"Terserah kalian. Mau bermain api atau menyerah. Aku peringatkan sekali lagi, Qia bukan SI CUPU." Ucap Prita dan memilih meninggalkan kedua sahabatnya di dalam kamar mandi.
Kepergian Prita, membuat Sarah dan Dela semakin membeku. Keduanya saling menatap memberikan kode mata tanda persetujuan tidak akan peduli dengan apa yang dikatakan sahabat mereka. Kini hanya ada api balas dendam atas hinaan Rose. Sudah pasti rencana ke depan tidak akan main-main lagi.
Hari-hari dilewati dengan maraknya demo kandidat mahasiswa yang ingin menduduki kursi pemimpin. Termasuk Rose, gadis itu juga ikut mempersiapkan diri mengatur rencana kampanye sekali gerakan. Ia tak ingin terlalu banyak kata dan tindakan. Semua harus sinkron dengan jadwal kehidupannya yang sangat padat.
Kondisi kampus semakin panas dingin, membuat para dosen ikut sibuk memberikan arahan dan penilaian. Termasuk menata tertibkan aturan yang semakin diperketat. Banyak mahasiswa yang memihak Sarah sebagai kandidat nomor satu. Bukan karena mereka ingin, tetapi karena rasa takut. Banyak mata masih menunduk tanpa bisa melakukan perlawanan. Bukan itu, mereka memang tidak ingin melawan ketidakadilan.
Hari sibuk para mahasiswa di sela rutinitas kegiatan belajar mengajar. Kini semakin menambah waktu untuk berdiam diri menjadi penghuni kampus Regal Academy. Dari semua orang, seseorang yang selama ini hanya menjadi pengawas mulai merasakan kegelisahan. Semua berita, dan juga bukti membuat dia menyiapkan rapat darurat.
Di ruangan para dosen.
"Ibu Susi, apa Anda akan ikut rapat para dewan?" tanya seorang dosen dengan nametag Pak Ridwan.
Wanita yang tengah memeriksa beberapa data mahasiswa mengalihkan perhatiannya. "Aku harus ikut. Situasi kampus seperti kutub utara yang diatasnya matahari. Semua terlihat serba salah. Bukan begitu, Pak Ridwan?"
"Anda benar, aku hanya khawatir bagaimana nasib anak itu? Kenapa aku merasa, rektor Wisnu bersiap melakukan gerakan terakhirnya." Jelas Pak Ridwan.
"Anak itu? Apa maksud Pak Ridwan adalah mahasiswi yang diadukan geng cantika?" tanya Ibu Susi memastikan.
"Iya, Bu. Jika tidak salah namanya Qia. Kita tahu seperti apa geng cantika, tapi nasib anak itu bagaimana?" Pak Ridwan menghela nafas panjang.
Ibu Susi tersenyum tipis, dan diam melanjutkan memeriksa data mahasiswa. Pak Ridwan yang melihat sikap tenang wakil rektor tidak bisa memahami apapun, tapi satu hal pasti. Wanita itu tidak khawatir soal apapun. Hingga suara notif pesan terdengar saling bersahutan.
"Ayo, kita ditunggu di ruang rapat!" ajak Ibu Susi menutup berkas, setelah melihat pesan baru dari rektor Wisnu.
Berhubung jam pelajaran sudah berakhir. Rapat dadakan pun bisa diadakan tanpa harus membuat pengumuman para mahasiswa pulang lebih awal. Langkah kaki para dosen meninggalkan ruang dosen dan berpindah ke satu bangunan yang memang dikhususkan untuk rapat.
Jejeran kursi membentuk lingkaran dengan meja panjang tertata rapi, disertai sebotol air mineral yang sudah disediakan. Hanya dalam waktu setengah jam. Semua orang sudah berkumpul, tapi yang mengadakan rapat masih saja blum menunjukkan batang hidungnya. Setelah lima menit menunggu. Pintu ruangan rapat sekali lagi terbuka.
Langkah kaki yang terdengar cukup di hentak kan mengalihkan perhatian semua orang. Wajah tampan sedikit garang, dengan tubuh tinggi besar memakai pakaian rapi. Dialah rektor Wisnu. Seorang pria yang selalu bermain di balik layar. Sikap manis, tetapi penuh ambisi. Siapapun yang tidak mendengarkan pria itu, bisa dipastikan tersingkirkan.
"Sore, semuanya. Mari kita mulai rapatnya." Sapa Rektor Wisnu, lalu duduk di tempat yang biasa. "Bagaimana perkembangan pemilihan senat dan BEM tahun ini? Apa ada sesuatu yang baru?"
"Semua hal baru terjadi setiap tahun, Pak. Boleh saya bertanya mewakili para dosen?" Jawab Ibu Susi tanpa rasa takut, membuat Rektor Wisnu mempersilahkan dengan isyarat tangan. "Apa tujuan Anda melakukan rapat kali ini?"
"Beruntung sekali, Ibu Susi adalah wakil rektor pilihan pemilik yayasan. Jika tidak? Sudahlah." Rektor Wisnu tersenyum simpul, lalu membuka ponselnya. "Setelah aku pelajari beberapa kasus terakhir. Aku memutuskan akan memberikan dukungan pada Sarah Atmaja untuk duduk menjadi pemimpin senat....,"
"Apa Anda bercanda? Bagaimana bisa memutuskan seperti itu? Apa kandidat lain tidak memiliki kemampuan untuk menjabat sebagai ketua senat?" cecar Ibu Susi tanpa mau kalah.
Rektor Wisnu tidak menggubris ucapan Ibu Susi. Pria itu masih stay pada pendiriannya. "Apa yang akan kampus dapatkan? Jika memilih anggota senat dari kalangan mahasiswa biasa? Ayolah, sebagai seorang rektor. Bukankah tugasku memikirkan kemajuan academy?"
Para dosen hanya menyimak, bukannya tidak memiliki pendapat. Namun, ada pepatah mengatakan. Jangan ganggu singa yang mengaum. Siapa sih yang mau di terkam? Tentu tak seorangpun. Resikonya tidak sebanding dengan pemberontakan yang akan dilakukan.
"Sarah Atmaja itu putri pebisnis, kedua temannya pun juga memiliki koneksi yang luas. Bukankah dengan itu, academy kita bisa mendapatkan keuntungan? Sementara kandidat lain, hanya mahasiswa biasa. Jangankan memiliki nama, pekerjaan keluarga mereka saja tidak bisa membayar satu semester anaknya. Ayolah, realistis saja." sambung Rektor Wisnu membungkam semua dosen yang menghadiri rapat.
"Bagaimana dengan gadis yang saat ini namanya sering disandingkan bersama geng cantika? Apa gadis itu tidak masuk hitungan?" tanya seorang dosen pria.
Pertanyaan itu menarik perhatian rektor Wisnu. Tatapan matanya tertuju pada sosok yang asing di matanya. "Apa kamu dosen baru?"
"Iya, silahkan jawab pertanyaan ku!" Jawab sang dosen yang memakai jaket hitam.
"Okay, kurasa maksudmu itu mahasiswa yang mendapatkan beasiswa? Benar bukan? Dia itu hanya putri pemilik kedai resto di pinggir kota. Apa yang kita harapkan jika gadis itu menjadi ketua senat?" Jelas Rektor Wisnu.
"Aku tidak paham sistem yang kamu bicarakan. Bagiku semua mahasiswa sama. Jika kamu memilih bersikap sesuka hati dan menciptakan ketidakadilan. Maka, aku memilih jalanku sendiri." Dosen berjaket hitam bangun seraya mendorong kursi ke belakang. "Siapapun yang mengikuti pemilihan pantas mendapatkan kesempatan tanpa memandang status sosial. Jika kalian memang manusia, gunakan hati nurani kalian. Jika tidak, tanggung sendiri akibatnya."
Penjelasan yang merupakan penolakan dosen berjaket hitam benar-benar tidak terduga. Para dosen bahkan harus menelan kasar saliva agar bisa mengontrol rasa terkejut mereka, sedangkan rektor Wisnu langsung mengepalkan kedua tangan. Kemudian menggebrak meja.
"KAU....,"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Nani Yunengsih
kok aku rasa dosen baru itu papanya rose yy atau yg berhubungan dgn keluarga queen yy
2022-12-29
1
Nani Yunengsih
kok aku rasa dosen baru itu papanya rose yy atau yg berhubungan dgn keluarga queen yy
2022-12-29
1
@🔵🍁⃟𐍹 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆 ⬪ᷢ♛⃝꙰ ❤
mungkin dosen yang berani ngelawan Wisnu salah satu anak buah mamanya rose
2022-11-20
0