Hari sial di mulai, baru saja Salsa masuki lingkungan sekolah, sebuah tas sudah di lempar kearahnya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Azka. Jangan pikir laki-laki itu melupakan hukuman untuk siswa baru yang berani mengancamnya.
Dengan gelagapan Salsa menangkap tas warna hitam yang sangat berat itu. Dengan langkah pelan dan malas, ia mengikuti langkah laki-laki itu hingga sampai di kelas XI IPA 1. Menyerahkan tas itu pada pemiliknya.
"Lo nyuruh gue?" ucap Azka tak berniat mengambil tasnya yang mengantung di tangan Salsa.
"Ini kan tas, lo," jawab Salsa.
"Bangku gue paling pojok sebelah kanan," ucap Azka dingin setelah itu berlalu meninggalkan Salsa di depan kelasnya.
Dengan wajah menahan kesal, Salsa melempar tas laki-laki itu keatas meja, lalu ia pergi dari sana. Saat akan keluar dari kelas, ia tak sengaja menabrak laki-laki bertubuh lumayan kekar di ambang pintu. Menabrak seseorang sepertinya akan menjadi kebiasannya di sekolah ini. Entah kurang fokus atau memang dirinya di takdirkan menabrak orang agar selalu mendapat masalah.
"Maaf ... maaf... gue nggak sengaja," ujar Salsa mendongak ingin mengetahui siapa lagi yang ia tabrak.
Deg
Masalah apa lagi yang akan menimpanya, hingga harus bertabrakan dengan salah satu anggota inti Avegas. Lama mereka saling tatap hingga Salsa menyadari sesuatu. Tatapan gadis berambut sebahu itu semakin dalam, meneliti penampilan dan wajah laki-laki di depannya.
"Iyan," lirih Salsa.
"Minggir!" perintah laki-laki itu.
Salsa bergeming, masih menatap laki-laki di depannya. Lelaki di depannya sangat mirip dengan orang yang selama ini ia cari. Cinta pertamanya saat SMP dulu, sayangnya laki-laki itu meninggalkannya di Beijing saat penaikan kelas.
"Lo, budek?" Keenan kembali bersuara, menatap Salsa jengah.
Salsa tersenyum, "Nama gue Salsa, nama lo siapa?" Dengan pedenya, Salsa memperkenalkan diri, berharap laki-laki itu mengulurkan tangan untuk menyambut uluran tangannya.
"Nggak nanya," ujar Keenan ketus, mendorong tubuh Salsa agar bisa masuk ke kelas.
"Dia bukan Iyan, Sal. Iyan mah nggak ketus kayak gitu," gumam Salsa berbicara pada dirinya sendiri.
Menyakinkan pada dirinya bahwa laki-laki itu hanya mirip dengan Iyan, bukan Iyan. Iyan nya sosok penyayang dan penuh kelembutan, tak pernah berkata kasar apa lagi menyakiti hatinya. Mereka berpisah karena laki-laki itu pindah sekolah entah kemana.
***
Jam istirahat tiba lima menit yang lalu, lagi-lagi tema sebangkunya menghilang entah kemana. Baru saja akan beranjak, Leo mengampirinya.
"Sal, ke kantin bareng yuk!" ajak Leo.
"Duluan aja, gue ada urusan dulu,"
"Kemana?" tanya Leo.
"Nganterin makanan buat Azka," jawab Salsa setelah itu berlalu pergi, menuju kantin untuk membeli makanan sesuai pesanan laki-laki itu, lalu membawanya ke kelas Azka.
Untuk saat ini tak ada protes dari gadis itu demi kedamaiannya di sekolah, toh hanya seminggu dan baginya ini tidak menyusahkan.
Usai mengantarkan makanan, ia kembali ke kantin untuk mengisi perutnya sendiri. Sama seperti yang lain, ia rela menunggu, daripada harus mengisi meja di sudut ruangan. Mendapat tempat kosong, Salsa mendudukkan dirinya dengan semangkuk baso hangat di tangannya.
"Oh jadi ini, siswa baru yang berani duduk di tempat Azka?"
Salsa tak mengubris, fokus pada makannya walau beberapa siswa duduk di samping juga di hadapannya. Kini yang lebih penting adalah perutnya.
...****************...
Jangan lupa like, komen, dan Vote.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 236 Episodes
Comments
Vheyayundiana Oversize
hh
2023-04-09
0
Suzieqaisara Nazarudin
Hadeehhh Azka ntar uring uringan deh sama Salsa...🤣
2022-09-07
0
Fenty Izzi
siapa???
2022-09-03
0