Setelah mendengar vonis dokter, Anya memilih pamit pada Anton untuk kembali ke kontrakannya. Anya butuh waktu untuk sendiri sambil memikirkan langkah selanjutnya yang harus ditempuh. Tidak, saat ini Anya sudah tidak merasa sedih atau galau sebab beban yang harus ditanggungnya. Kali ini Anya lebih berfikir dengan realistis tetang bagaimana cara menyelesaikan masalah yang menimpanya.
Anton terkena amnesia dan juga kesulitan berjalan. Tidak sepenuhnya lumpuh, sebab Anton masih bisa menggerakkan semua tubuhnya, hanya saja untuk berjalan Anton harus bersusah payah dan tidak bisa menjaga keseimbangan. Dengan keluhan tersebut, apalagi tanpa adanya keluarga, bisa dipastikan Anton belum bisa hidup mandiri. Dan Anyalah orang yang merasa paling bertanggung jawab atas keadaan Anton, jadi mana mungkin dia akan tega untuk meninggalkannya sendiri dalam keadaan seperti ini. Dan untuk bertanggung jawab atas hidup seseorang tentu saja akan membutuhkan waktu, tenaga, dan juga uang yang tidak sedikit. Karena itu Anya merasa membutuhkan bantuan seseorang.
Anya akhirnya menghubungi Heru, pelanggannya yang paling setia dan paling mudah dirayu, sebab Anya tahu Heru sedikit banyak sudah bermain hati dengannya.
Bisa kita bertemu nanti malam? Ada hal yang ingin aku bicarakan...
Tidak berselang lama pesan itu langsung mendapat jawaban.
Tentu saja. Apa itu berarti kau juga akan membayar hutangmu dan menghabiskan malam bersamaku?
Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Kita bertemu ditempat biasa nanti malam.
Ok.
Bukan tanpa alasan Anya menyetujui untuk membayar 'hutang', meski sebenarnya suasana hatinya belum membaik. Anya tahu titik kelemahan laki-laki, dimana para lelaki akan lebih mudah dirayu ketika hasratnya sudah dipuaskan lebih dulu.
Anya menghabiskan sisa hari itu untuk beristirahat, lalu pergi ke salon langganannya untuk melakukan spa dan beberapa perawatan rutin agar tubuhnya terasa lebih rileks dan penampilannya tetap terjaga. Maklum saja pekerjaan Anya memang mengharuskannya untuk merawat diri, sebab di luar sana pendatang baru akan selalu ada dengan wajah cantik dan usia yang jauh lebih muda darinya. Terkadang Anya merasa hidupnya sangat melelahkan. Dia harus mengejar sesuatu yang mustahil untuk diraih. Sebab kecantikan fisik pastilah fana dan usia tak bisa berhenti pada satu angka yang dikehendaki biar bagaimanapun usaha telah ditempuh. Anya menyadari sepenuhnya hal itu, bahwa pekerjaannya sama sekali tidak menjanjikan masa depan. Meski begitu, saat ini Anya belum punya pilihan.
Tak terasa malam hari telah tiba. Anya bersiap berangkat untuk menepati janjinya, juga untuk melancarkan sebuah misi.
Di depan cermin Anya mematut-matut wajahnya, memastikan penampilannya telah sempurna. Lalu menyemprotkan parfume dengan aroma lembut favoritenya. Setelah memastikan semuanya tepat, Anya segera berangkat ke medan pertempuran dengan mengendarai motor matic andalannya.
Seperti hari-hari sebelumnya, Anya melakukan ritual yang itu-itu saja. Check in di hotel, mengobrol ringan, saling menggoda, melakukan foreplay hingga ke inti permainan, lalu menyudahi semua itu dengan perasaan hampa. Kenikmatan yang dirasakan Anya benar-benar hanya sesaat, sebab setelah itu yang tertinggal hanya perasaan kotor dan hina. Perasaan yang sudah begitu akrab hingga seolah telah melekat pada citra dirinya. Perasaan hina yang telah melekat bahkan sejak pertama dosa terlarang ini dilakukannya. Dan Anya tiba-tiba merasa muak dengan hidupnya.
"Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?", Tanya Heru saat mereka sudah sama-sama selesai mandi.
"Aku butuh bantuanmu..."
"Bantuan apa lagi?"
"Anton, laki-laki yang kutabrak malam itu, mengalami kelumpuhan dan amnesia, tolong tampunglah dia dirumahmu untuk sementara waktu.. ", jawab Anya langsung mengutarakan tujuannya.
"Apa? Menampungnya? Tidak mungkin Anya! Tidak bisa, aku tidak suka ada orang asing dirumahku..."
"Tapi aku juga tidak mungkin menampungnya di kontrakanku. Apa nanti kata tetangga?"
"Hah, lucu sekali, bukankah kamu wanita malam, bukankah hal itu sudah biasa bagimu?"
Tidak, Anya tidak pernah mengajak satupun pria ke kontrakannya. Anya selalu melakukannya di luar karena Anya ingin tempat tinggalnya 'bersih'. Bahkan para tetangga tidak tahu tentang pekerjaan yang dilakoninya. Cukup menduga-duga dan bertanya-tanya tentang pekerjaan apa yang dilakoni Anya di malam hari tanpa tahu kebenarannya. Lagi pula baik Anya maupun Anton adalah perempuan dan laki-laki yang masih sendiri, pasti tidak nyaman jika harus tinggal bersama.
"Terserah kau mau mengataiku apa! Tapi kamu juga seharusnya ikut bertanggung jawab karena malam itu aku mabuk karena menunggumu!", bentak Anya tak mau kalah.
"Ah jelas tidak bisa, peristiwa itu murni kesalahanmu dan tidak ada hubungannya denganku. Aku rasa sudah cukup bantuan yang kuberikan kemarin, jadi jangan libatkan aku dengan orang itu lagi...."
Anya merasa kecewa atas penolakan itu. Bahkan setelah puas mencumbu dan menikmati tubuhnya pria itu tidak peduli pada masalahnya. Tapi Anya tentu tidak akan menyerah begitu saja. Karena Anya tidak menerima penolakan.
"Tidak bisakah kau menolongku sekali lagi? Kali ini aku benar-benar membutuhkanmu...", kali ini Anya memasang wajah merayu dengan senyuman manisnya.
"Baiklah kalau begitu..."
Anya senang rayuannya berhasil menakhlukkan pria paruh baya itu.
"Terimakasih banyak, aku tahu kau adalah seorang dokter yang baik hati..."
"Tapi ini tidak gratis, kau harus mem!bayarnya dengan dirimu..."
Wajah Anya yang sempat ceria kembali cemberut.
"Dasar laki-laki licik! Berapa malam lagi yang ingin kau habiskan denganku untuk membayar hutangku?"
"Seumur hidupmu!"
"Apa?", tanya Anya dengan raut terkejut.
"Jadilah wanita simpananku, bukankah ini akan menguntungkan bagi kita berdua?"
"Tidak mau!", jawab Anya dengan yakin.
"Kenapa kau begitu keras kepala anak manis? Bukankah kau sangat membutuhkan bantuan dariku, maka turunkanlah sedikit harga dirimu itu dan jadilah milikku selamanya...."
"Jangan bermimpi, sampai kapanpun aku tak sudi jadi simpananmu!"
"Kenapa kau begitu sombong dan keras kepala? Padahal setiap hari kau harus menjual tubuhmu kepada para pria hanya untuk mendapatkan beberapa lembar rupiah, jadilah milikku! Setidaknya hidupmu akan terjamin dan kau tak perlu lagi khawatir terkena penyakit kotor!"
"Sudahlah, jangan banyak bicara dan cepat pergilah, aku tak butuh bantuanmu! Biar aku usahakan sendiri keperluanku!"
"Baiklah kalau itu maumu, aku akan pergi. Tapi andai kau berubah pikiran, jangan segan-segan menghubungiku, tawaranku masih tetap berlaku..."
Anya hanya terkekeh mendengar itu. Apa hanya karena memiliki banyak uang, manusia jadi bisa bertingkah seenak hatinya? Gerutu Anya dengan kesal.
Bagi Anya menjual diri lebih baik daripada menjadi simpanan pria beristri. Sebut dia munafik! Namun itulah sedikit prinsip yang masih mampu dipegangnya. Anya tidak akan mengganggu dan menggoda apa yang telah menjadi milik wanita lain. Anya hanya akan bekerja secara profesional sebagai pekerja s**s. Kalau ada pria yang datang padanya, itu adalah karena kemauan pria itu sendiri, bukan dirinya yang merebut dari wanita manapun. Lagi pula Anya tidak ingin dimiliki dan terikat dengan siapapun. Sebab siapapun itu pasti hanya menginginkan tubuhnya bukan dirinya seutuhnya. Mana ada pria yang akan mencintai wanita murahan seperti dirinya? Anya cukup tahu diri dan tak mau bermimpi terlalu tinggi. Hidupnya sudah cukup dan dia hanya akan bersenang-senang dengan dirinya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments
Lesly Manurung
.mau aja Anya tawaran heru
2022-11-26
0