Kita adalah kebetulan-kebetulan yang disengaja tuhan.
...•••...
Jika mereka akhirnya berpisah, maka sebelumnya mereka pernah bertemu. Atau, jika bertemu, maka nanti akhirnya mereka pasti akan berpisah. Itulah hukum timbal balik.
Beberapa orang membenci perpisahan, tapi tidak bagi Ayi yang membenci melupakan. Karena baginya, perpisahan yang sebenarnya adalah saat ia dilupakan oleh orang-orang di sekitarnya, atau saat ia hilang dalam ingatan seseorang.
Selain dirimu yang hilang dari dunia orang-orang, semua tentangmu juga akan hilang dalam kenangan dan ingatan mereka. Sungguh menyedihkan. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengasihani diri sendiri.
Ayi tidak merasa terbebani saat mengingat banyak kenangan. Selama itu adalah dari seseorang yang berharga. Jika tidak sanggup melupakan, maka ia hanya harus mengingatnya saja atau membiarkan.
Sedangkan Yandra, selama orang yang dicintainya tidak terpuruk oleh keadaan dan perasaanya sendiri, ia akan bisa bernapas lega. Selega ia mencintai gadisnya itu. Baginya, cinta dan rasa kasihan itu berbeda, meskipun sama-sama sebuah perasaan.
Yandra menepikan mobilnya saat sampai di sebuah toko bunga. Dari jauh, sudah terlihat deretan pot yang berjejer di depan banyak tanaman yang merambati sebuah bangunan alih-alih tiang yang sengaja dibuat untuk beberapa bunga yang akan dijual. Beberapa warna merah terlihat mencolok. Si kecil Jia bahkan terlihat girang saat memasuki toko yang terasa menyegarkan itu. Bau manis juga menguar saat mereka melewati petak bunga mawar yang memiliki warna di tiap jenisnya.
Setiap langkah yang Ayi ambil, membuatnya semakin dekat dengan sosok itu.
"Kamu udah kirim surat untuk hari ini?" tanya Yandra sedikit tiba-tiba. Setelah ia memberikan diary milik Io pada Ayi, gadisnya tersebut terus mengirim surat pada Io, atau lebih tepatnya ke alamat rumah Io yang kini sudah tidak berpenghuni. Keluarga dari sahabatnya itu pun sudah pindah dan membiarkan rumah lamanya tetap kosong. Pada tahun pertama, Ayi hanya menuliskan bagaimana perasaanya ketika sahabatnya itu telah tiada. Namun, dalam dua tahun terakhir-delapan tahun lebih kematian Io, Ayi berpikir bagaimana jika salah satu suratnya terkirim untuk Io di masa lalu.
Sambil tertawa, Ayi mengatakan iya pada Yandra, tapi suaminya itu tidak mengatakan apa pun. Lalu sejak itulah, Ayi mencoba memberitahu Io di masa lalu tentang apa yang akan terjadi padanya.
"Makasih udah ngingetin, tapi aku sudah ngirim tadi pagi sebelum kita berangkat." Ayi menjawab ringan.
Yandra terkekeh getir. Ia tahu apa yang Ayi lakukan semenjak ia memberikan diary milik Io. Ayi terus mengirim surat, berharap agar Io membacanya.
"Ta ya. Mam mam." Suara kecil Jia berseru ria. Hanya dua kata itu saja yang bisa ia ucapkan. Ta ya yang berarti ayah dan mam mam yang berarti mama. Anak kecil yang belum tahu apa pun tentang dunia, bahkan dirinya sendiri.
"Kita beliin bunga buat sahabat Papa dulu ya, Jia boleh pilih," ujar Yandra pada anaknya. Si kecil makin tertawa senang saat diperlihatkan beberapa macam bunga. Ia juga beberapa kali menggeleng saat diperlihatkan bunga yang tak disukai. Ia sudah bisa membedakan satu hal. Akan tetapi, Ayi dan Yandra sudah tahu jenis bunga apa yang akan mereka beli.
"Nggak papa, 'kan, Bee?" tuturnya pada sang istri yang berdiri tak jauh dari mereka. Ayi yang berwajah ceria seperti biasnya, mengangguk dan tersenyum.
"He em. Nggak pa-pa kok, ini 'kan udah tahun kesepuluh, kita udah sembilan kali, loh. Kali ini biarin Jia yang milihin bunga buat ...." Suaranya yang terdengar riang dan ringan, kini terasa berat saat ia mengucapkan nama, " ... Io." Nama seseorang tak pernah Ayi lupakan, karena ia memang tak pernah ingin melupakannya.
Pilihan gadis mungil itu akhirnya jatuh pada bunga tulip berwarna putih. Ia bahkan tak mau kembali memberikan bunga itu saat akan dibungkus. Ayi sedikit terkesiap mendapati pilihan anaknya itu. Mengingatkannya kembali pada banyak hal.
Setelah membayar bunga yang dibeli, mereka beranjak dari sana menuju tempat tujuan yang sudah dijanjikan. Ayi dengan perasaan penuh haru, sedangkan Yandra mulai menata perasaan yang mungkin akan ia rasakan lagi. Sedikit cemburu, mungkin.
Dua temannya mungkin sudah sampai di tempat yang sudah dijanjikan.
Jalanan pagi ini masih ramai karena akhir pekan. Ayi menoleh ke arah luar jendela mobil, memperhatikan pemandangan yang selalu mereka lewati saat akan pergi ke tempat 'itu', tempat di mana seseorang berada.
Melamun, Ayi beserta pikirannya diseret kembali ke masa lalu, masa di mana ia dan seseorang bertengkar untuk pertama kalinya. Pergi menjelajah masa dengan ingatan, masa yang sudah lewat.
Perjalanan ingatan baru saja akan dimulai.
Saat itu ....
"Kan udah gue bilang jangan ikut lomba basket!" Ayi yang masih remaja terlihat marah, sambil mengompres wajah seseorang dengan es batu. Terdapat luka lebam di pipi seorang laki-laki yang masih memakai pakaian basketnya. "Ini nih, akibatnya karena lo nggak dengerin omongan gue!" Tangan dan mulutnya sama-sama ganas saat berfungsi. Namun, dibalik wajah cemberut yang masam itu, terdapat satu rasa peduli dan khawatir yang ia sematkan untuk seorang yang ... yang paling entahlah.
Bukannya takut, justru laki-laki itu malah terlihat cengengesan mendengar omelan dari sang sahabat. Sahabat kesayangannya. Sahabat kecil. Sahabat setengah hidupnya.
"Aw! Aw! Sakit Ay!" Wajah cengengesannya dengan cepat berganti menjadi kesakitan saat Ayi menekan kuat luka lebamnya. "Gue juga nggak tahu kalau Ahsa tiba-tiba minta gantiin," jelasnya, untuk membela diri.
Ayi mendengus, "Udah tahu badan lo kecil, masih aja diiyain!" Masih dengan kekesalannya. Walaupun bukan luka yang berarti, tapi ada rasa takut yang ia rasakan. Dulu, saat masih Sekolah Dasar, Ayi pergi ke sekolah sendirian karena sahabatnya itu sedang demam. Tidak ada seorang membelanya saat itu. Bukan membela saat ia dijahili, tapi ingin menjahili orang lain.
"Ahsa, 'kan temen gue, Ay," ujar laki-laki itu polos. Ia tak mau disalahkan. Niatnya hanya membantu temannya yang tiba-tiba dipanggil orang tuanya untuk segera pulang. Padahal, masih banyak pemain cadangan lain, tapi entah kenapa pelatih malah memilihnya. Baginya, ia tidak begitu hebat dalam basket. Hanya lihai dan tak pernah meleset dalam jumpshoot saja.
Saat di lapangan tadi, ia yang tanpa sengaja didorong pemain lain hingga terjatuh dengan wajahnya yang lebih dulu mendarat di lantai. Begitulah bagaimana ia berakhir di sini sekarang.
"Lo lupa kalau gue juga sahabat lo? Bisa nggak jangan buat gue ribet? Pokoknya nanti gue balas tuh orang." Kali ini Ayi benar-benar marah dan tak bisa meredam amarahnya lagi. Ia selalu menjaga sahabatnya itu dalam setiap hal. Mungkin itulah alasannya khawatir.
Io. Nama laki-laki itu. Ia seumuran dengan Ayi, sahabat laki-lakinya.
Kini, Ayi sudah selesai dengan pekerjaannya yang mengompres tadi. Wajah laki-laki itu berubah sedikit merasa bersalah. Ia bungkam. Makin terpaku saat Ayi beranjak pergi. Ia tak menyangka jika Ayi seserius ini. Laki-laki itu berakhir dengan ditinggal sendirian.
Untuk beberapa hal yang tak Io mengerti, Ayi kadang bersikap sentimen dan sensitif. Apa jangan-jangan sahabatnya itu sudah mulai menaruh rasa padanya? Memikirkan hal tersebut, Io mulai tertawa keras di ruangan yang hanya ada dia. Lalu, ia pun mengambil sebuah diary.
Ayi masih marah, bahkan saat pertandingan berakhir. Ia juga pulang lebih dulu. Biasanya mereka akan pulang bersama. Akan tetapi, tidak untuk kali ini, kali berikutnya dan kali-kali lainnya.
Dengan perasaan kadar rasa mengalah yang besar, Io terus meminta maaf pada Ayi di hari-hari berikutnya. Seperti biasa, setiap pagi ia menjemput Ayi untuk berangkat sekolah bersama. Laki-laki yang bernama Helio atau yang sering dipanggil Io itu selalu diacuhkan oleh Ayi. Seorang Ayla Ink masih merajuk. Selama mereka menjadi teman, ini adalah pertengkaran terlamanya.
Io terus mengajak Ayi bicara walau awalnya tak direspon sama sekali. Namun, untuk seorang Io, hanya butuh beberapa hari saja hingga akhirnya mereka akur kembali. Karena bukan Ayi namanya jika tidak memaafkan Io.
