Teman itu tak perlu pengakuan, cukup temui ia ketika ketika dalam kesulitan.
...•••...
Acara ulang tahun Ahsa yang diadakan pada malam hari dan cukup meriah. Semua yang hadir adalah teman sekolah, teman dekat, teman bermain, dan teman di area rumahnya. Mereka membantu dalam memeriahkannya.
Ayi dan Io tentu menjadi orang yang paling menikmatinya.
“Loe nggak ngerjain gue lagi ‘kan, Yo?” selidik Ahsa pada Io yang tengah menikmati hidangan yang bukan diambil oleh dirinya, juga bukan dari Ayi. Walaupun ia pergi bersama Ayi, tapi saat sampai di rumah Ahsa, Io kembali menjemput seseorang lagi. Seseorang yang membuat Io menjalani sebuah hubungan yang tak ia lakukan dengan Ayi.
Hubungan romantis.
Sembari menunggu jawaban Io, pandangan Ahsa tak lepas dari kado yang diberikan oleh orang yang duduk di sampingnya itu. Kado yang paling besar di antara yang lainnya. Saat memberikannya tadi, Io membusungkan wajahnya, merasa bangga. Sedangkan Ayi justru memberikan sesuatu yang berlawanan dari Io. Sangat kecil.
“Nggak, itu serius kado gue. Gue yang beli sendiri tadi,” sahut Io, mulutnya masih penuh dengan makanan. Terlihat ada beberapa sisa makanan yang tertinggal di sudut bibirnya. Ada hal yang sedang Io pikirkan saat ini. Bisa disebut ia sedang setengah melamun.
Ahsa akhirnya percaya. “Okelah,” imbuhnya, kemudian beranjak saat seseorang mendekat. Io menyadarinya, tapi tidak sedikit pun mengubah ekspresinya.
“Sayang, makan dulu baru ngomong, biar nggak kotor,” tegur Sheila yang baru saja mengambil air minum. Ia yang melihat keadaan mulut Io bergegas mengambil tisu, ingin mengelap bibir pacarnya tersebut. Namun, bukannya membiarkan Sheila melakukan apa yang seharusnya seorang dilakukan seorang pacar, Io malah berjalan mendekati Ayi yang sedang bersama Yandra. Mereka sedang berada salah satu sudut pesta. Terlihat bersenang-senang menikmati musik yang sedang diputar saat ini. Lagu yang menjadi kesukaan Ayi.
Taylor Swift.
Sebelum sampai, Io sempat mendengarkan apa yang mereka obrolkan.
“Eh, gue nggak nyangka loh, ternyata loe juga suka sama lagunya Taylor Swift.” Ayi berucap dengan wajah gemasnya. Mata kecilnya berubah menjadi mata yang sama ketika seorang Ayi membahas apa yang disukai. Io yang sudah hampir sampai bisa merasakan aura bahagia dari seorang Ayi dari jarak beberapa meter saja.
“Ya ... udah lumayan agak lama sebenarnya,” sahut Yandra, menggaruk kepalanya yang masih ada rambutnya. Hei! Tentu saja. Ia yang dari tadi ingin memberikan sesuatu yang dibelinya tadi siang pada Ayi tidak sempat berucap karena gadis itu terus menyerangnya dengan judul-judul lagu yang juga disukai Yandra. Ya, Yandra ingin mengatakan hal ini di hari pertama mereka saling kenal. Namun, saat itu ia belum sedekat seperti sekarang dengan Ayi.
Selain itu, ini adalah saat yang tepat untuk Yandra memberikan gelang yang ia beli tadi.
Ayi kini terlihat mengatur napasnya setelah berceloteh panjang. Wajah senangnya tertimpa sorot lampu. Ia tidak menggunakan riasan secara berlebihan. Hanya bedak tipis dan selapis lipstik berwarna senada dengan warna bibirnya yang sedikit lebih cerah.
Di mata seorang Yandra, Ayi terlihat mengenakan gaun hitam sepanjang lutut bawah dengan lengan di atas siku. Kulit putihnya sedikit terekspos. Di samping itu, Ayi juga memakai sneaker hitam tanpa canggung. Gadis itu tidak mengenakan high heels seperti gadis lainnya. Sangat Ayi sekali.
Hal itulah yang membuat sahabat Io itu terlihat manis dan menawan di mata Yandra. Semua itu apa adanya. Yandra tidak dibutakan oleh keadaan atau pun khayalannya sendiri. Tanpa sadar, ia melirik pada pergelangan tangan Ayi yang terdapat sebuah gelang. Terlihat sedikit usang dan lusuh, tapi sepertinya itu adalah sesuatu yang berharga bagi Ayi.
Saat Yandra ingin membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, bersamaan dengan ia yang mengeluarkan sebuah gelang, Io muncul dari balik punggung Ayi, membuat Yandra kembali memasukkan gelang yang ingin ia berikan tadi.
Io berhenti di tempatnya.
“Yi,” panggilnya, yang kini berdiri di belakang Ayi. Mulutnya terlihat masih ada bekas sisa makanan. Namun, Ayi yang masih menyampaikan pendapatnya mengenai lirik yang sedang ia dengar dari lagu yang diputar, membuatnya tak mendengar panggilan dari Io.
“Yi, pinjem tisu loe,” panggil Io lagi. Ayi masih asyik bercerita dengan Yandra yang duduk di hadapannya. Yandra yang mengetahui hal itu, segera memberitahu Ayi.
“Apa sih, Yo,” seru Ayi, membalikkan badannya. Tanpa basa-basi, Io langsung meraih lengan baju yang Ayi kenakan dan menjadikannya sebagai pengelap mulutnya.
“Io!” pekik Ayi, terlihat kesal. Ia langsung berdiri, gaun yang ia kenakan sedikit berkibar. Sementara Io hanya memperlihatkan cengirannya yang membuat Ayi semakin kesal. Sekesal apa pun ia, tak pernah ada amarah apa lagi dendam. Semua itu tak pernah bertahan lama.
“Bersihin!” geram Ayi, mengarahkan lengannya yang tidak terlihat noda apa pun. Io yang melihatnya malah tertawa. Yandra yang semula duduk, kini berdiri ingin melerai Ayi dan Io yang dikiranya sedang bertengkar. Wajahnya menampakkan kepanikan yang tak diduga oleh keduanya.
Sheila, yang baru saja tiba terlihat merengut. Ia tidak suka dengan Ayi. Langkahnya semakin berdentum saat memperpendek jaraknya dengan Io.
”Maaf, tapi kalian jangan berantem.” Yandra dan segala kekhawatirannya memperlihatkan kecemasan. Ayi yang tadinya berpura-pura marah, dengan cepat tertawa, kemudian disusul oleh Io yang juga tertawa. Yandra merasa iri dengan kedekatan mereka. Perasaan dua sahabat itu bisa terlihat dari ekspresi masing-masing. Yandra tidak tahu apa yang lucu, tapi ia sedikit bergidik dengan Sheila yang menatap Ayi nyalang.
“Nggak kok, Ndra.” Jelas ia merasa senang karena melihat hal yang jarang seperti Yandra saat ini.
“Makanya, kalau orang manggil itu dengerin,” tegas Io pada Ayi yang sudah kembali pada mode biasanya.
“Tapi nggak jadiin baju gue lap juga.” Ayi mengatakan itu saat Sheila tiba.
“Iya, iya,” sahut Io. Sheila yang ada di sampingnya berdecak kesal dan memandang Ayi dengan tatapan tak suka. Ayi tahu betul perasaan seperti apa yang diarahkan padanya saat ini. Namun, ia memilih abai. Ini bukan saatnya untuk membuat keributan.
“Sayang.” Panggilan yang diberikan khusus pada Io itu terdengar manja dan juga pamer.
Io sedikit menahan hal yang tak disukainya. “Iya,” balasnya, “ambilin aku air, ya.” Perkataan Io lembut pada pacarnya tersebut. Sementara itu, Ayi mengajak Yandra duduk dan melanjutkan pembahasan seru yang sempat terhenti tadi.
Sheila melotot. “Buat apaan? Bersihin baju Ayi? Ambil sendiri aja!” Gadis itu terlihat cemberut, kemudian pergi menjauh dari Io. Io hanya menatap kepergian pacarnya itu, tidak berniat mengejarnya. Dua orang yang tak jauh dari sana, masih bisa mendengarkannya. Ayi tidak peduli.
Bukannya mendapat kalimat penyemangat, Io malah mendapat seruan dari Ayi. “Rasain!” Ayi terlihat senang. Io mendekat dan membalas dengan menjentik lutut Ayi.
“Gara-gara loe nih, dia cemburu,” tuduh Io. Kalimat yang ia ucapkan memang tuduhan, tapi tidak dengan yang sebenarnya. Justru, mereka berdua kadang sering membicarakan keburukan Sheila.
“Terima kasih pujiannya,” sahut Ayi, mengambil air untuk ia.minum. lalu menumpahkannya sedikit pada tisu untuk membersihkan baju bekas Io jadikan lap mulut tadi. Sebelah lengan Ayi basah, termasuk bajunya sendiri, ia tak sengaja menukarnya dengan tisu yang sebelumnya ingin ia arahkan ke bajunya.
Selain sembarangan, Ayi itu juga ceroboh. Yandra diam-diam menghafal kebiasaan ini di dalam kepalanya.
Namun, Yandra dan Io sepertinya memiliki pemikiran yang sama sebagai seorang laki-laki. Mereka berdua melepaskan jaketnya di saat yang bersamaan. Ingin memberikannya pada Ayi yang kini terlihat sibuk memeras ujung lengan bajunya, ia kedinginan.
Yandra dan Io sama-sama menyadari apa yang sedang mereka lakukan dan akhirnya terkejut.
Ayi yang tak menyadarinya, langsung meraih jaket dari Io dan memakainya. Yandra terlihat sedikit kecewa dan memakai jaketnya kembali. Senyum nanar ia tunjukkan. Io diam-diam memikirkan satu dugaan.
“Ngapain masih di sini? Sana, antar pacar loe, gue juga udah mau pulang, nih,” tutur Ayi, menepuk bahu Io lalu mendorong punggungnya. Pikiran Yandra bergerak sedikit cepat saat mendengar kata ‘pulang’.
“Emang loe pulang sama siapa?” tanya Io, ingin tahu. Yandra yang ada di depannya juga ingin tahu.
“Sama Yandra,” sahut Ayi, menunjuk Yandra dengan dagunya. “Gua mau pamit sama Ahsa dulu,” tambahnya lagi, kemudian beranjak. Tidak mungkin Ayi betah dengan baju basahnya itu. Lagipula, ia sudah cukup mengobrol dengan Ahsa dan juga Dena sebelumnya.
Hening di antara mereka berdua sepeninggal Ayi.
“Ehem.” Io berdehem pada Yandra yang masih memperhatikan Ayi. Laki-laki itu segera mengalihkan pandangannya. Jangan sampai hal yang tidak ingin diduga orang lain terjadi padanya. Ia tidak punya apa pun untuk mencegahnya.
“Gue mau ngomong sesuatu yang penting sama loe,” ucap Io tiba-tiba.
Yandra terlihat gugup. “Huh?
***
Semua teman Ahsa sudah pulang. Acara ulang tahunnya yang keenam belas sudah berakhir. Ia juga sudah mengumpulkan dan membawa semua kado yang didapat menuju kamarnya. Hanya kado dari Io lah yang paling menarik perhatiannya.
Paling besar.
Ahsa meletakkan semua kadonya di atas kasur. Ia memilih membuka kado Io terlebih dulu. Berharap isinya bukan jebakan lagi. Semoga saja. Laki-laki yang menjadi teman terdekatnya itu belum pernah tidak mengerjainya.
Untuk seukuran kotak yang sedang ia pegang, benda tersebut tidak terlalu berat, juga tidak terlalu ringan. Ahsa sempat curiga untuk sesaat dan merasa was-was. Kepribadian Io yang melibatkan semua hal dengan candaan sudah menjadi kebiasaan dalam pertemanan.
Ia juga jarang membicarakan suatu topik yang membuat Io serius. Bahkan, hanya beberapa kali saja atau mungkin belum pernah Ahsa mendapati Io yang marah. Akan tetapi, tidak ada rasa keberatan meskipun Io memiliki kepribadian yang seperti itu. Walau kadang Ahsa juga penasaran.
Seorang Io tidak terlalu memedulikan hubungan percintaannya. Hidupnya terlalu bebas dan juga monoton. Sulit untuk ditebak.
Setelah mengingat kepribadian seorang Helio, Ahsa dengan penasaran dan hati-hati mulai membuka kado dengn perlahan, sedikit waspada. Namun, dugaan buruknya tidaklah benar. Saat dibuka, terlihat sebuah bola basket yang ditanda tangani oleh Io sendiri. Kali ini hadiah normal, Ahsa tersenyum puas. Sebuah kertas kecil terlihat jatuh dari dalam kotak itu. Ia mengambil lalu membacanya.
‘Selamat ulang tahun, besok traktir gue makan.’
Ahsa terkekeh setelah membacanya. Ternyata tidak semua tentang Io itu adalah hal yang tak baik.
“Dasar Io,” gumamnya.
Itu adalah gumaman yang sama setelah beberapa tahun kemudian. Kalimat yang dikatakan Ahsa saat ia dan Yandra, juga Dena menunggu Ayi yang masih berbincang di sebuah pusara seseorang.
To be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments