Zain tidak langsung menjawab dan mengerutkan keningnya, ya dia selama ini ikut bantuin abah Hasan dan Umi Zahra Juga, tapi memang gak sepenuhnya, karena 3 hari di akhir pekan saja mereka di sana
Semua santri juga sudah mengenal mereka, kecuali 3 tahun terakhir ini mereka yang tidak mengenal karena tinggal di swiss
" Lha menurut Mas Baha' siapa yang di minta gantiin?" tanya Zain lagi
" Anak anak kami punya tugas masing masing Zain, apa lagi yang sudah berumah tangga mereka juga punya pesantren masing masing, begitu juga di pondok kami sendiri mereka juga punya jatah masing masing" jawab Fani yang tidak mengajukan anaknya sama sekali
Zain sebenarnya bisa untuk mendampingi bahkan menggantikan Abah Hasan, begitu juga dengan Jihan yang tentunya mampu untuk menggantikan Umi Zahra juga
Tapi di sini Zain masih belum bisa mengajak dan mengambil keputusan, dia masih berat masih takut dengan Jihan yang ambisi tentang pekerjaan itu gak bisa di stop
Walaupun Jihan sudah kembali tanpa gangguan mental trauma, tapi Zain rasanya masih kebawa, untuk menjaga hati Jihan yang selama lebih dari 20 tahun dia jaga perasaannya, yang dia selalu menuruti apa kata Jihan, kemauan dan apa yang membuat Jihan tersenyum tenang bahagia
" Terus terang gue gak bisa jawab tentang ini mas, Gue tau semua kewajibanki dan tanggung jawabku untuk menggantikan abah dan Umi, tapi " ucap Zain terpotong karena Jihan yang menyusulnya
Jihan berjalan dan duduk di sebelah Zain, sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa
" Kok berhenti gimana?" tanya Jihan ikut nimbrung
" Lanjut dong bah" tambah Jihan dan Zain masih terdiam
Jihan heran dan kembali mengerutkan keningnya
" Kenapa mbak, Mas ada apa?" tanya Jihan pada Fani dan Baha'
Kemudian Fani dan Baha' menjelaskan secara bergantian tentang posisi pengasuh pondok pesantren pada Jihan
Masih ada rasa ketakutan pada diri Zain, di kala ketakutan pada Jihan sudah menghilang dan Zain msih mengakar
" Oh... Gitu toh? jadi gimana? siapa yang mau di minta untuk menggantikan?" tanya Jihan yang sebenarnya bersedia cuman sungkan aja kala mengajukan dirinya sendiri
" Ya gimana baiknya, menurut kalian siapa? " tanya Baha' balik
Zain masih terdiam dan belum membuka suara, dia masih bingung juga, apa lagi Jihan sendiri tidak mengajukan dan teringat juga dengan misi Jihan yang mau bimbing anaknya juga
" Anak anak kalian lah, kan mereka juga ahli Qur'an kita semua, apa susahnya coba, malah sudah sab'ah semua kan?" ucap Fani dan Zain menjawab dengan anggukan dan melirik Jihan
Jihan tidak melihat kalau Zain sedari tadi bermaksud meminta jawaban padanya
" Gimana Bah?" tanya Jihan menoleh pada Zain
" Kalau menurut Umi gimana?" tanya Zain balik, biar Jihan sendiri yang menetukan
" Kalau menurut Umi, Mereka semua masih sangat labil, apa lagi anak gadisku, masih suka main main, dan El baru lulus dan baru mau belajar di rumah sakit juga, " ucap Jihan mengurutkan dari anak terkecilnya
" Tempat tugas mereka juga kan di sini, lebih dekat dari sini" tambah Jihan lagi dengan santai
" Sebenarnya lebih tepatnya Al, dia yang dekat dari sana, dan lebih menguasai ilmunya," jawab Jihan mengajukan Al
" Ya udah, Al aja" saut Fani cepat
" Tapi dia belum ada pasangan mbak, belum ada istri, Enggak lah, di sana banyak santri putri lagi" jawab Jihan menolak dan Mereka msih gak peka sama sekali
" Ck.. Gak peka banget sih, gue tuh sebenarnya siap, abang juga kenapa gak ajukan diri aja" batin Jihan kesal
Jihan masih melirik Zain makin tajam dan sama sekali gak di gubris sama Zain yang gak peka karena sibuk pikirannya sendiri
" Yah terus gimana? ayo lah apa kalian aja yang di sana, itu sebenarnya kan rumah kalian, bagian kalian, dan kalian yang seharusnya menggantikan Abah Umi, di perusahaan kan sudah ada anak anak kalian yang menggantikan sudah lulus semua, kalian juga sudah bahagia kumpul semuanya, gak ada konflik lagi, jadi kalian aja" ucap Fani nerocos kesal karena adeknya gak peka banget
Zain sama Jihan saling pandang setelah mendapat omelan dari Fani, dan mereka mengangguk kompak
" Okey kami yang gantiin Abah Umi mbak" jawab Jihan tegas
" Kenapa gak dari tadi aja sih Han, " kesal Baha' karena masih bulet memberi alasan
" Tapi sayang, kalau kita gantiin abah sama umi, otomatis kita juga harus pindah ke sana, dan anak anak tugasnua di sini, Abah gak mau jauh dari anak gadis Abah, " bantah Zain berubah pikiran
" Ya pindah semuanya aja ngapa sih Bah, dulu Umi sama Abah, kalau sekolah kerja juga pulang pergi bisa, kenapa anak anak masih muda gak bisa" jawab santai
" Udah itu urusan kalian, yang penting kalian udah siap bersedia mengantikan posisi Abah Umi, kasian beliau sudah pada sepuh, waktunya istirahat, gak mungkin kita minta bantuan santrinyang senior terus mereka di pondok kan mau ngaji, iya gak Han" ucap Baha' sambil menaik turunkan alisnya
" Iya " jawabnya singkat dan selesai urusan mereka
Mereka lanjut ngobrol yang lainnya dan membahas urusan yang lainnya
Dan karena pada bosen satu persatu anak mereka pada nyusul mereka ngobrol di bawah sambil membawa laptop dan ponsel masing masing
" Pada Bahas apa sih? seru banget" tanya Al sambil menghadap ke laptopnya
" Begini semuanya anakmu tiap harinya Zain?" tanya Fani karena anaknya gak ada yang kuliah cuman aisyah itu aja sudah lebih dari 5 tahun hampir 6 tahun kuliahnya karena termotifasi dari Jihan
" Kalau anakmu pengang Al -Qur'an aja kan mbak? kalau mereka ada jadwalnya" jawab Jihan
" Apa lagi sekarang LDR, haduh makin keseringan di ponsel sama laptop, gue sendiri pusing lihatnya " tambah Jihan pada ketiga anaknya
" Yang penting masih tajin murojaah Mi, gak hilang hafalannya, msih nyanyol terus kayak hanger" hawab Zula santai sambil mengotak ngatik laptopnya
" Kata pakde sama Bude kalian suruh gantiin mbah Umi sama mbah Abah, mengurus pesantren dan mengasuh para santri" ucap Zain seketika membiat mereka bertiga berhenti dan menutup laptopnya
" Maksudnya ?" ucap mereka kompak padahal Zain mengkibuli mereka
" Gitu baru diem mas, perku ada sesuatu yang mengagetkan dulu" jawab Zain menjelaskan tingkah anaknya
" Bohong orang kami juga punya jadwal juga pegang laptopnya kok, saat ibi kan kerjakan tugas dari Umi sama Abah dulu, " bantah Zula kesal pada Abahnya
" Iya ya... Maaf, putri abah ini memang " jawab Zain sambil mengusap lembut kepala Zula
" Tapi tadi maksud Abah Gimana? apa kita harus gantiin mbah Abah untuk ngurus pesantren, tapi emangnya Mas adam kenapa?" tanya El langsung peka dan Baha' yang menjawab dan menjelaskan
" Ya gak apa apa, kita pindah aja kesana, gue sama Ula gak masalah kalau harus berangkat dari sana kok, iya gak La" jawab El sangat bijak
" Terus rumah kita?" tanya Al lagi
" Jual lah, " jawab Zula santai padahal rumahnya yang di KDS juga masih nganggur dan gak di huni, tapi tetap di bersihkan
" Enak aja" jawab Jihan cepat
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 318 Episodes
Comments
Happyy
💖💖
2022-11-22
0
Lena Sari
lanjutt
2022-08-14
0
Bunda Ravi
hadiah dari abahmu itu la, buat nebus ma'af umimu, makanya umi jihan g mo jual rumahny!!! lanjut....
2022-08-13
0