Aron tercengang melihat kejadian di hadapannya saat ini. Entah dari mana tuannya ini, tapi saat kembali sudah membawa wanita yang sempat ia temui kemarin.
"Tuan, nona Anne kenapa?" tanya Aron.
"Panggil dokter Angga, suruh dia ke kantor dan tolong pesankan makanan untuk Anne," titahnya langsung masuk ke dalam ruangan. Asloka tak memperdulikan Aron lagi, yang paling utama saat ini hanya Anne.
"Duduklah di sini," lirihnya menurunkan Anne secara perlahan.
"Terima kasih, Pak Gay. Aku ... aku, tak tahu harus meminta tolong pada siapa. Yang aku ingat hanya nama kantor yang ada di kartu nama kemarin, maaf sudah mengganggu ketenangan kantor," ucap Anne sesegukan.
Anne tak dapat menyembunyikan rasa takutnya, ia terus menangis sampai Asloka memeluknya sangat erat. Pelukan hangat, yang mampu membuat Anne merasa terlindungi.
"Kau sudah aman bersamaku, Anne. Jangan takut lagi, sebentar lagi Angga datang dan memeriksamu," ujarnya terus menciumi kening Anne.
Sedangkan yang di cium hanya mengangguk kecil. Setelah itu Anne memilih berbaring di atas ranjang, sejenak ia merasa tenang, tapi ia tak bisa berbohong jika hatinya masih takut jika Geo menemukannya.
Tanpa terasa, Anne kembali terisak. Tubuhnya semakin merasa sakit, area-area sensitifnya terasa ngilu. Tapi, Anne hanya bisa menahannya saja sampai rasa sakitnya memudar.
Tak lama setelah itu, Anne mendengar suara pintu dibuka. Karena trauma akan kejadian di rumah, Anne reflek berdiri, tubuhnya semakin bergetar takut jika yang datang adalah Geo.
Anne berlari ke pojok ranjang, ia duduk disana sambil menutup kedua telinganya. Ternyata perlakuan Geo semalam menimbulkan rasa trauma, trauma akan lelaki itu.
"Hey, kau kenapa?" tanya Angga. Sedangkan Asloka yang baru masuk langsung terbelalak melihat kondisi Anne. Tanpa basa basi, Asloka mendorong tubuh Angga agar menyingkir dari hadapannya dan langsung menghampiri Anne.
"Anne, kau baik-baik saja?" tanyanya berusaha memegang pipi Anne. Namun, bukannya jawaban yang Asloka dapatkan, malah sebuah pelukan tiba-tiba yang Asloka dapatkan.
"Ak-aku takut, Pak Gay. A-ku tidak ingin bertemu mas Geo, a-ku ... huaaa ...."
Pecah sudah tangisan Anne, ia terus menjerit di pelukan Asloka. Ia tumpahkan semua rasa kekecewaan, kesedihan, sekaligus penyesalan karena memilih pulang malam itu.
'Brengsek! Kau lihat saja Geo, sebentar lagi kau akan hancur!' serunya dalam hati. Sungguh hatinya sangat sakit melihat Anne seperti ini, rasa dendam pada Geo juga semakin tinggi dan Asloka pastikan Geo akan membayar semua.
"Kau aman bersamaku, Anne. Percayalah padaku, sekarang hapus air matamu dan biar dokter Angga memeriksa keadaanmu." Asloka meyakinkan Anne.
Sejenak Anne menatap Angga, melihat orang itu seperti tulus akhirnya ia mau diperiksa. Perlahan-lahan Anne berdiri di bantu Asloka dan langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang, selama pemeriksaan Anne tak pernah mau melepaskan tangan Asloka.
Ia terus menggenggam erat tangan itu, karena Anne merasa tentang jika ada Asloka di sampingnya.
"Tunggu, apa-apa ini? Kau mau apa?" protes Asloka ketika Angga ingin melihat daerah intim Anne.
"Kau pikir mau apa aku, kalau bukan memeriksanya!" seru Angga paham jika Asloka tak setuju jika ia melihat aset berharga Anne.
"Tidak boleh!" tolak Asloka mulai menatap tak suka pada Angga.
"Terus, kau maunya seperti apa? Mau priksa sendiri, silakan tapi kalau ada apa-apa jangan panggil aku!" Angga langsung bangkit dari atas ranjang dan bergegas membereskan peralatannya.
Tapi, Asloka segera mencegah Angga. Jika di pikir-pikir lebih baik di lihat oleh Angga daripada orang lain, biarlah ia mengalah untuk yang satu ini.
"Tunggu, kau boleh memeriksanya. Tapi, jangan terlalu lama, jika sudah tau penyakitnya langsung tutup mata!" seru Asloka penuh ke posesifan.
Entahlah semenjak ia tahu ulat sagu nya bisa berkembang karena Anne, ia merasa tak rela jika wanita itu di miliki orang lain. Baginya, Anne itu seperti harta karun yang harus dijaga dan tak boleh disentuh orang lain.
"Huft, bocah labil!"
Angga pun segera mengeluarkan sebuah senter dan beberapa alat lainnya. Dirasa sudah lengkap, barulah Angga menyuruh Anne membuka kakinya. Awalnya Anne menolak karena malu, tapi Asloka membujuknya hingga Anne menurut.
Dengan hati-hati Angga melihat area sensitif Anne, ia sedikit geleng-geleng melihat penampakan di depannya ini. Sungguh suami Anne sangat kejam, hingga area belakang juga depan sobek.
"Bagaimana?" tanya Asloka tegang.
"Kita harus melakukan Visum, ini sudah keterlaluan menurutku. Jika kau melihatnya mungkin tak akan tega, antara depan dan belakang sobek dan ini harus dijahit," jelas Angga membuat Asloka terbelalak.
Namun tidak dengan Anne, ia sudah tau akan seperti ini ketika suaminya dengan beringas menyetubuhiinya dengan kasar. Ia juga masih ingat, Geo memakai alat lain untuk dimasukkan ke area belakangnya di saat lelaki itu menikmati lubang surgawinya.
"Maksudmu apa, ha?" Asloka mulai naik pitam.
"Anne mengalami kekerasan seksualll, bodoh! Ini juga namanya KDRT kalau menurutku, jadi ini harus divisum untuk dijadikan barang bukti ke kantor polisi," jelas Angga.
Asloka mengepalkan tangannya kuat, ia sangat marah mendengar perkataan Angga, ia murka dan ingin membunuh lelaki bajingann itu saat ini juga.
Tapi, amarahnya tiba-tiba meluntur saat merasakan sebuah tangan yang melingkar di perutnya. Siapa lagi jika bukan kelakuan Anne, wanita itu langsung menangis dan lagi-lagi Asloka tak tega melihat Anne seperti ini.
"Kau tenang saja, aku akan membunuhnya kalau perlu!" seru Asloka sangat yakin.
"A-aku ingin berpisah darinya, aku takut," lirih Anne takut.
"Baiklah, akan kubantu kau bercerai dengannya. Kau aman bersamaku, jangan khawatir semua akan beres. Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang, ini juga bisa dijadikan bukti di persidangan nanti."
Anne mengangguk, setelah itu mereka bergegas ke rumah sakit untuk melakukan Visum pada Anne.
***
Sedangkan di sisi lain, Geo berteriak kencang untuk memanggil Julia. Sudah lebih satu jam ia mencari benda kecil itu tapi tak kunjung ketemu, sebenarnya Geo bisa saja loncat dari balkon, tapi ia tak mau melukai diri sendiri hanya karena ingin mengejar Anne.
Geo yakin, Anne akan kembali ke pelukannya. Ia sangat yakin, karena selama ini istrinya selalu memberikan maaf dan kembali lagi ke sisinya.
"Julia!!" teriaknya sangat kencang, hingga membuat wanita yang ada di lantai bawah mau tak mau menghampiri suaminya.
"Ada apa, Geo!" teriak Julia balik dari luar kamar.
"Cepat ambil kunci cadangan kamar ini di ruang tamu, hanya lima menit waktumu, jika dalam lima menit kau tak kunjung datang, maka terima hukumanmu!"
Deg!
Mendengar kata-kata hukum, Julia menjadi merinding, tanpa membalas atau banyak bicara, Julia segera menuju ruangan tamu dan mengambil semua kunci cadangan. Setelah itu, barulah Julia kembali ke atas dan membuka pintu kamar utama Geo.
Cklek!
"Kau terlalu lemot, Julia!" Geo langsung mencengkeram kuat rahang istrinya.
"Sakit Geo! Kenapa kau jadi seperti ini, mana Geo yang lembut seperti sebelum kita menikah," ucap Julia merasa tak kuat lagi bersuamikan Geo.
"Semua berubah semenjak Anne ingin bercerai, kau hanya pelampiasanku saja! Kau hanya pelampiasanku, Julia!"
Brukk!
"Aww!" Julia meringis kesakitan, sungguh suaminya sekarang sangat kasar. Tega sekali lelaki itu mendorongnya, setelah mendapatkan tubuhnya.
"Kau, akan menyesal memperlakukan ku seperti ini Geo! Kau akan menyesal," teriak Julia.
Geo tak memperdulikan Julia, lelaki itu terus berjalan keluar rumah untuk mencari istrinya — Anne. Geo tak akan melepaskan wanita itu, karena hanya dia kunci kekayaannya. Jika sampai orang tuanya tau, maka semua aset-aset keluar Bintoro akan diambil alih Arleta, anak kedua papanya dengan wanita lain.
...🍃🍃🍃...
Rekomendasi cerita sangat bagus, ayo mampir di jamin seru nggak kalah dengan ini. Pokoknya jangan lupa mampir ya, ini aku kasih tau judulnya. JERAT HASRAT SANG CEO Author Teh Ijo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 69 Episodes
Comments
Yunerty Blessa
Geo menikahi Anne semata-mata harta
2024-07-22
0
Maya Ratnasari
sesenggukan thor, kurang "ng" doang
2024-06-28
0
liberty
modusssss
2023-12-04
0