Sudah cukup Anya bersantai dirumah selama seminggu lebih sejak kedatangan Anton kerumahnya. Ya, Anya memang sengaja meliburkan diri beberapa saat untuk beradaptasi dengan keadaan baru. Sejak itu pula Tante Bela, muc*karinya getol menawarkan pria-pria baru yang tertarik pada Anya. Rencananya besok senin Anya akan kembali bekerja, bahkan Anya berencana akan mengambil pekerjaan setiap malam dan hanya mengambil libur di akhir pekan. Dengan begitu pundi-pundi akan cepat terkumpul lagi. Selain itu Anya akan terlihat rutin bekerja, seperti para penjaga toko atau pelayan restoran misalnya. Sebab Anya belum siap kalau Anton tahu tentang pekerjaan haramnya. Bisa-bisa pria itu jadi jijik jika harus tinggal serumah dengan pelac*r.
"Anton, besok malam aku akan mulai bekerja lagi...", Ucap Anya disela-sela makan malam mereka.
"Bekerja?"
"Iya...kebetulan jadwal kerjaku kebagian shift malam, tidak apa-apa kan aku tinggal kalau malam?"
"Oh, tidak apa-apa, kamu yang seharusnya lebih berhati-hati dijalan. Apa kemarin ketika menabrakku kamu juga pulang bekerja?"
"Ya, begitulah..."
Selama ini Anton selalu menerka-nerka, dari mana Anya mendapatkan uang untuk biaya hidup mereka. Padahal selama ini Anton belum pernah melihat Anya pergi untuk bekerja. Sekarang terjawab sudah pertanyaan di kepalanya yang tak berani dia ungkapkan.
"Hati-hatilah...Anya...segera telepon rumah kalau terjadi apa-apa..." Begitu kata Anton sambil melepaskan kepergian Anya di pintu gerbang.
Anya tersenyum dan melambaikan tangan sebelum memacu sepeda motor maticnya meninggalkan rumah.
Begitulah kemudian setiap malam Anya menjalani pekerjaan kotornya lagi, melayani pria demi pria yang menginginkan tubuhnya semata.
Disingkirkannya rasa jijik dan dipasangnya senyum manis di wajah. Agar sang tuan merasa puas dan rela untuk membayarnya lebih mahal.
Dunia memang kejam, dan kita harus kuat untuk bisa bertahan. Mengabaikan semua rasa sakit dan tersenyum manis. Agar tak ada orang yang menganggap diri kita lemah.
Siang hari lebih banyak dihabiskan Anya untuk tidur dan beristirahat di dalam kamar. Hanya ketika harus mengantar Anton pergi fisoteraphy Anya pergi keluar rumah. Dan sesekali Anya juga pergi ke salon seorang diri. Sesekali saja, tidak sesering dulu, sebab Anya kerap merasa lelah dan juga malas. Makanan pun lebih banyak di beli Anya di warung daripada memasak. Dengan begitu interaksi antara Anya dan Anton jadi jauh berkurang. Hanya seperti dua orang asing yang tinggal serumah dan sesekali harus bersinggungan.
Disisi lain, entah mengapa Heru menjadi sering berkunjung kerumah Anya. Kadang sekedar mengantarkan makanan. Tapi terkadang Heru duduk lama di ruang tamu dan tak mau pulang-pulang. Segala cara sudah dilakukan Anya untuk mengusir pria hidung belang itu, tapi Heru sungguh keras kepala. Akhirnya Anya menyerah dan memilih masa bodoh dengan kehadiran Heru di dirumahnya. Anya akan tetap melakukan rutinitasnya dengan mengabaikan keberadaan Heru yang tetap duduk diruang tamu. Anya akan mandi, makan, menonton televisi, bahkan masuk ke dalam kamar untuk tidur, meakipun Heru masih duduk di ruang tamu. Toh cepat atau lambat, laki-laki itu pasti pulang sendiri. Begitu pikir Anya yang tak mau pusing. Perasaan risih diabaikannya. Demi memenangkan pertarungan tak kasat mata antara dirinya dan Heru.
Hutang Anya telah dibayar lunas dan Anya memutuskan untuk tidak lagi berurusan dengan Heru. Anya menolak untuk melayani Heru lagi meski berapapun uang yang ditawarkan pria itu. Karena menurut Anya, Heru sudah melewati batas dan mulai mengusik privasinya. Tapi bukannya menjauh, pria itu malah semakin mendekat dengan berani datang kerumahnya.
Anya mencoba untuk bersabar dan bertahan dari semua gangguan yang dilancarkan Heru. Tapi kemudian Heru yang merasa diabaikan justru melakukan tindakan nekat yang menyakiti Anya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments
Lesly Manurung
Jngn nekat heru
2022-11-27
0