Something-kah jika aku mensesuatukanmu?
...•••...
Kekuatan kebetulan itu sangat besar. Bahkan, ia akan bisa mengalahkan hal yang disebut kemustahilan.
Dari banyaknya surat yang Ayi kirim, salah satunya melewati batas dimensi ruang dan waktu. Dari situlah keajaiban itu dimulai.
“Kenapa yang ini tidak ada perangkonya?” gumam laki-laki setelah memeriksa isi dalam tasnya lagi. Ia memastikan bahwa semua barang yang dikirim untuk hari ini, sampai pada tempatnya. Namun, saat menemukan sebuah surat yang sedikit lusuh, membuatnya bingung. Ia awalnya berencana untuk kembali ke tempatnya bekerja dan menanyakan hal tersebut pada temannya yang lain.
Apapun barangnya, sampaikan ke tempat tujuan.
Lagi-lagi kode etik dari tempat bekerjanya itu membuatnya mau tidak mau kembali mengambil surat yang ia simpan tadi. Dari alamat yang ia baca, sepertinya itu tempat yang lumayan jauh. Padahal, ini bukanlah area untuk pengiriman barang hari ini.
Bukan keadaan yang menuntutnya, tapi pekerjaan.
Ia mengarahkan kendaraannya untuk menuju tempat yang tertulis di surat tersebut.
***
Ayi mengayuh sepedanya dengan terburu-buru. Putaran kakinya pada pedal semakin cepat.
Pagi ini, ia sedang menuju ke rumah Io untuk mengajaknya pergi ke sekolah. Meskipun ia sadar akan terlambat, tapi Ayi tidak tahu kenapa sahabatnya itu tidak membangunkannya atau menjemputnya pagi ini.
Sesampainya di luar pagar rumah Io, Ayi berteriak, “Io!” Mengarahkan panggilannya ke arah jendela yang ada di bagian samping rumah tersebut.
Jika ia memanggilnya tiga kali dan tidak ada sahutan, maka itu berarti Io memang tidak ada di rumah.
Ayi kembali ke pintu depan dan melirik pada bel pintu. Sebelum pintu tersebut dibuka, Ayi melirik pada surat yang menyembul keluar dari kotak surat. Ia melihat sekilas bahwa ada sebuah surat yang ditunjukkan untuk Io.
Seorang wanita mudah menampakkan wajahnya saat pintu terbuka. Itu adalah ibu tiri Io.
“Ayla?” sapanya. Ayi balas tersenyum.
“Apakah Helio tidak memberitahumu bahwa ia mengantar Arta sekolah?” beritahu wanita itu lagi.
“Tidak ada, Tante,” balas Ayi kembali tersenyum. Kali ini senyum itu ia samarkan dengan rasa kesal.
***
Bel tanda istirahat tiba. Io beralih mendekat ke bangku Ayi. Sudah sedari tadi ia ingin mengatakan hal-hal yang tidak penting selama jam pelajaran yang lalu. Saat sampai di depan Ayi, yang Io dapati bahwa gadis itu terlihat sibuk mengobrak-abrik isi tasnya, seperti mencari sesuatu.
Namun, Io tak mempermasalahkannya, ada hal yang ingin ia sampaikan terlebih dahulu. Bukan untuk mengetahui, tapi hanya ingin memastikan apakah dugaannya benar atau tidak.
“Kenapa loe telat, Yi?” tanya Io, ketika sudah duduk di kursi yang ada di sebelah sahabatnya itu. Wajahnya tersenyum dan terlihat ceria, masih seperti Io biasanya.
Ayi sama sekali tak terpengaruh dengan kehadiran Io di yang tiba-tiba “Gara-gara loe yang nggak bilang kalau hari ini ngantar Arta, makanya gue telat.” Alasan Ayi terlambat adalah ia yang ke rumah Io.
“Gua udah bilang dari kemarin, Ayi.” Io mengatakan bahwa itu bukanlah kesalahannya.
Ayi pun terlihat seperti tidak ingin membahasnya karena ia baru memeriksa teleponnya dan ada pesan dari Io yang belum sempat ia baca. Jadi, ia mengalihkan pembahasan tentang alarm. “Gue juga nggak tahu, padahal alarm udah bunyi tadi pagi,” tukas Ayi, sembari mengacak-acak tasnya, masih mencari sesuatu. Tangannya tanpa sengaja menyentuh sebuah surat.
“Terus, kalau alarm loe udah bunyi, kenapa masih telat?” tanya Io lagi. Salah satu kebiasaan Ayi yang ia tahu adalah dibangunkan alarm—pemberian Io saat ulang tahun Ayi yang ke-15—setiap pagi. Sahabatnya itu masih tak terbiasa bangun pagi. Ia bisa saja melakukan hal itu jika tidak tidur larut untuk menghafal lirik dari lagu kesukaannya. Sebut saja ia seorang fanatik.
Ayi berhenti, seolah baru saja menganggap kehadiran Io. Ia mendongak. “Hehe.” Lalu menunjukkan muka cengengesan. Ia tersenyum dengan menampakkan deretan giginya. Wajah baby face miliknya yang tak jemu untuk dipandang, tak menimbulkan ekspresi apa pun dalam hal ketertarikan bagi seorang Helio. Sama sekali tidak menggetarkan hati dan perasaan. Mungkin akan berbeda hal jika seorang laki-laki lain yang sudah memperhatikannya berada di posisi Io saat ini.
Mata Io yang menatap Ayi, sedikit memicing. Apa yang ia duga sepertinya tidak salah. “Jangan bilang kalau alarm itu fungsinya cuman dimatiin pas bunyi, sejak kapan emang alarm beralih fungsi?” cibir Io, mulai membuka sesi ceramahnya. Gadis itu selalu saja begitu.
Io memang khawatir, tapi apa yang ia khawatirkan bukanlah Ayi yang telat. Ia hanya sedikit takut jika tidak satu kelas dengan sahabat kecilnya itu. Rasanya ada yang kurang saja. Tidak ada teman untuk berbuat rusuh atau mungkin bolos. Io tidak suka jika dihukum sendirian. Pikiran itu ia tanamkan saat SD dulu ketika ia dihukum karena tidak mengerjakan PR. Lalu, Ayi datang dan ikut berdiri di depan kelas bersamanya. Rasanya seperti baru kemarin.
Wajah seorang gadis kecil yang sedang Io ingat itu tiba-tiba muncul di depannya dalam versi dewasa. Masih oval dan dipenuhi senyuman jahil. Namun, ada yang sedikit aneh dengan matanya hari ini. Karena tidak terlalu memerhatikan, Io jadi tidak menyadarinya.
“Sok tau, loe!” kelit Ayi, tak terima tuduhan sepihak dari sahabatnya itu. Padahal memang benar adanya. Sifat keras kepala dan tak mau kalahnya mulai muncul.
“Terus, kenapa telat?” Io bertanya lagi, ia masih belum puas dengan jawaban yang diberikan Ayi. “Heh, pasti ... begadang,” tebaknya asal, tapi tepat sasaran. Kebiasaan Ayi apalagi yang tidak diketahui oleh Io? Memangnya ada? Hanya Ayi saja yang tak mau mengerti karena ia tak tahu.
“Hehe. Ketahuan, ya?” Ayi nyengir, tebakan Io kali ini tidak meleset. Hal itu bisa terlihat jelas dari ekspresi dan gelagat yang ditunjukkannya. Lingkaran hitam ia lihat kemarin, kini semakin bertambah pekat dan muncul di bawah mata bulatnya. Meskipun begitu, tapi tidak merubah kesan manis pada wajah gadis itu.
“Gue kenal loe dari berudu,” ujar Io mengejek, ia membuka layar teleponnya untuk mengecek tanggal.
Ayi seperti memikirkan sesuatu setelah mendengar ungkapan dari laki-laki di depannya. “Kalau gue, kenal Taylor Swift juga dari berudu,” sahut Ayi, riang dan terdengar membanggakan nama itu. “Eh, dari embrio,” ralatnya dengan cengiran. Ia sangat menyukai perempuan yang tak pernah ia temui tersebut.
Taylor Swift. Ayi sangat menyukai penyanyi tersebut beserta lagu yang ia nyanyikan. Seperti tiada hari tanpa membahas dia. Menjadi seorang Helio mungkin akan sangat membosankan untuk mendengarkan bagaimana Ayi saat membahasnya. Ya, mungkin saja. Tidak ada yang tahu karena Io hanya mendengarkan, lalu kemudian mencibirnya jika ia mau.
“Ngapain, sih?” tanya Io, merasa risih. Ia tidak peduli dengan jawaban tak penting Ayi tadi.
“Gue gadang karena lagi ngapalin li–“
“Lirik lagu Taylor Swift,” potong Io cepat, sebelum Ayi bersuara lebih lanjut. Seseorang yang duduk di depan meja Ayi sontak menoleh ke samping, merasa seperti terpanggil. Namun, yang ia dapati hanya Ayi dan Io yang sedang mengobrol. Terlihat akrab sampai membuatnya ingin terlibat.
“Iya, bener banget! Tiga hari yang lalu itu single barunya rilis di album yang gue bilang kemarin dan gue suka banget. Gue juga baru taunya kemaren, Yo. Nyesek nggak kalau loe jadi gue? Nyesek, ‘kan? Gue udah tahu kok, jadi nggak usah jawab,” cerca Ayi, menggebu dan lengkap dengan panjang lebarnya. Ia selalu bersemangat jika membahas yang apa yang ia suka.
Laki-laki tadi menoleh lagi, kali ini ia yakin dengan yang ia dengar. Ingin menyahut, tapi masih belum berani. Terlalu kaku jika ia langsung mengajak bicara orang yang baru saja dikenalnya. Mungkin ia akan dicap ‘sok akrab’ oleh mereka.
Kembali pada dua orang yang masih berada di belakangnya, Io hanya bereaksi biasa saat mendengar celotehan sahabatnya. Salut dengan Ayi yang tak pernah bosan membahas artis kesukaannya itu. Ia juga tidak merasa aneh lagi. Entah sejak kapan Ayi menyukai lagu-lagu bertema mantan itu. Untung saja Io tak pernah merasa terganggu dengan apa yang sahabatnya sukai. Apa yang Ayi lakukan tak pernah menjadi beban baginya. Hanya memperbanyak maklum saja yang bisa ia lakukan.
“Yaudah. Makan yok, gue udah lapar, nih. Tadi pagi nggak sempet sarapan soalnya,” ajak Io pada Ayi yang kini sudah mengeluarkan semua isi tasnya di atas meja. Ia masih belum menemukan apa yang ia cari sedari tadi.
“Headset gue ketinggalan, Yo. Gimana dong? Asupan telinga gue hari ini nggak ada,” resah Ayi yang baru menyadari jika benda yang ia cari dari tadi tidak ditemukan.
“Kita makan dulu, ntar pake punya gue aja,” ujar Io, sudah tak bisa menahan rasa laparnya. Perutnya juga sudah pedih. Celotehan Ayi tak akan membuatnya kenyang dengan cara seajaib mungkin.
“Iya deh, iya.” Ayi akhirnya menyetujui dan berangsur lebih dulu di depan Io. Ini yang ngajak dan diajak sebenarnya siapa, sih?
Laki-laki yang menoleh tadi seperti menyadari sesuatu.
“Akhirnya,” gumamnya pelan dan tersenyum tipis. Ia terus memerhatikan Ayi yang menuju pintu keluar dengan Io yang terlihat sesekali menjahilinya. Meniup rambut Ayi dan dibalas hantaman keras pada kepalanya.
Seseorang yang ternyata Yandra itu, akhirnya menemukan seseorang yang mempunyai mata yang nyaman untuk dipandang.
Di sisi lain di lain waktu, tepat di kantin sekolah, Ayi dan Io sudah siap memesan makanannya. Ia masih berdiri tak jauh dari sederet makanan, bukan bingung untuk memilih menunya, tapi ....
“Oke, kali ini apa tantangannya?” tanya Io pada Ayi yang terlihat masih berpikir. Rambut sepunggungnya terlihat tergerai. Io masih menunggu.
“Oke, yang bisa nebak gender orang yang lewat dari pintu kantin dia yang menang,” usul Ayi, menjentikkan jarinya.
