Perhatian Hasna

Hasna menutup kita sucinya, lalu menaruhnya di dinding dengan menempeli beberapa kayu membentuk sebuah kotak.

"Om Se," sapa Hasna. Dia melipat mukena yang di tangannya, lalu menghampiri Serkan yang masih tersenyum.

"Maaf aku mengganggu mu," ucap Serkan. Dia berusaha menguasai dirinya agar tidak tertangkap basah.

"Apa Om Se sudah sholat?"

Serkan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Bagaimana ia bisa menjawab? sedangkan dia tidak pernah melakukannya, bacaannya saja ia sudah lupa.

Dia pun langsung berbalik dan meninggalkan Hasna yang mengerutkan keningnya dan menggelengkan kepalanya, ia benar-benar tidak tau apa yang di pikirkan oleh suaminya itu.

Hasna pun beralih, dia berkutat di dapurnya, sebelum memasak dia membuatkan kopi hangat.

"Kenapa melamun Om Se?" tanya Hasna. Serkan membalikkan tubuhnya, dia melangkah ke ambang pintu, tempat Hasna berdiri.

"Apa butuh sesuatu?"

"Tidak, aku hanya menghubungi Andreas untuk mengambil pakaian ku dan tas kerja ku di rumah serta ponsel ku yang tertinggal." Ucap Serkan.

Hasna membalikkan tubuhnya, dia melangkah masuk ke dalam dan menunggu suaminya duduk di kursi dekat jendela, seperti biasanya.

"Kenapa Om Se banyak sekali permintaannya?" gerutu Hasna. Kalau dia menjadi Asistennya, sudah pasti dia mengundurkan diri.

"Kenapa? aku membayarnya? sudah tugasnya pula dan kau sebagai istri juga memiliki tugas untuk kan?" tanya Serkan. Dia menyeruput kopi hitam itu. "Dari mana kau tahu kalau aku suka kopi pahit?"

"Dari Mas Azzam." Hasna berkata jujur, sebelum mereka menikah. Hasna selalu menanyakan perihal kesukaan dan ketidaksukaan kedua mertuanya. "Tapi Mas Azzam lebih suka menceritakan Om Se dari pada tante."

Azzam lagi, Azzam lagi.

"Sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apa yang tidak ku sukai dan yang aku sukai, rupanya kau belajar banyak dari Azzam."

"Tentu, ya sudah aku masak dulu ya Om Se,"

"Tunggu, kenapa kau selalu memanggil ku Om Se?" tanya Serkan. Biasanya Hasna akan memanggil tampa embel-embel 'Se'.

"Anggap saja panggilan spesial, bukan sial Om Se." Ucap Hasna memutar lehernya. Dia pun melanjutkan langkah kakinya.

"Tidak buruk," gumam Serkan sambil kembali menyeruput kopinya.

Hasna melipat kedua kerah lengannya sampai ke sikut, lalu mencuci beberapa potong ayam yang telah dia potong, lalu mengolesinya dengan bumbu yang ia ulek.

Dia pun menghidupkan kompornya, lalu menunggu sampai minyak di wajan itu panas.

Serkan mengendus-ngendus aroma harum itu, seketika cacing perutnya meronta-ronta. Dia pun beranjak menghampiri Hasna.

"Kau menggoreng apa?" tanya Serkan penasaran.

"Daginglah Om Se,"

"Hem,"

Serkan melipatkan kedua tangannya. Dia melihat Hasna yang mengulek lagi bumbu lainnya. Hasna bolak balik dari melihat daging ayam ia goreng, lalu mengulek. Karena melihat Hasna sibuk, Serkan pun mengambil alih mengambil sudip di wajan itu.

"Adduh," keluh Serkan. Dia merasakan sentuhan minyak ke tangan kekarnya.

"Ada apa? apa ada yang sakit?" tanya Hasna. Dia panik dan langsung mematikan kompornya.

Serkan mengelus tangannya yang terkena semburan minyak panas.

"Gara-gara minyak itu," adu Serkan. Hasna pun mengerti, dia mengelus lengan Serkan sambil meniup-niup lengannya. Serkan tertegun, dia yang di perhatikan seperti ini membuat hatinya menghangat. Dia merasa senang karena Hasna mengkhawatirkan dirinya.

"Makanya, Om Se ngapain ke sini? sebaiknya Om Se tunggu saja di ruang tamu, duduk yang manis gak perlu ikut campur di dapur."

"Aku berniat membantu loh, malah di marahi." Ucap Serkan yang tidak terima.

"Tapi kalau seperti ini, Hasna yang khawatir kan?" Hasna menatap lurus ke arah kedua mata Serkan dan membuat jantung Serkan seakan melompat ingin keluar. Dia pun memutuskan kontak matanya dan beralih mengelus lengannya.

Semoga saja dia tidak mendengarkan jantung ku batin Serkan.

"Kenapa hem? lihat Hasna seperti ini?"

"Ah, tidak apa-apa, ya sudahlah aku bantu lagi," ucap Serkan. Dia pun menghidupkan kompor itu.

"Nanti kenak semburannya lagi Om Se, sudah biar Hasna saja." Hasna tidak mungkin membiarkannya saja, seorang Serkan menggoreng daging ayam, rasanya bagi orang kaya sangat memalukan.

"Sudahlah, kamu lanjutkan saja itu," ucap Serkan.

Meskipun terkena cipratan minyak beberapa kali, dan umpetan yang keluar. Sedangkan Hasna tertawa, ia geli melihat papa mertuanya yang ahli dalama mengetik malah menggoreng ayam.

Sedangkan seseorang tengah mematung melihat keduanya yang tampak seperti keluarga yang saling mencintai.

Terpopuler

Comments

sihat dan kaya

sihat dan kaya

aku bacanya sekar dgn Hasnan... hahahahahaha

2024-05-20

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

kenyamanan akan merubah semua pandangan.. Serkhan...

2024-04-03

0

Cinta Suci

Cinta Suci

heheee mulai ni

2023-04-05

1

lihat semua
Episodes
1 #Hati Yang Terlanjur Perih
2 #Di Usir
3 #Apartement
4 #Lahirkan Anak Untuk Ku
5 #Kekacauan Serkan
6 Ketakutan Alena
7 Ke rumah Hasna
8 Ingin Tidur
9 Di Layani
10 istri tak dirindukan
11 Pesona Hasna?
12 Cantik
13 Curhat Serkan
14 Tidak Bisa
15 Perhatian Hasna
16 Menyuapi
17 #Kedatangan Alena.
18 Bayangan Hasna
19 Mengusir
20 Pikiran Sia lan
21 Aku tau
22 Azzam
23 #Hati Pahit, Lidah Pun Pahit
24 Pelakor Ini
25 Kebingungan Perasaan
26 #Masa lalu Serkan
27 #masa lalu serkan 2
28 Kemarahan Alena
29 Kemarahan Alena 2
30 #Menemani Hasna
31 #Kehamilan Alena
32 #Salah Mendiagnosa
33 #Part 33
34 #Bujukan
35 Di Kala Om Se Mennggoda
36 #Ukuran Yang Sama
37 #Kecemburuan Alena
38 #part 38
39 #Pindah
40 #Part 40
41 #part 41
42 #Penolakan Serkan
43 #Pedih
44 # Rencana Alena.
45 #Rencana Alena dan Leon
46 #Bab 46
47 #Diabaikan
48 #Pembantu
49 #49 : Menegur
50 Mencurigai Alena.
51 #Merasa Di Bohongi
52 #Mengawasi
53 #bab 53
54 #bab 54
55 #bab 55
56 #bab 56
57 #bab 57
58 #bab 58
59 #bab 59
60 #bab 60
61 #bab 61
62 #bab 62
63 #63
64 #Anu Tidak Bisa Anu
65 #bab 65
66 #bab 66
67 #cinta sejuta
68 #bab 68
69 #paham!!
70 #Memungut Makanan
71 #Sebulan Kemudian
72 #Kepanikan Serkan
73 Amera Putri Abhizar Acnaf
74 #episode 1
75 #episode 2
Episodes

Updated 75 Episodes

1
#Hati Yang Terlanjur Perih
2
#Di Usir
3
#Apartement
4
#Lahirkan Anak Untuk Ku
5
#Kekacauan Serkan
6
Ketakutan Alena
7
Ke rumah Hasna
8
Ingin Tidur
9
Di Layani
10
istri tak dirindukan
11
Pesona Hasna?
12
Cantik
13
Curhat Serkan
14
Tidak Bisa
15
Perhatian Hasna
16
Menyuapi
17
#Kedatangan Alena.
18
Bayangan Hasna
19
Mengusir
20
Pikiran Sia lan
21
Aku tau
22
Azzam
23
#Hati Pahit, Lidah Pun Pahit
24
Pelakor Ini
25
Kebingungan Perasaan
26
#Masa lalu Serkan
27
#masa lalu serkan 2
28
Kemarahan Alena
29
Kemarahan Alena 2
30
#Menemani Hasna
31
#Kehamilan Alena
32
#Salah Mendiagnosa
33
#Part 33
34
#Bujukan
35
Di Kala Om Se Mennggoda
36
#Ukuran Yang Sama
37
#Kecemburuan Alena
38
#part 38
39
#Pindah
40
#Part 40
41
#part 41
42
#Penolakan Serkan
43
#Pedih
44
# Rencana Alena.
45
#Rencana Alena dan Leon
46
#Bab 46
47
#Diabaikan
48
#Pembantu
49
#49 : Menegur
50
Mencurigai Alena.
51
#Merasa Di Bohongi
52
#Mengawasi
53
#bab 53
54
#bab 54
55
#bab 55
56
#bab 56
57
#bab 57
58
#bab 58
59
#bab 59
60
#bab 60
61
#bab 61
62
#bab 62
63
#63
64
#Anu Tidak Bisa Anu
65
#bab 65
66
#bab 66
67
#cinta sejuta
68
#bab 68
69
#paham!!
70
#Memungut Makanan
71
#Sebulan Kemudian
72
#Kepanikan Serkan
73
Amera Putri Abhizar Acnaf
74
#episode 1
75
#episode 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!