Aku tak bisa tidur semalam karena ciuman itu. Marcello sialan, berani-beraninya dia menciumku. Dan aku tak bisa melupakan bagaimana rasanya. Kesal sepanjang malam dan sekarang aku harus bertemu dengannya di kantor lagi.
Apa yang harus kulakukan? Menghindarinya sepanjang hari. Dia pasti akan berusaha mendekatiku lagi. Menyebalkan!
Dan benar saja, dia sengaja menungguku di lobby saat pagi hari.
"Nita." Sekarang dia menyapaku dengan senyum lebar dan sebuah bungkusan makanan di tangannya. Dia pasti merasa menang sudah bisa memaksaku seperti itu. Ciuman pertama di umur 34, semua orang akan menertawakanku.
"Mau apa?"
"Nyapa aja, cuma mau kasih makanan buat kamu." Dia masih senyum-senyum melihatku. Kuambil makanannya hanya karena tak ingin berlama-lama berada di depannya. Tapi kemudian menyesal sendiri karena dia pasti menyangka aku ingin berbaikan dengannya.
Kuhempaskan diriku ke kursi kantor, hilang sudah hidupku yang tenang dan sekarang rasanya campur aduk, roller coaster perasaan ini membuat kacau. Aku benar-benar tak suka perasaan ini, mengingatkanku pada masa SMA dan kuliah dimana banyak hal tentang cinta terjadi. Aku tahu cinta bisa membuat orang seperti orang gila juga karena pernah mengalaminya, gue tahu rasanya mengharapkan seseorang tapi gak kesampaian, gue tahu rasanya nangis karena cinta, berantem sama pacar yang cemburu, pengatur, posesif gak jelas, dari beberapa kali pengalaman cinta monyet itu, dari pengalaman-pengalaman itu rasanya tak ada yang bagus. Soal ciuman, memang belum pernah karena aku terlalu takut mencobanya dulu,...
Padahal ini hari ini pre-production, kami menentukan banyak detail scene yang membutuhkan sebelum ke bagian produksi untuk meminta bagian production house menghandle produksi. Timku jika sudah masuk produksi ini akan sibuk, yang jadi kantor adalah ruangan depan dimana board besar ditempeli story board, talent contact, list pekerjaan, mengawasi schedule produksi, dan kadang beberapa produksi iklan akan mengakibatkan kami bermalam di antah berantah ikut tim produksi. Dan karena kami mendapat dua pekerjaan dalam waktu dekat, kali ini aku perlu membagi tanggung jawab ke seorang wakilku tapi tetap aku harus melakukan monitoring.
Aku menyisihkan makanan yang diberikan Marcello, karena sudah makan.
“Yen,buat lu.”
“Wah, ada bakmie ayam. Beneran buat gue.”
“Iya dikasih Marcello.”
“Kok dikasih ke gue?”
“Dah makan aja. Gue udah makan...” Marcello berkeras, gue pun akan berkeras.
“Kemarin lu berdua berantem, udah baikan?”
“Aku lebih ke gak perduli ajalah Yen.”
“Hmm...lu tuh ya. Kurang apa sih Marcello, cewe-cewe disini ampe mimpi-mimpi jalan ama dia. Kok lu gak perduli sih.”
“Ya karena gue emang udah nyaman dengan diri gue Yen. Gua gak perlu nambahin orang dalam kisah gue.” Sesederhana itu sebenarnya. Gak ada rasa, gak ada keinginan, gak tertarik walaupun dia ganteng level dewa, bagi gue temen tetaplah temen.
Fokus! Anggap saja kemarin adalah deleted scene buat selipan kisah romance, yang kalau di terusin akan membuat kacau hidup. Dan hidup gue gak boleh kacau karena satu orang yang hanya terlalu terobsesi ke gue. Pagi sampai sore, gue yang punya segudang pekerjaan sekarang gak sempet mikirin soal Marcello.
“Mau makan Nit?” Seseorang mengetuk pintuku saat mataku terpaku pada komputer. Marcello, kesalahanku adalah menerima makanan dari dia tadi, dan dia mengartikannya aku mungkin menerimanya.
“Engga Cell, gue makan sama tim gue nanti, kerjaan masih banyak.” Dia menutup pintu dan duduk depan gue sekarang.
“Sorry buat yang semalam...”
“Itu gak bakal merubah apapun Cell, gue gak ada perasaan apapun ke lu. Jangan capek-capek ngabisin waktu lu.” Aku menanggapinya dengan tenang.
“Mau gue beliin.” Dia gak menanggapi perkataan gue.
“Engga Cel, udah pesen. Thanks.”
“Ya sudah gue pulang, besok mau sarapan apa.”
“Lu gak ngerti gue ngomong ya Cell,...”
“Engga.” Dia senyum doang. “Ya udah gue pulang kalo gitu, jangan malem-malem lemburnya.” Dia berlalu, nampaknya semua penolakan gue gak berlaku didepan dia. Gue menghela napas, terserah dia lah. Sampai kapan sih dia bertahan.
Tapi besok paginya dia bawain gue sarapan lagi, dan kali ini sudah ada di meja gue, ngajak ngobrol dengan biasa dan mesra seakan harusnya memang begitu. Begitu juga hari-hari berikutnya sampai akunya risih dia tidak terpengaruh oleh penolakanku.
“Cell, gue udah bilang gak usah bawain gue lagi.” Udah ngomongnya kesel karena pagi-pagi sekarang dia tetep nitip makanan ke Yenni tiap pagi.
“Ya udah kalo kamu gak mau ya kasih aja ke yang lain.” Dia masih berkeras tidak mengindahkan penolakan gue dan tidak berdebat sama gue. Begitu saja pergi tinggalin gue, kaya sia-sia ngomong sama dia.
Dan kemudian satu kantor tahu sekarang kalo Marcello suka sama gue, setelah berantem itu, sengaja dia yang nyebarin ngecap dia dan aku memang dalam pendekatan.
Di sebuah siang, dengan kesal karena kali ini Marcello berani main fisik dengan merangkul pundak gue seakan kita begitu dekat.
“Nita sayang makan siang bareng yuk.” Tangannya merangkul bahu gue dengan cepat. Dengan cepat juga gue nepis tangannya.
“Lu apaan sih, lepas.” Gue masih nahan diri buat gak pake nada tinggi mempermalukan dia, karena bagaimanapun dia itu ada hubungannya dengan keluarga pemilik, sepupu jauh kurasa. Jadi aku gak pengen bikin konflik memalukan, tapi dia tiap hari ditolak malah mangkin menjadi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 326 Episodes
Comments
Mommy Raqila
Marcell tipe bebel pantang kendur. Yang satunya juga pantang kendur. Kalau digabung bahaya. 🤣
2023-10-30
0
Dede Dahlia
bener² ya si marcel bikin aku gedek juga
2023-01-03
0
Maria Tjen
iru namanya pelecehan.. 1x kali dibiarkan, maka pelaku akan mengulanginya lagi. jd solusinya memang pelaku harus diberantas !! gemesh
2022-06-28
1