Merasa tak di gubris, Bela semakin manjadi, mengambil sebotol air meneral, lalu menuangkannya ke mangkuk baso Salsa. Tetapi gadis berambut sebahu itu tak merespon sama sekali, melanjutkan makannya walau kuah basonya itu sudah tak berasa karena kebanyakan air.
Tak sampai di situ saja, Bela bahkan menuangkan sambel sebanyak mungkin ke mangkuk baso Salsa.
"Enak, kan?" ledak Bela sembari menyeringai.
"Banget," jawab Salsa sembari tersenyum.
Jangan kira senyuman itu tulus untuk Bela. Tangan Salsa terkepal di bawah meja menahan kekesalanya. Jangan mengira ia gadis lemah yang bisa di tindas begitu saja tanpa tahu kesalahannya. Ia berdiri mengambil mangkuk basonya di atas meja. Bela ikut berdiri berhadapan dengannya.
"Cobain deh, enak banget parah." Menyodorkan mangkuk penuh kuah itu pada Bela. "Ups, Sorry," ledek Salsa setelah menumpahkan semua kuah keseragam Bela.
"Anj*ir," umpat Bela penuh emosi, tetapi di tanggapi dengan santai oleh Salsa.
Salsa melipat kedua tangannya, mengangkat dagunya dengan alis terangkat. Tidak habis fikir, ternyata bukan hanya sekolahnya saja banyak pembuli, bahkan sekolah semewah ini saja ada. Tapi sungguh Bela salah orang jika ingin menindasnya.
"Kalem lah, berani main air berani basah dong. Bukan begitu?" bisik Salsa.
Tangan Bela terkepal di balik seragamnya, niat hati ingin membuli siswa baru yang selalu dipuji para siswa laki-laki, malah dirinya lah yang di permalukan.
Kanting yang tadinya tenang kini penuh bisik-bisik diantara para siswa. Baru kali ini mereka melihat ada yang berani melawan Bela dan entek-anteknya selain Alana.
"Selain cantik ternyata dia juga pemberani."
"Kalau bersatu sama kak Alana kayaknya seru nih."
"Siswa baru nyalinya besar juga."
Bisik-bisik mulai terdengar dari penghuni kantin.
Melihat anggota inti Avegas berjalan memasuki kantin, dengan sigap Bela menjambak rambut Salsa. Dan sesuai rencana gadis berambut sebahu itu mendorongnya hingga terhempas ke kaki Azka. Rencana Bela berhasil, seakan-akan ia yang ternistakan di sini.
Pria tampan tanpa ekpresi itu bergeming, tak berniat menolong Bela, bahkan dengan tega memindahkan kakinya membuat gadis licik itu terpental. Ingin rasanya penghuni kantin tertawa, tapi melihat siapa yang berdiri tak ada yang berani.
Tatapan Azka tertuju pada gadis dengan rambut acak-acakan.
"Dia." Menujuk Salsa. "Jangan ada yang berani menyentuhnya. Dia Babu gue, dan hanya gue yang berhak buli dia," lanjut Azka setelahnya pergi dari sana. Niat hati ingin bersantai malah harus melihat keributan di kantin.
Mata Salsa membulat sempurna mendengar penyatanan Azka barusan. Jika saja Azka bukan anak dari pemilik sekolah ini, mungkin Salsa sudah memakinya habis-habisan. Untung saja ia sudah tahu status Azka dari teman-teman sekelasnya.
Bel pelajaran bunyi 10 menit yang lalu, tetapi Salsa masih berada di kantin karena Rayhan mencegahnya.
"Lo buat masalah apa sama ketua gue?" tanya Rahyan, penasaran akan sosok siswa baru di depannya. Baru beberapa hari masuk sekolah gadis itu sudah mines di mata Azka.
"Kalau nggak salah dia cewek yang waktu itu nolongin Leo deh," celetuk Dito bersandar pada kursi dengan kaki di atas meja.
"Nggak usah tengang gitu kali, kita-kita mah santui aja, ya nggak Ken?" ujar Ricky.
"Terserah lo," sahut Keenan bangkit dari duduknya, menyusul Azka dan Samuel di kelas, walau jam terakhir Free karena ada rapat guru.
Salsa masih diam, waspada dengan ketiga laki-laki tampan di depannya, walau terlihat menyenangkan belum tentu mereka baik.
Entah ada perlu apa ketiga laki-laki itu menahannya di kantin.
...****************...
Jangan lupa like, komen dan Vote.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 236 Episodes
Comments
dahlia matondang
semangat terusss
2023-05-19
0
Vheyayundiana Oversize
wah seru
2023-04-09
0
Suzieqaisara Nazarudin
Disini aku bisa tau ke brutalan sepupu sepupunya dan sahabatnya Alana,di novel "Hai pak guru" itu aku penasaran banget dengan kehidupan keseharian 6 Avegas ini terutama Samuel yg Alana panggil abg El...😁😁
2022-09-07
0