Tentangmu, terlalu banyak hal yang harus kuingat.
...•••...
Suara riuh burung yang bertengger pada kabel tiang listrik di tepi sungai, terdengar bersahutan. Tak jauh dari sana, ada Io yang terlihat duduk di sebuah kursi yang ada di bawah jembatan. Bangunan penghubung dua lahan yang hanya berjarak sekitar seratus meter itu, memiliki tanah yang keras di sisi sungainya. Tempat yang selalu Io tuju saat ingin sendiri. Meskipun air sungai yang jernih mengalir di depannya, tapi tidak bisa ikut menghanyutkan pikirannya.
Tentu saja, Io bolos saat ini.
Ini adalah minggu kedua selama berada di kelas dua semenjak sekolah. Walaupun sekarang adalah kesempatan yang bagus untuk mengajak Ayi, tapi bukan berarti ini adalah saat yang tepat untuknya. Io hanya ingin sendiri, memikirkan bagaimana nasib buku pemberian ibunya yang sudah hilang.
Sungguh sangat disayangkan.
Suara orang-orang juga terdengar di sekitarnya. Namun, tidak membuat laki-laki yang masih berseragam itu terusik. Saat ini, Io tengah asyik mendengarkan lagu dengan hanya menggunakan satu headset. Lagu kesukaan sahabatnya, Ayi.
Sesekali Io juga menggumamkan potongan liriknya, "So I sneak out to the garden to see you. We keep quite, because we’re dead if they knew. So close your eyes, escape this town for a little while."
Gini amat liriknya, batin Io merasa miris, tapi masih tetap melanjutkannya. Ia hanya tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini. ia ingin pergi dari sesuatu, tapi tidak tahu apa sesuatu itu. Io sebenarnya masih merasa sedikit lelah, ke mana ia harus mencari buku tersebut. Perasaaannya sangat tidak nyaman.
"But you were everything to me. I was beggin’ you, please don’t go. "Io menghentikan gumamannya. Orang lain di dekat sana sudah menyadari apa yang laki-laki itu lakukan. Mungkin sebentar lagi mereka akan membahas lagu tersebut beserta alasan mengapa Io menyanyikannya. Seperti yang lebih penting dibanding alasan Io berada di sana. Pastinya itu adalah seorang yang sudah Io duga kedatangannya. Namun, ada hal lain yang tidak termasuk dalam dugaan itu.
Romeo take me somewhere we can be alone.
I’ll be waiting all there’s left to do is run.
You’ll be the prince and I’ll be the princess.
Itu bukan dia, bukan Io. Orang yang kehadirannya sudah ada dalam dugannya muncul seperti yang ia kira.
Ternyata lebih cepat dari yang ia duga. Io menoleh saat mendengar suara seorang yang menyambung liriknya itu. Di sana tepat di sampingnya, dengan menyandarkan kedua lengannya saat bertopang pada sandaran kursi. Ayi terlihat tersenyum lebar dengan satu headset yang sudah menyumpal telinganya. Ia juga masih memakai seragam seperti Io.
Sejak kapan Ayi di sana?
“Love story, emang loe mau bawa kabur anak orang, apa?” cetus Ayi, mendorong sedikit tubuh Io. Laki-laki yang didorongnya itu diam-diam tersenyum kecut, sedikit mencibir.
“Ngapain ke sini?” tanya Io, Ayi yang duduk di sampingnya menghirup udara pagi dan mengembuskannya dengan perasaan bebas.
Ayi memerhatikan lingkungan sekitar. Tempat yang sudah tak begitu asing lagi baginya. Karena, ini bukanlah kali pertamanya ke tempat ini. Tempat yang tak begitu mengalami banyak perubahan, terlihat sedikit berbeda. Apa yang ada di sana masih bisa Ayi hafal. Seperti bantuk dan lekungan cabang pohon yang ada di dekatnya. Jumlah kabel listrik yang membentang dari satu tiang ke tiang yang lainnya. Ayi benar-benar mengingat hal-hal yang tidak penting. Namun, dari semua itu, muncul dalam pandangannya satu sosok yang belum begitu ia hafal wajahnya dari kejauhan.
Ia tersenyum.
“Karena loe di sini,” sahut Ayi, mulai menikmati lagu kesukaannya itu. Karena Io diam, Ayi juga diam. Hening. Bukan kerena mereka kehabisan kata-kata, tapi ada sesuatu yang sedang dua orang itu nikmati dalam pikiran masing-masing. Ayi dengan lagunya dan Io dengan seseorang.
“Ada masalah apa, nih? Nggak biasanya seorang Helio bolos gini,” ejek Ayi, sembari melempar batu kerikil ke sungai yang ada di depannya. Tempat yang mereka berada sekarang sangat nyaman untuk menghabiskan waktu. Saat Ayi mulai berpikir untuk mengajak seseorang, ia jadi ingat bahwa ia memang mengajak seseorang.
