Ke rumah Hasna

Hasna memandang sebuah kartu di depannya, kartu yang di berikan oleh Azzam padanya. Selama dia berhubungan dengan Azzam, dia tidak pernah memakai kartu itu, tapi Azzam pernah mengatakan padanya, kalau setiap minggu akan ada uang masuk untuknya. Padahal dia tidak mau memakainya, alhasil dia hanya menyimpannya saja.

Ia bingung harus menggunakan apa? ia berhenti bekerja seminggu sebelum pernikahan dan sekarang ia menjadi pengangguran.

"Hah, mungkin aku harus memakainya untuk membuka usaha, tapi usaha apa?" tanya Hasna.

Dia tidak mungkin hidup seperti ini terus, kalau dia menganggur dan memakai uang di kartu itu terus menerus yang ada uangnya akan habis.

"Apa aku buka warung kecil saja? ya, buka usaha gorengan begitu atau buka toko kecil."

Dia tersenyum, setidaknya setiap harinya dia ada pemasukan.

"Semoga Azzam meridhoi uang ini aku pakai." Ucap Hasna. Ya, dia sudah menerima takdirnya dan dalam hatinya tetap ada nama Azzam.

***

Keesokan harinya.

Serkan tampak gagah dengan kemeja berwarna silver dan tuxedo hitam. Dia melihat wajahnya yang tampak terlihat bulu-bulu halus di jakunnya.

Sebelah tangannya pun memakaikan gelang, setelah itu dia memasang dasinya. Dia menoleh, melihat istrinya masih tidur pulas.

Dia menatap dirinya di cermin, terbesit bayangan Hasna. "Kenapa aku harus memikirkannya? sedang apa dia?"

"Hem,"

Dia berderhem, lalu mengambil jas yang ia taruh di atas ranjang. Dia pun menghubungi Andreas untuk menemuinya.

"Tuan sarapannya sudah siap," ucap ketua pelayan. Salah satu pelayan membawakan kopi.

Dia tak menjawab dan memainkan tabletnya. Kepala pelayan pun mengerti kalau sang majikan tidak menjawab jangan di tanya lagi agar tidak terkena semburan panasnya.

Selang beberapa saat Andreas pun datang.

"Maaf tuan saya terlambat."

Tak ada jawaban, Serkan langsung beranjak dari tempat duduknya dan di ekori Andreas.

"Andres, kita menuju gang melati."

Andreas menatap majikannya dari kaca spion dengan kening berkerut, semenjak kapan tuannya ingin melihat istri keduanya.

"Baik tuan," ucap Andreas. Dia bagaikan anjing yang harus mengikuti tuannya kemanapun, menggonggong saat tuannya dalam bahaya.

***

Hasna tampak senang, hari ini dia akan memulai berjualan gorengan keliling. Tidak ada salahnya dia mencobanya, lagi pula dia tidak malu. Selama pekerjaannya itu halal untuknya, yang terpenting adalah rezeki yang barokah.

Hasna telah siap, menggunakan jilbab dan gamis yang sederhana. Setidaknya bisa menutupi tubuhnya.

Dia pun merenteng rantang berwarna biru itu, lalu menaruhnya di lantai, tepat di sampingnya. Mengambil kunci di sakunya, lalu mengunci pintu di depannya.

"Sudah selesai,"

Dia pun tersenyum, larut kesedihan pun Azzam pasti akan memarahinya di atas sana, yang terpenting adalah doanya yang ia panjatkan untuk Azzam.

Langkah terakhirnya pun menutup pintu gerbang yang telah usang itu, dengan cat warna yang telah memudar.

Hasna membalikkan tubuhnya, seketika dia terlonjak kaget saat melihat mobil hitam terparkir di depannya. Dia pun melangkah dan menunggu suaminya, ya suaminya walaupun ia tidak mencintainya, setidaknya dia menghormatinya seperti mantan mertuanya dulu dan suaminya.

"Apa Om butuh sesuatu?" tanya Hasna memulai. Berusaha tidak gugup meskipun ia saat ini ingin kencing.

"Hem,"

Serkan menatap tangan Hasna yang merentang rantang berukuran sedang.

"Ini saya mau jualan Om, apa Om butuh sesuatu atau Om belum sarapan?"

"Mau sarapan di sini?" tanya Hasna lagi.

Entah dorongan dari mana Serkan langsung turun, sebagai tanda menyetujuinya.

Andreas hampir saja menjatuhkan rahangnya, semenjak kapan tuannya berubah? lebih tepatnya berubah seperti power ranger yang gagah, tetapi berubah sikapnya. Seumur hidupnya, tuannya anti pada orang miskin. Ya dia menganggap Hasna orang miskin, karena wanita itu banting tulang sendiri dan tidak punya apa-apa.

"Ayo masuk," ucap Hasna. Dia pun memutar kembali tubuhnya, membuka lagi kunci pintunya. Dia menaruh rantangnya di atas meja makan.

Lalu kembali keluar, ia lupa tidak menyuruh Serkan duduk di ruang tamunya.

"Maaf ya, seperti ini, duduklah," ucap Hasna.

Serkan menyapu ruangan itu, dua kursi yang terbuat dari kayu dan satu meja, satu lemari dan tv kecil, di lantai beralas karpet merah dan dua kamar, satunya ada pintu dan satunya hanya tertutup gorden. Jika berjalan lurus pun akan langsung ke dapur. Kedua matanya melihat sebuah kompor dan piring yang terjajar rapi.

Kenapa aku mau menyetujuinya batin Serkan.

Dia menatap lekat wanita yang membelakanginya, wanita di depannya tampak sibuk membuat nasi goreng, yang entah sejarah mana ia pernah memakannya. Seumur hidup ia tidak pernah memakan nasi goreng, tapi bau bumbu nasi goreng buatan Hasna membuat perutnya berbunyi.

Dia pun mengintip Hasna, lalu beberapa menit telah selesai. Hasna menaruh nasi goreng itu ke atas piring, lalu tersaji dua piring.

Sebenarnya Hasna gugup di perhatikan, tapi ia tetap setenang mungkin agar tidak terlihat gugup.

Terpopuler

Comments

Dini Mariani s

Dini Mariani s

semoga di lembutkan hati mu ,.suami yg dzolim

2025-03-06

0

Endang Sulistia

Endang Sulistia

si om modus terus nih

2025-03-21

0

Lina Katarina

Lina Katarina

dah mulai perhatian yg segitu kejamnya

2024-10-21

0

lihat semua
Episodes
1 #Hati Yang Terlanjur Perih
2 #Di Usir
3 #Apartement
4 #Lahirkan Anak Untuk Ku
5 #Kekacauan Serkan
6 Ketakutan Alena
7 Ke rumah Hasna
8 Ingin Tidur
9 Di Layani
10 istri tak dirindukan
11 Pesona Hasna?
12 Cantik
13 Curhat Serkan
14 Tidak Bisa
15 Perhatian Hasna
16 Menyuapi
17 #Kedatangan Alena.
18 Bayangan Hasna
19 Mengusir
20 Pikiran Sia lan
21 Aku tau
22 Azzam
23 #Hati Pahit, Lidah Pun Pahit
24 Pelakor Ini
25 Kebingungan Perasaan
26 #Masa lalu Serkan
27 #masa lalu serkan 2
28 Kemarahan Alena
29 Kemarahan Alena 2
30 #Menemani Hasna
31 #Kehamilan Alena
32 #Salah Mendiagnosa
33 #Part 33
34 #Bujukan
35 Di Kala Om Se Mennggoda
36 #Ukuran Yang Sama
37 #Kecemburuan Alena
38 #part 38
39 #Pindah
40 #Part 40
41 #part 41
42 #Penolakan Serkan
43 #Pedih
44 # Rencana Alena.
45 #Rencana Alena dan Leon
46 #Bab 46
47 #Diabaikan
48 #Pembantu
49 #49 : Menegur
50 Mencurigai Alena.
51 #Merasa Di Bohongi
52 #Mengawasi
53 #bab 53
54 #bab 54
55 #bab 55
56 #bab 56
57 #bab 57
58 #bab 58
59 #bab 59
60 #bab 60
61 #bab 61
62 #bab 62
63 #63
64 #Anu Tidak Bisa Anu
65 #bab 65
66 #bab 66
67 #cinta sejuta
68 #bab 68
69 #paham!!
70 #Memungut Makanan
71 #Sebulan Kemudian
72 #Kepanikan Serkan
73 Amera Putri Abhizar Acnaf
74 #episode 1
75 #episode 2
Episodes

Updated 75 Episodes

1
#Hati Yang Terlanjur Perih
2
#Di Usir
3
#Apartement
4
#Lahirkan Anak Untuk Ku
5
#Kekacauan Serkan
6
Ketakutan Alena
7
Ke rumah Hasna
8
Ingin Tidur
9
Di Layani
10
istri tak dirindukan
11
Pesona Hasna?
12
Cantik
13
Curhat Serkan
14
Tidak Bisa
15
Perhatian Hasna
16
Menyuapi
17
#Kedatangan Alena.
18
Bayangan Hasna
19
Mengusir
20
Pikiran Sia lan
21
Aku tau
22
Azzam
23
#Hati Pahit, Lidah Pun Pahit
24
Pelakor Ini
25
Kebingungan Perasaan
26
#Masa lalu Serkan
27
#masa lalu serkan 2
28
Kemarahan Alena
29
Kemarahan Alena 2
30
#Menemani Hasna
31
#Kehamilan Alena
32
#Salah Mendiagnosa
33
#Part 33
34
#Bujukan
35
Di Kala Om Se Mennggoda
36
#Ukuran Yang Sama
37
#Kecemburuan Alena
38
#part 38
39
#Pindah
40
#Part 40
41
#part 41
42
#Penolakan Serkan
43
#Pedih
44
# Rencana Alena.
45
#Rencana Alena dan Leon
46
#Bab 46
47
#Diabaikan
48
#Pembantu
49
#49 : Menegur
50
Mencurigai Alena.
51
#Merasa Di Bohongi
52
#Mengawasi
53
#bab 53
54
#bab 54
55
#bab 55
56
#bab 56
57
#bab 57
58
#bab 58
59
#bab 59
60
#bab 60
61
#bab 61
62
#bab 62
63
#63
64
#Anu Tidak Bisa Anu
65
#bab 65
66
#bab 66
67
#cinta sejuta
68
#bab 68
69
#paham!!
70
#Memungut Makanan
71
#Sebulan Kemudian
72
#Kepanikan Serkan
73
Amera Putri Abhizar Acnaf
74
#episode 1
75
#episode 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!