Just 5

Jangan lakukan hal yang sama, jika aku tak sengaja melupakanmu.

...•••...

Ada beberapa kenangan yang dengan sengaja dilupakan oleh orang-orang. Baik itu kejadian yang buruk maupun yang menyenangkan. Semua itu mereka lakukan karena memiliki pilihan. Namun, hidup yang kita jalani bukanlah pilihan yang seperti itu.

Begitu pun dengan Ayi yang tak ingin mencoba melupakan.

Masih hari itu, setelah sarapan di kantin sekolah. Dua orang yang sempat bertengkar kecil itu kembali ke kelas bersama, mungkin untuk kali ini dan juga kali berikutnya. Kedekatan yang begitu disayangkan dan juga dienyahkan. Begitu banyak pihak yang mendukung mereka untuk pacaran, tapi Io dan Ayi tertawa saja. Tidak memedulikannya, hubungan mereka sekarang saja sudah cukup. Lagipula, salah satu dari mereka sudah menjalin hubungan.

Orang-orang hanya bisa menilai dan berpendapat saja. Sangat sedikit dari mereka yang benar-benar ikut merasakan.

Io melirik Ayi.

“Yi,” panggilnya dari sudut belakang kelas, setelah mengobrol dengan temannya. Ayi yang tadinya terlihat membaca sesuatu, menoleh saat lelaki itu sudah berjalan mendekat. Io tiba-tiba teringat sesuatu yang sebelumnya sempat ia rencanakan.

“Yang duduk di sini tadi siapa? Cewek apa cowok?” tanya Io, sudah berdiri dengan berkacak pinggang.

Setelah mengingat, wajah Ayi bertambah cerah. “Oh itu, yang duduk di depan gue tadi cowok, manis lagi,” sahut Ayi tak tepat sasaran, juga bukan jawaban dari pertanyaan yang Io tanyakan. Io hampir saja melupakan dengan siapa ia sedang berbicara.

Untuk meminimalisir rasa kesal yang nantinya akan pecah karena bendungan sabar yang ia bangun tidak memadai, Io mengatur napas.

“Yi, gue nanya yang duduk di sini, bukan di situ.” Lagi-lagi Io dibuat kesal. Sepertinya Ayi benar-benar bertingkah hari ini.

Amarah kecil itu tidak ia hiraukan. “Ambilin headset dulu, baru gue kasih tahu. Lo, ‘kan tadi janji mau minjamin gue,” pungkas Ayi, teringat janji Io.

Selain dibuat, janji itu juga harus ditagih. Itulah yang diberlakukan seorang Ayi sekarang. Namun, berbeda dengan Io yang diam-diam membuat hukum baru, janji dibuat untuk dilanggar. Hukum yang hanya ia berlakukan khusus untuk seorang Ayla Ink.

Tentunya masih dengan sedikit bercanda yang tanpa melibatkan perasaan dan hati.

Io hanya bisa pasrah. Apa yang ia pikirkan sebelumnya tidak berminat lagi untuk ia lakukan. “Oke,” sahutnya singkat, kemudian kembali ke mejanya untuk mengambil headset. Barang yang tidak terlalu wajib untuk selalu ia bawa, tetapi akan terasa aneh jika benda tersebut tidak ada saat bersama Ayi.

Sepeninggal Io, Ayi melirik pada surat yang sempat ia ambil dari rumah Io. Tidak ada nama dari pengirim. Untuk sebuah surat, itu terlalu tebal, dan setiap halaman dipenuhi oleh tulisan yang padat. Ayi yang hanya membaca sekilas, memilih untuk menyimpannya untuk dibaca nanti sebelum ia berikan pada Io.

Temannya itu memang pergi untuk menepati janji yang ia buat sebelumnya. Saat membuka tasnya, di sana, terlihat sebuah buku yang sangat ia rahasiakan. Buku yang hanya Io sendiri tahu apa isi di dalamnya. Buku yang suatu hari nanti akan dibaca oleh seseorang lain yang akan mengubah tatanan takdir. Sebuah diary.

“Cewek, Yo. Yang duduk di situ cewek, kenapa? Lo naksir sama dia?” sosor Ayi, seraya meraih headset dari tangan Io saat ia sudah kembali. Ayi kemudian memutar lagu kesukaannya. Speak Now-lah yang kali ini menjadi pilihannya. Ayi masih belum hafal dengan lirik lagu tersebut. Saat satu lagu baru rilis, yang ia cari adalah alur dan ceritanya pada liriknya.

Cara menikmati sesuatu setiap orang itu pasti berbeda.

Io mendudukkan dirinya di depan wanita yang bergumam tak jelas saat melafalkan lagu yang ia dengar. Ayi mengangguk-angguk, menikmati musik dari headsetnya. Sang sahabat hanya memerhatikan keadaan kelas dengan sesekali mengajak Ayi bicara, walau tak semuanya direspon. Hingga ... masuklah si pemilik kursi yang saat ini didudukinya. Laki-laki yang baru datang itu merasa canggung saat ingin menegur Io. Lagipula, mereka juga belum berkenalan.

Ia adalah Yandra.

Yandra sudah mengenal Io sedikit lebih banyak. Meskipun saat kelas satu dulu mereka tidak pernah satu kelas, tapi Yandra menyukai jenis hubungan yang Io jalani bersama Ayi. Ia memang mengenal dua orang itu, tapi tidak sebaliknya.

Baginya, hubungan yang tak melibatkan sebuah ikatan itu adalah hal yang sangat keren dan mengandung makna yang tak terhingga. Ikatan yang ia maksud di sini adalah seperti pacaran. Yandra tidak mengerti dengan orang-orang yang dengan gampang membuat sebuah ikatan karena memiliki rasa yang sama–cinta, lalu dengan gampang pula mengakhiri ikatan itu dengan rasa yang sama pula– benci.

Jeblosan dari dua orang yang mulai saling mengikat diri dengan sebuah hubungan itu tak jarang akan memiliki akhir yang lebih banyak buruknya.

Yandra mendekat.

"Maaf,” gumamnya. Menyapa lebih dulu setelah sekilas melirik Ayi.

Io yang merasa diajak berbicara mendongak untuk melihat orang yang menyapanya. Wajah yang sedikit asing dan samar itu seperti pernah ia lihat sebelumnya.

“Iya. Gue maafin, kok,” sahut Io, ia berniat bercanda. Penilaiannya pada laki-laki setengah asing itu tidak terlalu buruk. Wajah yang tak banyak menyampaikan ekspresi itu membuatnya merasa sedikit berpikir.

“Maksudku bukan gitu,” tutur Yandra yang tak ingin memperpanjang penjelasan. “Aku cuman mau ngambil buku di situ,” tambahnya lagi, seraya menunjuk tas miliknya yang ada di bawah laci meja dan terhalang oleh Io. Yandra mengira jika Io sudah tahu bahwa ia adalah orang yang duduk di kursi itu dan ingin menyuruhnya menjauh dari sana dengan cara itu.

Ada sedikit keterkejutan dari ekspresi Io. “Eh, sorry. Kursi lo, ya?” Io yang menyadarinya, menyingkir dari sana, memberi akses pada Yandra untuk lewat. Ayi masih sibuk dengan lagunya. Ia hanya tersenyum kecil melihat interaksi dua orang laki-laki di depannya.

“Nggak pa-pa, aku maafin,” balas Yandra, sama persis seperti yang Io ucapkan barusan. Hal itu membuat Io terkekeh. Ternyata benar apa yang ia pikirkan tentang orang setengah asing itu. Ada hal lain yang unik, tapi tak seperti Ayi. Atau mungkin seperti Ayi?

“Ternyata kita satu kelas. Kenalin, gue Helio. Panggil aja Io,” ujar Io, menyodorkan tangannya lebih dulu untuk mengajak Yandra berkenalan. Ia masih merasa sedikit familiar dengan wajah lelaki tersebut.

“Yandra,” ucap Yandra, membalas jabatan tangan laki-laki yang sama tinggi dengannya. Io merasa pernah mendengar nama tersebut. Ah, sepertinya dia ingat, Yandra itu lima besar di sekolahnya, ‘kan? Salah satu murid terpintar. Ia tiba-tiba merasa sedikit bersalah dan kasihan karena Ayi yang duduk di belakangnya.

Mereka sama-sama tersenyum dengan Io yang berpindah duduk di bangku yang sama dengan Ayi. Ia menggeser sahabatnya yang masih asyik dengan pendengarannya. Gadis itu sempat protes, tapi Io kembali berdiri saat seorang yang masuk dan duduk di kursi yang sempat ia tanyakan tadi.

“Lo yang duduk di sini?” tanya Io pada perempuan yang sudah duduk itu, kemudian melirik name tag-nya.

Saras.

Saras menatap Io dengan mata yang tak bisa berkedip. Takjub dan juga senang.

“I-iya,” jawabnya, langsung terbata. Wajahnya sedikit tersipu saat mendapati orang yang ia sukai itu mengajaknya bicara. Ia melirik Ayi yang manggut-manggut di belakang laki-laki pujaan hatinya dan mulai merengut.

“Tukeran sama gue,” tegas Io, tanpa basa-basi. Lebih cepat lebih baik.

Gadis itu kaget. “Hah?” Saras terlihat bingung dengan apa yang Io ucapkan.

“Tukeran tempat duduk sama gue, loe duduk di tempat gue, gue duduk di sini,” ulang Io lagi.

“Bu—“

“Lo minta apa aja, gue kasih,” tawar Io, berharap agar Saras tak menolak permintaannya. Ia tak ingin duduk sendirian di belakang sana, lebih tepatnya tanpa Ayi. Ia pasti akan kesulitan saat belajar nanti, tidak ada yang bisa ia contek jika berjauhan seperti sekarang. Padahal Ayi juga sama sepertinya. Mereka bahkan tidak masuk sepuluh besar. Ayi dan Io itu sama-sama ....

Saras terlihat senang mendengar permintaan Io, layaknya para gadis yang sedang dimintai tolong oleh seorang yang disukai, rasanya sangat membahagiakan. Ia tak bisa menolak.

Yandra diam-diam memerhatikan Ayi saat Io sibuk dengan Saras. Ia beralasan membaca bukunya yang tak ia baca sama sekali. Ingin menyapanya dan menanyakan suatu hal.

“Selama masih wajar, sih,” tambah Io lagi. Ia tidak ingin perempuan itu meminta hal yang aneh saat melihat wajah sumringah yang ditunjukkan Saras. Cukup satu saja orang yang mencintainya

“Oke,” putus Saras cepat. Ia terlihat tak berpikir sebelum berucap. “Nomor telepon lo. Gue cuman mau nomor telepon lo, Yo” ungkap Saras, memberitahu permintaannya dengan memanggil nama akrabnya. Kapan lagi ia bisa mendapatkan nomor telepon Io jika tidak sekarang.

Io sudah menduganya. “Oke, sini hp lo,” serunya, menengadahkan tangannya. Perempuan itu memberi teleponnya dengan senyum yang lebar. Setelah menyimpan nomor teleponnya, Io mengembalikan lagi pada si pemilik. Kesepakatan sudah disetujui. Saras mengambil tasnya dan berjalan menuju tempat duduk Io.

Dulu, ia tak tahu jika ada seorang Helio di sekolahnya. Hingga tanpa sengaja ia melihat Ayi yang menjahili salah satu temannya dan membuat Saras mengenal Io. Hanya beberapa hari berada di kelas yang sama, ia sudah berencana mendekati Io. Untuk itulah, Saras sangat bersyukur saat tahu bahwa laki-laki yang disukainya itu berada di kelas yang sama dengannya.

“Ciee.” Ayi tiba-tiba bersuara. Ia memperhatikan Io dari saat Saras memberikan teleponnya tadi. “Bentar lagi dapat pajak selingkuhan nih, makan besaaarrr,” kelakar Ayi dengan senyum mengejek.

Io menghela napas berat. “Gue cuman mau tukeran tempat duduk doang. Lagian, siapa juga sih yang mau pacaran. Sheila mau gue ke manain?” ujar Io, menggubris ledekan Ayi. Ia ingin mengambil tas miliknya, tapi Saras sudah mengambilkannya. Ia berpikir untuk menjauhi perempuan itu mulai sekarang. Ada aura tak mengenakkan yang bisa ia cium.

“Cieee,” ledek Ayi lagi. Sahabatnya itu hanya diam, tak ingin menyahut. Ia kini sudah duduk di kursinya.

Karena tidak dibalas, Ayi tak menyerah. Ayi bersuara lagi, masih saja berusaha meledek sang sahabat.

Yandra, entah kenapa sedikit tersenyum.

Io menarik napas jengah, kemudian mengembuskannya perlahan. Ditatapnya wajah Ayi yang terkekeh itu hingga ….

"Cieee,” sahut Io, ikut membalas. Wajahnya tersenyum lebar. Sama seperti Ayi.

“Cieee,” sahut Ayi lagi. Kelas mereka dipenuhi oleh suara dua sahabat itu. Saras yang berada di belakang sudah senyum saat menatap layar teleponnya.

“Cieee,” balas Io, tak mau kalah. Mereka saling ejek.

“Cieee,” cerca Ayi, lebih nyaring lagi dan makin menikmati ejekan masing-masing.

“Itu yang cie cie! Mau belajar di luar apa di dalam?” Sebuah suara terdengar menginterupsi mereka berdua. Seorang guru sudah duduk di kursinya, menatap tajam ke arah Ayi dan juga Io.

Mereka langsung terdiam dan tertunduk. “Maaf, Pak,” ucapnya bersamaan.

Yandra yang memerhatikan dalam diam hanya tersenyum, sembari membuka bukunya.

Pada gadis yang ada di belakangnya, ia merasa ... suka.

To be Continued

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!