Stela lebih dahulu meninggalkan apartemen miliknya, menuju kediaman Papa Leonal di Jagakarsa. Sementara Adrian, melacak melalui CCTV, siapa yang menyelinap masuk ke area apartemen Stela.
Tentu saja tidak dapat Adrian temukan, karena William lebih pintar dari Adrian dalam menyelinap, ke kawasannya.
"Hmm, saya akan kembali kekantor! Kamu ikuti langkah gadis itu. Jangan sampai dia melakukan hal gila diluar sana. Saya yakin, dia menyembunyikan sesuatu," Adrian menegaskan pada Yudas dan ajudan lainnya.
"Baik Tuan...!"
.
Sementara Stela tengah asik mengendarai mobil sport milik Leonal, sambil menghubungi kedua saudara kembarnya yang berada di Jerman secara virtual.
"Hai kak."
Stela melambaikan tangan pada layar handphone yang dilekatkan diarea dasboard mobil.
"Hai... Bagaimana keadaanmu? Aku dengar kamu berpisah dari Will? Apa Papa sudah mengetahui tentang semua ini?" Stevie menanyakan pada Stela.
"Hmm, jangan kasih tahu dulu. Aku enggak mau Papa, semakin kecewa pada kita semua. Apalagi Mama dan Oma. Aku lebih memikirkan perasaan mereka," Stela meyakinkan pada Stevie dan Steiner.
Kedua pria tampan itu, mengangguk mengerti. Mereka bertiga berulang kali menghubungi Stefan, namun tidak ada jawaban yang berarti.
"Kemana Stefan? Apakah dia baik baik saja?" Steiner menanyakan pada Stevie.
"Hmmm, semoga dia selalu baik dan bahagia. Karena barangnya masih ditahan di tengah laut. Ya kan Stel?" Stevie mengingatkan pada adik kembarnya.
"Ya-ya-ya... Tapi aku tidak ingin melanjutkan cerita itu, karena sangat rahasia. Are you understand, Baby...!" Stela tertawa.
"Ya sis.. Jangan sampai Papa mengetahui semua permasalahan kita. Jika semua terbongkar, mungkin kita berempat akan digantung di Menara Eiffel tanpa sehelai benangpun, atau kita akan dipatri di tembok Berlin," Stevie mengingatkan.
Stela mengangguk mengerti, "Ingat, semua harus kita jaga, sampai kapanpun! Oke, aku sudah berada di Jagakarsa, nanti malam akan ke Cina. Sampai jumpa bro... bye...!"
Stela menutup telponnya, menyesiasati sekitar kediaman keluarganya. Gadis itu tersenyum tipis, melihat keberadaan mobil Calita hanya berjarak beberapa meter darinya.
"Dasar wanita pengganggu. Dia pikir aku nggak akan tahu. Aku kerjain, biar tahu rasa."
Stela menghubungi teman prianya, semasa sekolah, untuk menghampirinya kekediaman Leonal.
Gadis itu tersenyum bahagia, melambaikan tangan pada Calita, yang masih berada didalam mobil.
"Dasar kacung bodoh! Apa yang disuruh majikan, mau saja. Tidak punya prinsip, bahkan sangat memalukan," Stela bernyanyi kecil memasuki kediaman keluarga.
Mata Stela dikejutkan dengan kehadiran Leonal dan Paras yang berada diruang makan.
"Hai Ma, Pa...! Bukankah kalian di Bali?" Stela melirik kearah kamar Oma Maride dan Opa Baros.
Leo mengecup kening putrinya, "Mana Will? Kenapa dia tidak menemanimu, dear?"
Stela tersenyum tipis, "Hmm, Ko Will masih ada kerjaan, jadi aku pulang dulu sebentar, karena malam ini, akan berangkat ke Cina. Mungkin akan lama disana."
Paras mengangguk mengerti, "Kamu hati hati, Stel...! Ingat, istri itu harus manut sama suami."
Stela mengangguk, mendengar nasehat Paras, tanpa mau menjelaskan permasalahan yang dia alami saat ini. Beberapa jam kebersamaannya bersama Leonal dan Paras diruang makan, benar saja.
Bibi membawa seseorang kedalam rumah, untuk menemui anak majikan, dikediaman Keluarga Leonal.
Betapa terkejutnya Stela, pria berwajah tampan dan mapan itu, hadir dihadapan keluarganya tanpa konfirmasi terlebih dahulu.
"Selamat siang Nyonya...!" Adrian memberikan hormat pada Leo dan Paras.
"Siang... silahkan duduk," Paras mempersilahkan Adrian agar duduk bersama mereka.
Stela menggeram melihat sosok pria angkuh nan tegas itu ada dihadapannya, bahkan sangat mengejutkan.
"Anda berani sekali, Tuan!" Stela menggeram.
Paras menyambut bahagia, mempersilahkan pada Adrian, untuk ikut menikmati hidangan makan siang yang sudah disediakan.
"Terimakasih Nyonya," senyumnya menatap Paras.
Leo meninggalkan ruang makan segera, menyelesaikan beberapa pekerjaan yang terpending karena sesuatu hal.
"Ma, Oma Maride enggak ikut ke Jakarta?" Stela mengalihkan perhatiannya.
Paras menggelengkan kepalanya, "Oma, langsung kembali ke Melbourne. Kamu temanin dulu komandan, Mama ada beberapa pekerjaan."
Paras meninggalkan kedua insan yang memiliki pemikiran sendiri diantara mereka.
Stela melahap semua makanan yang terhidang, tanpa menghiraukan alergi yang dia derita selama ini.
Adrian berbisik ditelinga Stela, "Ternyata kamu suka sekali seafood, baby?"
Stela termenung, bibirnya terdiam, mengingat kata kata seafood yang dibisikkan Adrian ditelinganya.
"Seafood..!!!"
"Mamaaa...! Ini seafood?" tunjuk Stela pada udang dan cumi yang dibalut tepung.
Sontak Paras mendekati putrinya dengan sangat sigap, melihat wajah memerah pada putrinya.
"Bukankah kamu tahu ini udang Stel...? Kenapa dimakan, ditambah saos kacang!" Paras tampak panik, bergegas berlari menuju lemari obat.
Stela menggeleng, dia justru tampak seperti orang sesak nafas, saat mengetahui apa yang dia konsumsi.
Adrian tampak panik melihat wajah gadis itu memutih, bergegas dia menggendong tubuh ramping Stela.
"Hei... bro, kemana putriku akan kamu bawa?" Leonal berteriak lantang.
Adrian menegaskan, "Saya akan membawanya kerumah sakit, Tuan!"
Leo dan Paras saling menatap, "Hubungi William, cepaaat....!!"
Paras menghubungi William, berkali kali, namun tidak tersambung sama sekali.
Betapa paniknya keluarga saat melihat wajah Stela membiru, sulit menarik nafas dalam.
Dengan sangat mudah pria tegap itu memasukkan Stela kedalam mobil, memerintahkan kepada sopir agar segera mencari rumah sakit terdekat.
"Baby... baby... sadar baby...!" wajah Adrian tampak panik, melihat gadis itu diam tanpa bisa berkata-kata.
Dua puluh menit mereka tiba disalah satu rumah sakit, dengan sangat sigap Adrian membopong tubuh Stela, meletakkannya diatas tempat tidur rumah sakit.
"Cepat lakukan tindakan segera...!" teriak Adrian memberi perintah.
Dokter dan para perawat, sedikit panik, saat melihat pria berdandan detektif memberi perintah padanya, mata mereka melihat keadaan Stela, mengalami hilang kesadaran.
"Tuan, maaf... Anda siapa?" Dokter menanyakan pada Adrian, meminta penjelasan.
Dengan lantang Adrian menjawab, "Saya suaminya Nyonya Stela...!"
Leonal dan Paras yang mengikuti langkah Adrian dari belakang sejak tadi, dibuat terkejut oleh pernyataan pria mapan dihadapannya.
Hati Leonal dan Paras bergetar hebat, saat mendengar penjelasan dari sang komandan bertuliskan nama Adrian Martadinata. Dileher baju terpampang jelas pangkat, bahkan berpenampilan sangat menarik perhatian kaum hawa untuk menjadi madunya.
"Siapa dia...?"
Leonal meremas erat tangan Paras dengan sangat keras.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments
Simply Yunita
dashboard mak 🤭🙏
2022-07-07
0
Erni Hidayat
Wah.. Wah... Wah....
2022-05-29
3