Anya bangun lebih pagi hari ini. Dan suasana hatinya juga lebih baik. Anya sudah bisa lebih tenang dan menguasai diri. Anya memutuskan untuk pasrah dan menyerahkan pada Tuhan apapun hasilnya nanti sambil tetap berharap itu adalah yang terbaik.
Jadi setelah selesai sarapan, Anya segera pergi ke rumah sakit dengan langkah kaki yang ringan. Sampai dirumah sakit dan masuk ke ruang perawatan Anya langsung mendapati wajah Anton yang terlihat segar karena baru saja dimandikan oleh seorang perawat laki-laki.
"Selamat pagi Anya...", sapa Anton dengan riang.
"Selamat pagi, kau belum memakan sarapanmu?", tanya Anya yang melihat sarapan dari rumah sakit masih utuh tak tersentuh.
"Aku ingin mandi dulu sambil menunggumu datang baru setelah itu sarapan..."
"Baiklah, kalau begitu ayo makan sarapanmu, aku akan menemanimu..."
"Kamu sendiri, apa sudah sarapan?"
"Sudah, aku selalu sarapan pagi-pagi..."
"Baguslah kalau begitu, kau datang pagi-pagi dan sangat bersemangat, sepertinya kau yang lebih penasaran dengan hasil pemeriksaanku..."
"Hehe, apa begitu terlihat?"
"Ya, tentu saja...boleh aku minta satu hal padamu?"
"Apa?", tanya Anya penasaran
"Tolong jangan terlalu berharap dan apapun hasilnya nanti jangan jadikan beban bagimu. Aku bukanlah tanggunganmu..."
Sejenak Anya terdiam. Apa begitu terbaca kekhawatiran dibenaknya?
"Baiklah...", jawab Anya akhirnya.
Anton lalu segera menyantap makanannya seperti yang dijanjikan. Anya memperhatikan Anton yang terlihat makan dengan lahapnya, membuatnya tergelitik ingin bertanya.
"Apa makanannya seenak itu?"
"Hmm?", Anton terlihat bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Anya.
"Kau terlihat makan dengan lahap, padahal biasanya makanan rumah sakit tidak begitu enak..."
"Hmmm, sebenarnya agak hambar. Tapi aku hanya ingin berusaha untuk sembuh. Dan mungkin makan dengan baik adalah salah satu caranya..."
Entah mengapa mendengar jawaban itu Anya sedikit merasa bersalah. Mungkin sekali-kali Anya harus membelikan Anton makanan dari luar.
Selama ini Anya terlalu fokus pada keperluan pokok saja, hingga melupakan bahwa mungkin Anton juga butuh makanan yang tidak hanya mengenyangkan tapi juga menyenangkan.
Biasanya di meja rumah sakit penuh dengan aneka makanan, jajanan, juga buah-buahan yang dibawa keluarga, saudara, juga teman yang membesuk. Tapi di meja ruang perawatan Anton tidak ada apa-apa selain air mineral dan sebungkus roti yang dibeli Anya, karena memang tidak ada siapapun yang datang untuk membesuk.
Tidak berselang lama setelah lama setelah Anton selesai makan, seorang dokter masuk bersama seoranv perawat.
"Selamat pagi Tuan dan Nona..."
"Selamat pagi dok..."
Perawat dengan sigap memeriksa infus dan menyuntikkan beberapa obat di dalamnya. Lalu memeriksa suhu juga tensi pasien. Sementara dokter beberapa saat nampak memeriksa lembaran yang dibawanya, lalu setelah itu memeriksa detak jantung pasien.
"Nona Anya saya akan menyampaikan hasil pemeriksaan tuan anton kemarin, apa anda sudah siap?"
"Ya dok..."
"Secara keseluruhan kondisi saudara Anton baik, hanya saja saudara Anton seperti yang kita lihat masih kesulitan berjalan, karena ada beberapa syaraf yang rusak. Tapi hal itu diperkirakan bisa pulih dengan dilakukan fisioterapy mungkin sekitar eman bulan sampai satu tahun. Sedangkan untuk masalah ingatan, saudara Anton dipastikan mengalami amnesia disosiatif, dimana tidak bisa dipastikan waktu pemulihannya, tapi bisa dilakukan berbagai macam usaha untuk merangsang ingatannya agar kembali..."
Selanjutnya dokter masih melanjutkan berbagai penjelasan tentang diagnosis Anton, tapi Anya sudah tidak terlalu fokus untuk mendengarkan.
Bagi Anya kesimpulannya sudah jelas, Amnesia yang diderita Anton perlu waktu yang cukup lama untuk pulih, dan karena itu Anya harus segera menyiapkan rencana selanjutnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments
Lesly Manurung
ya kuat anya
2022-11-24
0
Triana Mustafa
sabar Anya....
2022-09-29
0