Langit itu masih gelap saat pasukan Puteri Alessa sampai depan pintu gerbang istana. Riuh para penjaga istana yang bertugas karena mereka kalah jumlah.
“Kita di se-“
JLEB
Anak panah menembus jantung salah satu penjaga yang berteriak.
“Tembakan yang bagus!” seru Darius memuji prajuritnya.
Bersamaan dengan itu terdengar suara lonceng yang memberitahukan setiap penjaga, para pengawal pun berjejer di atas benteng dengan anak panah. Namun, karena mereka tidak mengikuti arahan. Satu persatu pasukan Aegis tumbang.
“Bersiap” Darius memberikan aba-aba. “Tembak!”
Hujan anak panah memenuhi udara yang tertuju pada setiap penjaga. Mereka tidak bisa mengelak hingga setiap anak panah menancap pada para penjaga istana Aegis.
“LAPOR PADA PANGLIMA!” teriak penjaga Aegis.
“Mereka mulai kewalahan,” Darius tertawa dari luar Istana.
“Tuan Puteri… silahkan….” Darius mengulurkan tangan untuk membantu Puteri Alessa turun dari kudanya.
Wanita itu akhirnya menginjakkan kaki ke tempat kelahirannya, tempat dirinya berasal. Tidak lama datang seorang penjaga yang hendak menyerangnya, Darius hendak menghalau pengawal itu. Namun….
ZRASH!
Pedang tajam milik Alessa merobek tubuh penjaga itu. Darius menghela napas lega. Dia tidak perlu mengkhawatirkan Tuan Puterinya lagi, Puteri Alessa sudah lebih dari siap untuk melawan para penjaga bahkan setara dengan Darius sekalipun. Karena selama pelatihan,Darius sama sekali tidak merendahkan kekuatan dan keahliannya dalam berpedang. Darius melatih sang Puetri sama seperti dia melatih para pasukannya. Bahkan lebih serius.
Terdapat percikan darah mengenai wajah Puteri Alessa yang dingin. Darius segera membersihkannya dengan jarinya. ‘Kekejaman dunia telah menodai kemurnian dirimu, Tuan Puteri. Meski begitu, aku akan terus ada di sisimu. Hingga napasku terhenti, kebahagianmu adalah hidupku,” janji dalam batin Darius seraya menatap dalam kecantikan Puteri Alessa.
“Terima kasih Darius,” ucap Puteri Alessa yang sama sekali tidak menyadari terdapat darah di wajahnya.
“Sama-sama Tuan Puteri, serahkan semuanya pada hamba. Temuilah langsung orang itu!”
Puteri Alessa terdiam sejenak lalu mengangguk. Wanita itu segera menerobos memasuki istana setelah pasukannya berhasil membobol gerbang utama.
***
“Kirim pesan pada pasukan yang sedang menuju Persia, untuk mundur terlebih dahulu. Kita mendapatkan serangan dari sebuah pasukan yang tidak diketahui dari mana! Jumlahnya cukup besar hingga kita tidak bisa menahannya!”Panglima perang Zurith memberikan sebuah gulungan pada seorang prajurit.
Prajurit itu pun segera berlari. Namun, sayangnya saat akan menaiki kuda, kepalanya terpenggal oleh tebasan tidak kasat mata. Panglima Zurith sampai terperangah.
“Meminta bantuan? pengecut!” suara seseorang memecah keterkejutannya. Bahkan dia semakin tersentak.
“Da-Darius?!” Pria dengan baju zirahnya itu memundurkan langkah. Darius ingat sekali saat prajuritnya dibantai oleh prajurit Zurith. Pria itu tidak berbelas kasihan, membabat habis prajuritnya ketika Darius menemukan Puteri Alessa di kuil tempat wanita itu ditusuk oleh Pangeran Yudas.
“Kau masih mengenaliku ternyata,” Darius datang bersama prajuritnya. Mendesak pasukan Zurith yang tinggal sedikit.
“Jangan gegabah Darius, kamu bisa diberi hukuman penggal jika melukai orang istana.” Panglima Zurith mengingatkan. Darius tergelak keras.
“Oh, kau pikir aku takut? Memangnya siapa yang berani memenggalku? Bukankah kau juga berniat membunuh orang istana dulu. Bahkan seorang pewaris takhta Kaisar!” Darius menggeram dan menghunuskan pedangnya.
Mata merah milik Darius berkilat, pria itu terbakar amarah mengingat segala pengkhianatan yang dilakukan oleh rekan seperjuangannya sendiri. Zurith adalah sahabatnya dulu yang tega menusuknya dari belakang, memilih memihak Pangeran Yudas di bandingkan Puteri Alessa yang telah sudi memungutnya dari jalanan untuk dijadikan seorang pengawal hingga menjadi panglima seperti ini.
Merasa tidak memiliki suara untuk membela diri Zurith pun memilih mengangkat pedangnya untuk melawan Darius. “Aku hanya berusaha menjaga apa yang telah aku raih, kita selesaikan masalah 5 tahun lalu, sekarang!”
Darius berdecih, meludahi tanah lalu maju melawan Zurith.
“KAU HARUS MEMBAYAR SEMUA DARAH YANG TELAH DIKUCURKAN UNTUK JALANMU!”
***
Dilain tempat, Puteri Alessa menyusuri lorong istana yang tampak legang. Semua penjaga dan prajurit berada di medan depan melawan pasukan yang dibawanya. Alessa melangkah pelan dengan sebilah pedang di tangannya. Setiap bagian istana dan ruangan mengingatkannya akan memori di masa lalu. Hingga kakinya terhenti di sebuah pintu besar yang menghubungkannya pada sebuah kamar. Kamar sang kaisar terdahulu. Jika diperkirakan, Pangeran Yudas pasti berada di sini.
Puteri Alessa menarik napas dalam sebelum dia mendorong pintu besar itu. hingga terbukalah dan menampakkan sosok yang dicarinya. Sosok itu tengah berdiri di sisi balkon yang memberikan pemandangan langsung ke luar istana. Pria itu mengenakan pakaian tidur dengan sebuah gelas ditangannya. Gelas berisikan anggur merah.
Puteri Alessa memasuki kamar tanpa mengucapkan sepatah katapun hingga pria itu menoleh dan tersenyum padanya. Puteri Alessa cukup aneh dengan sikap pria yang dulu ingin membunuhnya itu. Pangeran Yudas melangkah mendekat. Namun, Puteri Alessa segera melayangkan pedangnya, memberikan jarang di antara mereka. Puteri Alessa tidak cukup bodoh untuk membiarkan pria yang seperti ular itu memanipulasinya lagi atau melukai dirinya lagi.
“Puteri Alessa, apa kabarmu? Ternyata memang tidak mudah untuk melenyapkan keturunan Dewi….”
“Tutup mulutmu!” desis Puteri Alessa waspada.
Pangeran Yudas mengarahkan pandangan pada pedang Puteri Alessa yang berlumuran darah. Pria itu terkekeh. “Kau sudah bisa membunuh rupanya, kau bukan Puteri Alessa… kau orang lain….”
“Sebaiknya kau berdo’a sebelum aku menepas kepalamu!” kecam Puteri Alessa. Dia tidak akan terpancing dengan semua ucapan Pangeran Yudas.
“Berdo’a… apa kau masih melakukan hal itu? meminta pada Dewa? Dewa yang hanya diam ditempat?”
Kali ini Puteri Alessa memiringkan pedangnya hingga hampir menggoreng leher pangeran Yudas. Wanita itu tidak mau mendengar apa-apa lagi dari pria licik itu.
“Jika tidak ada yang lain, aku akan memenggalmu.”
“Hehehehe, aku sangat takut…. Sangat takut padamu,” pangeran Yudas masih mengejak dirinya.
Puteri Alessa sudah diambang batas kesabaran. Dia menarik pedangnya dan menebas tangan kanan Pangeran Yudas hingga putus.
ZRASH!
Tangan kanan Pangeran Yudas jatuh menggelinding di lantai disusul oleh teriakan pria itu.
“AAAAAARRRGGGHHHHH!! AAARGGGG!!! TANGANKU! TANGANKU!”
“Kenapa kau tidak tertawa lagi?”
Pangeran Yudas menangis kesakitan dan tidak sanggup untuk menjawab Puteri Alessa. Puteri Alessa pun bersiap memasang kuda-kuda untuk menyelesaikan semuanya. Tapi, saat itu juga Pangeran Yudas tersadar dan mengatakan hal yang membuat Puteri Alessa urung menebas kepala pria itu.
“Ji-jika kamu membunuhku, kau… aaargg… kau tidak akan pernah, tidak akan pernah tahu di mana Ibumu berada!” ucap Pangeran Yudas sebelum pria itu menutup mata karena pingsan kehabisan darah. Puteri Alessa tersenntak dan melempar pedangnya.
“KAU! SIALAN KAU YUDAS!” Puteri Alessa berlutut dan menepuk pipi pria itu. “DI MANA IBUKU! YUDAS!” Puteri Alessa terus berteriak menanyakan di mana Ibunya berada. Dan ternyata hanya Pangeran Yudas yang mengetahuinya.
Tbc.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Dian Anggraeni
habis perang pasti capek, pegel pegel. ayo Darius Alissa ngamar ngamarrr wkkk
2022-12-24
1
Hayurapuji
sweet amat ini si Darius ,☺️☺️
2022-09-17
1