Sebuah rasa sakit kepala membangunkanku. Aku membuka mata, langit-langit kamar yang berbeda. Kamar yang tidak terlalu besar tapi ditata dengan baik, dengan wallpaper abu-abu modern dan coklat, dengan pemandangan taman sebuah rumah di luar. Dimana aku! Sial! Jam setengah dua belas siang?! Bagaimana mungkin aku bisa tidur sampai jam 11 siang?! Yang kuingat aku bersama Marcello semalam, lalu, kurasa aku bertemu Pak Derrick, dia mengatakan sesuatu tentang obat, ... lalu kenapa aku bisa berakhir disini?
Bajuku masih lengkap, tidak ada perasaan aneh. Syukurlah, setidaknya tak ada hal yang terjadi, masih memakai blouse kerja, jeans gelap karena kemarin akhir pekan.
Tas, ponsel? Aku melihat ke sekeliling kamar yang asing itu, di nakas samping tempat tidur ada ponselku. Telepon dari Mama 1x, kenapa Cuma 1x apa Mama tak kuatir dimana aku. Sialnya aku tak tahu dimana aku berada. Rumah siapa ini? Rumah Marcello? Dia sepertinya tinggal di apartment, ... berarti ini rumah Pak Derrick?!
Astaga, kenapa aku berada disini.
Kubuka pintuku! Kususuri selasar ruangan , ada ruangan terbuka di lantai pertama, ruang keluarga, televisi dan sofa disini. Rumah ini designnya bagus,rapi. Aku mendengar suara treadmil, ada seorang berlari di ruangan belakangku. Jika ini rumah Pak Derrick kemungkinan itu dia, atau anaknya? Dia bilang punya anak ... My Gosh! Kenapa aku bisa tersesat dirumah orang seperti ini. Langkahku mengikuti asal suara dan benar saja kutemukan seorang pria dengan headset terpasang sedang setengah berlari di treadmill. Pak Derrick! Dengan baju singlet olahraga, dan celana training pendek. Aki ganteng ini punya badan mengagumkan, lihat saja bahu dan lengan itu. Kau tak akan percaya dia sudah hampir kepala lima. Dia melihatku!
“Hei, sudah bangun.” Dia yang duluan menyapaku, memergokiku yang memandanginya begitu rupa, wajahku langsung panas.
“Kenapa saya bisa di sini?” Pertanyaan pertama yang kuajukan. Dia mematikan treadmill-nya, berjalan ke arahku. Aku lebih bisa melihat kulitnya yang berkilau karena keringat, berhadapan dengan pria seperti ini, bukan hal yang bisa ditanggung. Otak v8irginku langsung membayangkan banyak hal yang digabungkan dengan image yang pernah kulihat tentang seorang pria. Kurasaaku hampir lari dan jantungku berdebar lebih keras begitu saja sekarang.
“Kita bicara nanti, di depan belok kanan ada ruang makan. Ada Bibi Jum, dia sudah siapin makan siang, makan dulu. Bisa minta kopi teh atau susu ke dia, kepalamu pasti sakit. Minum susu tawar banyakan. Saya mandi dulu. Saya sudah menelepon Mamamu, dia sudah tahu kamu disini. Oke, saya ke atas dulu...” Dia meninggalkanku tanpa aku sempat mengajukan pertanyaan lain. Debar jantungku mereda, dengan tubuh seperti itu, jabatan yang dipunyainya dia tak akan punya kesulitan mendapatkan teman wanita di Jakarta ini. Langsung ku cap dia F*UVKBOY.
Bukan jawaban pertanyaan yang didapatkan malah disuruh pergi ke ruang makan. Aku tak bisa menelepon Mama sekarang, membuat khawatir Mama tanpa penjelasan, apa yang dikatakan Pak Derrick pada Mama, apa yang sebenarnya terjadi karena aku tak yakin sama sekali dengan ingatanku.
Aku melangkah ke ruang makan seperti yang disebutkan oleh Pal Derrick, seorang bibi tua terlihat di dapur sedang menyusun makan siang di meja. Menu sehat cah sayuran, ikan tim, ayam tim nampaknya yang dimasak dengan wijen. Tapi baunya sudah membuatku lapar.
"Nona, selamat siang. Apa Non sudah ketemu Tuan?" Bibi Jum menyapaku duluan.
"Ohh sudah. Tapi katanya dia mau mandi dulu."
"Tuan bilang Nona harus minum susu tawar. Sebentar Nona saya ambilkan.” Ternyata sudah dipesankan oleh Pak Derrick. Aku mengedarkan pandangan ke area dapur yang lega ini, ruang makan tidak besar tapi tersambung langsung ke sebuah ruang duduk dan taman sehingga punya kesan luas.
"Terima kasih Bi..." Bibi tua itu memberikan susu padaku sambil tersenyum.
"Mau kopi atau teh Non, saya buatkan."
"Tidak usah Bi, susu saja ..."
"Ada sandwich sisa sarapan Non, jika Non sudah lapar." Dia mengambilkan sebuah kotak saji dengan tutup transparant.
"Terima kasih Bi."
"Saya tinggal ya Non. Bibi masih ada kerjaan di belakang."
"Iya Bi.Terima kasih...” Aku benar-benar merasa asing terdampar di rumah orang seperti ini. Jika bukan karena Pak Derrick mengenal Paman Lam, entah apa yang terjadi padaku. Aku masih tak percaya masalah obat yang samar-samar teringat, kenapa Marcello bisa melakukan hal semacam itu. Bibi pergi, aku minum susu yang disiapkannya, sandwich itu lumayan juga mengganjal rasa lapar. Aku sampai tidur sampai tengah hari begini, apa seseorang benar memberiku obat. Tapi yang berada di dekatku semalam benar-benar hanya Marcello, masa dia bisa, setengah diriku tak percaya dia berani melakukan hal tercela itu...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 326 Episodes
Comments
Gina Savitri
Nggak semua laki2 kelihatan baik saat di belakang kita emang bnr2 baik jadi harus hati2
2024-10-03
0
💕Rose🌷Tine_N@💋
haduh...bnyk neng orang terdekat justru yg akan membuat kita celaka...jd hati2 itu wajib memang..
2022-06-27
2
ohana
bisa aja sdah diincer kmunya
2022-04-21
1