggung perasaan seorang Ayla ink.
Pada akhirnya, Yandra menghabiskan lima bungkus kue yang diberikan Ayi tanpa keberatan.
"Eh, ngomong-gomong loe datang dari mana? Kok gue liat tadi kening sama rambut lo basah gitu?" Ayi bertanya sambil membuka jendela. Semenjak kehadiran orang lain bersamanya, Ayi sejenak melupakan Io.
Yandra tanpa sengaja langsung menyentuh kening dan beberapa helai rambut bagian atasnya. Jejak lembab terasa di telapak tangannya.
"Mungkin karena nggak sengaja kesiram air tadi." Ia kurang yakin dengan ucapannya sendiri. Sembari memikirkan jawabannya sendiri, Yandra merasa sedikit rasa sejuk mendarat di benaknya saat sadar bahwa ternyata Ayi memerhatikan hal yang tak ia ketahui.
Pikiran Ayi bekerja cepat. Ia tahu bahwa ternyata Yandra adalah orang yang datang sebelum dia. Namun, bukan hal tersebut yang sedang pikirkan, tapi tentang menyiram.
"Lo ngerawat tanaman?"
"Iya." Yandra mengangguk. "Aku juga udah bilang sebelumnya." Perasaannya sama keringnya dengan mulutnya saat ini. Karena Ayi melupakan percakapan mereka kemarin.
"Tapi karena kamu udah ngasih aku kue, aku bisa nunjukkin beberapa tanamanku juga. Mau liat?" Sebelum Ayi bisa mengatakan sesuatu lagi, Yandra mengajaknya ke belakang sekolah.
Karena keduanya belum terlalu dekat dan sering menyapa satu sama lain, keduanya berbincang pendek sebelum Ayi bisa melihat lahan yang cukup luas di samping lapangan basket yang berada di belakang parkiran. Ayi bisa melihat sepedanya saat Yandra mengisi air ke tempat penyiram tanaman.
"Sekarang gue ingat," ucap Ayi tiba-tiba. "Jadi ini yang lo maksud lain kali?" Ia tertawa. "Kayaknya di sini juga loe yang dikeroyok, kan?"
Yandra yakin bahwa air yang ia bawa masih berada di dalam wadah yang ia bawa. Namun, ia merasa perasaannya seperti disiram.
"Ya. Aku juga tak menyangka lain kali yang kita maksudkan itu akan datang secepat ini," ungkap Yandra. Kedua sudut bibirnya tertarik satu sama lain.
Sambil menyambung obrolan, keduanya pergi menuju tempat yang Yandra ingin tunjukkan.
"Gue baru tau ada tempat kayak gini di sekolah," komentar Ayi saat ia melihat sepetak lahan kecil yang ditumbuhi beberapa bunga dan juga tanaman lainnya.
"Tunggu. Lo juga nanam cabe?" Ayi merasa perutnya gatal saat melihat sesuatu yang paling tidak ia sukai itu. Selain itu, ia juga merasa itu adalah hal yang lucu, sehingga tawanya meluncur bebas setelahnya.
"I ... ya." Seperti yang Yandra duga, seseorang pasti akan menertawakan apa yang ia lakukan itu. Darimana pun, jelas terlihat tidak normal jika ada seseorang yang menanam cabai di sekolah.
Ia mencoba menyelamatkan dirinya sendiri. "Itu sebenarnya usulan Kakak," ungkapnya, "Kakak bilang kalau tanaman yang mudah tumbuh itu adalah cabai."
Ayi sekali lagi tertawa. Ia tidak tahu bahwa paginya akan semenarik ini. Sama menariknya saat Yandra mengatakan bahwa kuenya enak.
***
Di dalam dugaan, sesuatu terjadi saat Ayi dan Yandra memasuki kelas. Mereka dikagetkan dengan riuh komentar teman sekelas. Kue yang Ayi bagikan menjadi bahan bakar obrolan oleh yang lainnya.
Beberapa terlihat bingung.
"Sama. Gue juga gak tau siapa yang ngelakuin ini."
Beberapa terlihat tidak suka.
"Nyesel. Nyesel. Gue nyesel makan sembarangan," sesalnya. Hampir mengeluarkan kue yang sudah ia kunyah.
Beberapa terlihat prihatin.
"Meskipun yang ngasih ini udah berniat baik, tapi tetap aja nggak enak." Ucapannya sama selarasnya dengan wajah mengeluhnya.
Yandra dan Ayi baru saja masuk saat jam kelas sudah mulai sibuk. Yandra yang mendengar semua keluh-kesah semua orang, ingin menjelaskan. Namun, ia dengan cepat berpikir bahwa ia tidak yakin dengan apa yang ada dalam pikirannya. Terlebih, kata-katanya langsung tersangkut di tenggorokannya saat ada yang membuang kue Ayi.
Yandra melirik pada Ayi, ingin melihat bagaimana ekspresi gadis itu. Akan tetapi, Ayi sudah tidak ada di tempatnya semula. Yandra mencarinya dan menemukannya di luar.
"Lo yakin, Arta? Tapi gue liat memang dia belum datang." Ayi terlihat berbicara dengan seseorang melalui teleponnya.
Karena Ayi terlihat sedkit serius dari biasanya, maka Yandra kemudian menjauh. Tidak ingin mengganggunya atau dianggap menguping.
Keributan kecil pagi itu berakhir cepat saat bel berbunyi. Ayi tidak mengatakan apa pun saat ia kembali masuk. Namun, Yandra yang duduk di depannya bisa merasakan bahwa gadis itu gelisah sepanjang waktu. Hingga akhirnya ia langsung pergi saat jam istirahat tiba.
Sebelum benar-benar keluar dari kelas, Ayi sudah hampir memanggil Io. Namun, saat ia sadar bahwa sahabatnya itu tidak masuk hari ini, maka ia langsung pergi begitu saja, bahkan tidak menyadari bahwa Yandra sedang mengikutinya.
"Kamu mau ke mana?" Yandra merasa sedikit bersalah karena mengikuti Ayi sampai ke tempat parkir. Ia menocba bertanya sewajarnya tanpa menunjukkan niat ingin ikut campurnya, walaupun sebenarnya ia memang tidak berniat ikut campur.
"Lo mau ikut nggak?" ajak Ayi. Pada Yandra yang berdiri dengan tegak lurus di samping tiang. Ayi bisa melihat sosoknya dengan jelas saat memikirkan ke mana ia ingin pergi. Telepon sebelumnya adalah dari Arta. Ayi bertanya pada adik tiri Io itu kenapa temannya itu tidak datang juga. Karena tahu di mana Io akan berada, maka Ayi akan langsung pergi menemuinya
Ia menoleh pada Yandra yang masih terlihat ragu. Tanpa permisi, ia menyeret laki-laki itu. Rasanya aneh jika ia tidak melibatkan orang lain, terutama saat melihat wajah ragu-ragu Yandra.
"Tapi ...." Yandra berusaha untuk sebuah alasan. Meski jauh di benaknya ia sebenarnya memang ingin pergi.
"Tunggu apa lagi? Ayo buruan," perintah Ayi saat menuju tempat parkir, lalu mengayuh sepedanya menuju ke tempat di mana Io berada saat ini, dengan Yandra yang duduk di boncengan belakang.
Ayi hanya tersenyum, ia tidak ragu sedikit pun dengan apa yang akan ia lakukan kali ini, karena Io pasti akan ada di tempat itu. Io yang masih memiliki hidupnya.
Karena tindakan itu sangat buru-buru bagi Yandra, maka ia tak sengaja memanggil, "Ayi."
To be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments