(Tempat Jual Budak)
"Baiklah kalian sudah bebas, pergilah dan jangan sampai tertangkap lagi"
"Te...terima kasih tuan" ucap mereka
Aku pun ingin keluar dari tempat itu namun di cegah oleh salah satu budak.
"Ada apa?"
"T...tuan terima kasih karena telah menolong kami. Tapi..."
Ucapannya berhenti dan ia menundukkan kepala.
"Ada apa? katakan saja"
"Kami yang sekarang walau sudah bebas tidak memiliki apapun. Apakah boleh kami meminta bantuan tuan sekali lagi"
Aku tidak berpikir jika masalah akan selesai begitu saja saat melepaskan mereka. Penampilan seperti itu sama saja menarik orang lain. Dan akhirnya akan sama saja.
"Aku mengerti! Aku akan membawa kalian ke para penjaga"
"T...tidak tuan! Tolong jangan, bahkan para penjaga tidak akan mau"
Begitu rupanya bahkan orang yang seharusnya menjaga rakyatnya malah melakukan penyimpangan. Seperti di dunia ku sebelumnya, keduanya sama saja.
"Kalau begitu apa yang akan kalian lakukan sekarang? Jujur saja aku tidak peduli dengan kalian"
"Bisakah anda membawa kami ke gereja atau ke penampungan? Disana lebih aman bagi kami daripada di tempat lain di dunia ini"
"Bagaimana dengan keluarga kalian?" tanyaku
"Kami sejak kecil telah terpisah dari orang tua, bahkan ada dari kami yang di buang atau di jual oleh keluarga"
5 orang budak, dengan 3 orang manusia dan 2 elf. Dengan aku yang sekarang mungkin sulit untuk menghantar elf ke hutan suci selain menggunakan kapal.
"Kalian para elf tidak ingin kembali ke hutan suci elf?"
Mereka berdua tampak terkejut mendengar perkataan ku,
"Hutan suci elf? Apakah tuan tahu tempatnya?"
"Yah sebenarnya lupa-lupa ingat, kalian sendiri tidak ingat?"
"Hutan suci elf adalah tempat yang sulit untuk di masuki. Hanya orang-orang terpilih saja yang mampu memasukinya. Kami berdua sudah lama tidak kembali dan tidak ingat"
Akan sulit jika aku kembali ke sana lagi karena terhambat oleh waktu. Sebentar lagi amukan monster akan terjadi, selain itu untuk menggunakan perpindahan tempat energi kutukan ku masih belum siap.
"Baiklah kalian ikuti aku" aku mengambil beberapa jubah dari ruang dimensi
Ku berikan pada mereka berlima, dengan ini mereka bisa berpergian tanpa ketahuan. Aku pun berencana untuk menghantar mereka ke gereja.
Namun hari telah senja dan aku sendiri masih belum makan besok baru akan kulakukan.
"Kurasa besok saja kita kesana, hari sudah senja. Aku juga baru sampai disini, kalian semua tidak masalah bukan"
"Tentu tuan"
Setelah keluar dan berjalan beberapa saat kami berhasil menemukan penginapan. Di dalam nya juga menyediakan makanan, dengan begini menghemat waktu.
"Karena kami ada 6 mungkin memesan 2 kamar saja"
"T..tuan, lebih baik kami tidur di luar saja. Tidak perlu memesan kamar untuk kami" ujar elf itu dibalas anggukan semua teman di belakangnya
"Tidak apa, selain itu kalian pasti lapar bukan. Dan ada baiknya kalian membersihkan diri agar lebih baik"
"Bibi, tolong pesan dua kamar ya. Dan apakah disini bisa memesan makanan?"
"Tentu saja bisa nak, untuk biaya penginapan dan makanan semuanya jadi 2 koin perak dan untuk 2 kamar jadi 4 koin perak. Bagaimana?"
"Tentu saja, tapi bisakah kau berikan mereka pakaian?" aku mengeluarkan uangnya
"Tentu saja tuan! Hahaha, 1 koin emas"
Ia pun pergi menunjukan kami jalan ke kamar,
"T...tuan apakah benar-benar tidak masalah? 4 koin perak itu sangat banyak kami tidak bisa menggantinya"
"Tidak masalah, selain itu kita akan membaginya menjadi 3 orang. Kalian semua bersihkan diri dan makan lalu tidur"
Aku dan dua elf berbagi kamar sementara ketiga yang lain itu di kamar sebelah. Karena kedua elf itu tidak ingin berpisah, kakak dan adik.
"Baiklah tuan, ini kamar anda. Makanan dan pakaian akan datang sebentar lagi"
"Terima kasih bibi, kalian berdua silakan duluan aku akan menunggu diluar"
Aku berjalan-jalan keluar beberapa menit menunggu mereka selesai mandi. Diluar aku memandang bintang sambil berpikir apakah tidak ada cara bagiku untuk kembali.
...***...
"Nyonya ini pakaian anda, saya letakkan di atas tempat tidur ya. Dan makanannya berada di atas meja"
"Baik terima kasih" ucap keduanya dari kamar mandi
"Kakak, apakah tidak masalah jika merepotkan tuan itu? Padahal dia sudah menyelamatkan nyawa kita"
"Tidak masalah Rosa, ini adalah kesempatan kita. Selain itu apakah kau tidak aneh? Aku mencium aroma elf dan ibu bumi di dirinya"
"Iya kakak, aku juga merasakan nya. Dia adalah orang baik, bahkan melakukan hal seperti ini"
"Rosa, kakak punya rencana. Bagaimana jika kita menjadi budak tuan itu saja?"
Sang adik merasa setuju dengan sang kakak,
"Aku rasa tidak masalah kak, selama apa pun aku akan melayani orang yang telah menyelamatkan ku"
Setelah keduanya selesai, Loid pun kembali.
"Wah sepertinya makanannya juga sudah datang" aku duduk bersiap untuk makan
"Tok...tok...tok" suara ketukan pintu
Aku pun membukanya, dan terlihat ketiga budak lainnya datang membawa makanannya.
"T...tuan, ini..." ia menyodorkan makanan padaku
"Kenapa kalian tidak makan? Itukan untuk kalian"
"T..tidak bisa tuan, ini terlalu banyak dan terlihat sangat enak"
"Hahh, kalian masuk lah kita akan makan bersama"
Sejak awal aku merasakan hal aneh dari mereka, sikap mereka telah melekat pada budak. Dan saat aku duduk di meja mereka malah duduk di lantai sambil melihatku.
"Apa yang kalian lakukan, ayo duduk kesini dan makan" tegas ku
"T..tidak tuan, seorang budak harus mengutamakan tuannya terlebih dahulu. Kami akan makan disini saja tuan"
"Kalian ini bodoh atau bagaimana? Dengar, aku yang menyelamatkan kalian bukan?!"
Mereka sedikit ketakutan melihat emosiku,
"I..ya"
"Kalau begitu aku berhak memerintah kalian bukan?"
Jawab mereka dengan anggukan kepala, aku tahu dipikiran mereka bahwa budak tidak sama dengan tuannya.
"Kalau begitu aku perintahkan kalian untuk makan di meja bersamaku"
"Eh?"
Pandangan mereka akhirnya ke atas, melihat wajahku.
"Tapi Tuan..."
"Ayo cepat! Nanti keburu dingin, selain itu aku tidak bisa menghabiskan semua ini sendirian"
Mereka mendengarkan aku, tak lama mereka duduk dan makan bersama. Terlihat ekspresi wajah mereka, setelah mandi kecantikan mereka kembali.
"Aturan Pertama Kehidupan Loid, jangan takut apapun. Kedua, makan harus selalu bersama. Kalian juga harus melakukan nya,...karena makan sendirian itu membosankan bukan?"
"Ya tuan"
"T...terima kasih tuan"
"Terima kasih tuan"
Air mata yang mereka bendung akhirnya keluar, aku tidak tahu akan membuat mereka menangis. Namun aku tahu rasanya karena pernah mengalami.
"H...hei kalian semua jangan menangis"
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments