“Sampai dalam lima menit. Kamu sudah bilang saya mau ketemu tukang masukin obat itu.” Jam 6an teleponku berbunyi. Dia tepat waktu.
“Udah dia tahu Pak Derrick bakal kesini, dia malah bilang kita keluarga. Dan aku hanya sandiwara, deketin cewe pakai obat, rumus dari mana...”
“Dia yang sandiwara. Kamu panggil Koko jangan lupa.”
“Iya Ko.” Kali ini gue ngerasa bener punya seorang “Kakak”, sesuatu yang gak pernah kupunyai, hanya sosok Mama, Nenek, Kakek dan satu Bibi yang kupunyai. Tak punya perasaan punya seorang pengawal seperti definisi Kakak atau Ayah.
“Ya sudah, turun sekarang, sebentar saya sampai...” Aki ganteng ini, tetep ngomongnya saya dan kamu, aku gak berani manggil dia selain Pak. Senioritasnya kebawa sampai ke cara ngomongnya.
Melangkah ke lift kantor dan sampai ke lobby bawah, aku malah deg-degan gak jelas. Kulihat Marcel sengaja duduk di sofa yang ada di lobby itu, dia benar mau membuktikan apa yang kuomongin.
“Mana?” Dia mengangkatku ke atas dan langsung mengatakan aku bohong.
Aku mencari ke lobby memang tak tampak, tapi ada seseorang yang masuk dari pintu putar dan membuatku tersenyum melihatnya. Aku dari tadi berharap dia tidak pake batik, please kemeja aja, soalnya aki ganteng ini kalo pake kemeja keren, dadanya bidang dan dia posturnya bagus banget jadi kelihatan langsung kerennya. Marcello keren, tapi aki-aki ganteng ini jauh lebih keren entah kenapa.
Marcello mengikuti arah pandangan mataku dan menemukan siapa yang kumaksud karena Pak Derrick memang pernah mengancamnya sekali. Pandangan mereka bertemu, tak ada senyum di wajah Pak Derrick, dia menatapnya tajam. Tapi dia mengalihkan pandangannya padaku, dan mengulurkan tangannya dengan senyum padaku. Sum*pah, jantungku loncat sendiri dari tempatnya sekarang, aku gak bisa menggambarkan rasanya. Kaya seneng, berdebar dan sedikit segan saat memberanikan diri meraih tangannya.
“Kita ke penggangumu itu.” Dia membawaku ke depan Marcello.
Sebelum dia melepas tanganku dan berdiri di depan Marcello.
“Ngapain lu kesini?” Marcel ngomong duluan.
“You tahu kenapa saya kesini. Satu kata Tata ngomong ke saya soal kamu lagi, kita selesaikan di luar berdua.” Ngomongnya tenang aja sambil nyisipin tangan di saku kantong celananya.
“Sombong bener.”
“Ohh mau coba sekarang? Saya sudah lama pengen ngehajar kamu. Cowo tapi main obat, maen fisik, kamu cowo bukan. Kalo berani adu kuat jangan ke cewe hadapi saya...” Marcello diam. Aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya, tapi kurasa dia tak akan berani lagi.
“Ko udah, ...” Kuamit saja lengannya, sebenarnya aku tak ingin ada perkelahian apapun. Ancaman sudah cukup.
“Jangan sampai kita ketemu lagi.” Senioritasnya terasa. Marcello pun nampaknya tahu itu, ancaman yang diberikan itu bukan main-main. Dia berbalik sekarang, tanpa aba-aba, dia otomatis mengandeng tanganku. Aku yang jantungnya udah deg-degan gak keruan. Padahal Pak Derricknya mungkin biasa aja karena dia memang cuma mau aku gak diganggu Marcel lagi. Aku yang udah lama gak pernah digandeng. Memalukan!
“Thanks Pak.” Setelah kami hampir keluar lobby aku ngomong ke dia.
“Sama-sama. Mau makan apa?”
“Bapak aja mau makan apa?”
“Panggil Koko nya terusin aja, gak enak manggil Bapak.”
“Aku yang gak enak Pak. ”
“Ya sudah sekarang kita cari yang enak aja...” Dia becanda, aku jadi senyum-senyum sendiri. Aki ganteng ini kalo lagi pasang pesona baek killer juga gak kaya dikantor atau pas kita ketemu sarkas, sok kuasa, apa gue yang kualat manggil dia aki sehingga dia ngomong biasa aja gue udah tersipu-sipu begini. Haduh! Dia Cuma nolongin lu Tata, jangan ke GR-an ngerasa kaya pacarnya beneran. Dasar perawan! Dipegang sekali aja udah salah tingkah!
Dia menujukkan mobilnya yang ternyata bisa dapat parkir di lobby depan.
“Bapak gak bawa sopir?”
“Gak lucu kalo pacaran bawa sopir.” Sekarang aku yang ngakak. Dia dengan baik hati bukain pintu. “Biar disangka lagi pacaran beneran.” Aku masuk dengan senyum lebar.
“Saya pesen lagi ya, kamu jangan jalan sama dia lagi , masa dapetin cewe pakai masukin obat. Cowo macam apa itu. Suka, suka darimana, tidak ada begitu caranya. ”
“Iya Ko, ngerti-ngerti. Makasih ya Ko...” Akhirnya bisa juga manggil dia Koko. Kali ini gak akan keceplosan lagi manggil dia aki-aki ganteng.
Kita memutuskan makan di mall yang tidak terlalu jauh dari apartment kemudian.
“Kerjaan lancar?”
“Hmm, iya megang dua iklan sekarang lagi sibuk-sibuknya.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 326 Episodes
Comments
Zidni Wayau
klo kraus-kraus bukn duren beb,tp krupuk😂😂😂
2023-07-13
1
Dede Dahlia
ta kamu kena karma lo bilang derick aki aki nanti kamu bakal kesemsem 🤔😂😂
2023-01-03
0
Iriz
keingetan jaman dulu smp usia 27 blm prnh pacaran🤭, never been kissed juga🤭 jd paksu bener2 yg pertama, rasanya kurang lebih kyk Tata skr 😅😅
2022-08-03
0