Anya pulang ke kontrakannya dan langsung tertidur karena kelelahan. Belakangan ini Anya merasa sangat lelah. Lelah badan karena selain harus bekerja, kini Anya juga harus menjaga orang asing yang ditabraknya. Tapi yang lebih terasa berat adalah lelah hati dan pikirannya. Bagaimanapun juga belakangan Anya merasa tidak tenang, sebab nasib korban yang ditabraknya masih juga belum jelas. Keadaan korban yang telah sadar adalah sebuah kemajuan yang sangat berarti, tapi disisi lain kondisi korban yang ternyata amnesia menjadi masalah baru yang sampai sekarang membuat Anya selalu was-was. Kapan pria itu akan mengingat identitasnya? Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang?
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui benak Anya dimana pun dirinya berada.
Pagi-pagi sekali Anya sudah bangun. Anya segera mandi dan menyiapkan sarapannya lalu menikmati sarapan itu seorang diri. Anya hidup seorang diri, jadi dia harus pandai-pandai menjaga dirinya sendiri. Terutama untuk masalah kesehatan. Apapun masalah yang menimpanya Anya tetap berusaha untuk hidup dengan baik dan makan dengan teratur, sebab jika dirinya sakit takkan ada orang yang akan merawatnya. Satu kenyataan pahit yang telah diterima Anya dengan lapang dada.
Selesai dengan sarapannya Anya langsung berangkat ke rumah sakit. Hari ini pemeriksaan lebih lanjut terhadap kondisi Anton akan dilakukan. Anya sangat berharap bahwa hilangnya ingatan Anton hanyalah sementara dan bisa lekas pulih. Juga Anya berharap agar kondisi Anton secara keseluruhan lekas membaik. Anya sangat berharap Anton kembali sehat dan segera bertemu dengan keluarganya agar tidak membebani pikiran dan hidupnya lagi.
Namun lagi-lagi harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Sampai dirumah sakit Anya mendapati Anton sudah tidak berada di ruang perawatan. Saat Anya bertanya pada suster jaga, mereka bilang Anton sudah dibawa untuk melakukan pemeriksaan lanjut terkait kondisinya.
Anya akhirnya memutuskan untuk menunggu di ruang perawatan. Untuk membunuh rasa bosan Anya terus bermain-main dengan ponselnya meski tanpa tujuan yang jelas. Tapi disisi lain Anya tidak bisa berkonsentrasi karena hatinya merasa cemas. Selang satu jam Anton sudah kembali dengan diantarkan dua orang perawat.
"Suster bagaimana hasil pemeriksaannya?", tanya Anya tidak sabar pada dua orang perawat yang mengantarkan Anton.
"Maaf Nona, pemeriksaan terhadap saudara Anton memang sudah selesai dilakukan, tapi hasilnya sepertinya baru akan keluar besok pagi..."
Anya menarik nafasnya dalam-dalam. Dia masih harus bersabar.
"Baiklah kalau begitu Sus, terimakasih banyak...", jawab Anya sambil berusaha mengendalikan emosinya.
Anya kembali duduk di kursi samping ranjang pasien dengan putus asa. Raut wajah Anya yang menyiratkan kekecewaan, jelas terbaca oleh Anton yang sejak tiba di kamar perawatan mengamati gadis itu. Anya jelas terlihat panik dan gelisah. Dan Anton mengerti bajwa penyebab kegelisahan Anya adalah kondisinya.
"Anya, maafkan aku...", kata Anton sambil memegang tangan Anya.
"Untuk apa?", tanya Anya yang justru terkejut saat mendengar Anton tiba-tiba bicara padanya.
"Maaf sudah membuatmu khawatir dan gelisah karena memikirkan keadaanku...", kata Anton dengan tulus.
"Ah, kau ini! Kenapa bicara begitu. Akulah satu-satunya orang yang harus minta maaf karena sudah membuatmu begini..."
"Kamu sudah melakukannya berkali-kali, jadi jangan lagi merasa bersalah, karena kesalahanmu tidak sebesar itu..."
Anya memang orang yang menabraknya dan menyebabkannya terluka, bahkan hingga hilang ingatan. Tapi sejak membuka mata, Anton hanya melihat Anya yang ada disisinya dan terlihat sangat mengkhawatirkannya. Anton bisa melihat ketulusan Anya dan kesungguhannya untuk bertanggung jawab.
Anya akhirnya tersenyum dan entah mengapa beban di hatinya sedikit berkurang.
"Apa keadaanku yang seperti ini begitu membebanimu, Anya?", tanya Anton dengan sungguh-sungguh.
"Entahlah, aku hanya memikirkan keluargamu...mereka pasti sangat khawatir mencarimu, sedang kamu juga tidak bisa mengingat mereka. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan..."
"Jangan memikirkan hal yang diluar kuasamu, karena itu akan membuatmu stress dan tidak baik untuk kesehatanmu. Kamu pasti sudah mengeluarkan banyak uang untuk biaya perawatanku bukan? Atau jangan-jangan kau sampai berhutang?"
"Tidak...aku tidak berhutang...", entah mengapa Anya ingin menyembunyikan kenyataan itu.
Padahal sesungguhnya Anya memang berhutang, tapi bukan dengan uang dia harus membayarnya.
"Bebanmu untuk membayar biaya perawatanku saja sudah berat, jadi jangan pikirkan macam-macam karena ini bukan salahmu. Ini adalah takdir, lagi pula kau juga tidak sengaja bukan?"
"Tapi aku melakukan kesalahan, karena aku dalam keadaan mabuk saat berkendara...", jelas Anya dengan jujur.
"Kalau begitu jangan mabuk lagi, mungkin ini cara Tuhan menegurmu karena maksiat yang kau lakukan..."
Kata-kata Anton diucapkan dengan halus, tapi entah mengapa terasa menusuk di hati Anya.
Maksiat? Seluruh hidupnya penuh dengan maksiat. Anya menyadari benar hal itu. Tapi Anya punya alasan kuat untuk melakukannya. Anya bahkan tidak punya pilihan lain selain melakukan maksiat untuk sekedar bertahan hidup.
Anya sejenak terdiam memikirkan kata-kata pria asing di depannya.
"Maaf jika aku menyinggungmu, aku tidak bermaksud begitu..."
"Tidak, tidak apa-apa, aku tidak tersinggung..."
Hari sudah siang dan untuk menghindari kecanggungan, Anya memilih pamit untuk makan siang di kantin.
Setelah makan siang, Anya kembali ke ruang perawatan. Anya memastikan semua keperluan Anton tersedia sebelum Anya meninggalkannya.
"Terimakasih sudah memperhatikanku. Walaupun tidak ada keluargaku disini, tapi aku tidak merasa sendirian...", Ucap Anton dengan tulus.
"Sama-sama, aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik..."
Anya beranjak pulang. Tapi hatinya masih was-was memikirkan hasil pemerikasaan Anton esok hari. Malam ini Anya memutuskan untuk meliburkan diri. Anya menolak semua permintaan klien yang ingin menggunakan jasanya, termasuk Heru yang tetap menagih hutangnya. Anya ingin beristirahat dan menenangkan diri serta berdoa untuk kesembuhan dan terutama kembalinya ingatan Anton.
Anya menunaikan sholat wajib maghrib dan isya, lalu berdoa setelahnya.
Bahkan malam ini Anya memutuskan untuk menunaikan shalat malam dan juga berdoa panjang setelahnya.
Tidak ada yang tahu bahwa meskipun melakukan pekerjaan kotor, Anya adalah orang yang tak pernah melewatkan ibadah shalat wajib. Lebih tepatnya, Anya sengaja tak menunjukkan pada siapapun, karena yang akan didapatnya pastilah hanya cibiran.
Anya sudah terbiasa melaksanakan ibadah wajib itu sejak dirinya kecil dan tak bisa meninggalkannya begitu saja. Lagipula saat ini Anya merasa tak memiliki siapa-siapa dan tidak percaya pada siapapun. Jadi hanya Tuhan lah tempatnya bertumpu, meskipun Anya juga merasa amat tidak pantas. Anya hanya meyakini, bahwa Tuhan lah yang menolongnya selama ini hingga bisa bertahan dan Anya terus meyakini bahwa Tuhanlah yang akan membukakan jalan untuknya keluar dari lembah dosa. Entah bagaimana caranya, Anya hanya terus berusaha dan berdoa. Anya percaya janji Tuhan, yang akan mendengar dan mengabulkan semua doa. Termasuk doa dari seorang pendosa sepertinya. Meaki itu entah kapan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments