"Aku akan kembali, hingga semua rasa sakitmu terbalaskan. Aku berjanji, hidupku hanya untuk keadilan di kampus kita. Seperti mimpimu yang mengharapkan kedamaian di regal academy."
Keesokan harinya.
Tak!
Tak!
Tak!
Suara sepatu boots, terdengar begitu jelas dan mengalihkan perhatian para mahasiswa di dalam kelas. Mata kaum hawa jelalatan dengan air liur menetes. Tak ubahnya dengan hewan buas yang tergiur makanan lezat, sedangkan kaum hawa merasa perubahan udara panas di sekeliling mereka.
Bisik-bisik para mahasiswa terdengar begitu bising memenuhi keriuhan kelas. Suara siulan dan juga godaan tertuju pada wanita bergaun peach brukat di depan kelas.
"Eh, bentar dulu. Bukankah itu si cupu? Iya, gak sih?" ucap salah satu mahasiswi.
Seperti mendapatkan lampu cahaya. Geng Cantika menatap lekat ke arah wanita di depan kelas yang masih enggan memilih kursi untuk ikut kelas.
Dela meneropong dengan dua tangannya. Seolah memasang kacamata di antara mata wanita itu. "Wuih, iya guy's. Itu si cupu."
"Ayo, kita bully. Ngapain pake sok-sokan gitu. Tetep aja nggak level ama kita." Sarah melambaikan tangan pada dua temannya.
Dela dan Prita bangun dari kursi dan mengekor di belakang Sarah. Melihat geng Cantika beraksi, membuat para mahasiswa di dalam kelas diam seperti dilakban. Mereka memilih tak ikut campur. Geng Cantika bukan geng yang sembarangan. Bukan karena ketiga cewek itu cantik, tapi orang tua ketiga mahasiswi itu termasuk donatur tetap kampus.
Di belakang hanya saling senggol menyenggol. Sementara Geng Cantika sudah berdiri di depan wanita modis dengan wajah manis tersenyum tipis. "Apa kalian butuh sesuatu?"
Sarah mendekat, dan menatap wajah wanita di depannya. "Ish, kau itu SI CUPU. Guy's, kalian semua harus inget ini. Cupu tetaplah cupu. Mau berubah secantik apapun, tetap levelnya dibawah kita-kita. Bukan begitu, Qiara Salsabila?"
"Benarkah?" tanya balik Qia dengan satu alis terangkat.
Sikap Qia, membuat Sarah kesal. Biasanya Qia hanya menunduk dan menangis, tanpa menjawab pertanyaan darinya. Dela maju dan menatap sebuah kalung di leher Qia. Seingatnya, kalung itu keluaran terbaru dari sebuah brand Royal Company. "Apa kamu sekarang jadi pencuri?"
Puk!
Prita menepuk lengan Dela. "Ngaco, kamu bicara apa sih."
"Ini, loh. Kalung Rainbow Rose, mama kemarin teriak minta di beliin ini. Kalung ini hanya ada tiga, dan itu keluaran terbaru dari Royal Asfa Company." jelas Dela sambil menunjuk kalung di leher Qia.
Mendengar itu, Sarah menarik kalung Qia dengan paksa. Sontak tubuh Qia terhuyung maju. Kalung masih di leher Qia, dan Sarah masih menarik tanpa hati. Saat mata sibuk memperhatikan keaslian kalung Qia. Sebuah tangan mencengkram tangannya.
"Kamu, beraninya...."
"Ssssttt!" cengkraman tangan semakin erat dan Sarah mulai meringis kesakitan.
"Bantuin, tahan si cupu!" seru Sarah.
Qia menarik tangan Sarah dan menabrakkan tubuh anak manja itu kedua temannya.
Bruuug....
"Auuw. S!al. Rupanya kau mau main denganku." Sarah berniat bangun, tapi sesuatu menimpa telapak tangan kanannya.
Nyeri, sakit dan ngilu. "Aaarrrggghh....." teriakan Sarah, membuat ngilu para mahasiswa lain.
Gerudukan para mahasiswa dari luar kelas pun ikut mendekat dan masuk ke dalam kelas para kaum elite. Pemandangan Qia menginjak telapak tangan Sarah, membuat banyak mulut melongo dan usapan dada. Seluruh kampus tahu, siapa geng Cantika. Jika nekad membuat masalah, maka DO pasti menjadi akhir para pembuat onar.
Dila dan Prita bangun, dan siap menampar Qia. Tapi, belum sempat tangan keduanya menyentuh pipi Qia. Nada bariton keluar dari bibir manis Qia. "Don't touch me!"
Glek....
Suara Qia jauh berbeda dari biasanya. Kemana suara gemetar dan wajah pucat yang selama ini dinikmati para mahasiswa? Bukan hanya penampilan, tapi sikap dan cara bicara Qia pun berubah drastis.
Qia melepaskan sepatu boots nya dari telapak tangan Sarah dan berjongkok. Tatapan tajam terarah pada putri pengusaha batubara itu. ''Cantik, but attitude NOL BESAR."
"WHAT'S?Das...."
Plaak!
Satu tamparan keras mendarat sempurna dan tercetak di pipi kiri Sarah. Merah dengan cap lima jari. "Balasan untuk tragedi kontes musik."
Plaak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Sarah. Darah mengalir di sudut bibir Sarah. Banyak mata bersyukur dan juga mengumpat. Dela dan Prita berlari keluar kelas dan kini tinggal Sarah bersama Qia. Ditemani para penonton yang bisu dan buta.
Seakan tidak gentar. Sarah menatap Qia dengan tajam dan tangannya bergerak ingin membalas tamparan si cupu. Tapi, Qia menahan tangan Sarah dan meremas nya.
"Aaaarg..."
Satu tangan lagi, Qia gunakan untuk membungkam bibir Sarah. "Rasanya pasti enak bukan? Aku masih ingat, bagaimana rasanya saat di hajar kalian tanpa belas kasihan di dalam kelas ini."
Qia mengedarkan pandangan ke arah para mahasiswa yang menunduk, ada mata yang acuh masih stay menonton tanpa rasa malu. Rasa yang sama, tak satupun mata akan membela dan membantu. "Apa kamu lihat. Siapa yang mendekat dan menolongmu? Tidak ada," Qia melepaskan tangan kiri Sarah.
Pluk....
Tangan Sarah terkulai seperti tak bertulang. Banyak mata yang mengalihkan pandangan dengan kekejaman Qia membalaskan dendam.
"Minggir-minggir..." ucap seorang pria dengan suara khas berat.
Aroma parfum yang sangat dikenali Qia. Langkah itu mendekat dan berhenti didepan sang kekasih. "Sayang, siapa yang melakukan ini? Ayo bangun."
Qia melepaskan tangannya dari bibir Sarah dan berdiri.
"Salsa, kamukan ini? Bukankah...." ucap pria itu tercekat dan menutup mulutnya sendiri.
Hampir saja keceplosan. Betapa bejat dirinya atas kejahatan yang dianggap sebagai kenakalan remaja.
"Salsa? Siapa itu? Aku Rose." ucap Qia.
Rizwan mendekati Qia dan berniat menyentuh pipi wanita itu. Tanpa disadari Riswan, tangan kiri Qia sudah mengambil satu pisau lipat di samping tas selempang nya.
Sreeet....
"Auuuw.... Kau!" seru Riswan menahan lengan yang tergores dan mengeluarkan cairan merah.
"Jangan berpikir menyentuhku! Kamu dan kamu, sama. Kalian predator tak berhati." Qia mengacungkan pisau mini dengan darah menetes.
Suasana semakin tegang, berita keributan sampai ke ruangan para guru. Beberapa rektor berlarian menuju tempat kejadian, namun terlambat. Sarah sudah terluka dan shock. Riswan juga terluka dengan para mahasiswa yang diam tanpa satu penjelasan apapun.
Gadis cantik bergaun peach duduk di sudut dan menikmati bacaan buku fiksinya. Tidak peduli dengan kesibukan para rektor dan dosen yang menyidang semua mahasiswa di tempat kejadian.
Tak ada lagi hati manusia. Semua hanyalah jiwa kosong dengan pikiran dangkal. Buta, tuli dan bisu. Yah, itulah kalian. ~ batin Qia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Osie
thor jangan beberapa rektor donk..krn rektor itu cuma satu yaitu kepala sebuah Universitas..nah kalau dosen baru bisa beberapa or dekan juga bisa dibilang beberapa..krn dekan kepala setiap fakultas..jd 1 fakultas ya 1 dekan/Pray/
2024-03-15
0
Kelaaa
Lawan terus Qia, tetaplah berani demi kebenaran
2022-11-24
0
𝐀⃝🥀👙𝐄𝐥𝐥𝖘𝖍𝖆𝖓 E𝆯⃟🚀
hilih pe sgtunya
2022-11-24
1