Aku jadi merenungi pertemuanku dengan Tuan Lam, mengira-ngira apa yang dia mau dengan mencoba bicara denganku. Mungkin hanya menghilangkan rasa bersalahnya tidak bisa mengakuiku sebagai putrinya mungkin. Atau hanya ingin bertanya kabar, karena dia juga bertemu Mama,... menyebalkan kenapa aku harus memikirkannya.
Aku tahu dia Ayahku sejak umur 15 tahun, tadinya mama mengatakan bahwa Papa sudah meninggal. Mama mungkin merasa aku cukup dewasa untuk mengetahui cerita sebenarnya, untuk menerima bahwa hidup tidaklah sempurna. Tak kusangka orang yang Mama bilang sebagai Paman dari pihak Ayahku itu sebenarnya adalah Ayahku. Orang yang sering membawa hadiah untukku jika bertemu.
Apa aku menerimanya? Tidak, aku malah membencinya awalnya, membencinya karena menyebabkan Mama menghabiskan hidupnya sendiri, membencinya karena tidak mau mengakuiku kepada dunia. Tapi belakangan setelah banyak tahun kulalui, perasaanku menjadi tawar, entahlah.. mungkin aku menganggap itu suratan takdir, atau aku yang kemudian tak perduli lagi.
Yang jelas sejak usiaku 15 tahun, aku jadi tak percaya cinta, dan tak ingin percaya. Aku menganggapnya penyakit yang harus dihindari, jika tidak akan berakibat aku mengalami nasib seperti Mamaku. Menjadi bodoh dan bersedia hidup sendiri demi cinta...
Aku sampai di tempat aku membeli roti dan kue yang biasa lagi, di mall biasa yang sering kukunjungi.
“Terima kasih kuenya.” Seseorang menyapaku, aku melihat di sampingku. Ternyata si aki ganteng.
“Pak Derrick, terima kasih kembali.” Aku tersenyum padanya. Apa dia tahu apa hubunganku dengan Tuan Lam, entahlah kurasa tidak, tidak mungkin pria tua itu mau mengakuiku sebagai anaknya.
“Beli roti?” Dia bertanya dengan simpatik.
“Iya, Bapak juga rupanya.” Aku melihat nampan rotinya yang sudah terisi.
“Saya tidak tahu Bu Anita kenal dekat dengan Tuan Arnold Lam.”
“Tidak dekat, hanya kenal saja.” Dia menatapku, aku mengucapkan itu dengan cepat, ada rasa kesal didalamnya. Tapi perkataanku tak masuk akal, jika hanya kenal saja tak mungkin taipan itu mengajakku makan siang.
“Ohh.” Dia berhenti. “Kau tahu tampaknya dia cukup berharap tadi kau menerima ajakan makan siangnya. Setidaknya bicara dengannya. Dia bertanya sedikit tentangmu, tapi aku tak bisa menjawab banyak karena kau bukan karyawan malahan.” Aku tak menjawab, apa yang harus kujawab. Serba salah.
Dia melihatku dan kelihatannya menakar kenapa taipan itu tertarik padaku.
“Biarkan saja.” Aku ingin menyudahi pembicaraan ini sebenarnya. Kupilih-pilih roti yang akan kuambil.
“Bahkan nampaknya dia punya panggilan khusus buatmu.” Gue ngeliat dia yang senyum-senyum. Tunggu dulu, apa aki-aki ini nganggep gue ama Arnold Lam itu punya hubungan terlarang. Busyet deh.
“Saya gak punya hubungan khusus. Jangan salah sangka Pak, itu panggilan ...panggilan...” Aku berenti tidak bisa bicara lagi, tidak mungkin aku mengatakan apa hubunganku. Dia memperhatikan aku yang berhenti bicara tiba-tiba. “Sudahlah, itu complicated Pak.”
“Sangat complicated nampaknya...” Terserah dia saja mau menebak apa. Toh tidak berpengaruh apapun, lebih kacau jika dia tahu ada apa sebenarnya.
“Iya Pak.” Ku-iyakan saja.
“Ini malam Minggu, sendiri saja?” Dia masih penasaran rupanya.
“Iya Pak, jomblo bahagia.” Kujawab saja seenaknya. Di pikirannya dia pasti gue cewe gak bener yang punya hubungan ke aki-aki. Apa dia termasuk yang suka cari kesempatan juga? Bukan sekali orang cari kesempatan ke gue. Gini-gini gen Mama turunan cakep, yang ngejar banyak. Tapi aku males ngeladenin mereka. Entahlah kupikir lebih sederhana hidup berdua sama Mama.
“Hmm, kupikir tadinya Bu Anita sudah berkeluarga ternyata masih lajang.”
“Bagi saya hidup lajang lebih sederhana Pak. Pasangan bukan syarat bahagia buat sebagian orang.” Dia diam dengan kata-kataku. Jadi aku mengalihkan pembicaraan dengan bertanya. “Anak sudah berapa Pak?”
“Satu, sudah 18 tahun.”
“Kalo jalan disangkanya Kakak adik dong Pak. Saya nyangkanya Bapak seumur saya lhoo,...”
“Iya kebanyakan orang berpikir begitu,...” Aki-aki ganteng ini tersenyum dan mengangguk maklum.
“Istrinya pasti tertekan mesti muda terus seperti Bapak, saya taruhan istrinya juga awet muda.” Dia tersenyum.
“Saya setuju hidup lajang itu lebih sederhana.” Ohh? Duda, walah-walah. Kok bisa? Apa gak jadi rebutan orang-orang dikantornya ya duda kaya gini. Nih kebanyakan yang ngerebutin kayanya, dianya tinggal terima aja dengan pasrah. Pikiranku kemana-mana sampai ke depan kasir. Banyakan yang jeleknya pasti.
“Biarkan saya yang membayar...”
“Ehhh gak usah Pak.”
“Ga pa-pa, kamu orang dekatnya Tuan Lam, saya dan beliau kenal sudah lama.”
“Saya bukan orang dekatnya jadi gak usah. Serius Pak, gak usah, makasih sebelumnya.” Aku sensi kalo dikatain orang dekat. Apalagi kalo disuruh menerima kebaikan karena dihubungkan dengan laopan itu. Tapi akhirnya dia gak maksa bayar.
“Mau makan?”
“Hah? Makan?”
“Makanan Jepang di depan?” Dia menunjuk sebuah restoran sushi Jepang di depan kami, aku menimbang karena dia udah ngajak gak enak nolak. Kelihatannya gak sopan, lagipula ini cuma makan. Kalau bisa yaa tahun depan dia ada perlu advertising mungkin dia pakai jasa kita lagi. Ngitung untung rugi di otak.
“Hmm..ya udah, boleh. Tapi saya yang bayar. Kalau enggak, gak mau.” Dia ketawa. Anggap saja ini makan malam untuk membina relasi bisnis.
“Banyak ya syaratnya padahal cuma makan.” Aku senyum. “Ya oke fine. Jangan bilang saya pelit ya.”
“Mana beranilah Pak.”
“Ayo kalo begitu.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 326 Episodes
Comments
💕Rose🌷Tine_N@💋
duda mulai menebarkan jaring2 ❤😆
2022-06-27
4
🏕 Li͞N͞g͞ Li͞N͞g͞ ッ🍒
.
2022-04-30
0
CR⃟7Naikenz *🎯Hs
Pendekatan ni dude kayak y 🤭🤭🤭
2022-04-06
2