Anya bangun pagi-pagi, menunaikan shalat subuh yang terlambat, lalu mandi dan bersiap untuk membuat sarapan. Tapi saat Anya baru saja keluar dari kamar mandi, Anya melihat segelas susu hangat sudah terhidang di meja dapur. Anya menghampirinya dan memperhatikan susu coklat itu sesaat, ketika kemudian sebuah suara mengagetkannya.
"Itu buat kamu!"
Anya terkejut, seperti maling yang tertangkap basah.
"Oh, terimakasih..", Ucap Anya sambil memperbaiki ekspresinya, lalu membawa segelas susu itu ke ruang tengah, untuk dinikmati sambil menonton televisi. Segelas susu di pagi hari, adalah kebiasaannya sejak kecil yang dibawanya sampai sekarang. Mungkin Anton mengamatinya yang selalu meminum susu setiap pagi, jadi hari ini dia berinisiatif membuatnya sebagai bahan latihan.
Anya diam-diam tersenyum sambil menyesap susu-nya perlahan. Dulu Ibunya yang sering membuatkan dan memaksanya minum susu ketika kecil. Sampai akhirnya kebiasaan itu terbawa hingga dewasa, meski kemudian Anya harus membuatnya sendiri saat tinggal jauh dari rumah. Dan sekarang seorang pria asing bersedia membuatkan segelas susu untuknya.
"Apa rencanamu hari ini?", tanya Anya saat Anton memarkirkan kursi roda di dekatnya.
"Rencana? rencana apa? Seperti biasa aku hanya akan berada dirumah, mungkin aku akan lebih keras berlatih mengerjakan pekerjaan rumah, agar cepat pulih...", jawab Anton apa adanya.
"Apa kamu tidak bosan?"
"Apa aku boleh merasa bosan?", Anton justru balik bertanya.
"Siapa yang tidak bosan menjadi orang yang tidak berdaya? Tapi aku tidak boleh mengeluh dan patah semangat bukan? Yang harus aku lakukan adalah berusaha untuk pulih dan mengingat agar aku bisa menemukan hidupku kembali. Jadi setiap hari aku hanya akan menyemangati diri sendiri agar tidak menyerah!"
"Baguslah, aku suka dengan jalan pikiranmu. Sepertinya kamu orang yang bijak dan hebat di kehidupanmu sesungguhnya, sayang kamu harus terjebak disini bersamaku..."
"Ayolah Anya, berhentilah bicara hal negatif tentang dirimu sendiri, ada apa denganmu akhir-akhir ini?"
"Hahaha, bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan keluar?" Tanya Anya dengan raut yang berubah ceria.
Tiba-tiba saja Anya menemukan ide itu dan membatalkan niat awalnya untuk memasak di pagi hari. Mungkin menikmati sarapan di luar akan membuat hatinya lebih gembira.
"Jalan-jalan ke luar?"
"Iya, ayo kita jalan-jalan keluar, ini hari minggu, kalau tidak salah di dekat sini ada pasar kaget yang ramai dengan penjual makanan dan orang yang berolahraga..."
Benerapa saat Anton malah terdiam dan terlihat berfikir.
"Pergilah sendiri atau ajak temanmu yang lain. Mengajakku pergi ke luar hanya akan merepotkanmu Anya. Sesekali kau boleh pergi bersenang-senang tanpa harus selalu memikirkanku!", jelas Anton kemudian.
Sebenarnya Anya merasa kecewa dengan jawaban itu. Tapi Anya mempunyai tujuan tersendiri untuk mengajak Anton jalan-jalan keluar.
"Ayolah, jangan berfikir seperti itu. Aku sama sekali tidak merasa repot hanya dengan mendorongmu. Lagi pula aku tidak punya teman lain!",
Bujuk Anya memberi alasan.
"Apa kau tidak malu berjalan di tempat umum dengan orang cacat sepertiku?"
"Tidak, untuk apa aku malu! Ayo kita jalan-jalan dan sarapan di luar. Sama sepertimu aku juga bosan jika dirumah terus. Dan lagi, siapa tahu dengan berada di keramaian akan ada seseorang yang mungkin mengenalmu dan akan bisa membantumu untuk mengingat..."
"Benar juga, kenapa tidak terpikir olehku? Baiklah Anya aku akan bersiap dulu, terimakasih banyak untuk semua kebaikanmu..."
Akhirnya Anton bersedia pergi jalan-jalan bersama Anya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments
Lesly Manurung
moga saja ada yg ngenal anton
2022-11-27
0