Aurel yang sedang mencari gaun di dalam lemari menghentikan gerakan tangannya saat suara dering ponsel terdengar di telinganya, Aurel menutup pintu lemari dan melangkah menuju di mana ponselnya berada.
Dahinya mengernyit saat melihat nomer yang sudah lama tidak menghubungi nya terpampang jelas di layar ponselnya, wanita cantik itu lalu mengambil ponselnya yang ada di atas nakas dan mengusap tombol hijau untuk menerima panggilan dari nomer yang sudah lama tidak menghubungi nya.
"Syukurlah Aurel, nomer kamu tidak ganti." Ucap suara wanita di sebrang sana.
"Aku takut tadi mau menghubungi kamu, aku pikir kamu sudah ganti nomer. Dan syukur sekali nomer kamu tidak ganti," imbuh wanita itu lagi nampak merasa lega saat nomer Aurel masih bisa di hubungi.
Aurel masih diam saja, wanita itu tidak menyangka mendengar suara temannya yang sudah lama tidak ada kabarnya.
"Hallo, Aurel. kau masih mendengar suara ku?" tanya wanita di sebrang sana saat tidak mendengar suara Aurel di telpon.
"Iya Nadin , aku mendengar suara kamu." Jawab Aurel setelah tersadar dari rasa terkejutnya.
"Sudah lama kau tidak ada kabar, kemana saja kau selama ini Nadin?" tanya Aurel.
"Ah jangan bahas itu dulu Aurel, bisa kah aku minta tolong padamu?" tanya Nadin di sebrang sana.
"Kamu minta tolong apa Nad? kalau aku bisa pasti tentu saja akan membantu kamu." Sahut Aurel.
"Bisa kah kamu jemput aku di bandara Rel?" tanya Nadin penuh harap.
"Oke aku akan jemput kamu di sana, tunggu aku di sana." Jawab Aurel sambil mematikan sambungan telponnya.
...****************...
Di salah satu bandara, seorang wanita memakai kaca mata hitam baru saja keluar dari area bandara untuk menuju ke sebuah cafe yang dekat bandara.
Di belakang wanita itu seorang gadis berambut kepang dua berjalan tergesa-gesa mengikuti wanita itu, dan di tangan gadis itu menyeret dua buah koper besar berwarna merah dan biru di kedua tangan nya masing-masing.
"Nadin, tungguin aku. jalannya jangan ngebut-ngebut dong." Ucap gadis berambut kepang dua kesusahan membawa barang-barang di kedua tangannya.
Wanita yang bernama Nadin itu cuma melirik sekilas kebelakang, wanita itu tidak peduli pada asisten nya yang kesusahan membawa barang-barang miliknya.
Nadin mempercepat langkah kakinya agar segera sampai di cafe yang tidak jauh dari bandara.
"Cepetan dikit Siska, lelet banget kamu itu." Ucap Nadin dengan ketus.
Gadis berkepang dua yang bernama Siska ingin sekali rasanya menangis, namun gadis itu hanya bisa pasrah dan mempercepat langkahnya agar bisa segera menyusul majikannya.
Siska sebenarnya sudah pegal dan kesusahan saat membawa banyaknya barang-barang milik Nadin, sebenarnya saat ia baru keluar dari dalam pesawat ada seseorang yang menawarkan bantuan nya untuk membawakan barang-barang itu. Namun, Nadin tidak memperbolehkan pria itu untuk membantunya.
Siska bernafas lega saat mereka sudah sampai di cafe, gadis itu bisa beristirahat karna kaki dan tangannya sudah pegal.
"Hai mau apa kamu Siska?" tanya Nadin saat melihat Siska yang akan duduk di kursi yang ada di depannya.
"Tentu saja aku mau duduk Nad," jawab Siska sambil berdiri kembali.
"Pesan kan aku makanan dan minuman cepat," pinta Nadin sambil matanya menatap ponsel yang ada di tangan nya.
"Baik Nad," jawab Siska.
Nadin mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya saat Siska masih berdiri di depannya.
"Kenapa kau masih diam disitu, cepetan pesankan aku makanan dan minuman. Aku sudah lapar dan haus." Ketus Nadin yang melihat Siska masih berdiri di depan nya.
"Boleh aku pesan minum dan makan juga Nad?" tanya Siska.
"Terserah," sahut Nadin dan kembali matanya fokus menatap layar ponselnya.
Siska tersenyum sumringah, rasa haus dan lapar sudah tak tertahan lagi. Gadis berkepang dua itu segera memesan makanan cukup banyak, gadis itu pikir jika nanti Nadin tidak mau membayarnya ia masih mempunyai sedikit uang simpanan.
Selama Siska ikut Nadin bekerja, dia memang tidak pernah memegang uang gajinya. Nadin selalu mentranfer uang itu ke ibu tiri Siska, selama ini keperluan Siska memang di cukupi oleh Nadin.
Tanpa Nadin ketahui Siska kerap kali di mintai tolong oleh model lain yang satu naungan bersama Nadin, setelah melakukan pekerjaan nya Siska mendapat upah dan Siska menyimpan uang itu.
Setelah memesan makanan, Siska ingin kembali duduk di kursinya. Tanpa melihat ke belakang, saat Siska berbalik ia menabrak dada seseorang pria yang ada di belakangnya sehingga dahi Siska terbentur.
"Auw," ringis Siska sambil mengusap dahinya yang membentur dada orang yang sekarang berada di depannya.
Siska memundurkan langkahnya dan ingin memprotes pria yang sudah di tabrak nya itu, saat gadis itu mendongak ia terkejut saat melihat pria yang menawarinya membawa koper berada di sana.
"Kamu...," kejut Siska saat melihat pria itu berada di depannya.
"Hai..., kita bertemu lagi." Ucap pria itu sambil melambaikan tangannya.
"Tuan sedang apa di sini?" tanya Siska dengan raut wajah penasarannya.
"Tidak mungkin kan, dia mengikutiku sampai di tempat ini " Gumam Siska lirih masih di dengar oleh pria itu.
"Kau lucu sekali Nona, wajar saja aku di sini. Karna ini tempat umum dan tempat makan," Kekeh pria itu sehingga membuat Siska terpesona dengan senyuman pria itu.
"Ah iya...ya, kenapa aku tidak kepikiran sampai ke sana." Sahut Siska merasa malu karna dirinya sudah kepedean terlebih dahulu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments