Namun kebersamaannya kembali terganggu karena kehadiran sang komandan.
"Halo baby....!"
Stela yang masih bermalas-malasan dimeja kantin, seketika terlonjak kaget. Wajahnya memerah, ingin sekali dia menampar muka yang dengan gampangnya, merangkul bahu Stela, sambil memijat pelan punggung wanita cantik itu dihadapan semua mata, yang tengah menyantap hidangan makan siang mereka.
Stela menggeram, membesarkan kedua bola matanya, "Malu dilihat orang Bapak....!!"
Adrian tertawa terbahak bahak, mendengar sebutan Bapak padanya.
"Apa saya setua itu?" godanya pada puncak hidung Stela.
Stela berdiri dari duduknya, ingin segera menjauh dari komandan pengganggu seperti Adrian.
"Anda sudah berusia 37 tahun Tuan. Saya yakin, bahwa anda adalah seorang suami dan seorang ayah, yang tidak memiliki perasaan pada bawahannya," ejek Stela, membuat wajah Adrian merah padam melirik kearah anggota lain, yang berpura-pura tidak mendengar perdebatannya.
"Sssst baby. Cooling down. Jangan terlalu banyak berfikir, nanti wajah kamu menjadi cepat tua, bahkan lebih tua dari saya," goda Adrian bernada pelan.
"Ciiih...!"
Stela membuang pandangannya, dari Adrian yang sangat menyebalkan.
Mereka akhirnya terdiam, saat Loly membawa makanan sehat untuk Stela.
"Beib, kamu bisa makan lebih banyak. Biar cepat hamil, dan Koko semakin sayang sama kamu," Loly tertawa menggoda Stela.
Sontak Adrian yang tengah meneguk air mineral, tiba tiba tersedak disamping Stela, yang tengah asik menikmati hidangannya.
"Uhuug-uhuug-uhuug!" wajah Adrian seketika memerah, ditambah dengan tatapan sinis Stela yang terkena imbasnya.
"Bapak..!!" teriak Stela menggelegar.
Adrian memberikan tisyu pada wanita yang berada disampingnya, membantu mengelapkan agar Stela tidak semakin bersuara lantang, hingga membentak keras, membuat mata memandang kembali kearah mereka.
"Maaf baby, saya tidak sengaja. Loly membuat saya menjadi kaget mendengarnya," Adrian mengusap lembut rambut Stela dengan sangat pelan.
Stela hanya menahan rasa kesal, yang teramat dalam. Beberapa hari harus berhadapan dengan pria aneh seperti sang komandan yang memiliki nilai humor tinggi padanya.
Loly sedikit penasaran, melihat kedekatan mereka berdua. Bagaimana tidak, selama ini Stela dan Adrian, tidak saling mengenal bahkan tidak pernah bertemu, tapi mereka bisa sedekat ini, hingga terlihat memiliki chemistry yang berbeda.
Mereka melanjutkan melahap makanan yang sudah dingin, kemudian berlalu meninggalkan kantin, menuju ruangan kantor masing masing.
Adrian menarik tangan Stela, membawanya keruangan yang berbeda. Ruangan tertata rapi, lebih besar dari ruangan gadis itu sebelumnya.
Wajah Stela semakin liar, melihat sekelilingnya. Mencari keberadaan komputer kesayangan, bahkan tidak menemukan keberadaan radio sistem informasi yang dia bawa dari Australia.
"Ini ruangan siapa Komandan?" Stela bertanya tampak bingung, melirik kearah Adrian.
"Hmm ini ruangan kamu, baby. Semua perlengkapan saya ganti, bahkan saya melengkapi kamu dengan sistem tercanggih. Nanti ada teknisi yang mengajarimu untuk mengajarimu, menganalisa keberadaan nomor telepon seluler bertaraf internasional. Saya rasa, kamu akan menyukai semua ini," Adrian tersenyum.
Stela sedikit menunduk, "Apa ini tidak terlalu berlebihan, Bapak. Saya pernah mempelajari semua sistem informasi internasional. Saya rasa Melbourne merupakan negara, yang memiliki sistem informasi tercanggih."
Adrian mengangguk sambil tertawa terbahak-bahak, "Saya lupa, ternyata kamu besar disana yah?"
Stela hanya menatap malas pada sang komandan, yang selalu menjadikannya seperti wanita yang tidak tahu apa-apa.
"Oke, saya permisi. Selamat bekerja baby. Jangan lupa, seminggu lagi kita akan terbang ke Cina, untuk mencari keberadaan William. Ada empat orang team yang akan menemani kita. Nanti kamu bisa pulang kekediaman keluargamu, dan menghabiskan waktu dua hari. Selanjutnya ajudan saya akan menjemput," Adrian berlalu meninggalkan Stela sendiri diruangan dingin itu.
Stela menaikkan kedua alisnya, mendengar akan kembali kekediaman keluarga.
"Hmm, apakah beliau mengetahui bahwa Papa dan Mama berada di Bali saat ini?" rungut Stela bergumam dalam hati.
Stela menuju kursi empuknya, menduduki dengan sunggingan senyum tipis. Ada perasaan bangga, namun memiliki perasaan bersalah yang dia rasakan saat ini.
"Bagaimana caranya aku menjelaskan pada Papa? Bagaimana perasaan Oma dan Opa saat mendengar Stefan menjalani hukuman mati. Ini sangat berat Tuhan. Aku rasa, aku tidak mampu kehilangan saudaraku," Stela semakin terlarut dalam pilihan.
Handphone Stela kembali bergetar.
"Stefan!" Stela tersenyum senang, menggeser lambang hijau dengan wajah bahagia.
"Halo Kak!" Stela.
"Hmm, ada apa? Kamu nelpon, kakak baru bangun tidur. Capek banget," Stefan.
"Hmm, mungkin aku akan ke Napoli, aku ingin bertemu denganmu," rungut Stela manja.
"What? Ada kegiatan apa? Bukankah kamu sudah berhasil melangsungkan pernikahan di Bali? Selamat yah? Aku akan mengirimkan uang padamu beberapa menit lagi," Stefan.
"Apa kakak tidak tahu? William menceraikan aku? Saat pulang dari Bali?" Stela membentak Stefan.
"Apaa...? Cerai..? Oogh my God! Jujur aku tidak mendengar tentang itu," terdengar suara Stefan benar benar tidak menyangka bahwa Will akan menyakiti adiknya.
"Ya...! Dia telah mencampakkan aku, bahkan Mama dan Papa belum tahu bagaimana hidupku nanti," Stela semakin larut dalam kesedihannya.
Stefan memutuskan sambungan telepon, tanpa mengucapkan sepatah kata terakhir, atau ciuman dari jauh ala mereka berdua selayaknya saudara kembar saling merindu.
"Dia kenapa seeh..? Uuuugh...!!"
Stela semakin kesal, benar benar kesal dengan keadaan saat ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments