"Bagaimana kondisinya, apakah parah?", tanya Anya dengan panik pada petugas rumah sakit.
"Cukup parah Nona, ada luka serius di bagian kepala, sepertinya setelah penanganan darurat, pasien harus segera di operasi...tapi sebelum operasi dilakukan anda perlu mengurus administrasi dan menandatangani beberapa berkas..."
"Oh, ****, bagaimana ini?"
Anya bicara sambil mondar-mandir di lorong rumah sakit. Operasi? Apakah biayanya besar? pikirnya mulai panik. Lagi pula lelaki itu tidak punya kartu identitas, bagaimana mengurus administrasinya.
Dan kemudian tercetus ide cemerlang di kepalanya.
Anya mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Aku perlu bantuanmu!"
Katanya tanpa basa-basi.
"Bantuan apa sayang? Dengan senang hati kalau aku bisa pasti kubantu..."
"Aku barusan menabrak seseorang, sekarang aku membawanya ke rumah sakit tempatmu bekerja. Keadaannya cukup parah dan dia tidak punya kartu identitas. Bantu aku mengurus administrasi juga biayanya!"
Hening sejenak, di ujung telepon Heru sedang berfikir.
"Baiklah, akan kupikirkan solusinya. Tapi pura-puralah tidak mengenalku saat aku datang, mengerti?"
"Ya aku mengerti, tolong cepatlah. Aku tak mau orang ini meninggal dan nanti aku akan kena masalah..."
Anya masih menunggu dengan resah sementara orang yang ditabraknya mendapatkan penanganan di IGD.
Tidak lama berselang Heru datang keruang IGD, pura-pura bertanya pada dokter jaga untuk mengecek satu persatu kondisi pasien IGD. Dan saat tiba pada seorang pria korban kecelakaan dengan luka dalam di bagian kepala, Heru langsung tahu bahwa itu orang yang dimaksud Anya.
"Bagaimana kondisi pasien ini?"
Tanya Heru sambil menghampiri pasien dengan raut wajah dibuat khawatir.
"Lumayan parah dok, tapi sepertinya keluarga belum bisa dihubungi karena tidak ditemukan kartu identitas apapun di tubuh pasien..."
"Saya mengenalnya, dia masih kerabat saya, berikan pertolongan terbaik, saya yang akan bertanggung jawab dan mengurus administrasinya sampai keluarganya datang..."
"Baik dok..."
Heru lalu berjalan ke bagian administrasi untuk mengurus segala keperluan agar pasien bisa segera ditangani.
Setelah semua beres baru Heru menghampiri Anya yang sedang duduk menunduk di bangku tunggu pasien dengan wajah kuyu dan lesu.
"Pulang dan beristirahatlah, aku yang akan membereskannya, besok datanglah lagi kesini..."
Anya terkesiap. Tadinya dia mengantuk dan hampir tertidur di bangku karena terlalu lama menunggu.
"Benarkah?"
"Ya, kamu jangan khawatir..."
"Apa yang kamu katakan pada mereka?"
"Aku bilang dia kerabatku dan aku yang akan bertanggung jawab..."
"Terimakasih banyak..."
"Bantuan ini tidak gratis..."
"Berapa yang harus kubayar?"
"Uang yang ku keluarkan cukup banyak, mungkin kita bisa berkencan tiga belas malam tanpa bayaran? Bagaimana?"
"Tiga belas malam tanpa bayaran?"
"Aku bahkan mengeluarkan ratusan juta untuk operasi pria asing itu!"
"Baiklah, tiga belas malam, aku pulang dulu, besok aku akan kesini lagi untuk menjenguknya..."
"Baiklah, hati-hati di jalan...dan ingat aku hanya bisa membantumu sampai disini saja"
"Ya aku tahu, terimakasih banyak. Aku sendiri yang akan meminta maaf dan menghubungi keluarganya setelah dia sadar nanti .."
"Gadis pintar, pulanglah dan hati-hati dijalan, semoga kamu tidak membuat masalah lagi..."
Anya melangkah pergi tanpa menghiraukan Heru lagi. Begitu sampai dirumah kontrakannya Anya langsung jatuh tertidur sampai pagi.
Dan saat pagi tiba Anya kembali ingat akan pria asing yang ditabraknya semalam.
"Bagaimana keadaannya? Apakah operasinya berhasil?", gumam Anya pada dirinya sendiri.
Anya segera mandi dan bersiap, lalu pergi ke rumah sakit tempat pria asing itu di rawat.
Anya tiba dirumah sakit dan langsung bertanya pada petugas di mana pria asing itu dipindahkan.
"Operasi saudara Anton berjalan lancar, sekarang beliau sudah dipindahkan ke ruang perawatan tepatnya di ruang aster 3B...kondisi pasien stabil tapi masih belum sadarkan diri..."
"Saudara Anton?", Tanya Anya yang masih kebingungan.
"Ya, namanya Anton, masih berkerabat dengan Dokter Heru dan semalam Dokter Heru yang mengurus semua administrasinya, mungkin Nona bisa menghubungi Dokter Heru jika ingin bertanggung jawab atau menghubungi keluarga lainnya.."
"Oh, baiklah, terimakasih banyak informasinya..."
Anya lalu bergegas ke ruang dimana pria asing itu dirawat. Anya berharap semoga pria itu lekas sadar dan kondisinya segera pulih agar masalah ini cepat selesai dan dirinya bisa melanjutkan hidup dengan tenang.
Tapi saat sampai di ruangan yang dimaksud, Anya melihat pria asing itu masih tertidur pulas dengan berbagai alat penunjang yang masih menempel di tubuhnya.
"Maafkan aku tuan, semoga kau lekas pulih dan semua akan baik-baik saja...", lirih Anya berbisik di telinga pria asing itu.
Dalam hati Anya berjanji tidak akan mabuk lagi dan lebih berhati-hati dalam berkendara kelak.
Anya lalu beranjak menuju meja perawat di depan ruangan dan menanyakan seputar kondisi pria asing itu.
"Kondisi pasien cukup stabil Nona dan operasi tadi malam juga berjalan sukses, hal ini wajar terjadi. Nona berdoa saja agar pasien segera sadar..."
"Baik suster, terimakasih banyak..."
Mendengar hal itu Anya bisa sedikit tenang. Anya lalu kembali ke ruang perawatan untuk menunggui pria asing itu.
Sampai malam Anya masih menunggui pria itu dan tak berniat untuk pergi ke mana-mana sebelum pria itu sadar. Anya ingin segera tahu siapa sebenarnya pria itu dan segera menghubungi keluarganya. Pasti keluarganya sangat khawatir dan sedang mencarinya.
Anya hampir tertidur dengan posisi duduk di samping ranjang pria asing itu saat tiba-tiba ponselnya berdering.
Anya reflek mengangkatnya meski matanya masih terpejam.
"Selamat malam sayang, bisa kita bertemu malam ini?", sebuah suara yang amat dikenal menyapanya di seberang telepon.
"Aku masih dirumah sakit, pria yang kemarin kutabrak masih tidak sadarkan diri!", Jawab Anya jujur.
"Kau tak perlu menungguinya seharian sayang, ada perawat yang berjaga dua puluh empat jam, lagi pula dia kan bukan siapa-siapa mu bukan?"
"Ya, tapi untuk apa kita bertemu?"
"Tentu saja untuk menghabiskan malam bersama, kau tidak lupa kan berapa hutang yang harus kau bayar?"
"Kau gila! Apa hanya hal mes*m yang ada di pikiranmu? Pria ini bahkan belum sadarkan diri dan kau sudah menagih hutang! Aku tidak bisa, tidak sekarang Pak Dokter yang terhormat!"
"Ayolah sayang, kau tidak boleh menolakku seperti ini. Aku sedang membutuhkanmu sekarang..."
Anya menjauhkan ponsel dari telinganya dan mengabaikan apapun yang diucapkan Heru selanjutnya. Ada hal yang jauh lebih penting dari bualan lelaki mes*m di ujung telepon.
Anya melihat jemari pria asing itu bergerak perlahan. Juga kepalanya yang berusaha bergerak, lalu keluar suara pelan dari mulutnya.
"Uh..."
Anya tanpa sengaja menjatuhkan ponselnya dan berlari keluar menuju pos jaga perawat.
"Suster, pasien sepertinya mulai sadar, tolong segera diperiksa..."
Karena panik Anya sampai melupakan kalau di kamar pasien ada bel yang bisa digunakan untuk memanggil perawat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments
Lesly Manurung
syukur,udh sadar
2022-11-24
0