Tak lama seseorang mendekatiku. Aku menoleh ke belakang, Pak Derrick tersenyum padaku. Dia memakai kaus kerah polo putih sekarang.Untunglah jika dia memakai kaus sopan, jika dia masih tetap memakai kaus singlet lagi, bisa dipastikan mataku tak tahu harus menatap kemana, pipiku akan seperti udang rebus di meja makan ini.
Pria ini usianya 47, tapi bagaimana bisa dia terlihat 15 tahun lebih muda. Tapi melihat makanannya dan kebiasaannya berolahraga mungkin aku sedikit mengerti.
"Sudah lapar? Mau makan?" Dia malah menyuruh aku makan melihat aku memegang sandwich di tanganku.
"Ehm... saya, saya harus terima kasih ke Bapak, tapi saya beneran gak tahu apa yang terjadi semalam." Dia duduk didepanku dan menatap lurus ke arahku.
"Lain kali hati-hati keluar dengan orang yang terlihat kamu percaya. Pria semalam memasukkan obat bius ke minuman kamu, itu kenapa kamu bisa tidur lebih tepatnya pingsan sampai tengah hari begini. Kamu ingat kejadian apa semalam?"
"Saya cuma ingat Bapak bilang minuman saya dimasukin obat. Itupun gak jelas. Ingatan saya cuma sampai sana."
"Yang sama kamu semalam masukin obat bius ke gelas kamu. Temen saya juga lihat, jika kamu gak percaya saya bisa telepon teman saya..." Aku bener-bener gak nyangka Marcello bisa masukin obat ke minumanku. Kenapa dia harus melakukan hal tercela itu? Apa karena selama ini aku berkeras menolaknya. Sebenarnya aku menolak semua orang, bukan hanya dia.
"Saya percaya, cuma tidak percaya kenapa dia harus melakukan itu. Tapi terima kasih Pak.”
"Itu teman sekantor? Cuma teman atau kalian punya hubungan sebelumnya, Atau mungkin saya salah membawa kamu kesini?" Aku langsung menggeleng.
"Ehm engga, saya ... saya memang menolak dia, hanya menganggapnya teman, .... Saya pikir dia menerima status kami yang hanya akan jadi teman." Aku hanya bisa menjelaskan sampai sana padanya.
"Ternyata begitu." Dia tersenyum kecil. “Kamu mau membuatnya masalah, melaporkannya ke polisi?”
“Tidak.” Kurasa tidak ada gunanya membuat keributan.
“Mau menghajarnya?”
“Hah? Menghajarnya?”
“Saya bisa mengatur hal-hal kotor seperti itu. Karena dia sudah berbuat salah saya jamin dia tidak akan berani melapor balik.”
“Serem amat Pak.” Dia meringis.
“Mungkin lebih serem apa yang bakal terjadi pada kamu jika saya tidak di situ.” Sekarang gantian aku yang terdiam. “Pastikan saja kamu tidak keluar sama laki-laki bangsat itu lagi, siapa dia? Atasan? Jabatannya lebih tinggi sehingga kamu tidak berani?”
“Engga Pak, masih selevel.”
“Jika dia bikin masalah sama kamu bilang ke saya, saya pastikan dia dapat pelajaran.”
“Iya Pak, terima kasih.”
“Ya sudah, bagaimana kalau kita makan saja.” Wajahnya berubah lebih santai. Karena dia mengenal Paman Lam dia baik padaku. “Kamu bisa makan ini, ini agak hambar karena garam agak dikurangi. Tapi bisa pakai kecap asin.” Dia menyebutkan soal cara dia meminta memasak ayam dan ikan. Yah bagaimanapun ayam rebus dan ikan tim rasanya yaa tetap sama dimana-mana.
“Sama di rumah juga Mama masaknya agak hambar sih. Bibinya hebat juga bisa masak seperti ini...”
“Saya yang ngajarin dia masak seperti yang saya mau.”
“Bapak bisa masak?” Kejutan, malah dia yang ngajarin Bibinya.
“Bisa.” Keren juga ya, jarang cowo bisa masak.
“Iya? Wah hebat. Saya gak bisa Pak... bisa masak Indomie sama nasi goreng doang.” Dia ketawa.
“Saya terbiasa hidup sendiri, jadi semuanya harus bisa.”
“Ohh, dulu di Hongkong gak tinggal dengan orang tua Pak.”
“Tidak saya anak panti asuhan. Jadi semuanya harus bisa sendiri... Kita tak punya orang yang diandalkan selain diri sendiri.Saya tidak pernah bertemu orang tua kandung saya, kecuali dari sebuah kertas. Tapi saya punya keluarga baik hati yang mengadopsi saya jadi ya hidup saya baik-baik saja, tidak menyedihkan sebenarnya. Jangan mengasihani saya.” Aku melonggo mendengar dia bercerita.
“Ohh...” Dia terbuka padaku menjelaskan kisah hidupnya. Mungkin dia ingin aku percaya padanya, aku cukup surprise dia bisa seterbuka itu padaku. Apa alasannya.“Kenapa Bapak bersedia bercerita pada saya? Kita baru berapa kali bertemu”
“Aku menganggap Papamu Kakakku, dia sudah banyak menolongku. Jadi anggap saja aku Kakakmu. Dia memintaku membantumu jika kau perlu sesuatu, jadi aku menolongmu bukan ada maksud tertentu.” Aku diam mendengar kata-katanya. Paman Lam memintanya membantuku jika ada masalah. Aku ingin mengatakan aku tak perlu pertolongannya, tapi apa yang terjadi hari ini membuatku berhutang budi selamanya ke Pak Derrick.
“Terima kasih Pak.”
“Sudahlah, gak usah sungkan, ayo makan dulu. Saya sudah bicara pada Mamamu, dia tahu cerita lengkapnya. Mobil kamu disini, jadi nanti kamu bisa pulang setelah makan. Mamamu pasti kuatir. Dan satu lagi jika kau butuh bantuan menghajar temanmu itu, bilang saja. Orang seperti itu harus di hajar biar tahu rasa.” Dia berusaha membuat percakapan yang membuatku nyaman kemudian, sikapnya lebih seperti seorang Ayah melindungi putrinya kurasa. Aku hanya bisa berkali-kali mengucapkan terima kasih padanya.
Hari itu berakhir dengan tak terduga, tapi selanjutnya aku harus berhadapan dengan kenyataan besok, menghadapi temanku yang ingin menjebakku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 326 Episodes
Comments
Iriz
pelajaran PPKN ya pak...hidup rukun antar teman🤭
2022-08-03
1
ohana
kategori manusia langka, pingin awet mudA makan makanan sehat apa daya mampunya masih makan mi sedap rebus 3 buat ber 4, awet hidup sudah baguslah....😅
2022-04-21
2
CR⃟7Naikenz *🎯Hs
Harus di hajar emang temen seperti itu
2022-04-07
3