“Nah...kita umpamakan Cathy Saron, diganti jadi ....Mimi Peri, yang belum didandani ...” Layar mengganti foto yang aku maksudkan.Satu ruangan didepanku tertawa. Ini pertanda bagus jika story tellingku jelek mereka tidak akan tertawa. Jika sampai mereka tidak tertawa aku gagal total. “Nah bayangkan kemudian kasirnya, mengatakan, ‘kakak, ini bagus lhoo, diambil aja, digeser lagi, mba nya jadi Carthy Saron lagi, tapi karena pacar mba-nya uangnya cuma segitu—digeser lagi, jadi Mimi Peri belum dandan lagi...” Gambar di layar berganti dinamis, sesuai dengan story tellingku.
“Dan akhirnya sang kasir mengeluarkan kata-kata ajaib, ‘punya member BEAUTYSALE diskon 50% lhoooo’. Dan semua orang gembira balon-balon keluar confetti berhamburan, Happy Ending jadi Cathy Sharon selamanya, lalu di akhir kita pasang periode promosi....” Aku bertepuk tangan, sesuai dengan latar belakang animasi videoku dimana balon-balon keluar, confetti berhamburan. Semua orang bertepuk tangan terutama yang enam orang klien didepanku.
Harusnya ini pertanda bagus.
“Terima kasih atas waktunya. Cathy Saron hanya contoh, kita bisa pakai talent lain, tapi mungkin Mimi Peri tetap tak tergantikan.” Semua orang tertawa.
“Tukang berburu diskon kalau bikin iklan diskonan emang nyambung.” Sekali lagi dia mencoba kesabaranku.
“Makasih atas pujiannya Pak Derrick.” Aku tersenyum, sindirannya kuanggap sebagai pujian saja. Kalo enggak gak keluar kontrakku.
“Well, baiklah. Kami bicarakan dulu nanti bersama yang lain, saya ada urusan lagi, saya tinggal dulu.” Dia pergi bersama wakilnya. Aku harus minta maaf ke direktur utama ini, kalo engga ini akan jadi ganjalan.
“Bu Fransesca, saya boleh menyusul sebentar bicara dengan Pak Derrick. Sebentar saja ya.” Dia belum mengucapkan apapun, aku langsung kabur nyusul Pak Derrick. Untungnya dia belum masuk ke lift di depan.
“Ya?”
“Ahh, boleh bicara sebentar. Sebentar, tak lama...”
“John, duluan.” Pak Jonathan yang sudah hampir di depan lift, melanjutkan perjalanan ke depan sana.
“Ada apa?”
“Saya mau minta maaf soal kemarin. Terima kasih.” Karena dia tadi tak mau salaman dan latar belakangnya yang expatriat, kupikir lebih baik membungkuk padanya sebagai tanda keseriusan-ku.
“Ohh, tak apa. Kemarin saya hanya bercanda, wajar juga kau sewot.” Aku jadi bisa menghela napas lega, setidaknya dia tidak mengambil hati kelakuanku yang ketus kemarin. “Tim akan memutuskan nanti. Tapi saya rasa saya suka ide kalian. Tunggu saja kabarnya.”
“Terima kasih Pak.” Aku tersenyum padanya. CEO yang kelihatannya masih muda ini mengangguk dan kemudian berjalan pergi.
Aku berjalan kembali ke ruang rapat, bertemu Bu Fransesca, Direktur marketing yang sudah kukenal.
“Maaf bu, kemarin saya berebut kue diskon dengan Pak Derrick, saya gak kenal beliau. Makanya saya disebut pecinta diskonan. Saya benar-benar jadi tak enak hati tadi.”
“Beneran Bu Anita, kok bisa?” Ceritalah apa yang terjadi kemarin sekaligus permintaan maaf.
“Ohhh, begitu. Astaga, pantas disindir pecinta diskonan ya Bu.” Bu Francesca tertawa renyah sekarang.
“Iya Bu, saya jadi tengsin abis.” Gak pa-pa diketawain sekarang, biar gak disangka berusaha KKN juga di bselakang. Beberapa pembicaraan tentang teknis iklan dan biaya talent artist kemudian, yang bisa kami jelaskan dengan gamblang, ini pertanda baik nampaknya, tampaknya ide iklan tadi menarik dan bisa mereka terima.
“Ngomong-ngomong Pak Derrick itu kelihatannya masih muda sekali ya Bu, tapi bicaranya seperti usianya sudah matang. Hebat sekali memegang posisi CEO di usia semuda itu.”
“Pak Derrick, ...jangan tertipu. Dia itu sudah 47.” Aku melongo. 47?! Muka ABG itu 47?!
“Ibu Fran, jangan bercanda. Maksudnya 37 ya?” Dia tertawa.
“Yang gak percaya bukan Ibu aja, semua orang gak percaya dia 3 tahun lagi di kepala lima. Pertama saya ketemu, saja juga pikir dia anak baru beberapa tahun baru lulus kuliah, tapi emang mungkin gen dewa. Nambah muda bukan nambah tua, tapi saya kira dia olahraganya juga rutin.” Aku memang menemukan aki awet muda itu menenteng tas gym kemarin.
“Ohhh begitu.” Aku masih berusaha menerima kenyataan bahwa ternyata dia sudah hampir aki-aki. Aki-aki yang sangat muda!
“Kenapa Bu, masih ga percaya?”
“Ehm, masih berusaha percaya....” Bu Fran ngakak sekarang.
Astaga, ngebanyangin punya Direktur Utama seganteng itu di kantor. Sangat baik untuk kesehatan mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 326 Episodes
Comments
Gina Savitri
Biasanya klo bule makin matang makin tampan, entah klo di indonesia kayanya jarang pria matang yg tampan 😁
2024-10-03
0
Dyah Oktina
wah...iya.. mau sehat mata nih... cari aki tampan d mana ya....????🤭😁😁
2024-01-25
0
maDENa
kyknya ide iklan ini beneran ada yg make.. dmn ya ak pernah liat yg bgni. jd cantik trus jd jelek.. uh lupa
2023-04-05
0