Setelah Luis memastikan para Anak buah Klan bayangan milik William Anderson tidak ada di hotel itu.
Luis segera melapor pada bosnya yang sedang ada di ruangannya.
''Bos,Para anak buah Klan bayangan ada di luar negri ,'' lapor Luis pada bosnya.
''Kau yakin dengan laporanMu itu ?'' tanya Bosnya sambil menuang wine ke dalam gelas yang ada di atas meja.
''Saya yakin bos,sudah memastikan semuanya ,'' jawab Luis.
''Kerja bagus Luis ,'' puji pria itu sambil tersenyum menatap Luis yang berdiri di depannya.
...****************...
Sedangkan di luar negri.
Seorang Pria sedang menundukkan kepalanya di depan seorang Pria yang usianya sudah tidak lagi muda.
''Apa Kau yakin Anak nakal itu mengatakan itu ?'' tanya Pria tua yang duduk di kursi roda menatap Asisten Pribadi nya.
''Benar Tuan,Tuan Revan William Anderson belum mau pulang ,'' jawab Asisten pribadinya.
Pria Tua yang tak lain Tuan Anderson menghembuskan nafas panjang.Ia tahu kekeraskepalaan cucunya sama persis dengan mendiang putranya William Ayah dari Revan William Anderson.
Sejak kematian Ayah dan Ibu Revan, Revan di besarkan oleh kakek Anderson. Dan menjadi pewaris satu-satunya milik William dan Anderson.
Kematian ke dua orang tua Revan karena sebuah kecelakaan mobil sampai mobil itu jatuh ke jurang, sampai saat ini jasad ke duanya belum di temukan.
Dari penyelidikan polisi tidak di temukan ke janggalan dalam kecelakan itu,dan Mereka menduga kecelakaan itu murni kecelakaan biasa.
Revan yang waktu itu masih duduk di bangku SMP menemukan kejanggalan di mobil yang Ayahnya kendarai.
Sudah dua minggu pencarian jasad ke dua orang tua Revan oleh pihak polisi, jasad itu tidak juga di temukan.Dan pihak polisi menyatakan ke dua orang tua Revan meninggal dan pencarian di hentikan.
Anderson pun menerima keputusan dari para polisi dan tim SAR yang telah mencari ke dua jasad Anaknya di hentikan.
Revan remaja saat itu yang ingin pergi menemui mobil polisi tidak sengaja mendengar percakapan kepala polisi dengan seorang Pria yang tidak Revan ketahui,karna Pria itu tertutupi oleh sebuah mobil.Revan samar-samar mendengar perbincangan ke tiga orang itu.
''Aku yakin Mereka berbohong ,'' gumam Revan.
Revan melihat ke dua polisi itu menerima Amplop dari tangan Pria yang ada di dalam mobil,yang di yakini itu adalah uang.
Tanpa sepengetahuan Anderson,Revan berjanji akan membalas kematian ke dua orang tuanya.
''Tuan ,'' panggil Asisten pribadinya saat melihat Anderson diam saja.
Anderson tersentak dari lamunannya dan menatap Asisten pribadinya.
''Dimana Rex ?'' tanya Anderson.
''Rex sedang ada di ruangannya Tuan ,'' jawab Asisten pribadinya yang mengetahui jam segini Putranya itu pasti ada di ruangannya.
''Panggilkan Rex kemari,ada tugas besar untuk Dia ,'' ujar Anderson.
''Baik Tuan ,'' jawab Asisten pribadinya yang seumuran dengan Anderson.
...****************...
Sedangkan kembali ke hotel.
Bang...
Brug...
Pintu di tendang dari luar dan ke dua penjaga yang di tugaskan oleh keluarga Wiratama untuk menjaga acara yang sedang berlangsung,menabrak pintu dan keduanya terkapar di lantai setelah di tendang oleh ke dua Pria berbaju hitam.
Semua para tamu yang menghadiri pernikahan Radit dan Ema terkejut dan berteriak histeris setelah melihat ke dua pengawal terkapar di lantai,dan melihat ke dua Pria berbaju hitam dan di ke dua tangan Mereka masing-masing memegang senjata pistol jenis Revolver Kaliber 38.
''Luis ,'' gumam Revan tersenyum tipis saat melihat Luis masuk ke dalam gedung dengan membawa pistol laras panjang merek 1903 Springfield kaliber 30-03.
Radit dan Papanya yang melihat Luis masuk ke dalam gedung menelan salivanya susah,Ia ingin mengkambing hitamkan orang lain atas kerusahan ini.
Radit menatap Papanya,Papanya pun menganggukkan kepalanya saat melihat Arah pandang Radit pada satu sosok yang duduk di pojok ruangan.
Revan menatap Aurel yang gemetar ketakutan.
''Kau tenang saja,tidak akan terjadi apa-apa selama ada Aku ,'' bisik Revan mencoba menenangkan Aurel.
Aurel menatap malas pada Pria yang di anggapnya omong kosong ini.
Hans menatap sinis pada Revan yang berbicara omong kosong.
Bram mengcode pada anak buahnya untuk mencegah Luis agar tidak mendekat pada Mereka.
Dor..
Satu tembakan yang di arahkan Luis tepat mengenai lengan salah satu bawahan Radit.
Bawahan Radit meringis kesakitan saat timah panas mengenai lengannya.
Para tamu yang melihat Pria yang berjalan melewati Mereka langsung menembak,Mereka menjerit histeris takut kalau Pria itu akan menembak Mereka.
Dor...
Lagi-lagi suara tembakan terdengar di telinga saat salah satu anak buah Luis menembak kaki Pria yang ingin lari.
''Akh ,''
Pria itu meringis kesakitan dan jatuh tersungkur di lantai dan memegangi kakinya yang tertembak.
Aurel menutup telinga dan gemetar ketakutan saat pria itu tepat di sebelahnya.
Hans terkejut dan ketakutan,Ia tidak berani untuk beranjak dari duduknya.
Revan menatap dingin pada anak buah Luis yang membuat Istrinya ketakutan.
Luis dan para anak buahnya tertawa saat melihat Mereka ketakutan.
''Bos pasti Bos besar akan senang melihat ini ,'' ucap Salah satu anak buah Luis di sela-sela tertawanya.
''Kalian semua mau apa ?'' tanya Bram saat Luis sudah ada di depannya.
Luis tersenyum sinis menatap Bram yang pura-pura lupa atau memang sengaja melupakan.
''Bisa ikut Saya sebentar ,'' ajak Radit yang tidak mau permasalahan keluarganya sampai terdengar di keluarga Nek Sita.
Luis menatap dingin Radit.
''Baik,dimana ?'' tanya Luis menatap Radit.
Radit membawa Luis ke salah satu ruangan yang tidak jauh dari ruangan Mereka.
''Tenang semuanya,biar Putra Saya yang akan berbicara baik-baik pada Ketua preman itu ,'' ucap Bram sambil melihat sekeliling Pria-Pria yang menyodorkan senjata untuk menakuti para tamu undangan.
''Awasi Mereka semua,jangan biarkan Mereka kabur,kalau ada yang nekat bunuh saja ,'' suruh Luis pada Anak buahnya sebelum Luis masuk ke dalam ruangan yang sudah terlebih dulu Radit memasukinya.
''Dengan senang hati bos ,'' jawab Anak buahnya sambil menatap para wanita yang cantik dan Seksi.
''Boleh Saya ke toilet ,'' ucap Revan sambil mengangkat tangannya ke atas.
Anak buah Luis menoleh dan melihat Pria yang sedang duduk di pojokkan sedang mengangkat tangannya ke atas.
Pria itu menyipitkan matanya saat melihat Pria yang duduk di pojokan,Ia seperti pernah melihat Pria itu tapi Ia lupa di mana.
''Bolehkah Saya pergi ke toilet ?'' tanyanya lagi saat tidak mendapat jawaban dari anak buah Luis.
''Oke,Saya perbolehkan ,'' jawab anak buah Luis.
Revan beranjak dari duduknya dan melangkah ingin keluar dari ruangan itu.
''Tunggu...,'' suruh Pria yang berwajah seram menghentikan langkah Revan.
Hans dan ke dua orang tua Ema tersenyum senang saat Revan di hentikan langkahnya.
''Tamatlah riwayatMu Pria miskin ,'' ucap Hans dalam hati tersenyum sinis melihat Pria berwajah Seram menghentikan langkah Revan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments