Revan masuk ke dalam ruang bawah tanah di mana para penjudi sedang duduk di depan meja bundar.Revan melangkah dan mendekati meja yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.Revan dengan cekatan meletakkan gelas-gelas kosong di atas meja dan mulai menuang anggur di dalam gelas.
Revan melirik para pria yang sedang bermain kartu.Dan tidak sengaja melihat salah satu dari mereka akan berbuat curang dengan mengganti kartu yang di bawa oleh anak buahnya.
Pria itu mendengus kesal saat melihat Revan menabrak anak buahnya yang akan menukarkannya kartu.
''Maaf Saya tidak sengaja ,'' ucap Revan sambil mengatupkan tangannya di depan dada,
''Pergilah ,'' suruh Pria itu sambil mengibaskan tangan nya untuk menyuruh Revan segera pergi.
Pria itu harus merelakan uangnya yang di ambil oleh lawan mainnya karna dia kalah.
Revan berlalu pergi dan menuju ke meja yang lainnya saat seseorang memanggil nya.
''Ada apa Tuan,ada yang bisa Saya bantu ?'' tanya Revan dengan sopan.
''Kau bisa memainkan kartu ini untuk Ku ?'' tanya Pria berbadan gemuk sambil menyerahkan kartu-kartu itu ke hadapan Revan.
''Tapi Tuan ,'' Revan ingin menolak,tapi Ia urungkan niatnya saat melihat Pria berambut pirang dan seorang pria yang di yakininya adalah tangan kanannya masuk ke dalam ruang bawah tanah dan duduk memunggunginya.
''Baik Tuan,akan Saya mainkan .'' Jawab Revan.
Pria berbadan gemuk tersenyum senang saat melihat pelayan itu mau bermain untuknya.
''Aku yakin kau pasti menang ,'' ujar pria berbadan gemuk sambil menggeser duduknya agar Revan bisa duduk di tempatnya.
Samar-samar Revan mendengar pria berambut pirang itu bernama Jacob.
''Ayo anak muda kau mulai permainan Mu ,'' ujar Pria yang ada di depan Revan sambil mengintip kartu miliknya.
Revan langsung melempar kartu miliknya di atas meja.
Sedangkan Beni mencari keberadaan Revan saat mendengar Revan belum kembali dari ruang bawah tanah.Beni dengan langkah lebar dan di temani oleh pengawal pribadinya melangkah masuk ke ruang bawah tanah.Beni berharap Revan tidak membuat ulah di dalam sana.
Sesampainya Beni di ruang bawah tanah,Ia menatap sekeliling ruangan untuk mencari keberadaan Revan.
''Kenapa bocah itu malah ikut bermain ,'' geram Beni saat melihat Revan duduk santai tengah bermain.
Pria berbadan gemuk itu tersenyum senang saat Revan mengalahkan Pria-pria yang menantangnya.
Revan melirik sekilas Pria yang ada di belakangnya.
''Maaf Tuan,Tugas Saya sudah selesai, Saya harus segera kembali bekerja .'' Pamit Revan sambil membungkukkan badannya di hadapan Para pria yang sudah di kalahkannya.
''Terima kasih,ini bagian Kamu .'' Pria berbadan gemuk menyerahkan beberapa lembar uang kertas ke hadapan Revan sebagai imbalannya.
Tanpa malu-malu Revan mengambil uang kertas itu dan memasukkan ke dalam dompetnya.
Revan pun berlalu pergi dari hadapan Pria berbadan gemuk itu dan akan melangkah keluar dari ruang bawah tanah.Revan tersenyum tipis saat melihat Beni berdiri di depan pintu masuk ruang bawah tanah.
''Tuan Beni,kenapa sampai repot-repot datang kemari ?'' tanya Revan sambil terkekeh.
Beni menatap tajam Revan.
''Siapa yang menyuruhMu datang kemari?'' tanya Beni .
''Maaf Tuan,Saya yang meminta Revan untuk menggantikan Saya mengantar minuman ini ke ruang bawah tanah karna tiba-tiba perut Saya sakit Tuan .'' potong cepat Dino menjelaskan sambil menundukkan kepalanya.
Dino yang melihat Beni mencari Revan sampai ke ruang bawah tanah,mengejar langkah Beni dan ke dua pengawal yang sudah tiba di ruang bawah tanah.
''Kenapa harus Dia ?'' tanya Dino sambil menatap tajam Dino.
''Karna yang tidak sibuk hanyalah Dia ,'' jawab Dino.
''Sudah lah Tuan,lagi pula hitung-hitung buat pekerjaan pertama Saya .'' Lerai Revan ketika Beni akan membuka suaranya.
Beni menatap ke seluruh ruangan yang baik-baik saja.
''Sepertinya anak ini tidak membuat keributan ,'' Batin Beni sambil melirik setiap sudut ruangan.Revan kembali melanjutkan pekerjaan nya, Bima tak ada habis-habisnya memerintah Revan untuk mengerjakan semua pekerjaan pelayan. Mulai dari membersihkan ruang VIP yang seharusnya di kerjakan oleh rekan yang lain, di limpahkan pekerjaan itu kepada Revan.
Revan dengan senang hati mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Bima, Bima yang melihat itu pun menjadi kesal.
Revan mengerjakan pekerjaan nya dengan cepat, baru saja ia masuk ke tempat karyawan untuk mengambil minuman karna ia haus. Baru saja ia melangkahkan kakinya untuk menuju dimana dispenser berada, seseorang terlebih dahulu mencegah langkahnya.
"Revan kau di panggil pak Bima tu," beritahu Fahri yang sudah di bayar oleh Bima untuk mengerjai Revan.
"Iya sebentar aku kesana," sahut Revan dan kembali melanjutkan langkahnya yang akan mengambil minum.
"Hai Revan kau tuli apa gimana! Buruan sana sudah di tungguin sama pak Bima itu!" Bentak Fahri yang melihat Revan bukannya segera menghampiri Pak Bima pria itu malah tetap melangkahkan kakinya untuk mengambil minum.
"Fahri biarlah Rehan minum dulu, kasihan dia pasti haus. Setelah dia minum pasti dia akan menemui pak Bima." Usul Dino yang kasihan pada Revan.
"Buruan itu pak Bima sudah menunggu," ketus Fahri.
****
Sedangkan di ruang bawah tanah, dua orang pria yang tadi duduknya memunggungi Revan. Mereka berdua sedang berdebat dengan apa yang baru saja di lihat oleh salah satu temannya.
"Aku yakin sekali kalau yang aku lihat tadi itu Revan," sangkal pria berambut cepak yang menyakini kalau yang di lihatnya itu tadi memang benar Revan.
"Aku tidak percaya, pasti kau tadi salah melihat. Yang kau lihat pasti kebetulan mirip saja, tidak mungkin pria itu berada di kota ini." Kekeh pria setengah baya yang ada di depannya.
Pria itu mengambil wine yang baru saja di tuang oleh pelayan yang menemaninya, pria berambut cepak itu kembali mengedarkan pandangan nya berharap ia melihat kembali pria yang selalu menggagalkan rencananya.
"Ya, mungkin saja tadi aku cuma salah lihat. Benar katamu, tidak mungkin pria itu ada di kota ini." Gumam pria berambut cepak.
****
Aurel masuk ke dalam kamar dengan hati dan pikiran kacau, wanita itu meletakkan tas miliknya dengan asal ke tempat tidur.
Aurel duduk di atas ranjang sambil mengusap wajahnya frustasi, saat ia sedang memikirkan bagaimana desain miliknya bisa di curi tiba-tiba saja dering ponsel membuyarkan lamunannya.
Aurel meraih tas miliknya yang ada di dekat bantal, wanita itu membuka resleting tasnya dan mengambil ponsel mahal miliknya yang ada di dalam tas.
Dahi Aurel mengernyit saat nama Maya tertera di layar ponselnya, wanita cantik itu bertanya kenapa sekertaris dari pak Harris menelponnya.
Untuk menjawab rasa penasaran nya, Aurel segera menjawab telpon dari sekertaris pak Harris.
Senyum merekah di bibir seksi Aurel saat mendengar kabar bahwa pak Harris memberinya kesempatan untuk menampilkan kembali Desain yang baru, tentu saja membuat Aurel bahagia dan kembali bersemangat.
"Terima kasih Nona saya akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin, ucapkan terimakasih saya kepada bapak Haris nona." Ucap Aurel mematikan panggilannya dengan sekertaris pak Harris.
****
Di dalam ruangan di kantor, Seorang pria muda mengepalkan tangannya saat mendengar kabar bahwa bapak Harris memberi kesempatan pada Aurel untuk menyelesaikan desain yang baru.
"Kurang ajar,"
Prang.
Suara pecahan gelas, vas bunga yang ada di meja kerjanya itu terjatuh di lantai. Pria itu melampiaskan kemarahannya pada benda-benda yang ada di atas meja.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Glastor Roy
up tor
2023-04-29
1
Glastor Roy
up
2023-04-26
0
Arjuna Rinata
ceritanya bagus
2023-01-17
0