Saat Ayi akan melakukan apa pun, selalu ada Io di sana. Namun, kini ia tak bisa lagi, seberapa keras pun ia mencoba.
Kenangan itu berkedip, lalu hilang.
Ayi sedikit menaikkan kaca mobil agar angin bisa menerpa wajahnya terasa kebal oleh perasaan rindu. Selesai mengingat satu kenangan, ia ketagihan ingin mengingat yang lainnya. Namun, belum ada ingatan yang sedikit lebih indah yang muncul.
Memeriksa si kecil Jia yang sudah tertidur dengan memeluk satu buket bunga tulip, Ayi terkekeh. Wajah anaknya itu sangat damai seolah tidak memiliki beban apa pun yang ia tanggung.
Karena perjalanan masih lama, Ayi berniat untuk menjahili Yandra yang fokus mengemudi. "Kita nikah dulu karena apa, ya?" Walaupun kata tersebut memang ditunjukkan untuk Yandra, tapi laki-laki itu meresponnya dengan cepat.
"Karena aku cinta kamu."
Ayi bisa merasakan tawanya sendiri, sebuah ingatan baru yang melintas menyurutkan niat awalnya. Ia teringat pertemuan pertamanya dengan Yandra dulu.
Setiap kali ia teringat hal-hal buruk di masa lalu, Ayi akan mencoba mengingat hal menyenangkan setelahnya. Itu adalah cara agar ia tidak larut dalam kesedihan.
Setelah mengingat pertengkaran yang paling lama saat ia dan Io dulu, Ayi kembali mengenang kenangan yang lain. Kenangan yang membuat semuanya berawal.
Dulu, dulu sekali ....
Masa-masa Ayi SMP yang penuh dengan hal-hal yang dilabeli dengan kenakalan, kini berubah menjadi masa dengan drama-drama dan hal-hal lainnya. Tak ada lagi masa-masa permen dan gulali. Tak ada lagi masa-masa boneka dan Barbie. Yang ada hanyalah masa di mana mereka merasakan arti kehidupan yang sebenarnya. Sedikit romantisisme akan ikut ambil bagian kali ini.
Io dan Ayi beranjak dewasa. Ia tak senakal dulu lagi. Hari-harinya masih seperti biasa, hingga sosok itu hadir di antara mereka. Bukan sebagai penengah atau orang ketiga. Hanya sebagai sosok seorang biasa. Sangat biasa.
Dan dimulailah pertemuan pertamanya. Kenangan bahagianya bersama Yandra.
Pagi itu, Io tidak menjemputnya karena mengantar adiknya sekolah. Mereka sudah membuat janji sebelumnya. Hari ini adalah pertama kali ia masuk sekolah sebagai murid kelas dua. Ia juga tidak tahu apakah akan satu kelas lagi dengan sahabatnya itu atau tidak. Untuk sekarang, itu bukanlah hal yang penting.
Pelajaran pertama hampir saja dimulai saat Ayi memasuki kelas barunya. Napasnya tergesa-gesa, ia berlari sepanjang koridor sekolah.
"Maaf Pak, saya terlambat," ucapnya, ketika sampai di depan pintu masuk.
"Ya, saya tahu. Masuk," perintah seorang guru yang juga baru masuk pada Ayi dengan nada datar. Ayi tersenyum lega, untung saja bukan guru yang mempermasalahkan waktu. Ia kemudian melangkah masuk, matanya mencari kursi kosong dan juga ... Io.
"Shht. Woi, Yi. Ayi," panggil sebuah suara, terdengar sangat pelan. Itu adalah Io. Ia duduk di kursi paling belakang. Ayi melihatnya sekilas dan tersenyum kemudian duduk di kursi nomor dua dari depan. Hanya itu kursi yang satu-satunya kosong.
Jika Io duduk di sudut kiri belakang, maka Ayi duduk di kursi sudut kanan depan. Mereka terpisah. Itu lebih baik daripada tidak satu kelas sama sekali. Padahal Io sudah berencana duduk di kursi bagian belakang bersama Ayi, tapi karena sahabatnya itu terlambat ia hanya harus melakukan hal lain nanti.
Ayi dan Io sudah bersama dan bersahabat sejak kecil hingga sekarang. Rumah mereka juga tidak terlalu berjauhan. Beberapa orang di kelasnya terlihat asing-bukan dari kelasnya dulu. Kelas ini adalah campuran dari semua murid kelas satu yang naik jelas. Hanya beberapa saja yang ia kenal termasuk Io.
"Yandra," sapa sebuah suara yang terdengar asing bagi Ayi. Pelajaran pertama sudah berakhir. Ia mendongak dan mendapati seorang laki-laki yang duduk di depannya tengah mengulurkan tangan. Laki-laki itu tersenyum. Ayi tidak mengenalnya karena bukan dari kelasnya dulu.
"Ayla," sahut Ayi, setelah menyambut uluran tangan Yandra. Mereka saling berjabat tangan. "Selamat berteman dan semoga betah," tambah Ayi, tersenyum lebar.
Yandra sedikit tertegun, kemudian tersenyum..
"Aku akan berusaha."
To be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments