Leo justru berfikir, "Apa maksud komandan ini mendekati anak ku Stela? Hmm, apakah dia sudah merindukan peti mati berada dihadapannya?"
Paras melihat kearah Leo, "Bowl, apakah kita akan membawa pulang Stela hari ini? Atau masih tetap berada dirumah sakit?"
"Hmm tanya Stela, lebih baik kita rawat dirumah seperti biasa. Aku akan ke kantor, karena akan ada pertemuan dengan salah satu Jenderal," Leonal mengusap lembut punggung istrinya, yang semakin anggun dan tampak elegan, walau bertubuh subur.
Stela sedikit ketakutan, jika Jenderal yang dimaksud oleh Leo tentu adalah Bang Beni yang selalu setia membantu, jika ada penghalang di lapangan untuk bisnis kedua saudara kembarnya.
Adrian terdiam, "Jenderal..? Apakah ada petinggi lain yang mendekati keluarga ini?"
Adrian mendekati Leo dan Paras, melirik kearah Stela, memberikan nasehat pada wanita muda yang sangat menarik perhatiannya beberapa hari ini.
"Tuan, Nyonya, saya permisi. Mungkin keberangkatan ke Cina akan ditunda. Menunggu kesehatan Stela membaik," Adrian menatap Stela, sedikit lebih ramah.
Tangan kekar itu, meraih jemari Stela, "Baby, saya pulang yah... besok saya akan menjemputmu," Adrian mengecup lembut punggung tangan gadis itu dihadapan kedua orang tuanya.
Sontak menjadi pemandangan yang tidak biasa bagi Paras dan Leonal. Perasaan curiga, melihat Adrian yang sangat baik memperlakukan Stela, sehingga kedatangannya kekediaman Leonal, menjadi pertanyaan besar dikepala pria berpengalaman seperti Papa Leo.
Adrian menunduk hormat pada Leo dan Paras, berlalu meninggalkan rumah Sakit.
Kepergian Adrian dari dalam ruangan putrinya, membuat Leo menasehati putrinya dengan sangat tegas.
"Dengar Stel... pria itu sudah memiliki istri, dan kamu juga telah menikah. Jangan biarkan orang asing masuk kerumah tangga kalian, apa kata Will...? Kamu tahu Mami dan Daddy Will, sangat menginginkan keturunan dari kalian," Leonal menegaskan pada putrinya.
Stela memijat pelipisnya, enggan berdebat dengan sang papa hanya karena masalah Adrian.
"Hmm setahu aku, komandan baru itu agak agak aneh, tapi kami tidak ada apa apa. Dia memang memanggilku baby, karena aku memang masih baby. Sementara dia seumuran Aunty Lauren. Sama juga kayak Papa kan?" Stela melirik kearah Leo dan Paras.
Paras mengusap lembut kepala putrinya, "Sudah... yang penting kamu bekerja hati hati. Jika tidak bekerja lagi, kamu bisa duduk di perusahaan untuk menggantikan peran Mama pada Langhai. Kalau tidak kalian siapa lagi? Berharap tiga pria itu, bagaikan pungguk merindukan bulan. Kembaran kamu hanya mementingkan diri sendiri, tidak pernah memikirkan perasaan Mama dan Papa, tinggal nerusin saja."
Stela melihat wajah kecewa dari seorang Paras, wajah cubi sejak dulu hingga sekarang. Sangat romantis bersama Papa Leo, bahkan selalu berdua kemana saja mereka mau. Walau Leo masih muda dari Paras, namun sangat menyayangi Mama mereka yang memiliki kesabaran sangat berbeda dari dirinya.
"Ma, kami kelamaan diluar negeri, coba tumbuh disini, mungkin akan betah dan bisa meneruskan perusahaan kita. Aku janji akan buat Kak Steiner atau Stevie untuk pulang ke Jakarta, pertandingan kotor cross musim ini mau berakhir. Dia pasti pulang, dan kami akan membiasakan diri untuk aktif di Langhai," Stela memberikan dua jari sebagai janjinya.
Paras menggelengkan kepalanya tidak percaya, membantu Stela untuk bangun dari tempat tidur rumah sakit, "Kita bisa pulang sekarang? Lain kali tanya dulu yah, apa yang mau dimakan dirumah. Makanan kamu masih beku dalam freezer, belum diolah Maid. Nanti Mama suruh buatin udang tipu tipu belado. Biar kamu nggak kepunan, kalau kata Oma Maride."
Stela tertawa mendengar celotehan Paras.
"Kepunan itu kepengen atau udah pengen sekali enggak bisa nahan, Ma?" Stela menggoda Paras.
"Hmm ade kakak khaan. Makanya kamu kalau sama Opung itu, jangan melawan. Mereka sayang banget sama kalian berempat. Kamu aja kesayangan Aunty Berlin, tapi harus terpisah karena ikut Mama Laura," Paras tersenyum.
Stela turun dari ranjang rumah sakit, menerima tangan Paras yang menyambutnya. Dia mengikuti langkah kaki Leo, untuk meninggalkan rumah sakit, menuju kediaman mereka di Jagakarsa.
"Eeeh, Pa. Aku nginep di apartemen saja. Nanti minta sopir anterin mobilku, tarok di basemen, kasih kunci kayak biasa," pinta Stela untuk menghindari segala pertanyaan, tentang William.
Leo mengangguk, "Ingat yah Stel. Jaga kesehatan kamu. Jangan sampai salah makan lagi. Repot banget lhoo, apalagi kuah kacang, jangan sampai deh."
Stela mengangguk patuh.
Paras hanya menggeleng, tanpa menjawab pernyataan suaminya Leonal.
Tidak berapa lama perjalanan mereka, Leo menurunkan Stela didepan loby apartemen mewah daerah Kuningan, tanpa turun terlebih dahulu. Bergegas Stela memasuki lift, untuk menghindari segala mata mata yang Adrian berikan padanya.
Ajudan Adrian, tidak mengetahui sama sekali kepulangan Stela, karena mengira gadis itu kembali ke Jagakarsa.
Saat pintu lift tiba dilantai apartemen Stela terbuka lebar, matanya dikejutkan dengan kehadiran Adrian yang menyambut dengan sangat gembira.
"Hai baby....!" Adrian memeluk tubuh ramping Stela.
Stela tampak gugup, "Ngapain Abang kesini? Sejak kapan, bukannya Abang bilang mau kembali kekantor? Bagaimana jika seseorang mengetahui keberadaan Abang disini. Ini bisa merusak reputasi kita," geramnya meninggalkan Adrian didepan lift.
Stela menggeram sepanjang koridor, tidak menyangka laki laki seperti itu lebih penasaran padanya, "Kenapa dia seperti laki laki murahan? Bahkan membuat dadaku semakin sesak saat berada didekatnya."
Adrian menggelengkan kepalanya, entah angin apa yang membuat dia tidak bisa melupakan Stela.
"Kenapa aku jadi seperti ini dihadapannya? Seperti pria bodoh yang tidak punya prinsip!" Adrian mengikuti langkah Stela.
Stela menekan tombol hijau, memasukkan password, hingga pintu utama terbuka lebar. Dia membiarkan Adrian mengikuti langkahnya, karena malas untuk berdebat.
Adrian mengalihkan pandangannya untuk bersantai disofa, sedikit bertanya-tanya pada Stela.
"Siapa Jenderal bintang empat yang selalu bersama keluargamu, baby?" Adrian menatap lenggak-lenggok wanita ramping dihadapannya.
Stela terdiam, dia enggan berkomentar jika sudah membahas siapa saja yang menjadi orang terdekat keluarganya.
"Maaf Bang, aku rasa itu tidak ada di dalam list perjanjian kita. Lebih baik Abang beliin aku makanan vegetarian, aku lapar!" Stela memberi perintah seolah-olah dialah bosnya.
"Haaah?" Adrian semakin tampak bodoh, bahkan lebih bodoh dari awal mereka bertemu.
"Cinta seeh cinta, perhatian seeh perhatian, tapi mana pernah ada wanita yang berani memberi perintah padaku!" Gerutu Adrian dalam hati penuh dengan rasa geram.
_________
Kita intip visual wajah Bang Adrian Martadinata yuuukz reader...
Kira kira kalau Komandan Adrian Martadinata seperti ini membuat para wanita jatuh cinta enggak yah?
Hmm... kalau othor seeeh, udah jatuh cinta deluan sama Bang komandan,
❤️🔥🔥❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 62 Episodes
Comments