Just 8

Kadang, melakukan apa yang ingin kita lakukan adalah cara tersendiri untuk mengalihkan perhatian.

...•••...

Ayi di masa lalu termasuk pribadi yang bisa dibilang tidak bisa diam. Melihat sesuatu yang baru, maka ia tidak segan untuk mencari kesibukan untuk dilakukan. Apa pun, selama itu menyenangkan baginya.

Setelah menghabiskan semua cokelat milik Io di sekolah tadi, Ayi tiba-tiba terpikir untuk membuat kue saat ia sudah pulang. Mengatakan pada ibunya untuk hanya meninggalkan resep tanpa membantu. Ia hanya ingin membuat sesuatu yang secara keseluruhan adalah hasil dari apa yang ia kerjakan.

Ayi bukanlah orang yang sering berada di dapur. Dengan arti bahwa ia adalah seseorang yang tidak bisa memasak. Melihat betapa tingginya keantusiasan Ayi saat mengatakan ingin membuat kue, membuat ibunya sedikit tertegun. Ia diam-diam memberitahu Io tanpa sepengetahuan anaknya sendiri.

Setelah makan siang, Ayi mulai mengikuti resep yang diberikan oleh ibunya. Meskipun itu hanyalah catatan sederhana, tapi Ayi terlihat serius saat mencoba memecahkan telur tanpa membuat serpihan kulitnya iku termasuk ke tempat adonan. Sesekali ibunya memberikan trik untuk melakukan hal yang terihat menyulitkan anaknya tersebut.

Lewat pesan singkat pada Ibu Ayi, Io mengatakan bahwa ia sedang di luar untuk suatu keperluan dan akan mampir ke rumah Ayi segera setelah urusannya selesai.

Semua bahan dan teknik sudah sesuai dengan intruksi sang ibu. 

  “Sebelum menuangnya, cek dulu apakah itu udah pas atau belum. Kalau teralu cair, teksturnya bisa rusak nanti.” Apa yang dikatakan oleh ibunya, membuat Ayi menurutinya tanpa sadar.

Ayi  mencoba membuat adonan berwarna cokelat yang kental terangkat menggunakan sendok. “Seperti ini?” tanyanya. Ayi mendapatkan satu mangkuk adonan yang sedikit cair. Meskipun ia mengaduknya menggunakan mixer, tapi itu masih belum sempurna karena masih terlihat gumpalan kecil  tepung.

  “Apakah kamu mencampur beberapa sendok air panas … tadi?” Ibunya bertanya.

  Ayi menjawab, “Apakah Mama lihat aku mencampurnya … tadi?”

Ayi mencoba mengingat, pun dengan ibunya yang duduk di seberang meja dapur. Rupanya, mereka berdua tidak ingat.

Untuk memperbaiki adonan pertama, ia kemudian mengaduk adonan itu lagi agar sesuai dengan yang ibunya arahkan.

Ayi menutup oven sambil tersenyum sedikit puas. Sekarang, mereka hanya tinggal menunggu.

  “Mama nggak mau jadi orang pertama yang nyobain kue buatan kamu nanti,” ungkap seorang wanita yang memiliki bentuk dagu yang sama dengan Ayi. Seperti kesepakatan awal, ia tidak membantu Ayi sedikit pun dalam pembuatan kue tersebut.

Ayi cukup terkejut saat ibunya sudah lebih dulu mengantisipasi apa yang sesaat lalu ia pikirkan. Awalnya, ia ingin membuat ibunya terkesan, tapi menilai dari bagaimana respon wanita yang telah melahirkanya itu, Ayi sepertinya  sudah  gagal. Selanjutnya, mungkin ia akan membuat percobaan kedua setelah ini.

  “Kalau gitu, ada kucing yang nggak kepake nggak, Ma?” tanya Ayi sambil melongokkan wajahnya untuk memeriksa kue yang tersusun dalam cetakan kecil yang saat ini sedang dipanggang.

  “Itu namanya pembunuhan berencana,” ujar ibunya, menimpali candaan Ayi. “Memangnya kamu  pernah liat kucing makan cokelat?” Karena merasa ekspresi Ayi saat ini cukup yakin, ia merasa sedikit waspada.

Saat kecil, Ayi pernah memandikan seekor anak kambing tersesat di area rumahnya karena sebelumnya, ia diledek Io karena tidak mandi. Saat itu, ia mengatakan, “Jika kau yang tidak mandi, kenapa kambing yang disalahkan. Kasihan dia.” Saat itu, Ayi masih berumur delapan tahun.

Ayi  tidak menanggapi perkataan ibunya hingga kuenya matang.

Tiga jam berlalu dengan tidak lancar, ditambah dengan keadaan dapur yang lebih dari berantakan biasa. Ayi membuatnya sangat berantakan. Seperti digunakan oleh sekelompok orang liar yang tanpa sengaja masuk ke rumahnya.

Karena menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mengawasi, ibunya tidak mungkin berada di dapur secara terus-menerus. Untuk itulah, ia hanya sesekali datang menjenguknya dan memantau.  Juga berpesan agar tidak melakukan kesalahan.

Ayi membuat banyak percobaan hingga ia sampai pada tahap terakhir. Yaitu membiarkan banyak tumpukan kue di meja makan. Tidak ada yang berani memakannya selain dirinya sendiri. Saat ibunya mencoba, ia langsung mengundurkan diri dengan cepat dan menyerah di tempat tanpa syarat.

Sesuatu yang Ayi sebut kue cokelat itu, sediki pun tidak memiliki rasa yang bisa dianggap normal. Ia jelas tidak akan mencobanya lagi  betapa pun bentuknya sangat menarik. Kue pada percobaan pertamanya memiliki tekstur seperti pasir. Beberapa dari  yang lain bahkan memiliki rasa asin. Ayi  bahkan menjawab iya saat ditanya apakah ia memasukkan garam pada adonan yang ia buat.

Ibunya tidak perlu syok karena ia tidak kaget sama sekali. Dan sebagai bentuk pedulinya, wanita berumur hampir empat puluh tahun itu  menyuruh agar Ayi menghabiskannya tanpa tersisa.

  “Boros itu boleh, tapi tidak dengan mubazir,” pesannya, kemudian pergi saat Ayi sedang menunggu panggangan terakhir dari oven yang kelihatannya mulai sekarat. Seolah benda tak bersalah itu seperti teraniaya.

Alhasil, Ayi hanya menunggu Io untuk mencicipi kue buatannya setelah memberitahu temannya itu untuk segera datang. Walaupun tidak enak, setidaknya itu habis dan tidak menjadi bahan perdebatan dengan ibunya, karena sepanjang sore itu Ayi diledek oleh ayah dan juga ibunya.

Jika nanti kue yang ia  buat itu tidak habis saat Io datang nanti, Ayi sudah membuat rencana cadangannya.

Ayi tidur cepat malam itu karena kelelahan. Lagipula, Io juga tidak datang. Walaupun ia tidak berjanji akan datang, tapi itu adalah kali kedua Io tidak datang saat Ayi menyuruhnya.

***

Mata Ayi  terbuka, lalu mengedip sebelum ia pejamkan kembali. Sebelum gadis itu benar-benar melanjutkan tidurnya lagi, alarm di dalam tubuh dan pikiran Ayi berdering keras. Ia duduk dan menatap dinding. Menguap selebar yang ia bisa.

  “Keren~” gumamnya dengan tatapan seperti mendapatkan harta karun saat melihat jam beker miliknya. Benda tersebut menunjukkan pukul enam kurang dua belas menit. “Aku bangun lebih dulu daripada alarm. Ini adalah rekor terbaru.”

Karena rasa senang yang berlimpah, Ayi melompat dari ranjangnya dan mulai bersiap-siap untuk pergi ke sekolah. Ia semakin senang dan bersenandung bahagia saat mengingat rencananya untuk hari ini.

Hanya membutuhkan waktu setengah jam bagi Ayi untuk bisa berdiri di depan pintu depan rumahnya saat mengayuh sepedanya.

Biasanya, Io yang akan menjemput Ayi ke rumahnya untuk pergi sekolah bersama-sama. Namun, kemarin temannya itu mengatakan bahwa mulai hari ini, ia akan mengantar adiknya, Arta, ke sekolah karena arah sekolah mereka saat ini sama. Tidak seperti sebelumnya, Arta diantar oleh ayah mereka.

Kayuhan sepeda Ayi sama cepatnya seperti kecepatan perasaan tidak sabarnya yang segera ingin memberikan dan menunjukkan kue buatannya pada Io. Karena arah tujuannya sejak dari rumah tadi bukan ke sekolah, tapi ke rumah Io.

  “Selamat pagi, kucing.” Ayi menyapa kucing jalanan saat ia hendak menyeberang. Ketika sudah melewatinya, Ayi sempat berpikir untuk memberikan kuenya pada hewan tersebut. Tapi karena jalanan pagi itu cukup ramai, Ayi terpaksa mendayung lagi sepedanya dengan perasan berat hati. Ia hanya berharap agar kuenya nanti memiliki sisa.

Tidak membuang terlalu banyak waktu, Ayi akhirnya sampai di depan rumah Io. Ia bisa melihat mobil yang terparkir. Itu berarti bahwa ayah Io sedang ada di rumah. Meskipun tidak sesering Io saat saling berkunjung ke rumah masing-masing, tapi Ayi tahu bagaimana  hubungannya sahabatnya itu dengan ayahnya.

Kue yang berada di keranjang depan sepeda, Ayi ambil dan bawa.

Melihat pintu rumahnya yang sepertinya sedikit terbuka, Ayi menambah kecepatan langkahnya. Ia bahkan kembali bersenandung ria. Namun, Ayi dengan cepat berhenti dan membatu. Suara seruan yang berasal dari rumah Io membuatnya menghentikan langkah.

  “Io?” Ayi jelas mendengar Io  yang berteriak. Lalu, dengan cepat ia kembali ke sepedanya, dan mengayuh sepedanya lagi. Kali ini benar-benar ke sekolah.

Ia tidak berani melihat orang yang bertengkar, apalagi berteriak. Ayi tidak suka emosi yang membuatnya merasa takut itu. Untuk itulah ia segera pergi dari sana. Daripada menyaksikan  orang yang bertengkar, Ayi lebih baik makan makanan yang pedas.

Ayi tahu sekali bagaimana hubungan Io dan ayahnya semenjak kematian ibunya yang dikarenakan penyaki saat sahabatnya itu masih kecil. Namun, bukan berarti Ayi ingin mengabaikan apa yang terjadi pada sahabatnya. Ayi justru sebaliknya, ia tidak ingin ikut campur atau melibatkan diri. Jauh  dari hal tersebut, Ayi sebenarnya sangat peduli.

   “Wah! Hari ini cepat, ya?”  Seorang yang baru saja menggeser pintu gerbang sekolah menyapa Ayi. Ia adalah seorang satpam yang baru saja membuka gerbang sekolah.  Ayi tahu bahwa ia datang terlalu pagi.

Saat tiba di sekolah, Ayi menjadi lupa dengan Io.

  “Tentu saja. Aku pasti menjadi orang pertama yang datang hari ini, kan?” Dengan hidung yang kembang-kempis, Ayi berkata sambil mengangkat wajahnya. Ia memasuki gerbang sambil mendorong sepedanya.

Wajah satpam yang berumur tiga puluhan itu menunjukkan reaksi tidak setuju, saat mengatakan, “Sayang sekali, tapi sudah ada seorang yang mendahuluimu baru saja.”

Wajah Ayi  kembali tegak. Kebanggaan yang baru saja ia perlihatkan meleleh seketika. Namun, ia tidak begitu mempermasalahkannya saat memarkir sepedanya. Tiba-tiba ia teringat kejadian beberapa hari yang lalu saat bertemu dengan …  dengan teman  sekelas yang  hampir dibully.

Ayi mengingat wajahnya, tapi lupa  namanya. Seminggu terakhir, ia memang sering melihat punggung orang yang duduk di depannya itu, tapi Ayi benar-benar melupakan wajahnya.

  Mungkin dia yang datang lebih dulu, batinnya. Sambil memikirkaan itu, Ayi segera sampai di kelas untuk mencari orang yang dimaksud. Setidaknya, ia bisa mendapati tas orang itu di sana.

Akan tetapi, tidak ada siapa pun saat  ia membuka pintu kelas. Menyadari bahwa rencananya akan berjalan baik dengan kesan itu, Ayi tersenyum. Ia diam-diam mulai mengirakan jumlah kursi  yang ada di dalam ruangan  itu. Kue yang ia bawa pun sudah siap untuk dibagikan.

  “Satu, dua, tiga….” Ayi mulai berhitung sambil meletakkan setiap kue yang sudah terbungkus di setiap  meja.

Beginilah cara yang ia pikirkan kemarin malam agar kuenya segera habis.

To be Continued

Terpopuler

Comments

sora

sora

Ngerti perasaan Ayi.

2022-10-23

0

sora

sora

kucing ga kepake. please!!

2022-10-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!