"Kurasa hari ini hari keberuntunganmu. Berhubung mood kami bagus," Sarah mengedipkan satu matanya ke Dela, membuat sahabatnya itu mengambil selembar kertas lipas dan menyodorkan ke Qia. "Kami memberikan kejutan terbaik untukmu hari ini. Enjoy cupu. Guy's, cabut!"
Prita berjalan di barisan akhir, tatapan matanya sekilas menatap Qia. Dimana gadis berkacamata itu terkejut dengan wajah memucat, tapi kepalan tangan yang meremas kertas menarik perhatiannya. Ntah kenapa aura Qia seakan memancarkan amarah luar biasa.
"Aku akan selidiki apa yang terjadi padamu, Nara. Aku janji." gumam Qia, seraya memasukkan remasan kertas ke dalam tasnya.
Qia meninggalkan taman kampus, tujuannya adalah perpustakaan yang menjadi tempat keduanya bersama berbagi cerita. Wajah tenang dengan tatapan tegas sejenak menarik perhatian beberapa mahasiswa, tapi siapapun yang menjadi target bully genk Cantika tidak seharusnya mendapatkan perhatian.
Perjalanan hanya sepuluh menit, dan kini pintu perpustakaan sudah ada di depannya. Sebagai mahasiswi yang sering mengunjungi perpustakaan, maka penjaga pun sangat hapal dengan sosok Qia. "Tumben sendiri, Qia?"
Qia tak menjawab, langkahnya semakin cepat melewati beberapa rak buku hingga ke ujung di deretan buku sejarah. Akan tetapi harapannya pupus, ketika di tempat favorit keduanya tak ada Nara. Tanpa menunda-nunda, Qia meninggalkan perpustakaan dengan wajah tegang.
"Ada apa dengan anak itu? Kenapa mukanya ditekuk." gumam Bu Cici bingung.
Qia kembali menyusuri lorong kampus tanpa peduli tatapan para mahasiswa. Langkahnya seakan tak terhentikan. Detak jantung berpacu semakin cepat, dengan emosi yang bergejolak bertempur di dalam hatinya.
Deretan kotak panjang nan tinggi ada di depan sana, membuat Qia semakin mempercepat langkahnya. Nomor urut yang terlihat seperti absen, hingga tulisan satu dua satu terlihat. Barulah langkahnya terhenti dengan tatapan harap-harap cemas.
Qia mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu menatap benda mengkilap ditangannya itu. Satu kunci loker yang selalu Nara titipkan.
"Ayo, Qia. Kamu pasti bisa."
Kunci dimasukkan lalu diputar dua kali, dan terdengar bunyi kunci terbuka. Qia menarik pintu loker perlahan, belum sempat terbuka sempurna. Sebuah amplop merah terjun bebas.
"Apa itu?" gumam Qia berjongkok dan memungut amplop merah dari loker Nara.
Amplop dibolak-balik hingga satu inisial nampak, membuat Qia mengamati lebih seksama.
"NA." ucap Qia.
Simbol kesayangan sahabatnya, membuat Qia segera membuka amplop tanpa pikir panjang. Fokusnya membaca baris demi baris yang tertoreh di dalam surat bertinta merah.
Kepalan tangan dengan mata tajam memerah, tubuh bergetar menahan rasa di dalam dada. Cairan bening menetes tanpa permisi.
Bruug!
Qia ambruk dengan selembar kertas di tangan kanannya.
"Arrrggghhh!" Qia berteriak memenuhi lorong loker.
Teriakan Qia terdengar menyayat hati, tapi tak seorang pun mendengar kecuali dinding kampus yang diam tak bergeming.
"Tunggu pembalasanku! Siapapun yang berdosa, akan kupastikan mendapatkan hukuman setimpal. Ini janji seorang Rose Qiara Salsabila Luxifer." ucap Qia menatap kertas dengan nanar, lalu memeluk kertas itu dengan erat.
Kertas yang berisi pernyataan Nara tentang pemerkosaan yang dialaminya hingga membuat gadis itu memilih mengakhiri hidup dengan cara meminum obat tidur hingga overdosis serta ucapan selamat tinggal agar tidak ada yang mencarinya lagi.
Bukan hanya itu saja, Nara juga menyebutkan dengan detail bagaimana pelecehan terhadapnya bisa terjadi dan siapa saja dalangnya.
Qia menahan seluruh amarah di dalam hatinya dan memilih meninggalkan kampus lebih awal. Kepergian Nara dengan cara tak terduga, membuat gadis berkacamata itu segera mengayuh sepeda mininya menuju kawasan perumahan yang letaknya tak jauh dari kampus.
Tiga puluh menit sepeda dikayuh tanpa henti, hingga sebuah rumah dengan bendera putih menghentikan kayuhan nya. Disaat bersamaan, sebuah keranda keluar dari rumah minimalis di depan sana.
Qia meninggalkan sepedanya begitu saja dan memilih mengikuti iringan keranda di barisan terakhir. Bisik-bisik para warga sangat jelas terdengar dan menusuk relung hatinya.
"Kasian ya, masih muda malah bunuh diri."
"Hust, Jeng ini. Jangan bicarain yang udah ninggal deh, takutnya bangun."
Masih banyak lagi percakapan yang didengar Qia, hingga proses pemakaman berakhir. Gadis berkacamata itu masih stay di balik satu pohon agar tidak ada yang curiga dengannya.
Menunggu selama setengah jam hingga semua orang bubar dari makam baru di depan sana. Qia berjalan perlahan. Langkah kakinya kaku, tatapan mata kosong menatap ukiran nama di atas papan nisan.
"Nara Alona binti Burhan."
Qia bersimpuh di depan makam sahabatnya. Sekilas memori selama sebulan memenuhi kepalanya. Bagaimana hidupnya di dalam kampus Regal Academy menjadi berwarna karena gadis yang kini terbaring di dalam sana.
"Nara, maafkan aku. Andai aku tahu apa yang menimpamu... Hiks... Hiks."
Tangisan Qia terdengar semakin menyakitkan. Tangannya menggenggam tanah tempat Nara berpulang. Kenangan pertemuan pertama kali keduanya menari di pelupuk mata.
"Aku Rose Qiara Salsabila Luxifer berjanji akan membalaskan semua rasa sakit dan air mata mu Nara Alona. Ini janji seorang putri Queen Asfa Luxifer."
Qia membiarkan rintik hujan menemani hari berkabung akan kehilangan sahabat terbaiknya. Bumi pun ikut merasakan luka di dalam hatinya. Hingga tetesan air hujan berhenti, membuat gadis itu menengadah.
Sebuah payung hitam menghalangi hujan membasahi tubuhnya, dan satu uluran tangan berada di depannya.
"Bangun! Ayo ikut denganku."
Qia menyambut uluran tangan itu tanpa mengusap air matanya.
Keduanya berdiri berhadapan dengan tatapan penuh kasih.
"Dunia ini seperti rintik hujan. Terkadang hanya gerimis, terkadang hujan deras. Satu langkah bisa berakhir dalam tiga jalan. Meskipun tujuan kita hanya satu."
Qia mendengarkan tanpa membantah, ataupun membalasnya. Hati, jiwa dan pikiran sungguh tenggelam dalam duka.
"Pikirkan apa tujuanmu esok, dan pastikan kamu melangkah tanpa keraguan. Kuatkan hati dan jiwamu, percayalah kamu mampu."
Qia menghapus air matanya. Kemudian berbalik menatap nisan sahabatnya.
"Tenanglah. Hari ini hari terakhir aku lemah, aku janji esok menjadi awal baru duniaku. Demi persahabatan kami, demi masa depan ku." ucap Qia melepaskan satu gelangnya dan menaruhnya di atas makam Nara.
"Aku akan kembali, hingga semua rasa sakitmu terbalaskan. Aku berjanji, hidupku hanya untuk keadilan di kampus kita. Seperti mimpimu yang mengharapkan kedamaian di regal academy."
...----------------...
Karya kali ini, sama seperti My Secret Life, othoor harus tenggelam menjadi semua tokoh. Perasaan campur aduk akan banyak kasus bully di masyarakat. Mungkin dalam dunia nyata, sangat jarang yang mau menegakkan keadilan.
...😰Semua hanya terpatri pada keegoisan semu. 😰...
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Osie
pembullian memang selalu bikin tanduk keluar..g dikota besar..di pedesaan pun ada..miris bgt
2024-03-15
0
Nia sumania
itu si geng Cantika kah dalangnya?
sadis banget sampai memakan korban jiwa 😢😢
2023-01-16
1
Kelaaa
Disana sini perundungan, semakin hari semakin bertambah 😓
2022-11-24
1