“Oke, deal.” Io setuju tanpa banyak bantahan, lalu bersalaman tanda bahwa mereka sepakat.
“Pasti cewek,” seru Io lebih dulu. Dalam tantangan kali ini, ia sedikit tak peduli karena rasa lapar sudah merajai pikirannya.
“Yahh, otomatis gue milih cowok, dong. Ini sih, namanya sisa dari pilihan loe, Yo!” dengus Ayi, merasa kesal dan tak terima. “Tapi, kesempatan gue menang masih lima puluh persen, loh,” timpalnya, menyemangati diri sendiri. Mood-nya berubah-ubah dengan tidak jelas.
“Terserah, sih,” sahut Io, tak menghiraukan dan mulai memindai makanan apa yang ingin ia pesan.
“Yaudah. Gue hitung sampai tiga, baru dimulai ya,” ujar Ayi, kemudian menghitung.
Mereka masih berdiri di sana dan menunggu, menatap pintu masuk dengan tak sabar. Ayi sudah menghitung beberapa saat yang lalu hingga seseorang akhirnya melewati pintu masuk kantin. Dari sekian banyak yang lewat, hanya dia orang yang muncul. Orang sama yang tadi pagi mengajak Ayi berkenalan.
Percayalah, kebetulan itu adalah bagian dari takdir.
“Yeaayy!!” Ayi bersorak sangat keras. Suaranya membuat orang-orang di sekitar refleks menatap mereka berdua, termasuk orang yang baru masuk tadi, Yandra.
“Inilah kemenangan pihak yang terdzalimi,” girangnya, penuh semangat lalu memesan makanan sesukanya. Makanan yang tidak mengandung rasa pedas.
Selain tidak suka rasa sakit, Ayi juga tidak suka rasa pedas.
“Kapan gue nge-dzalimin loe?” tanya Io, merasa sangat tersindir, tapi tidak memasukkan perasaan dan hati di dalamnya. Kemudian, juga ikut memesan makanan. Tidak perlu menunggu lama, mereka sudah mendapatkan makanannya.
“Kapan juga gue bilang itu elo?” Ayi balik bertanya kemudian menelusuri area kantin untuk mencari meja kosong. Io mengira pembahasan mereka sudah berakhir.
“Itu pencitraan Ay, pencitraan,” seru Io, gemas. Ia harus memiliki pasokan sabar ketika berdebat dengan seorang Ayi. Setumpuk maklum saja tidak cukup.
“Gue nggak make pencitraan tadi,” ujar Ayi, tanpa merasa bersalah. Ia memilih duduk di meja panjang di sudut kantin, bersama Io tentunya.
“Gue, Yi. Gue yang make pencitraan, bukan loe! Secara nggak langsung loe ngatain gue!” Io hampir meledak kali ini. Ayi seolah bertingkah. Ia sedikit tidak terima dengan kemenangan Ayi kali ini.
“Nggak kok. Gue nggak bilang gitu ke loe. Gue cuman terdzalimi oleh keadaan. Lagian, loe sensi banget hari ini, Yo,” pungkas Ayi, merasa ada yang salah. Io diam, memilih untuk tidak meladeni Ayi dan duduk berseberangan dengan sahabatnya itu. Seorang yang baginya hampir segalanya, segalanya dalam tiap waktu ketika bersama.
“Yaudah, kali ini loe yang menang,” ungkap Io, memilih mengalah. Ia menerima kekalahannya dan juga mentraktir Ayi makan.
Begitulah yang sering mereka lakukan saat ingin makan. Memberi dan menjalankan sebuah tantangan. Di mana, pihak yang kalah akan membayar semua makanan dari pihak pemenang. Io selalu kalah melawan Ayi. Apakah anugerah keberuntungan yang ia terima sejak lahir hanya setipis itu? Atau jangan-jangan Ayi yang mengambilnya.
Mereka kini menikmati makanan masing-masing sambil mengobrol ringan. Mulai dari membahas hal lucu hingga serius. Dua sahabat itu jarang sekali membahas tentang percintaan, karena sangat tidak cocok untuk Ayi dan Io. Mereka memang tak ingin, karena itu bukanlah ranah yang menyenangkan.
To be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments