Stefan akan meninggalkan kediamannya yang tidak begitu besar, namun cukup nyaman saat berada disana, dia dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita dihadapannya.
"Stef...!" Sapa gadis.
"Stef, aku hamil..."
Bola mata Stefan membulat seketika.
"Apa..???"
Stefan menatap remeh kearah Siera yang menjadi teman kencannya beberapa waktu lalu.
"Kenapa kamu meragukan aku? Apa aku seperti wanita rendah dimata mu?" Siera tersulut emosi, mengusap perutnya.
Stefan mencondongkan tubuhnya agar lebih dekat pada gadis yang sangat menyebalkan baginya, "Kamu dengar honey, aku melakukannya sangat sadar, dan menggunakan pengaman. Aku yakin, ini bukan anakku. Aku sudah membayar semua jasamu. Lebih baik, tinggalkan kediamanku, sebelum Bruno menyakitimu."
Siera sedikit takut mendengar nama Bruno, "Aku terakhir melakukannya padamu, Stef. Tidak pernah dengan siapapun."
Stefan tertawa sinis mendengar pengakuan Siera, "Kamu pikir aku bodoh, honey hmmm?"
"Stefan...!" Siera semakin mengeras.
"Pergilah, jika kamu masih berada disini, kamu akan berhadapan dengan Abigel, karena dia sudah beberapa hari bersamaku. Lebih baik kamu pergi sekarang, satu.... dua....!!!"
Stefan berteriak, membuat Abigel dan Bruno benar benar menghampiri sang majikan.
Siera menatap lekat wajah Stefan, "Laki laki brengsek... aku pastikan kamu akan mendapatkan ganjaran. Jika...!" matanya beradu tatap dengan Abigel sudah berdiri disamping Stefan.
"Aaaaagh!" Siera terlihat lebih frustasi, saat melihat Abigel berada dikediaman Stefan.
Stefan tersenyum lirih, melirik kearah Abigel, "Tetap tinggal disini, lakukan tugasmu. Mungkin aku akan menyelesaikan semua bisnisku. Jangan menghubungi, jika aku tidak mengabari, jelas...!"
Abigel mengangguk, memeluk Stefan, membiarkan pria itu berlalu meninggalkannya.
.
.
Situasi berbeda dengan Stela, dia masih termenung diruangan kerja, menunggu jam pulang kantor. Wajahnya terlihat lesu, bahkan sangat menyedihkan. Pikiran dan perasaan benar benar sedang terganggu, karena keputusan komandan. Saat dia akan meninggalkan ruangan kerja yang baru, tiba tiba Adrian muncul dihadapannya.
"Baby, kamu ikut saya. Kita akan ke Cina malam ini. William ada disana."
Perintah Adrian secara mendadak, membuat wanita itu tidak tahu harus berbuat apa.
"Bukankah minggu depan? Saya belum mempersiapkan semuanya. Tidak bisa mendadak, Bang!" tolak Stela spontan.
Adrian terdiam, mendengar sebutan Abang, membuat hatinya sedikit berbunga-bunga. Matanya bersinar terang, menatap wajah Stela dengan penuh semangat. Perasaan yang bercampur aduk, bahkan lebih menyenangkan baginya.
"Bisa ulangi? Bang?" Adrian mendekati Stela.
Wajah Stela semakin mundur, karena takut akan ada serangan dadakan dari pria mesum dihadapannya.
"Hmm, bukankah Abang blesteran Batak dan Jerman?" Stela menaikkan kedua alisnya.
Adrian mengalihkan pandangannya, mengangguk angguk seperti burung balam.
"Apa baby melihat profil lengkap di kesatuan?"
"Hmm, itu tidak penting, karena saya memiliki banyak informasi. Mungkin lebih lengkap. Saya juga tahu, bahwa anda suami dari Lauren Bennet, orang nomor tiga di Marsedez Benz Hamburg."
Stela menunjukkan berkas yang dia terima dari Stevie.
Adrian terdiam, wajahnya seketika berubah menjadi memerah. Wajah ceria, penuh dengan tawa dan sangat rajin menggoda Stela, kini terdiam membisu.
"Apakah keluargamu mengenal Keluarga istriku?" Adrian menutup pintu ruangan Stela.
Stela mengangguk, "Jika Anda punya informasi tentang aku, saya juga dapat menemukan data diri anda Tuan Adrian Martadinata."
Adrian mengalihkan pandangannya, status yang dia tutup dari kesatuan selama ini, akhirnya diketahui oleh anggotanya.
Adrian menarik tangan Stela agar duduk didekatnya. Gadis itu dengan sangat penasaran memilih mengikuti perintah sang komandan.
"Dengar Stela, saya memang suami resmi Lauren Bennett. Sengaja saya tutup rapat, agar tidak ada seorangpun yang tahu tentang kehidupan pribadi saya, karena hubungan kami sangat rumit."
Stela tertawa penuh selidik, justru sangat meremehkan sang komandan, "pantas saja anda seenaknya pada wanita, terbang kesana sini, dengan anda meniduri dua ratus wanita pun, mungkin akan menjadi hal yang biasa bagi anda Tuan."
Adrian terdiam, menarik nafas dalam, meraih tangan Stela, untuk membujuknya.
"Dengar baby, saya tidak seperti yang ada dipikiran kamu. Jika saya memang mau, mungkin saja malam ini saya sudah berangkat ke Cina tanpa kamu. Belum saatnya kamu mengetahui tentang pribadi saya," jawabnya enteng.
"Haaah, Anda sudah menggagahi saya, dengan pemaksaan, jika saya laporkan kepada pihak tertinggi, mungkin sudah mati anda di kebiri dalam hotel prodeo," Stela menggeram.
"Huuush baby. Saya akan bertanggung jawab padamu, jangan seperti ini," pujuk Adrian.
Stela tersenyum picik, "Baik, lepaskan saya dari team informasi ini. Saya akan menutup rapat informasi yang saya terima tentang anda."
Adrian menutup kedua matanya, memijat pelan pelipisnya, "Jangan menjebak ku, baby, jangan pernah mengancam ataupun melakukan hal bodoh yang merugikan dirimu sendiri. Kamu dengar sendiri, para petinggi yang meminta, bukan saya, baby. Come on....!"
Stela benar benar membayangkan kesulitan apa yang akan dia alami, jika menyatakan mundur.
Stela menarik nafas dalam, menyandarkan kepalanya disofa, "Jadikan aku simpanan mu, Bang. Aku akan melakukan apapun!"
"Haaah....???"
Adrian ternganga mendengar permintaan gila anggotanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments