***
"Kita berhasil!"
Serangan terakhir Loid berhasil mengalahkan Raja Iblis Pedang, Gara. Membuat semua warga kembali tenang dan cukup berisik, tentu mereka tidak percaya bisa mengalahkan Raja Iblis.
"Aduhh aku kelewatan" ujarku
"Tuan apa kau tidak apa-apa?" kata seorang perempuan yang aku tolong di hutan Elf
"Ahh aku tidak apa-apa tubuhku hanya lelah saja"
"Syukurlah"
Satu hal yang membuat seseorang dapat mati di medan perang meski pun telah menang. Itu adalah kelengahan, musuh tidak akan bermain bersih jika menyangkut nyawa terutama lawan yang sering membunuh.
Aku sendiri tidak melupakan hal itu karena kupikir warga desa dapat mengatasinya. Namun ia lebih gila dari pada kelihatannya, seorang iblis penyihir itu masih mengaktifkan sihirnya.
"Kalian semua akan menerima akibat nya karena menentang Raja Iblis, walau pun tuanku telah tiada tidak akan aku biarkan sia-sia. Matilah bersama tuanku manusia-manusia rendahan!"
Sebuah sihir raksasa terlihat seperti matahari kecil di atas. Ukurannya sebesar rumah namun firasat ku mengatakan jika kekuatan sangat besar.
"Gawat, energi kutukan ku sudah habis, tubuhku juga sudah kehabisan tenaga. Aku tidak bisa bergerak lagi" ucapku
"Hah? Gawat!" ujar wanita di sampingku
"Apakah kalian bisa menghentikan sihir itu?" tanyaku
"I..itu mustahil" jawab kepala desa
"Itu adalah sihir tingkat menengah mustahil di hentikan. Selain itu mana kami juga sudah terkuras habis di pertarungan"
Mendengar hal itu membuat aku kehilangan ketenangan. Aku tidak bisa menggunakan teknik roh lagi, dan mustahil menghentikan sihir sebesar itu dengan senjata kutukan.
"Matilah kalian, Super Fire Ball"
Serangan itu mengarah padaku, di dekatmu juga terdapat beberapa orang. Walau begitu aku tidak bisa membiarkan diriku mati sekali lagi.
"Ahhh sialannn!" teriakku
"Terbakarlah, Dragon Fire!"
Sebuah sihir dari arah lain menghancurkan sihir iblis itu. Bentuk api seperti naga yang besar membuat aku takjub.
"Apa?!" Luva terkejut ketika serangannya di patahkan
"Si...siapa yang melakukannya?" tanya Luva mencari orangnya
"Kau adalah jenderal Raja Iblis Pedang bukan?" tanya seseorang yang datang dengan menunggangi kuda
"Ka...kau, pahlawan?!, Tu... tunggu bagaimana dengan pasukanku" Lava mulai ketakutan
"Sudah aku musnahkan semuanya, selanjutnya adalah kau dan Raja Iblis. Cepat katakan dimana dia sekarang?" tanya Pahlawan bernama Helena itu
"S...sialan, akan aku balas kalian semua manusia!"
Iblis itu berusaha melarikan diri dengan terbang, namun dengan cepat pahlawan menggunakan sihir untuk membakarnya.
"Terbakarlah, Dragon Fire!"
Serangan itu cukup kuat untuk menjatuhkan iblis itu. Namun ia masih bisa hidup setelah kena serangan itu.
"Ka...kau pahlawan sialan, dan juga bocah itu..."
"Hei katakan dimana Raja Iblis?"
"Tu...tuanku" Luva menunjuk mayat sang tuan sebelum menyusulnya
"Hah?!" Pahlawan Helena sendiri terkejut melihat pemandangan di depannya
"Tuan pahlawan! Jangan mendekat!" para ksatria menjaga pahlawan karena tahu jika di depan mereka adalah mayat Raja Iblis Pedang
"I...itukan, Raja Iblis Pedang. Dia sudah mati?!" tanya Helena
"Itu benar benar Raja Iblis, siapa yang mengalahkan nya?"
Pasukan ksatria yang di pimpin pahlawan hanya tersisa 10 orang. Aku merasa semua sudah selesai sekarang, namun masih tidak kusangka dia adalah seorang pahlawan.
"Hey kalian berdua! Aku mau...tidur sebentar...jangan kalian ganggu ya" aku kehabisan tenaga dan tertidur cukup lama sampai hari berganti pagi
Disaat aku tidak sadarkan diri, pahlawan meminta semua penjelasan dari warga. Aku lupa untuk tidak perlu mengatakan jika aku yang mengalahkan Raja Iblis.
"Siapa yang mengalahkan Raja Iblis?"
"I...itu, tuan yang disana!" tunjuk kepala desa
"Dia?" Helena mendekati dan melihat Loid dari dekat
***
Mentari terbit membangunkan aku dengan cahaya nya. Membuat aku kembali bugar setelah tidur, namun energi kutukan ku tidak bertambah sedikitpun. Tubuhku pun terasa sakit karena pertarungan kemarin, tapi dengan begitu aku sudah melakukan tugas dari Dewi.
"Selanjutnya aku akan hidup damai di sebuah desa atau kota"
Sebelum itu ternyata aku dipindahkan ke dalam tenda pengungsian. Setelah merasa lebih baik aku keluar untuk menghirup udara segar.
"Haahhh" sebuah oksigen di pagi hari
Saat keluar tenda aku tahu semua orang menatap ku dengan tajam. Aku tahu karena pertarungan itu bukanlah pertarungan biasa.
"Tu...tuan, anda sudah sadar?" tanya istri kepala desa itu
"Yah begitulah"
"Kalau begitu lebih baik anda sarapan terlebih dahulu untuk mengisi energi. Anda tertidur pulas sejak kemarin malam jadi saya cukup khawatir"
"Tenang aku baik-baik saja tidak perlu khawatir, tapi tawaran sarapan tadi masih berlaku kan? Aku sedikit lapar sekarang"
"Tentu tuan"
***
(Tempat pembagian makanan pengungsian)
Kentang rebus, sup dari roti dan susu, semua di berikan padaku. Entah kenapa tapi setelah aku melihat orang lain hanya mendapat ubi rebus, sementara sup dan kentang rebus masih tersisa banyak.
Sisa kstaria pun masih ada dan mendapat jatah makan. Tapi yang mereka dapatkan sama sepertiku, sarapan yang cukup mewah.
"Begitu ya...."
Kulihat persediaan makanan untuk orang biasa mulai menipis, hanya ubi rebus yang di makan tidak dapat menahan lapar. Seorang anak pun menangis karena tidak kebagian jatah makanan.
Sang ibu lalu memberikan bagian ubinya untuk dimakan anak. Tapi itu tidak cukup karena anak-anak lain merasakan hal sama.
Melihat mejaku masih penuh dengan makanan, tak ingin aku sengaja melihat mereka mati kelaparan. Tapi, apakah ksatria itu yang mendapat banyak makanan penuh di meja tidak memperhatikan sekitar dan menghabiskan semua sendiri.
"Huhuhu" beberapa anak mulai menangis lagi
"Hei adik kecil ayo kemari!, disini masih banyak makanan"
Bu kepala desa melihat sikapku berusaha menegur, "Tapi tuan, makanan anda?"
"Tidak apa, aku sendiri tidak niat untuk membiarkan nyawa yang aku selamat kan menjadi sia sia"
Aku memanggil anak anak lain dan memberikan setengah ubi rebus ku. Dari 5 buah ku berikan pada 10 anak, ku biarkan mereka duduk di mejaku.
Sup di mangkok itu ku letakan di tengah, dan aku meminta satu mangkuk lagi kepada penjaga.
"Ini, untuk kalian. Makanlah, jangan saling berebut"
Tanpa aba aba mereka memakan semuanya, kentang itu mereka celupkan ke sup dan dimakan. Sup sisa itu mereka habiskan dengan rata, terlihat raut wajah mereka mulai berseri.
"Terima kasih kak" ucap anak anak itu
"Ya sama sama, kalian bermainlah sana"
"Anda sangat baik sekali ya tuan" sebuah ucapan datang dari belakang
"Ya begitulah, namun sebaliknya para ksatria tidak tahu bagaimana cara melindungi rakyatnya" aku tahu yang datang adalah pahlawan dan pemimpin ksatria
"Kami membutuhkan energi untuk kembali ke ibukota. Setelah disana kami akan melaporkan kejadian ini pada raja dan masalah desa ini akan selesai. Karena itu kami membutuhkan makanan
"Kalian ini ternyata bodoh, apakah kalian semua akan pulang ke ibukota? Lalu meninggalkan desa ini?"
"Apa katam..."
"Tentu saja"
"Kenapa? Untuk melaporkan ke raja bukan? Bukankah satu orang cukup untuk memberikan laporan dan sisanya tetap disini untuk membantu warga"
"Kauuu...." jendral ksatria itu sepertinya mudah untuk dipancing
"Tuan, bisakah kita berbicara di dalam tenda?" ajak Pahlawan
"Hah, baiklah"
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments