Kenalin Abang Derrick, nama asli : Chuando Tan, umur asli 53 , ada yg nulis 55 , jadi yaa anggep saja 53, kok bisa ya 55 seimut ini ckckck. Kerjaan fotographer + model, tinggal di Singapore. Coba yang sering bolak-balik singapore cari ya sapa tahu nemu wkwkwk
------------
Nama Asli " Chris Horwang- artis Thailand
\================================********================================
Back to the stories.....
“Sudah telepon Nita?” Tiba-tiba aku disapa saat berada di cluster depan ruanganku. Pak Boss tanya soal perusahaan yang dia perintahkan untuk kutelepon harusnya.
“Ohh udah Pak. Nanti jam 2 meeting pertama dengan mereka.”
“Fine, takut kamu belum telepon saja. Ya sudah...”
“Siang Bu.” Aku baru sadar ada Ibu boss di belakang mengikuti suaminya sambil main HP.
“Iya, siang.” Bu boss cantik anak orang kaya ini cukup cemburuan, sekertaris lakinya gak aja mesti dia yang milih. Gak boleh lebih cakep dari dia intinya. Kelihatan ganjen dikit sama lakinya yang ganteng ini, siap-siap dipecat. Makanya kita disini agak-agak gimana jaga sikap gitu kalo dia datang.
Aku berlalu, dan bertemu salah seorang marketing senior disini. Marcello, tak jauh usianya dariku, hanya beda dua tahun, ganteng, karena kegantengan dan kesupelannya ini dia punya banyak modal buat menangin hati klien, plus otaknya memang encer, komunikasinya bagus. Pokoknya pemegang rank 1,2,3 gak pernah jauh dari genggaman tangannya di kantor ini.
“Nit, wih ada yang dapet proyek gede nih kayanya.”
“Tau aja lu info.”
“Tau lah, lu pada se-tim loncat-loncat bikin pengumuman kemaren.” Aku meringis lebar, perayaan itu memang keterlaluan sampai aku ditegur boss.
“Ya kan gak kaya lu Cel, menang udah biasa, klien lu udah banyak. Gue yang marketing baru kan kaya dapet gitu kan anugerah terindah.”
“Bisa aja lu. Traktiran dong, makan yuk.”
“Boleh, ikut besok makan-makan sama tim.”
“Yah jangan rame-rame...”
“Enaknya rame-rame.” Aku meringis lebar, bukan aku tak tahu apa maksudnya tapi aku tak bisa memberi harapan apapun, dia tahu itu. Aku ramah pada semua orang tapi hanya sebatas itu, tak akan menjanjikan yang lain. Dia menghela napas.
“Fine, lihat nanti aja...”
Aku tahu rasanya gak adil, aku gak ngasih kesempatan ke dia, sama sekali, dia cukup baik. Sejak aku jadi pimpinan tim baru setahun yang lalu dia supportive, tapi tekad gue untuk stay di zona nyaman gue masih terlalu kuat. Melihat teman-temanku yang setelah menikah bilang single lebih happy, plus beberapa perceraian di sekitar gue bikin gue tambah keukeh mempertahankan status "single dan bahagia' ini.
\=========***==========
Karena bakal meeting lanjutan proyek iklan kami ke BEAUTYSALE, aku sengaja mesen dua kue Blueberry Cheesecake, kue yang kami perebutkan di slice terakhirnya, satu buat Pak Aki-aki ganteng, satu buat Bu Francesca. Kali ini tentu saja satu loyang utuh, masa ngasih di sekelas Director slice terakhir. Bisa dianggap gak sopan dan disusahin bayaranku.
“Bu, saya bisa titip kue ke Ibu dan Pak Boss.” Bu Francesca senyum-senyum, ketika tahu aku bawa kotak kue sebagai buah tangan.
“Bu Anita masih tengsin dibilang suka gratisan rupanya.” Masih diledek. Ga pa-pa yang penting kontrak dapet, bonus jalan.
“Gak enak Bu, rasa terima kasih saya juga tidak menjadikan ketidaksopanan saya masalah.”
“Sepertinya pak boss ada dikantor, saya tanya dulu sama sekertarisnya.” Dia mengangkat intercom dari mejanya.
“Wina, boss ada?” Dia diam sebentar. “Aku suruh OB buat antar ke Pak Derrick, bilang aja dari Bu Anita, yang suka gratisan.” Aku senyum lebar.
“Makasih Bu.” OB mengantar kue itu ke ruang Direktur, dan kami lanjut ke meeting, rupanya mereka ingin menganti talent artist ke yang lebih muda dan lebih masa sekarang, tapi Mimi Peri tak tergantikan rupanya. Tapi meeting ini ditangani oleh Bu Francesca, aki-aki ganteng itu gak ikutan. Selesai meeting sekitar sejam itu kami kemudian kembali.
Aku melewati lobby diantar Bu Francesca, berbicang dengannya. Tiba-tiba seorang memanggilku.
“Tata?” Siapa yang memanggilku dengan nama kecilku? Aku menoleh ke samping, pria cukup berumur, aku tak mengenalnya pertama karena mungkin sudah lewat 7 tahun aku tak melihatnya, tapi kemudian aku mengenalnya. Dia orang yang harusnya kusebut Papa. Dan dia bersama Pak Derrick.
“Tuan Lam, ...” Tidak, aku tidak memanggilnya Papa atau Paman di depan umum, walaupun berkali-kali dia mengatakannya agar aku memanggilnya Papa, tapi hatiku tak bisa melakukannya. Aku masih memanggilnya Paman kadang. “Senang bertemu Tuan Lam.” Bahasa Indonesianya lumayan lancar btw, karena hampir lima tahun dia disini saat mudanya. Dia mendatangiku dengan cepat dan Pak Derrick mengikutinya dari belakang.
“Kamu ada pekerjaan disini.” Walaupun lancar tetap saja bukan bahasa Ibunya, jadi aksen dan logatnya formal dan kaku.
“Iya.”
“Ohh rupanya Tuan Lam, kenal bu Anita, dia menangani iklan perusahaan kita.” Jadi dia punya saham juga disini.
“Oh, begitu. Lama tidak bertemu.” Aku tak tahan dengan pembicaraan ini sebenarnya. “Apa bisa kita bicara sebentar Tata, makan siang mungkin, gimana kabar kamu?” Permintaan yang sulit kukabulkan.
“Tuan Lam bisa pakai ruang meeting kalau...” Pak Derrick belum selesai bicara kupotong saja.
“Tidak, saya ada meeting yang harus dikejar. Maafkan saya. Saya harus pergi, Pak Derrick, Tuan Lam. Selamat siang.” Aku membungkuk cepat, tanpa basa-basi aku pergi dari depan mereka. Aku tak melihat wajahnya lagi
Kenapa aku harus ketemu orang itu, dan ternyata dia adalah salah satu pemegang saham di BEAUTYSALE. Dunia memang terlalu sempit.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 326 Episodes
Comments
Styaningsih Danik
omg ....visualnya derrick 53th masih unyu2 gemesin kayak gitu ...turunan edward cullen si vampir ganteng😂
2022-09-03
0
A - 𝐙⃝🦜
kayak trans, entah transmigrasi entah transfer 🤭
2022-07-23
0
A - 𝐙⃝🦜
aku bolak balik dari dapur ke ruang tamu mom othor, nggak bakal ketemu wkwkwk
2022-07-23
0