“Baguslah, satunya iklan perusahaan produsen ban bukan.” Aku langsung menoleh ke arah dia.
“Kok Koko tahu?” Dia tak menjawab sebentar sehingga aku menebak sendiri. “Perusahaan Koko juga ada saham disana?”
“Engga.”
“Terus?”
“Papamu yang ada disana.”
“Ohh.” Sekarang aku tahu alasannya. Ternyata Paman Lam. Dia mengamatiku sejenak yang tak tahu menanggapi apa tentang masalah ini.
“Kamu benci sama Papamu sendiri.”
“Benci, engga kurasa Ko. Lebih ke arah gak perduli saja. Toh selama ini dia memang gak disini. Jadi buat apa diharapkan. Ya datang juga setahun paling sekali dua kali kadang setahun gak sekali, ya sudahlah, anggap aja Paman jauh. Bukannya sama saja.”
“Papamu itu sebenarnya tak pernah melepaskan kalian.” Ternyata dia baik padaku untuk bicara tentang Papa denganku, aku seharusnya tahu, dia menggangap Papa ‘Big Brothernya’.
“Kenapa Pak Derrick membelanya, apa Bapak tahu masalah sebenarnya.”
“Hmm... Papamu tak bisa mengakui kalian karena keluarganya tak setuju, tapi bukan berarti Papamu lepas tangan terhadap kalian.”
“Lalu kenapa dia tak melepaskan Mama.”
“Itu keputusan Mamamu, bukan Papamu. Dan akhirnya jadi keputusan bersama.” Aku diam saja, kenapa Pak Derrick jadi ikut campur masalah ini. “Sorry, Koko cuma kasihan sama Papamu, dia sayang sama kamu, pengen kamu panggil Papa, tapi sejak kamu tahu cerita sebenarnya, kamu sepertinya menimpakan semua kebencian padanya. Bukan koko sengaja ikut campur...”
“Bukankah itu keputusan yang bodoh.” Dia menghela napas kemudian tertawa kecil.
“Kamu coba pikir, kamu memutuskan hidup sendiri juga bodoh, aku memutuskan hidup lajang juga dianggap bodoh, orang juga mengatakan itu bodoh, tapi yang menjalaninya tidak merasa itu bodoh. Yang penting adalah dari sudut mana kau memandang.”
Sebuah kata yang tepat sasaran, aku terdiam dan menyadari bahwa selama ini aku memandang dari perfektifku, bukan perfektif Mama. Mama tidak pernah terlihat sedih, aku yang menganggap dia sedih. Lama kami tidak bicara, aku tak ingin memikirkan ini, tapi harus mengakui apa yang dikatakan Pak Derrick benar.
“Papamu itu cuma punya putri satu-satunya kamu, dia kadang cerita kalo ketemu Koko, kamu benci dia dari sejak kamu tahu cerita sebenarnya. Keluarganya sekarang tahu dia punya anak di Jakarta. Mereka baik-baik saja sebenarnya, keluarga tua yang menentang adanya kalian sebenarnya sudah meninggal, putra-putranya baik, dia tahu cerita kalian dan sebenarnya ingin bertemu kalian, tapi kamu yang tidak mau...”
Aku diam saja. Tak tahu apa yang harus jawab untuk semua perkataan Pak Derrick.
“Sorry Tata,... Mungkin ini sangat personal, tapi saya lebih tua dari kamu. Anggap saya Kokomu, bisa ngomong begini sama kamu. Dan saya menyampaikan apa yang saya rasa benar. Jangan kamu menyesal dan menyimpan kebencian yang tidak seharusnya. Yang namanya orang tua, ya sudah tua, entah waktu mereka sampai kapan. Sorry Koko ngomong sampai jauh begini...” Dia menepuk bahuku, membuat aku melihat padanya yang tersenyum.
“Kenapa Koko memutuskan melajang?” Diantara kemacetan Jakarta sekarang pembicaraan ini berjalan dengan serius. Dia berani melanggar batas personalku, sekarang aku melanggar batas personalnya.
“Hmm, panjang ceritanya.”
“Aku dengerin, jika Koko mau cerita. Kalo engga ya ga pa pa.” Dia diam, nampaknya perlu waktu , sementara mobil kami maju dengan pelan diantara kemacetan.
“Dulu keluarga istriku juga tidak setuju hubunganku dengan istriku. Aku anak pungut, keluarga istriku anak orang berada. Walaupun akhirnya mereka menyerah karena istriku berkeras, mereka melakukan banyak cara dikemudian hari untuk memisahkan kami, even saat itu kami saat itu sudah punya anak mereka berhasil. Aku kemudian dititik terendahku saat itu, keluar ke jalan, diusir dari rumah mertua, hampir mati berkelahi di dalam geng. Aku ingat hidupku saat itu di umur awal 30 mulai dari lagi dari titik nol, minus mungkin.” Dia tertawa getir mengingat masa-masa yang nampaknya sangat berat.
“Lalu aku bertemu Ayahmu, yang menasehatiku, mengenalkanku dengan bossku sekarang, naik setingkat demi setingkat sehingga menjadi orang kepercayaan, tapi tetap aku tak bisa menjangkau istriku dan keluarganya tentu saja, aku tetap hanya orang yang bekerja untuk orang lain seberapa keraspun aku berusaha saat itu, jikapun bisa prosesnya tidak secepat itu. Singkat kata kurasa bertahun-tahun kemudian aku hanya terlalu ... sibuk, tak perduli, berniat membuktikan diri terlalu keras untuk bisa membuat Putriku bangga. Tapi istri dan putriku bisa dibilang akhirnya punya hubungan baik denganku akhirnya, jika liburan putriku sering kesini, aku mengajaknya ke berbagai tempat indah di sini, kami pasti jalan-jalan, setahun minimal 2x, tiap tahun itu moment liburanku... Kurasa entahlah, ada bagian yang sudah terbiasa dengan kehidupan yang sekarang. Asal putriku bisa bersama denganku...”
Dia tersenyum bercerita bagian itu.
“Sepertinya putrimu sangat menyayangimu.”
“Iya. Dia putri yang baik...”
“Dan kau Ayah yang baik.” Dia melihatku.
“Ayahmu juga baik. Tapi kau tak pernah memberinya kesempatan.”
Iya, mungkin aku memang tak pernah memberinya kesempatan. Aku tak menjawabnya, cuma diam diantara mobil yang melaju pelan menembus kemacetan itu. Banyak hal sebelum aku tahu dia Ayahku, aku suka padanya. Paman Lam yang kukenal suka ngobrol, suka memberi hadiah saat dia datang. Kupikir dia memang saudara Papa yang sangat baik hati, tapi ternyata...
“Kalo tukang obat itu ganggu kamu lagi kasih tahu Koko. Orang seperti itu harus dihajar biar ada kapoknya. Ini serius, saya kalo ngancem orang gak pernah setengah-setengah, kujadiin samsak dia. Gak usah buat keributan di kantor, dia dicegat di jalan juga bisa.” Aku ketawa saat dia menganti topik pembicaraan.
“Ewww, takut aku ada brother Triad di sini.” Dia ketawa
“Koko ngomong serius, sekali kamu biarin dia akan tambah berani. Lain kali dia bisa-bisa nyekap kamu, berani naro obat itu udah gak bener. Itu kamu harus udah extra hati-hati.”
“Iya Brother, siap. Sihlakan haja*r.” Dia melihatku cengegesan.
“Hajar sendiri juga bisa, mau? Diajarin berantem...” Dasar triad beneran. Malah diajak latihan beran*tem. Aku meringis membayangkan aku lebam-lebam dan gak bisa konsen kerja keesokan harinya karena badanku sakit.
“Ehmm... kayanya itu terlalu berlebihan deh, aku bawa semprot*an lada di tas, gak sanggup kalo latihan berantem. Banyak kerjaan sekarang, butuh konsentrasi. Nanti dulu deh...”
Akhirnya kami makan malam, aku jadi lebih tahu banyak soal latar belakang ‘Koko alias aki ganteng ini’, dia cukup terbuka, jadi rasanya cukup nyaman bercerita apapun padanya, mungkin di satu titik aku percaya dia bersedia mengangapku sebagai adik karena balas budinya ke Paman Lam. Kokoku ini adalah anggota Triad, kepala gen*g bisa dibilang, CEO sebuah unicorn.
Koko ketemu gede yang satu ini emang keren.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 326 Episodes
Comments
💜Ilalang Senja💜
Koko Duren...semakin di depan
2025-02-09
0
Dede Dahlia
dapet koko ketemu gede asik ya ta 🤔
2023-01-03
0
Baihaqi Sabani
smg mrka brsama y thor😘😘😘😘
2022-08-12
1