Keesokkan harinya, kebetulan ini adalah hari libur, hari Minggu.
Emelin masih terlihat nyaman dan tidur di kamarnya, ketika dia dikagetkan oleh sebuah pelukan tiba-tiba.
Ketika Emelin membuka matanya, itu adalah wajah kecil yang familiar, yang masuk melalui selimutnya, lalu masuk dalam pelukannya kemudian memeluknya dengan erat.
"Mama sudah bangun?"
"Kamu bangun cukup pagi sekali bukan?"
"Emm, Alex ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan, Mama."
"Tentu, tentu, Mama memiki begitu banyak waktu untukmu, jadi kamu tidak perlu sampai bangun sepagi ini."
"Tapi... Tapi.... Biasanya ketika Alex bangun lagi, setelah menghabiskan waktu dengan Mama, dulu terkadang Mama akan menghilang dan pergi keesokan harinya. Alex selalu berpikir, apakah Mama merasa Alex cukup mengganggu, Mama? Atau Alex tidak bangun dengan cukup pagi? Atau karena Alex nakal?"
Disini, Emelin mengigat masa lalu.
Dan benar saja, dirinya memang seperti itu pada Alex.
Dirinya hanya akan sesekali pulang, menghabiskan sedikit waktu dengan Alex, lalu kemudian pergi lagi.
Alex sebenarnya tidak terlalu meminta banyak hal padanya, dia anak yang masuk akal dan pintar, tahu kalau Ibunya sibuk.
Namun walaupun anak ini sedikit mengerti dan cukup pintar, pasti dia memiliki pikirannya sendiri dan kecemasannya sendiri.
Misalnya, jika dirinya lebih menjadi anak yang patuh apakah Mamanya akan lebih banyak menghabiskan waktu dengannya?
Jadi Alex menjadi patuh selama ini.
Namun, Emelin masih memperlakukan anak ini dengan dingin.
Jadi, mungkin Alex akan berpikir jika dirinya rajin dan bangun lebih pagi, apakah Mamanya akan lebih menghabiskan banyak waktu dengannya?
Memikirkan hal-hal yang dirinya lakukan pada Alex membuat Emelin merasa sangat sedih untuk Alex.
Alex adalah anak yang baik, namun dirinya saja yang tidak cukup peka.
"Alex adalah anak yang baik,"
"Benarkan?"
"Ya, Putra Mama yang paling Mama sayangi,"
"Alex juga sangat sayang dengan, Mama,"
"Baik-baik, ini masih terlalu pagi kenapa kita tidak tidur lagi?"
"Alex bisa tidur disini?"
"Tentu saja bisa, sayang,"
"Alex selalu ingin tidur dengan, Mama."
"Ya, Alex bisa tentu saja. Biasanya, apakah Alex tidur sendiri?"
"Kadang kalau, Papa di Rumah, Alex akan tidur dengan Papa, Alex suka menyelinap seperti ini juga,"
Sekarang Emelin mengerti jadi alasan Kamar Antony terkadang terbuka dan tidak dikunci, untuk membiarkan anak ini kesana jika anak ini tiba-tiba kesepian dan menyelinap di tengah malam.
"Malam ini kamu bisa tidur bersama, Mama."
"Eh? Benarkah?"
"Benar, sekarang Mama memiliki begitu banyak waktu untuk Alex,"
Emelin tidak mengatakan kebohongan, baru kemarin dirinya juga mendapatkan surat pemutusan kontrak dengan agensinya, dan rasanya ini benar' seperti akhir dari Karirnya.
Memikirkan ini membuat Emelin masih merasa frustasi, namun dia memutuskan untuk bernafas sejenak, terkadang penting untuk Istirahat, untuk bisa kembali memikirkan rencana yang akan datang dengan tenang.
Dan sekarang, dirinya memiliki Alex pula, setidaknya Putra kecilnya ini tidak akan meninggalkannya.
####
Hari ini terasa cerah, jam sudah menunjukkan hampir pukul tujuh lebih.
Di Meja makan, terlihat Antony yang baru saja selesai berolahraga, dan hendak makan pagi, bertanya-tanya.
Ini tumben, Putranya Alex belum bangun?
Biasanya dia akan pagi-pagi sekali bangun, kemudian menyelinap kekamarnya, lalu akan ikut bersamanya Olahraga di pagi hari, lari pagi di luar.
Namun, bahkan ketika dirinya sudah selesai dari luar, anak itu belum juga terlihat.
Dan lagi, sekarang penghuni rumah ini tidak hanya mereka berdua, ada Ibu dari anak itu.
Sejujurnya, dirinya tidak tahu juga harus bersikap seperti apa para orang ini, Emelin Smith, Ibu dari Putranya...
"Pelayan, dimana Alex dan Emelin?"
Pelayan yang masih menyiapkan sarapan di meja itupun menjawab,
"Tuan Muda masih bersama dengan Nyonya di kamarnya,"
"Mereka bersama?"
"Sepertinya Tuan Muda menyelinap masuk ke Kamar Nyonya tadi saat masih pagi-pagi sekali,"
Mendengar penjelasan itu, Antony lalu berdiri, berniat pergi untuk melihat mereka berdua, berniat untuk membangunkan Alex agar segera sarapan.
Dia berjalan menaiki tangga, melewati kamarnya, lalu memasuki sebuah ruangan yang berada tepat di samping kamarnya.
Desain dan Interior kamar itu benar-benar berbeda dengan ruangan-ruangan lainnya disana.
Desainnya terlihat cukup mewah, disana, ada sebuah lemari kaca berisi aneka macam Tas dan Sepatu Koleksi di pemilik ruangan, walaupun tidak akan begitu banyak.
Disampingnya juga akan terlihat sebuah lemari pakaian yang cukup besar, berisi semua baju-baju mewah pemilik ruangan.
Cat berwarna merah muda pucat dan wallpaper, juga berbagai dekorasi membuat ruangan itu terlihat rapi, dan juga terlihat mewah.
Ini ruangan yang cukup familiar namun tidak terlalu familiar untuk Antony.
Dari semua ruangan dirumah ini, ini adalah ruangan yang jarang untuk dirinya masuki, karena ini bukan wilayahnya, ini wilayah milik si pemilik ruangan, Istrinya Emelin Smith.
Kapan terakhir kali dirinya masuk ruangan ini?
Apakah itu tiga tahun lalu?
Mungkin saat Emelin mengundangnya dalam suatu malam, meminta beberapa 'layanan malam'.
Antony tidak mau terlalu banyak berpikir soal masalalu, jadi dia langsung melakukan tujuannya ketika datang ke ruangan ini.
Si pemilik ruangan saat ini, masih meringkuk dibalik selimut, memeluk sesosok mahluk kecil dengan erat.
Antony menatap wajah tidur itu.
Wajah tidur yang terlihat begitu damai, namun ada sebuah luka besar disana sekarang.
Luka ini...
Siapa yang berani...
Ketika Antony sekali lagi Rengel dalam pikirannya, putranya, Alex terbangun.
"Papa?"
"Ini sudah saatnya sarapan,"
"Benarkan? Ah aku harus membangunkan, Mama."
Anak itu lalu menguncangkan tubuh Emelin, sampai dia terbangun.
"Ukhhh, lima menit lagi."
"Mama, ini saatnya sarapan lihat Papa bahkan sudah disini untuk mengajak kita sarapan,"
"Papa?"
Emelin yang awalnya setengah sadar itu lalu menatap kearah samping, disana ternyata ada Antony yang berdiri menatap kearah mereka berdua, wajah dingin itu langsung membuat Emelin sadar.
"Ah? Antony?"
"Sudah saatnya sarapan," kata Pria itu dengan nada datar.
Disana dia lalu mengabil Alex dari pelukan Emelin, kemudian menggendongnya, lalu memberikan kecupan kecil di dahi anak itu.
"Baiklah-baiklah, aku akan segera kesana menyusul nanti,"
"Emm, Papa tidak memberikan ciuman selamat pagi juga pada Mama?"
Pernyataan polos dari si kecil itu membuat dua orang dewasa disana terdiam.
Mereka lalu saling menatap, Emelin hanya tersenyum canggung, tidak tahu harus berkata apa atau merespon bagaimana.
Namun sebelum Emelin bisa bereaksi, Antony sudah mendekatkan wajahnya.
Melihat wajah ini dari dekat, tiba-tiba membuat jantung Emelin melonjak kaget.
Cup
Kecupan singkat di dahi Emelin tidak bisa membuat Emelin berkata-kata.
"Selamat pagi, sayang," kata Antony dengan nada yang masih sama datarnya seperti biasanya.
Melihat Papanya sudah mencium Mamanya, membuat di kecil puas.
Mereka berdua lalu keluar dari ruangan itu bahkan sebelum Emelin bereaksi.
Akhhhhhhhh
Serangan mendadak bisa membuat penyakit jantung!!
Apa-apa itu, Antony melakukan hal yang terlihat romantis itu dengan wajah datar tanpa ekpersi itu....
####
Hari itu tidak ada hal yang luar biasa terjadi.
Sarapan berjalan dengan normal seperti biasanya, dengan tampahan Alex minta disuapi oleh Mamanya disana.
Setelah sarapan, Antony ijin pergi keluar karena ada beberapa urusan pekerjaan yang harus diurus.
"Ah? Papa sudah mau pergi?" Tanya Alex kecewa.
"Ya, kan sudah ada Mamamu. Papa tidak ingin mengagu waktu berdua kalian."
Dan begitulah, saat Antony pergi dari sana.
Dan masih seperti biasanya, Emelin menghabiskan waktunya bermain-main dengan Alex.
Menjelang siang, Emelin merasa agak merasa bosan, jadi mulai melihat-lihat internet, dan kemudian membuat pencerahan untuk belajar memasak.
Hari ini di bantu oleh Putranya, kedua orang itu belajar memasak dengan melihat beberapa video streaming di Internet.
Kebetulan ada begitu banyak bahan disana.
Dari resep yang gagal hingga ada beberapa yang bisa layak untuk dimakan.
Namun dapur sudah seperti kapal pecah.
Setelah makan siang dengan beberapa hidangan yang bisa dimakan, keduanya lalu melanjutkan untuk mencoba membuat beberapa camilan seperti Kue.
Tidak terasa hari sudah semakin sore ketika mereka selesai.
Dan saat itulah Antony pulang, dia diam-diam melihat Ibu dan anak yang bersemangat memasak Kue di Dapur itu.
Ini adalah pemandangan yang cukup baru untuknya, melihat Alex tersenyum sangat bahagia seperti itu, itu memang benar jika Alex pasti sangat merindukan memiliki waktu bersama Mamanya.
Alex memang selalu membutuhkan kasih sayang dari Ibunya....
Namun selama ini....
"Ah? Papa sudah pulang? Coba lihat ini, ini adalah Kue yang aku dan Mama buat," kata Alex dengan penuh semangat menunjukan sebuah kue kering yang terlihat lucu dengan aneka bentuk.
"Ah? Benarkan? Kamu dan Mama yang membuat?"
"Iya!! Benarkan Ma?"
Disana, Antony melihat wajah dua orang itu sedikit penuh dengan tepung, itu adalah pemandangan yang lucu, dia sedikit tersenyum lalu mulai mencoba kue itu.
Rasanya......
Terlalu manis...
Dirinya memang tidak suka hal-hal yang begitu manis, namun melihat dua pasang mata yang menatap berkaca-kaca penuh harapan padanya itu, Antony lalu berkomentar,
"Ini sangat enak,"
Dua orang itu lalu terlihat sangat bahagia mendengar pujian kecil itu.
Melihat tingkah dua orang itu, mereka berdua memang benar-benar terlihat seperti seorang Ibu dan anak, terlihat mirip dari beberapa aspek.
Jadi dari sini, sifat suka dipuji yang dimiliki Alex?
Dari Mamanya.
"Kalian sudah membuatnya sangat enak, sekarang bagaimana kalau aku memasakan sesuatu untuk kalian sebagai imbalan?"
"Kamu bisa memasak?" Tanya Emelin heran.
Lalu dijawab dengan penuh semangat oleh Alex.
"Tentu saja Papa bisa. Masakan Buatan Papa sangat enak... Mama belum pernah mencobanya?"
Emelin tidak tahu harus menjawab apa, bagaimana dia bisa mencobanya?
Dirinya bahkan tidak pernah tahu, kalau Suaminya ini bisa memasak.
"Sudah-sudah, sekarang kalian berdua mandilah dulu, sampai aku selesai memasak," kata Antony tiba-tiba.
Kedua orang itu langsung melesat pergi dari sana, dengan patuh.
####
Suasana Makan malam hari itu terlihat lebih hangat dari biasanya.
Antony memasak Udang goreng kesukaan Alex.
Melihat Udang dihadapannya membuat Alex begitu senang, disana Emelin yang kebetulan juga suka udang, tidak sabar untuk mencobanya.
Sedikit penasaran dengan rasa masakan Antony.
Ah...
Tapi udang-udang ini masih memiliki kulitnya, dirinya tidak suka dengan kulit udang.
Namun disini, Antony terlihat sangat peka, dia merupakan kulit udang, untuk Alex dan Emelin.
"Ini enak," kata Emelin dengan jujur, saat mencoba udang itu, lalu dia menyuapi satu ke Alex.
"Benar, masakan Papa masih sangat enak seperti biasanya,"
Walaupun tanpa banyak percakapan, namun suasana malam malam itu benar-benar hangat dan membuat Alex sangat senang.
Setelah selesai makan malam, Alex segera dikirim kekamarnya seperti biasanya, melihat Alex pergi, untuk menghindari suasana canggung dengan Antony sendirian, Emelin langsung pergi menyusul Alex.
Namun siapa yang tahu, kalau suasana menjadi lebih canggung untuk Emelin, saat malam ini dia harus mengetuk pintu kamar Antony.
Dan, ya kamar ini benar-benar tidak terkunci.
Melihat Emelin masuk kekamarnya, Antony mulai hendak bertanya,
"Apakah...."
Sebelum Antony selesai bertanya, Emelin sudah menyangkal.
"Tidak, tidak hanya Alex yang memintaku kesini,"
"Untuk?"
Namun sebelum Emelin selesai berbicara, Alex sudah dengan semangat memasuki kamar itu dengan sebuah guling kecil dipeluknya, dan sebuah piama tidur bergambar beruang.
"Papa, mari kita bertiga tidur bersama,"
Itu adalah permintaan kecil dari seorang anak yang ingin menghabiskan malam dengan kedua orang tuanya.
Dan Emelin maupun Antony jelas tidak bisa menolak.
Malam itu, mereka bertiga tidur disatu ranjang.
Alex berada ditengah-tengah mereka berdua.
Emelin jelas merasa canggung disituasi ini, harus tidur bersama dengan Antony.
Rasanya aneh....
Karena biasanya mereka berdua tidak pernah tidur bersama seperti itu.
Ya, karena kamar mereka selalu terpisah dan tidur masing-masing.
Dulu bahkan setelah melakukannya, Emelin selalu langsung kembali kekamarnya setelahnya, dirinya tidak akan tidur di tempat tidur Antony sampai pagi.
Jadi, ini adalah pengalaman baru juga untuk Emelin.
"Alex sangat senang hari ini, bisa tidur bersama Papa dan Mama, Alex harap ini bukan mimpi,"
"Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Karena ini terlalu indah... Alex sangat menyayangi Papa dan Mama, sangat menyukai Papa dan Mama bersama seperti ini, Alex bertanya-tanya kenapa selama ini kalian tidak tidur dikamar yang sama?"
"Alex masih kecil, itu masalah orang dewasa," jawab Antony.
"Ah, Papa main rahasia-rahasiaan segala."
"Tidur-tidur, kamu besok sekolah bukan?"
"Papa tidak memberikan ciuman selamat malam?"
Antony lalu mencium kening Alex seperti tadi pagi, lalu hendak tidur juga namun Alex sekali lagi memanggil.
"Papa, apakah Papa lupa? Papa belum memberikan ciuman selamat malam untuk Mama,"
Kali ini Emelin sudah menyiapkan hatinya untuk ini.
Emelin jujur merasa sedikit malu, terutama dengan wajahnya yang seperti ini....
Wajahnya sangat buruk, tidakkah Antony akan merasakan tidak nyaman mencium wajah ini?
Bahkan walaupun itu hanya di dahi.
Ketika wajah Antony semakin mendekat, Emelin merasa berdebar-debar, yah jarak ini memang terlalu dekat hingga dirinya bisa mencium aroma maskulin lembut dari pria itu.
Ya!!
Apa yang begitu membuat cemas?
Ini hanya formalitas dan kecupan ringan di dahi!
Tenangkan dirimu, Emelin...
Tenang...
Tenang....
Ketika Emelin mempersiapkan hatinya, tiba-tiba dirinya menjadi begitu kaget.
Sampai-sampai wajahnya menjadi merah karena terlalu malu.
Itu bukan ciuman di dahi!!
Namun di bibir!!
Itu hanya kecupan ringan.
Namun....
Tetap saja....
"Selamat tidur," kata orang yang menciumnya masih dengan wajah yang datar seperti pagi tadi.
Akhhhhh......
Antony benar-benar menyebalkan!!
Namun malam itu, mereka bertiga benar-benar terlihat seperti Keluarga Kecil yang bahagia, walaupun sebenarnya tidak seperti itu.
#####
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 270 Episodes
Comments
🦋⃟ℛ★Quen Elsa★ᴬ∙ᴴ࿐
Gue ikut deg degkan wkwk...
2022-07-19
0
Asta Azhar
bocil bocil
2022-05-24
0
Yuli Yoga
bocil lucuny
2022-04-28
1