Salah satu perawat jaga mengikuti Anya ke kamar perawatan, lalu melakukan beberapa pemeriksaan di tubuh pasien.
"Tunggu sebentar, biar saya panggilkan dokter dulu ya...", kata perawat itu dengan ramah.
"Baik Sus, terimakasih..."
Sepeninggal perawat itu, Anya lalu mengamati pria asing yang kemarin ditabraknya. Pria itu memejamkan matanya. Tapi terlihat hidungnya bergerak-gerak.
Sepertinya dia sudah sadar, tapi mengapa masih memejamkan mata? Apa dia hanya pura-pura?
Gumam Anya dalam hati.
Anya lanjut mengamati wajah pria asing itu. Kulitnya bersih, hidungnya mancung, garis wajahnya terlihat tegas. Terlihat seperti keturunan arab. Sedangkan badannya cukup tinggi, berisi, dan berotot di bagian tertentu. Cukup tampan, batin Anya menilai. Kalau melihat penampilannya yang bersih dan terawat, kemungkinan pria ini adalah anak orang berada.
"Permisi Nona..."
Sapaan dokter yang datang membuyarkan lamunan Anya.
"Silahkan dokter..."
"Apa anda wali pasien?"
"Ya...eh bukan...", Anya sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan dokter.
"Maaf, maksud saya...saya bukan keluarganya, tapi saya adalah orang yang menabraknya dan saya yang akan bertanggung jawab terhadap proses pengobatannya.."
"Baiklah, saya mengerti Nona, saya akan memeriksa kondisinya dulu..."
"Permisi tuan, apa anda sudah sadar?", Dokter bertanya sambil menepuk pundak pria itu.
Perlahan pria itu mulai membuka matanya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dokter? apa yang terjadi? Dimana ini? kenapa kepala saya terasa pusing?"
"Tenanglah dulu, anda baru saja siuman setelah operasi besar, wajar jika anda masih merasa tidak nyaman..."
"Tuan? Apakah anda benar-benar sudah sadar? Siapa nama anda dan dimana anda tinggal? Aku akan menghubungi keluargamu segera, mereka pasti sangat khawatir..."
Tapi pria itu hanya diam sambil memegang kepalanya.
"Dokter, kenapa kepalaku terasa pusing...dan...bagaimana aku bisa berada disini, apa yang terjadi? Kenapa...kenapa aku tidak bisa mengingat apapun..."
"Tuan, tolong tenanglah dulu...sepertinya anda mengalami amnesia disosiatif, sebaiknya sekarang anda istirahat dulu, saya akan memberikan obat untuk meringankan sakit kepala anda, jangan berpikir terlalu berat dan jangan memaksakan diri untuk mengingat...nanti kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan..."
"Apa? dia amnesia? Apa nanti dia bisa mengingat lagi dok?", Anya bertanya dengan panik.
"Nona, tolong tenanglah dan jangan menekan pasien agar mengingat, saya tahu anda pasti ingin segera mengetahui identitas pasien, tapi untuk saat ini mari kita fokus pada pemulihannya terlebih dahulu..."
"Baiklah dok, terimakasih banyak.."
Setelah selesai dengan pemeriksaan yang dilakukan, dokter segera keluar dari ruang perawatan.
Sepeninggal dokter, pria itu kembali memejamkan mata sambil memegang kepalanya.
"Tuan, apakah sakit? tuan maafkan aku..."
Pria itu membuka matanya dan menatap Anya.
"Siapa kamu? Dan tolong jangan panggil aku tuan, itu terdengar tidak nyaman ditelingaku!"
"Baiklah tu..baiklah, lalu aku harus memanggilmu apa? Namaku Anya, aku adalah orang yang menabrakmu dan membuatmu seperti ini, maafkan aku..."
"Sudahlah, panggilah sesukamu asal jangan tuan, aku bukan majikanmu! Dan jangan terus meminta maaf. Itu memang kesalahanmu sudah menabrakku, tapi ini juga sudah takdirku, kau juga tidak sengaja menabrakku kan?"
"Baiklah..."
Setelah itu mereka hanya saling diam, hingga akhirnya Anya jatuh tertidur karena kelelahan. Dan pria itupun tertidur karena obat yang diberikan dokter. Anya sedikit merasa lega karena pria itu sudah sadar, tapi juga masih khawatir karena belum bisa menghubungi keluarganya.
Saat Anya terbangun, ternyata pria itu sudah bangun terlebih dahulu dan sedang berusaha meraih gelas di atas nakas.
Anya langsung berdiri dan berinisiatif mengambilkan gelas yang dimaksud lalu menyerahkannya pada pria itu.
"Terimakasih, tapi sebenarnya aku bisa melakukannya sendiri, hanya harus sedikit berusaha karena selang infus membatasi gerakanku. Lain kali tolong biarkan aku melakukannya sendiri, aku hanya hilang ingatan tapi tidak lumpuh..."
"Baik Tuan..."
"Dan jangan panggil tuan!"
"Baiklah, karena aku tidak tahu namamu dan kamu juga tidak tahu namamu sendiri, bolehkah aku memberimu nama?"
"Nama?"
"Yah, hanya nama sementara sampai ingatanmu kembali, kemarin temanku meminjam identitas seseorang untuk mengurus administrasimu, dan namanya adalah Anton. Jadi bolehkah mulai sekarang aku memanggilmu Anton?"
"Yah, terserah kau saja..."
Kemudian pria itu kembali tidur dan mengabaikan Anya.
Anya lalu memutuskan turun ke kantin untuk makan siang. Anya memesan semangkuk bakso, satu sanwich, juga dua gelas minuman dingin. Anya baru saja menyadari kalau perutnya lapar sekali. Dari pagi Anya belum sempat makan atau lebih tepatnya tidak berselera untuk makan karena masih memikirkan nasib pria asing yang belum sadarkan diri. Tapi setidaknya sekarang Anya tahu pria itu akan baik-baik saja meski hilang ingatan.
Anya menyantap baksonya dengam lahap juga menggigit sanwichnya dengan rakus, rasanya lumayan lezat, mungkin karena perutnya memang lapar.
"Anya!"
Seseorang memanggilnya dan tiba-tiba duduk disampingnya.
"Bagaimana bisa kau mengabaikanku begitu saja setelah aku menyelamatkan hidupmu hah? Dan sekarang aku menemukanmu sedang makan seperti orang kelaparan..."
"Maaf, ponselku mati setelah panggilan terakhirmu waktu itu..."
"Kau tidak melupakan hutangmu bukan? Jangan coba-coba untuk kabur, sebab aku takkan melepaskanmu begitu saja, sebelum kau melunasinya!"
"Untuk apa aku kabur? Semalam aku masih mengkhawatirkan pria itu, tapi sekarang dia sudah sadar, nanti malam mari kita bertemu, bagaimana? Nanti aku akan menghubungimu, jadi sekarang kau bisa pergi. Kamu tidak ingin ketahuan oleh rekan kerjamu bukan?"
"Baiklah, aku pegang kata-katamu, nanti malam mari bertemu ditempat biasa, dan ingat jangan mabuk saat menungguku! Aku tak akan membantumu kalau kau membuat masalah lagi, mengerti?"
"Mengerti, aku hanya meminta bantuanmu sekali ini dan lagi pula nanti aku akan membayarnya dengan tubuhku. Jadi kurasa, kau tak perlu besar kepala Pak Dokter yang terhormat!"
"Terserah kau mau bilang apa, aku pergi! Sampai jumpa nanti malam!"
Setelah Heru berlaku, Anya kembali melanjutkan acara makannya dengan damai. Setelah itu Anya membeli beberapa makanan ringan juga air mineral dan membawanya ke ruang perawatan.
Beberapa saat setelah Anya datang, pria itu terbangun.
"Kau masih disini?", tanyanya sambil menatap Anya.
"Ya, seperti yang kau lihat, aku masih disini, apa kau keberatan? Aku yang membiayai biaya perawatanmu dan aku yang mengurus semua keperluanmu..."
"Terimakasih banyak Anya, bukan begitu maksudku. Apa kau tidak punya pekerjaan atau urusan lain? Aku sudah sadar dan ada perawat yang berjaga, pergilah jika kamu ada urusan. Jangan terbebani karena keberadaanku. Kau sudah mau bertanggung jawab dan mengurusku saja aku sudah beruntung. Aku tahu banyak kejadian kecelakaan dimana pelaku kabur begitu saja, tapi kamu tidak!"
"Yah, itu sudah semestinya kulakukan, aku bukan pengecut yang akan lari begitu saja. Oh ya, nanti malam aku akan pergi, jaga dirimu baik-baik, makanlah dan minum obatmu, juga ikuti kata dokter. Semoga kau cepat pulih dan keluargamu segera menemukanmu..."
"Baiklah, kau juga...hati-hati di jalan dan jaga dirimu baik-baik Anya..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments
Lesly Manurung
kasian Anya,kerjaan nya merangkap
2022-11-24
0