Pak Derrick ini jika diajak ngobrol ternyata rame juga. Mungkin karena orang bisnis memang sudah terbiasa untuk ngobrol dengan siapa saja. Tapi dia tahu aku gak mau ngebahas soal Tuan Arnold Lam, jadi dia menghindari topik itu untuk selanjutnya. Lumayan malam Minggu ini ada temen ngobrol yang seru.
“Rata-rata orang advertising yang saya temui semangkin muda semangkin bagus idenya. Masa muda itu memang bahagia, ide mengalir dengan mudah.”
“Iya tim kreatifnya banyak anak muda ngocol Pak. Kadang mereka pikirannya out the box buat ide-ide awalnya, tinggal yang senior menyortir yang agak-agak melenceng yang mungkin gak kena, kadang level-level atasnya juga orang old school jadi mesti pintar-pintar ngasih ide, kadang untung-untungan.” Aku bercerita tentang beberapa ide yang kelewatan melenceng yang pernah kutolak. Pembicaraan mengalir lancar, hingga waktu tak terasa.
“Tata kamu disini? Tadi Mama sangka salah dengar...” Aku menoleh ke samping ada Mama yang aku sayangi, tapi disampingnya ada seorang pria yang paling tidak ingin kutemui sekarang. Arnold Lam.
“Derrick, ternyata kalian sedang makan malam berdua. Kebetulan sekali kita bertemu disini. Lien, ini teman Koko sudah kenal lama. Kebetulan katanya kliennya Tata.”
“Ohh, ternyata ponakannya Kak Arnold.” Sekarang Pak Derrick salah menduga karena Mama memanggil Koko. Mama tersenyum, tidak mengatakan apapun.
“Bukan-bukan. Dia anakku...” Ternyata dia berani mengakui aku putrinya di depan Pak Derrick.
“A..nak? Jadi ini... Ohhh.” Pak Derrick terperangah, nampaknya entah bagaimana dia tahu sepotong cerita dibalik ini. Sekarang pasti semua skenario orang dekat tadi terhapus di kepalanya.
“Nanti saya cerita. Kita boleh gabung ke meja kalian.” Plus dengan keberaniannya bercerita aku tahu ternyata mereka memang dekat.
“Oh, silakan Brother Arnold, Ibu Lien.” Aku menghela napas, makan malam yang tadinya baik-baik saja itu sekarang terasa sesak. Pak Derrick kelihatan agak binggung memulai pembicaraan setelah mengetahui aku anak Arnold Lam. Tapi aku malah tak ingin bicara apa-apa lagi. Hanya ingin pulang saja sekarang, meja sejenak sepi.
“Saya Mamanya Anita, senang bertemu Dek Derrick.” Akhirnya Mama yang memulai pembicaraan.
“Senang bertemu Bu Lien juga. Tak heran Anita cantik begini. Mamanya ternyata lebih cantik.”
“Nak Derrick bisa saja,...” Mama memanggil Nak, mama juga tertipu sama aki muda ini. “Kalian sudah kenal lama?”
“Ohh belum, kami baru ada kerjasama bulan ini, tapi saya dan Brother Arnold sudah kenal lama, saya menganggapnya Kakak. Boss saya yang di Hongkong juga kenal lama dengan Brother Arnold.” Derrick ini nampaknya orang profesional, bukan pemilik, tapi salah satu yang dipercaya oleh bossnya memegang pengelolaan sepertinya.
“Begitu.”
“Tata senang makanan Jepang.” Sekarang Tuan Lam berusaha bicara denganku.
“Lumayan, ...” Aku menjawab seperlunya.
“Dia suka makanan rumahan.” Mamaku menjawabnya untukku. Aku tak mengerti cinta, aku tak mengerti kenapa Mama bisa menerima statusnya sebagai single parent dan tetap seperti sahabat dekat dengan Ayah biologisku. Sejak aku tahu di usia 15 dia Ayahku, aku sangat jarang mau menemuinya kecuali jika dipaksa Mama. Mungkin selama rentang usiaku dari 15 ke 35, dua puluh tahun ini tidak sampai 5 kali yang kuingat aku menemuinya.
Mama bilang dia bukan laki-laki yang mengingkari tanggung jawab, tapi mereka tidak bisa bersama karena keadaan, Mama tak mau menghancurkan hubungan Papa dengan keluarganya, maka dia bersedia membuat hubungan pertemanan ini. Papa tetap mengirim uang untuk Mama secara sembunyi-sembunyi dari keluarganya. Kenapa Mama bersedia berkorban begitu besar untuk orang yang tidak bisa ada di samping kami, aku tak mengerti logika Mama.
Aku terpaksa duduk disitu karena ada Mama. Entah bagaimana hubungan Pak Derrick dengan Tuan Lam itu aku tak tahu, sampai dia merasa baik-baik saja membiarkan Pak Derrick tahu semua ini. Yang jelas semua masalah keluarga ini terlalu berat dibahas didepan orang asing.
“Ma, sudah malam kurasa kita pulang saja.” Semua orang tahu pertemuan ini membuatku malu, persoalan keluarga di umbar di meja ini.
“Ini malam minggu, ga pa-pa malem dikit Ta.” Aku menghela napas pelan mendengar perkataan Mama, sekarang aku tak tahu harus bicara apa.
“Iya Ma.” Sudahlah mungkin ini membuatnya senang. “Mama dan Paman Lam sudah makan?” Aku belum bisa sampai sekarang memanggilnya Papa. Tapi baiklah tak ada gunanya mengatakan statement apapun sekarang.
“Sudah, tadi kami duduk di ujung sana. Mamamu yang mengenali suaramu, Mama berpikir kau sedang makan malam dengan teman dekat. Jadi dia ingin melihat siapa.” Ohh, tak usah disebutkan, Mamaku seperti Mama lainnya, dia bilang akan lebih baik bagiku untuk memiliki ‘teman hidup’. Padahal sudah kubilang prinsipku bahagia itu datang dari diri kita sendiri bukan orang lain. Prinsip yang dipegang jomblo bahagia seperti aku.
”Iya Mama pikir pacar kamu ganteng banget. Maaf ya dek...”
“Ini udah aki-aki Ma. Jangan ...” Kututup mulutku! Sial , keceplosan! Paman Lam ketawa, Mamaku binggung, si aki-aki ganteng melipat tangannya depan dada melihatku. Astaga! Kenapa gue keceplosan...
“Aki-aki, siapa? Masa semuda ini kamu bilang aki-aki.”
“Gak-gak, aku mikir orang lain bukan Pak Derrick.” Pembelaan tak berguna, dia tahu aku menyebutnya aki-aki. Ya ampun....kenapa aku bisa keceplosan begini.
“Memang umurnya berapa Pak Derrick, ini anak saya kadang ngaco.”
“Saya 47.”
“Berapa...” Nampaknya Mama tidak yakin dia mendengar angka yang tepat.
“47.”
“Oooooh begitu...” Mak astaga ‘Ooo” nya panjang bener, “Saya sangka Pak Derrick ini seumur anak saya lho.” Mama mengangguk-angguk dan aku menutup mukaku. Setelah ini aku akan dapat masalah karena ngatain CEO ini aki-aki. Jangan-jangan bayaran kerjaanku bakal dipersulit setelah ini. Bisa-bisa boss ngamuk ke gue nih.
“Pak Derrick, maaf saya benar-benar tidak bermaksud begitu, saya hanya kagum sama awet mudanya Bapak.” Terpaksa minta maaf lagi. Kali ini nangkupin tangan didepan.
“Ohh begitu. Saya belum sampai di taraf aki-aki, yang saya tahu aki-aki itu sudah pakai tongkat. Bukan begitu istilahnya brother Arnold.” Mama nyengir, Paman Lam didepan sana ketawa.
“Nih anak memang sembarangan Pak Derrick. Tolong jangan diambil hati.” Mama yang nolongin minta maaf sama Pak Derrick.
“Kak Lien, saya sudah biasa.” Tapi sambil ngelirik ke gue. Gak iklas maafin gue. Astaga kenapa bisa keceplosan sih.
“Aki-aki ini pematah hati wanita, yang ngantri bejibun.”
“Itu namanya... “ Mau ngomong ‘previledge’ gak jadi, takut didiskon tagihanku.
“Spit it out.**” Pak Derrick nyengir ngeliat aku. Aku bales nyengir\, tapi gak berani ngomong. (** spit it out = omongin ayo coba”)
“Maksudnya kalo orang ganteng yang ngantri ya banyak Pak.”
“Pinter ngelesnya ya, kata kamu saya aki-aki?”
“Yah maaf pak, itu majas hiperbola aja Pak, kan bagus dibilang aki-aki malah ternyata awet muda.”
“Oh begitu. Pinter ngomong juga kamu” Aku meringis lebar, deg-degan dia tersinggung kukatain aki-aki.
Tapi dia tak mempermasalahkan lagi nampaknya dan kemudian Mama mengajak bicara ke soal yang lebih umum. Untunglah Mama mengalihkannya, dan sepertinya karena aku anak Brother Lam-nya, dia tidak akan mempersulitku.
Akhirnya kami pulang juga. Karena memang sudah malam. Semoga Aki ganteng itu tidak mengambil hati untuk keceplosanku yang kurang ajar itu.
“Gak nyangka ya awet muda bapak tadi, tapi masih ganteng banget, serius Mama gak sangka dia udah 47.” Mama masih membahas aki-aki itu saat kami pulang. “Tapi kenapa dia gak mau merried ya.”
“Kaya dia sih dapetin cewe gampang kali Ma. Tinggal kedip, dia sendiri bilang, lajang lebih sederhana, tapi dia udah punya anak. Udah 18 tahun katanya.”
“Ohh, begitu?”
“Katanya begitu Ma.” Aku mengangkat bahu, tak ada gunanya membicarakan aki-aki ganteng itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 326 Episodes
Comments
Iriz
duh malunya sampai ke sini Ta🙈🙈
2022-08-03
2
Iriz
😆😆aki2 katanya
2022-08-03
1
💕Rose🌷Tine_N@💋
aki aki sexsoy..😍.mau dong jd nini nini nyaaaaa😜🤣🤣🤣
2022-06-27
1