“Nggak pa-pa,” gumam Io, berusaha menyembunyikan masalahnya. Ia terlihat tak seceria biasanya. Tentu saja Ayi bisa tahu dari raut wajahnya. Io yang ia kenal itu memang menyembunyikan masalahnya, tapi tidak untuk waktu yang lama. Jadi, Ayi hanya butuh sedikit waktu lagi. Hanya menunggu sebentar saja.
“Oh~ mau main rahasia-rahasiaan nih, ceritanya?” cerca Ayi, menatap Io tajam.
“Kalau gitu, gue nggak mau ngajakin loe nyontek lagi,” ancamnya, kemudian membuang wajahnya ke arah lain. Seolah mendengus alih-alih melihat seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.
Io terkekeh, ia tahu jika Ayi berniat menghiburnya. Tapi, apa-apaan maksud perkataannya itu.
“Gue….”
Ayi akhirnya menoleh setelah mendengar gumaman Io. Ia sudah melepaskan headsetnya, begitu pun dengan Io.
“Gue cuman lagi kangen sama mama, Yi.” Io berusaha agar tidak terdengar menyedihkan, tapi percuma saja. Ayi punya sisi peka rata-rata yang hanya aktif pada saat tertentu saja.
Io kemudian mengambil batu krikil yang ada di tangan Ayi, lalu ikut melemparkannya ke sungai.
“Hmm. Gue juga. Tapi loe kangen ama gue aja ya, biar gue bales kangennya elo. Sepihak itu sakit, Yo,” tutur Ayi, menawarkan diri. Ia sangat percaya diri. Kali ini, bukan sok puitis atau semacamnya, Ayi hanya ingin menghibur sahabatnya saja.
Io lagi-lagi terkekeh, benar-benar tak bisa larut lama dalam dunianya sendiri jika ada Ayi. Ayi itu hampir segalanya baginya, jadi wajar saja kalau ia sangat menyayangi gadis tersebut tanpa ada konsep romantis. Kali ini, ia mungkin berbohong jika ia tidak lega.
“Tapi ….” Io mencoba ingin menyampaikan kalimat yang lain. Namun, setelah berpikir , ia akhirnya hanya mengatakan, “Tapi, tentang mama, ada banyak hal yang harus kuingat, Yi.”
Ayi tahu apa yang baru saja Io katakan itu berasal dari hatinya. Akan tetapi, bagi seorang Io, itu hanyalah sebagian dari perasannya saja.
Maka Ayi pun menyahut, “Kalau gitu, buat juga tentang banyak hal sama gue.” Ayi hanya mengatakannya sampai di situ. Ia sengaja memancing agar Io melihat ke arahnya dan itu berhasil.
“Biar loe juga ingat gue,” ucap Ayi sambil melihat ke arah Yandra yang sudah berada di turunan sungai.
Io menghargai lelucon itu dengan terkekeh.
“Ayi!” teriak seseorang, dari arah belakang. Dari kejauhan, Io melihat Yandra terlihat membawa bungkusan besar yang berisi beberapa makanan dan minuman. Karena Ayi tahu persis di mana tempat menyendiri Io, untuk itu ia menyuruh Yandra membeli cemilan. Mereka berencana bolos bersama.
“Yandra! Sini!” Ayi menyahut dengan berteriak juga. Jaraknya Yandra lumayan jauh. Agar sampai ke tempat Ayi, ia harus turun dan masuk sedikit ke bawah jembatan.
“Loe ke sini sama dia?” Io baru menyadari kehadiran Yandra dan bertanya saat laki-laki yang Ayi panggil tadi menunjukkan kehadirannya pada mereka.
“Iya,” sahut Ayi benar adanya.
“Kalian cepat akrab, ya,” tutur Io, memandang Yandra yang sudah mendekat. Menatapnya tanpa bermaksud apa pun.
“Loe cepet cemburu, ya,” sahut Ayi, membalas perkataan Io. Io sama sekali tidak kaget, tapi refleks balas menatap. Mereka saling tatap untuk beberapa saat hingga gurat gurauan yang tipis muncul, kedua sahabat itu sama-sama tertawa. Perkataan Ayi itu seperti kalimat mustahil untuk mereka. Io dan Ayi tidak mungkin terlibat kisah romantis seperti itu. Lagipula, saat ini Io juga sudah mempunyai seorang kekasih.
Yandra yang baru saja tiba, terlihat bingung dengan Ayi dan Io yang entah menertawakan apa. Apa mereka menertawakan dirinya?
“Sorry, ya. Pasti Ayi ngancem loe, ‘kan?” ujar Io pada Yandra, ketika lelaki itu sudah berdiri di depan mereka.
Yandra menggeleng. “E-enggak, kok.”
Ayi kemudian menyuruh Yandra untuk duduk di sebelahnya. Mereka bertiga duduk bersama dengan Ayi yang berada di tengah-tengah. Yandra merasa canggung berada di sana. Beberapa hari ini, Ayi memang sering mengajaknya bicara. Namun, mereka tak seakrab itu.
“Oh iya, seminggu lagi Ahsa ulang tahun, Yo,” papar Ayi, mengingatkan.
Kemudian, ia beralih pada orang di sebelahnya. “Iya, ‘kan, Ndra?” Ia mencoba mengajak Yandra ikut dalam pembahasan mereka.
“Iya,” sahut Yandra singkat. Akan aneh jika ia mengatakan terlalu banyak hal.
Io juga mengingatnya. “Jadi, kita mau ngasih kado apaan?” tanya Io, menyimpan headsetnya.
Setelah sebuaah ‘hehe’ dan tawa jahat keluar dari mulut Ayi, Io bisa menebak apa yang sahabatnya itu pikirkan. Io menduga pasti Ayi sudah menyiapkan kado spesial untuk temannya itu.
Ayi kemudian menjelaskan pada kedua laki-laki itu kado apa yang akan diberikan pada Ahsa. Io berdecak kagum mendengar ide Ayi tersebut. Yandra lagi-lagi meresponnya dengan tersenyum, sedikit canggung.
Setelah cukup lama di sana, mereka akhirnya pergi ke sekolah. Mungkin saat ini masih waktu istirahat. Namun, ternyata salah. Mereka tiba saat seorang guru yang mengajar pelajaran agama sudah berada di kelas. Alhasil, Ayi, Io, dan Yandra dihukum berdiri di koridor depan kelas. Mereka bertiga ternyata bolos selama tiga mata pelajaran.
Ayi tersenyum lebar pada dua orang laki-laki yang juga berdiri di sampingnya.
“Ternyata, dihukum rame-rame itu asyik, ya,” tuturnya, dengan wajah sumringah. Ia sama sekali tak menyesali perbuatannya.
Io beberapa kali menarik napas. Memang semua itu tentu saja disebabkan olehnya. Yandra hanya bisa pasrah karena sudah tahu akan seperti ini jadinya. Namun, masih tetap mengikuti Ayi yang mengajaknya bolos tadi. Ini juga pertama kalinya Yandra dihukum semenjak sekolah di sini.
“Ya, nggak pa-pa sesekali,” sahut Yandra, sedikit tanpa penyesalan. Mencoba hal itu tak seburuk yang ia kira, walaupun itu sedikit salah.
Namun, berbeda dengan Io. “Loe aja, gue nggak,” cetus Io pada Ayi.
“Dih, salah siapa juga yang bolos duluan,” balas Ayi. Yandra yang di sampingnya ingin melerai perdebatan dua sahabat itu. Namun … itu bukanlah hal yang serius.
“Siapa juga yang nyuruh loe nyari gu—“
“Romeo take me somewhere, we can be alone. I’ll be waiting all there’s left to do is run.” Ayi memotong ucapan Io dengan bernyanyi nyaring. Yandra hanya bisa memerhatikan dua sahabat itu, ia tak bisa berbuat lebih. Mungkin perlahan saja.
“Kalian bertiga!” Guru yang mengajar di kelas belakang mereka tiba-tiba muncul. Ayi juga berhenti tiba-tiba. Baginya, sesuatu yang tiba-tiba itu juga harus dibalas dengan tiba-tiba. “Keliling lapangan basket tujuh putaran, sekarang!” perintahnya dengan suara tegas. Kumis bapak berpeci itu terlihat akan terbang saat ia berbicara.
Ayi ingin tertawa, tapi Io mencubitnya.
“I-iya Pak.” Mereka bertiga tertunduk. Yandra yang tidak bersalah pun terkena imbasnya.
Mulai menuju tempat yang dimaksud. Saat sampai di lapangan, Ayi, Io dan Yandra mulai lari berkeliling di sisi lapangan yang tak jauh dari kelasnya. Mulai berkeliling dan menghitung. Ayi yang kesal berteriak sembari berlari.
“Labbaikallahumma labbaik, Labbaikallahu laa syarikala kalabbaik.”
"Lo ngapain, Ay?!" teriak Io.
"Kan kita kelilingnya tujuh kali, jadi namanya tawaf," jelas Ayi.
Io dan Yandra lari sambil menutup wajah mereka, merasa malu dengan apa yang Ayi lakukan.
Kelas yang berada di dekat lapangan tersebut terdengar ribut, menertawakan kelakuan gadis itu. Termasuk seorang laki-laki yang terus saja memperhatikan dari kursinya di lantai dua. Ia menatap Ayi dengan tatapan yang tak bisa dijelaskan.
Seseorang yang sudah memerhatikan begitu lama.
To be Continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments