Aku pulang dan menemui Mama yang penuh kekhawatiran dan pertanyaan kemarin.
“Kok bisa dia ngejebak kamu sampai begitunya Ta?”
“Gak tahu Ma, Tata sudah bilang kita cuma temen. Kemarin juga dia bersikeras ngajak keluar Tata sebenarnya males, tapi dia maksa, Tata gak tahu kalau dia gak bisa nerima itu sampai berani ngejebak Tata.”
“Jangan keluar lagi sama dia Ta. Kalau gak ada Pak Derrick gimana kamu. Untung ada yang liat.”
“Iya Ma, Tata gak bakal keluar lagi sama dia.” Aku berjanji tak akan keluar lagi dengan Marcello, tak pernah lagi mempercayainya sebagai orang yang pantas kusebut teman.
Pagi-pagi saat datang ke kantor aku melihat Marcello berjalan ke ruangannya, dan mengikutinya bicara di ruangannya pagi itu, dia pun melihatku. Tapi nampaknya dia tidak berniat menghindariku. Aku masuk dan berdiri di depannya.
“Kenapa kau menjebakku?” Dia sekarang berdiri didepanku.
“Karena aku kehabisan cara memintamu baik-baik.” Tanganku melayang untuk sebuah tamparan. Dia melihatku dengan ekspresi sulit ditebak.
“Sekarang kita tidak akan berakhir baik-baik. Mulai hari ini kita bahkan bukan teman lagi.” Aku berbalik tapi Marcello mencekal tanganku.
“Kau kenapa begitu sombong, aku bersikap begitu baik padamu selama ini. Apa sih yang kurang dari gue Ta?” Aku menepiskan tangannya dengan marah sekarang.
“Kalo gue gak mau ya gak mau Marcel, berapa kali harus gue bilang ke lu! Masih banyak wanita lain yang mengejar lu, kenapa harus menjebak gue, lu pikir dengan bisa nidurin gue, terus gue bakal sama lu. Gue memasukkin lu ke dalam penjara! Gue kasih tahu lu aja, gue masih mandang kebaikan lu, gue masih maafin lu kali ini, tidak menyebarkan kejadian ini, tapi sekarang kita sudah gak temanan lagi. Jelas!”
“Nita!” Aku mendengar panggilannya begitu aku membanting pintu dan keluar, tapi mulai hari ini, aku tak akan peduli padanya lagi. Orang-orang di cluster ruangannya melihat kami bertengkar karena ada bagian kaca yang memungkinkan orang melihat apa yang terjadi, tapi tak tahu apa yang terjadi. Yang jelas aku tak akan perduli lagi dengan keberadaannya sekarang.
Masuk ke ruanganku sendiri dengan perasaan masih kesal. Semua orang melihat mukaku yang bete. Yenni muncul dengan penasaran.
“Nit? Kenapa lu, lu berantem ama Marcel, bukannya lu kemarin pergi sama dia...”
“Udahlah Yen, gue gak mau bahas dia.”
“Kenapa? Dia punya cewe lain?” Yenni malah menyangka aku mau pacaran sama Marcello.
“Kapan gue pacaran sama dia. Lu aneh-aneh aja nanyanya.”
“Ohh engga...”
“Kerjaan banyak, meeting ama tim produksi bahannya udah siap? Udah. Ya udah kita ngurusin kerjaan aja. Gak usah ngomongin dia”
Aku tidak menceritakannya kepada siapapun, aku memegang perkataanku, sekali aku cerita ke Yeni satu kantor bakalan tahu. Jika aku menceritakannya, rusak namanya di kantor ini, masih memandang hubungan baik kami di masa lalu. Siang ini aku berpapasan dengannya di koridor kantor, aku tak menyapanya sama sekali. Orang-orang yang bertanya-tanya tak ada yang tahu ada apa, yang jelas cewe-cewe yang perhatian dengan dia menyambut gembira keadaan ini. Tapi kukatakan sekali lagi aku tak perduli. Lebih baik begitu jadi dia berhenti mengharapkanku.
Begitu seterusnya sampai beberapa hari kemudian dia tak menyapaku di kantor. Aku menganggap dia menyerah dan masalah kami selesai.
“Nita.” Suara Marcello ketika aku berhenti di sebuah Mall untuk membeli pesanan Mama saat pulang kerja. Apa dia mengikutiku?
“Lu ngikutin gue... ?” Sebuah rasa khawatir menyelinap di hatiku saat dia muncul di belakangku tiba-tiba. Apa yang di lakukannya disini.
“Saya denger kamu mau ke Mall tadi pas kamu mau pulang...” Aku berjalan terus ke arah pintu masuk. Tak mau sendiri begini sama orang yang berani masukin obat ke minumanku. Gimanapun dia cowo.
“Gak usah aneh-aneh Cel, gue udah bilang kita bukan temen lagi, yang ngejer lu banyak, gak usah nyusahin diri lu sendiri.”
“Nita, sebenernya apa sih kurang gue ke lu.”
“Gak ada. Lu gak punya kurang, mapan, ganteng, baek, gak ada kurangnya. Cuma hidup gue juga gak ada kurangnya sekarang, gak perlu ditambah lagi. Gue udah bilang sama lu, gue gak tertarik buat merried. Simple Cel, even lu tidur sama gue pun gak akan ngerubah itu...”
“Lu belum coba apapun, kenapa gak kasih kesempatan buat gue, gak setiap cowo sama kaya Papa kamu.” Sekarang aku berhenti dan menghela napas panjang, ngadep dia.
“Lu gak ngerti ya Cel, ini pilihan hidup gue, napa lu ribet banget sih.”
“Lu gak ngasih kesempatan...” Aku memotongnya.
“Gue gak pernah ngasih kesempatan ke siapapun Cel. Bukan lu doang yang gue giniin kalo lu mau tahu. Ini pilihan hidup gue.” Sekarang dia diam.
“Begitu?”
“Iya begitu...” Aku menentang matanya.
Tiba-tiba dia mendekatiku, dan dalam sekejab dia merangkul pinggangku dan mengunci tengkukku. Bibirnya mengunci bibirku, membuatku tak bisa bernapas dalam hitungan detik kemudian dan reflek aku mendorongnya dengan keras, tapi sesaat dia menguasai keadaan. Menguasai bibirku secara paksa.
Sebuah tamparan kedua melayang dari tanganku begitu aku bisa melepaskankan diri.
“Lu beraninya...” Marcello tersenyum kecil padaku saat aku menunjuknya tapi tak bisa mengeluarkan kata-kata karena kaget. Dia mengelus pipinya yang sudah kutampar dua kali.
“Jadi tadi ciuman pertama kamu bukan? Tamparan ini cukup adil.” Pipi dan mataku memanas sekaligus, aku tak tahu apa yang harus kujawab.
Aku mundur, sekarang aku tak berniat masuk mall lagi. Aku berbalik berlari ke mobilku. Merasa diriku sangat pengecut sekarang. Marcello kurang ajar itu. Aku benci dia. Benci sekali...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 326 Episodes
Comments
Gina Savitri
Nita kenapa nggak tonjok dan tendang sekalian adek kecilnya 😁
2024-10-03
0
💕Rose🌷Tine_N@💋
sini biar aku bales cium si marcel nya..
pake becko.tp ya..gpp.kan😜
2022-06-27
2
ohana
hajaaarrrrr...... balas cium pke bakiak....
2022-04-21
1