Curahan Hati Dio

Chika masih nampak lelap tertidur, dengan keringat yang sedikit membasahi dahinya.

Di kamar Dinda ini memang agak panas, karena kurangnya pentilasi dan hanya menggunakan sebuah kipas angin standar untuk penyejuk udara.

Maklum demi pengiritan, Dinda memilih kamar yang paling ekonomis, karena dia harus mengirim sebagian uang gajinya pada Ibunya.

"Halo!"

Suara Dio yang ambil di seberang telepon mengagetkan Dinda.

"Eh, I-iya Pak?!"

"Baiklah, kalau memang Bu Dinda tidak tau di mana keberadaan Chika, maaf sudah mengganggumu malam-malam!" ucap Dio.

"Tunggu Pak!" panggil Dinda saat Dio akan menutup panggilannya.

"Ya?"

"Sebenarnya ... Chika ada bersama saya, tadi dia datang dan katanya ingin menginap di sini!" ucap Dinda.

"Ah, sudah ku duga, kalau begitu aku akan menjemput Chika sekarang juga!" kata Dio.

"Jangan Pak! Chika sudah tidur, sebaiknya besok pagi saja jika Bapak ingin menjemputnya!" sergah Dinda.

Sekarang gantian Dio yang terdiam, entah apa yang di pikirkan oleh laki-laki itu, hanya terdengar suara hembusan nafasnya dari seberang telepon.

"Pak Dio? Masih di situ kah?" tanya Dinda.

"Bu Dinda, maafkan aku, aku sudah tidak tau lagi bagaimana caranya mendidik Chika, saat ini hanya Chika harta saya yang paling berharga!" ungkap Dio.

Suaranya begitu lirih seperti menahan sesuatu dalam hatinya.

Tiba-tiba Dinda merasakan sesuatu yang sesak di dalam dadanya, dia begitu paham apa yang Dio rasakan saat ini, suara dan nada bicaranya mewakili perasaannya, walaupun hanya lewat telepon.

"Sebenarnya, Chika itu anak yang baik, dia hanya butuh perhatian!" kata Dinda.

"Yah, aku tau, andai aku di posisi Chika mungkin aku juga akan seperti dia, tapi apa yang harus aku lakukan? Aku hanyalah seorang Papa yang sangat terbatas, meskipun sudah dengan segenap hati aku memberikan yang terbaik untuk chika!" lanjut Dio, suaranya nampak putus asa.

"Pak Dio jangan menyerah, Chika hanya butuh orang yang menyayanginya dan mendengarkannya!" ujar Dinda.

"Mungkin hanya Bu Dinda yang bisa mendengarkan Chika!" sahut Dio.

Dinda terdiam, entah mengapa dia jadi kasihan pada Dio, menjadi orang tua tunggal sangatlah tidak mudah, apalagi Dio yang harus mengurus Chika dan juga perusahaannya yang sedang berkembang.

"Maaf Bu Dinda, kok aku malah curhat ya, kalau begitu aku titip Chika, besok pagi aku akan menjemputnya, trimakasih!" ucap Dio sebelum menutup teleponnya.

Dinda masih tergugu di tempatnya, Dio yang barusan bicara dengannya seolah berbeda dengan Dio Papanya Chika yang dia kenal sebelumnya.

Dio yang dia kenal sebelumnya adalah Dio yang cuek, kasar, dingin dan arogan, juga terkesan sombong.

Namun Dio yang baru saja bicara dengannya, nampak rapuh, dan lembut, juga sopan bicaranya.

Dinda menepuk kepalanya sendiri, saat terlintas bayangan Dio yang seolah-olah menari-nari di pikirannya.

"Ah! Ayolah Dinda! Kau pikir apa sih?!" gumam Dinda sambil menutup wajahnya dengan bantal, untuk mengusir bayangan Dio dari otaknya.

****

Pagi-pagi Dinda sudah bangun dari tidurnya, setelah itu dia mandi dan berpakaian, lalu memesan sarapan pagi lewat online dari ponselnya.

Sekilas dia melirik ke arah Chika yang nampak masih lelap tertidur.

Dinda kemudian bangun dan duduk di tepi tempat tidur itu, dia mengelus lembut rambut chika yang terurai menutupi sebagian wajahnya.

Dengan lekat Dinda memandang wajah anak itu, wajah yang polos, manis dan tanpa dosa, yang sudah mencuri hatinya.

Entah mengapa Dinda mulai menyayangi Chika.

Chika mulai mengerjapkan matanya, saat dirasakannya ada sentuhan di wajahnya. Dia tersenyum tatkala melihat Dinda sudah duduk disampingnya, dan membelainya dengan penuh kasih sayang.

"Bu Dinda?" tanya Chika.

"Good morning Sayang! Nyenyak tidurnya Semalam?" tanya Dinda balik. Chika menganggukkan kepalanya.

"Semalam aku mimpi Bu, aku mimpi kita jalan-jalan ke luar negeri aku, Bu Dinda, dan Papa!" ucap Chika.

"Oh ya? Benarkah Chika bermimpi seperti itu? Kok Bu Dinda bisa ada di dalam mimpi Chika?" tanya Dinda, ia mengusap pipi Chika dengan lembut.

"Yah mana aku tahu Bu! Tanya saja sama mimpiku!" sahut Dinda yang langsung beranjak bangun dari tidurnya.

Dinda tertawa, kemudian dia merangkul Chika yang mulai duduk bersamanya di tepi tempat tidurnya itu, mereka terlihat sangat akrab dan dekat satu sama lain.

"Sekarang Chika mandi dulu, Setelah itu kita sarapan sama-sama, di bawah ada meja makan nanti kita akan makan di sana, Bu Dinda sudah pesankan bubur ayam untuk kita sarapan!" ucap Dinda.

Chika menganggukkan kepalanya, kemudian dengan semangat dia mengambil koper mininya dan mengeluarkan isinya.

Setelah Chika selesai mandi dan berganti pakaian, Dinda membantu Chika untuk membereskan pakaian di dalam koper Mininya itu.

Setelah itu Dinda menuntun Chika keluar dari kamarnya dengan membawa koper Mini milik Chika, mereka turun ke bawah menuju ke sebuah meja makan yang terletak tidak terlalu jauh dari ruang tamu.

Dua mangkok bubur ayam sudah tersedia diatas meja makan itu.

Beberapa orang penghuni kos juga nampak sedang sarapan di meja makan yang lain, mereka melihat ke arah Dinda yang menuntun Chika duduk untuk sarapan bersama.

"Nimbrung dong!"

Tiba-tiba Asti sudah beringsut duduk di antara mereka.

"Asti? Tumben kau bangun pagi-pagi?!" tanya Dinda.

"Memangnya tidak boleh aku bangun pagi-pagi? Ngomong-ngomong anak ini semalam menginap di kamarmu ya? Duh, kalau sampai kau dituduh penculik Bagaimana Din?" tanya Asti balik.

"Tidak akan! Sebentar lagi Papanya akan datang untuk menjemputnya!" sahut Dinda sambil terus menikmati sarapannya.

Tak lama kemudian Sebuah mobil mewah terparkir di depan rumah kos Dinda.

Kemudian seorang laki-laki tampan turun dan langsung masuk ke dalam rumah kos itu, melihat Dinda dan Chika yang sedang sarapan di meja makan, dia langsung datang menghampirinya dan duduk bergabung bersama dengan mereka.

"Papa?! kok Papa tahu aku ada di tempat kosnya Bu Dinda?" tanya Chika keheranan.

"Tentu saja Papa tahu sayang, karena Papa menyewa mata-mata untuk mengikutimu!" sahut Dio sambil mengacak rambut Chika.

"Eh, maaf Pak Dio, Apakah Bapak mau Saya pesankan bubur ayam lagi?" tanya Dinda.

"Terima kasih Bu Dinda, tapi saya baru sarapan di rumah tadi!" tolak Dio.

Kemudian Dio mengambil sebuah amplop berwarna coklat dari dalam saku celananya, dan menyodorkannya ke arah Dinda.

"Ini uang ganti rugi tiket yang sudah kau beli, juga uang Chika menginap semalam di kamarmu!" ucap Dio.

"Eh, tidak usah Pak Dio! Saya sudah melupakan tiket itu, lagi pula harganya tidak seberapa! Soal Chika yang menginap, saya tidak rugi apapun, jadi kau tak perlu menggantinya!" sergah Dinda sambil mengembalikan amplop itu ke tangan Dio.

"Tapi ..."

"Pokoknya saya tidak mau menerimanya!" tegas Dinda.

Dio Akhirnya menyerah, walau sebenarnya dia sangat ingin memaksa.

"Ehm, kalian ini seperti keluarga kecil saja! Aku jadi seperti obat nyamuk!" celetuk Asti tiba-tiba.

"Ih Tante sirik amat deh!" cetus Chika.

"Chika! Tidak boleh bicara seperti itu!" hardik Dio.

Chika terdiam kemudian melanjutkan aktifitas makannya.

"Chika, nanti sehabis sarapan, Chika ikut Papa pulang ya, Bu Dinda masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan!" ucap Dinda.

"Iya Chika, sudah banyak kau menyusahkan Bu Dinda, kau harus pulang sama Papa!" tambah Dio.

Chika hendak menjawab, namun dengan cepat Dinda menggelengkan kepalanya, menandakan Chika tidak boleh membantah perkataan Papanya.

Akhirnya setelah sarapan, Chika pulang bersama Dio ke rumahnya.

Dinda memandang kepergian mereka dari teras depan rumah kosnya itu, hingga mobil yang dikendarai Dio menghilang di balik tikungan jalan.

"Ehem! Sepertinya ada yang sudah mulai jatuh cinta nih! Jangan lupa ya traktirannya!" goda Asti yang tiba-tiba merangkul Dinda dari belakang.

Bersambung ....

****

Terpopuler

Comments

Whitney

Whitney

lanjuut thor

2022-01-05

0

Sharon

Sharon

lanjuut

2022-01-05

0

Nova Yuliati

Nova Yuliati

pelan2 saja dinda....lama2 chika juga akan jadi anak penurut....apalagi kalau papa dio dab ibu dinda menikah pasti chika akan senang sekali.....😂😂😂

2022-01-05

1

lihat semua
Episodes
1 Kejadian Hari Ini
2 Pertemuan Pertama
3 Bangku Kosong
4 Perkelahian
5 Demo
6 Hujan
7 Mengantar Pulang
8 Singa Arogan
9 Chika Demam
10 Sebuah Permintaan
11 Diam-Diam Pergi
12 Terpaksa Menginap
13 Malam Itu
14 Trauma Masa Lalu
15 Ada Yang Usil
16 Menunda Liburan
17 Semalam Bersama Chika
18 Curahan Hati Dio
19 Kejutan Di Pagi Hari
20 Hadiah
21 Di Mall
22 Banjir
23 Datang Bulan
24 Kedatangan Ibu
25 Di Pesta Itu
26 Kejadian Memalukan
27 Tepat Waktu
28 Masa Lalu Yang Pahit
29 Kencan Pertama
30 Memulai Hubungan Baru
31 Mulai Cinta
32 Pergi Ke Makam
33 Baju Bekas
34 Percaya Padaku
35 Menentang Perjodohan
36 Jadi Perbincangan
37 Makan siang Bersama
38 Dio Kecewa
39 I Love You
40 Ada Yang Datang
41 Tulisan Di Mading
42 Ada Yang Cemburu
43 Meminta Restu
44 Menghadapi Bersama
45 Berenang
46 Memilih Pergi
47 Rindu
48 Restu Ayah
49 Kembali Ke Jakarta
50 Permintaan Pak Dirja
51 Kondisi Dio Dan Chika
52 Perasaan Khawatir
53 Dio Mulai Sadar
54 Kedatangan Pak Frans
55 Kunjungan Dokter Dicky
56 Persiapan Lamaran
57 Pulang Ke Apartemen
58 Menjelang Kedatangan Dio
59 Rencana Pernikahan
60 Curhatan Hati Keyla
61 Undangan
62 Mr. Sam
63 Dio Mulai Posesif
64 Gaun
65 Calon Pengantin
66 Mencari Ibu
67 Ada Apa Dengan Pak Dirja
68 Rahasia Pak Dirja
69 Menjelang Hari H
70 Sebuah Pengakuan
71 Permohonan Maaf
72 Ulang Tahun Chika
73 Kemarahan Keyla
74 Malam Penuh Hujan
75 Darah
76 Nasib Keyla
77 Pesan Bu Lian
78 Mengantar Ke Sekolah
79 Rencana Bulan Madu
80 Memperbaiki Hubungan
81 Putus Asa
82 Pertemuan Keluarga
83 Keputusan Bu Lilis
84 Bulan Madu
85 Janji Dio
86 Saat Chika Di Sekolah
87 Pulang Cepat
88 Keinginan Bu Lian
89 Kembali Mengajar
90 Kapan Hamil
91 Rahasia Keyla
92 Tamparan Untuk Ken
93 Pengakuan Ken
94 Berita Mengejutkan
95 Pertolongan Chika
96 Sikap Dio
97 Keputusan Bu Dita
98 Di Pernikahan Keyla
99 Dingin
100 Dinda Sakit
101 Memberikan Kue
102 Kecemasan Dio
103 Berita Tak Terduga
104 Permintaan Dinda
105 Sepenggal Masa Silam
106 Dinda Mulai Sadar
107 Kunjungan Teman
108 Di Jenguk Para Guru
109 Pulang Kembali Ke Rumah
110 Pengakuan Dio
111 Cerita Pak Dirja Dan Bu Lilis
112 Selamat Tinggal Masa Lalu
113 Nasehat Ken
114 Sebuah Restu
115 Saat Menjemput Sekolah
116 Senyum Seorang Dio
117 Kembali Ke Rumah Sakit
118 Harapan Dinda
119 Lagu Untuk Dinda
120 Belajar Lembut
121 Siapa Yang Masuk Ke Rumah?
122 Ada Yang Aneh
123 Menyimpan Dalam Hati
124 Chika Hilang
125 Sebuah Jebakan
126 Tabir Misteri
127 Ingin Menyelamatkan Chika
128 penyerangan
129 Ken Terluka Parah
130 Pengakuan Keyla
131 Chika Di Perbolehkan Pulang
132 Pengakuan Chika
133 Ken Mulai Sadar
134 Masih Menjadi Misteri
135 Malam Mencekam
136 Membongkar Pintu
137 Suster Anna
138 Berkunjung Ke Rumah Keyla
139 Pernikahan Pak Dirja Dan Bu Lilis
140 Apakah Halusinasi?
141 Berita Bahagia
142 Bayangan Ilusi
143 Sosok Misterius
144 Mulai Curiga
145 Penemuan
146 Yang Tak Terduga
147 Mama Palsu
148 Hampir Tertangkap
149 Penghuni Lain Dalam Rumah
150 Suster Anna Kabur
151 Wanita Misterius
152 Menyelamatkan Dinda
153 Dia Yang Tak Terduga
154 Mulai Tenang
155 Sahabat Dulu
156 Kesedihan Hati Dinda
157 Kondisi Pak Dirja
158 Itikad Baik
159 Siap-Siap Ke Papua
160 Perut Keram
161 Penantian Keyla
162 Dalam Perjalanan
163 Keyla Cemburu
164 Dilema Dio
165 Rencana Pergi
166 Berhasil Kabur
167 Kembali Pulang Ke Jakarta
168 Berita Di Pagi Hari
169 Persiapan Persalinan
170 Menunggu Kelahiran
171 Keyla Mulai Kontraksi
172 Perjuangan Keyla
173 Selamat Datang Baby Girl
174 Konsultasi Dinda
175 Nasib Mr. Sam
176 Dekorasi Kamar Bayi
177 Sinetron
178 Hujan Syahdu
179 Perjuangan Dinda
180 Perawatan Dinda
181 Hadiah Seorang Teman
182 Setelah Lima Hari
183 Ambil Rapot
184 Juara Satu
185 Syukuran
186 Kondisi Bu Lian
187 Berita Menggelegar
188 Selamat Tinggal Bu Lian
189 Pengumuman
Episodes

Updated 189 Episodes

1
Kejadian Hari Ini
2
Pertemuan Pertama
3
Bangku Kosong
4
Perkelahian
5
Demo
6
Hujan
7
Mengantar Pulang
8
Singa Arogan
9
Chika Demam
10
Sebuah Permintaan
11
Diam-Diam Pergi
12
Terpaksa Menginap
13
Malam Itu
14
Trauma Masa Lalu
15
Ada Yang Usil
16
Menunda Liburan
17
Semalam Bersama Chika
18
Curahan Hati Dio
19
Kejutan Di Pagi Hari
20
Hadiah
21
Di Mall
22
Banjir
23
Datang Bulan
24
Kedatangan Ibu
25
Di Pesta Itu
26
Kejadian Memalukan
27
Tepat Waktu
28
Masa Lalu Yang Pahit
29
Kencan Pertama
30
Memulai Hubungan Baru
31
Mulai Cinta
32
Pergi Ke Makam
33
Baju Bekas
34
Percaya Padaku
35
Menentang Perjodohan
36
Jadi Perbincangan
37
Makan siang Bersama
38
Dio Kecewa
39
I Love You
40
Ada Yang Datang
41
Tulisan Di Mading
42
Ada Yang Cemburu
43
Meminta Restu
44
Menghadapi Bersama
45
Berenang
46
Memilih Pergi
47
Rindu
48
Restu Ayah
49
Kembali Ke Jakarta
50
Permintaan Pak Dirja
51
Kondisi Dio Dan Chika
52
Perasaan Khawatir
53
Dio Mulai Sadar
54
Kedatangan Pak Frans
55
Kunjungan Dokter Dicky
56
Persiapan Lamaran
57
Pulang Ke Apartemen
58
Menjelang Kedatangan Dio
59
Rencana Pernikahan
60
Curhatan Hati Keyla
61
Undangan
62
Mr. Sam
63
Dio Mulai Posesif
64
Gaun
65
Calon Pengantin
66
Mencari Ibu
67
Ada Apa Dengan Pak Dirja
68
Rahasia Pak Dirja
69
Menjelang Hari H
70
Sebuah Pengakuan
71
Permohonan Maaf
72
Ulang Tahun Chika
73
Kemarahan Keyla
74
Malam Penuh Hujan
75
Darah
76
Nasib Keyla
77
Pesan Bu Lian
78
Mengantar Ke Sekolah
79
Rencana Bulan Madu
80
Memperbaiki Hubungan
81
Putus Asa
82
Pertemuan Keluarga
83
Keputusan Bu Lilis
84
Bulan Madu
85
Janji Dio
86
Saat Chika Di Sekolah
87
Pulang Cepat
88
Keinginan Bu Lian
89
Kembali Mengajar
90
Kapan Hamil
91
Rahasia Keyla
92
Tamparan Untuk Ken
93
Pengakuan Ken
94
Berita Mengejutkan
95
Pertolongan Chika
96
Sikap Dio
97
Keputusan Bu Dita
98
Di Pernikahan Keyla
99
Dingin
100
Dinda Sakit
101
Memberikan Kue
102
Kecemasan Dio
103
Berita Tak Terduga
104
Permintaan Dinda
105
Sepenggal Masa Silam
106
Dinda Mulai Sadar
107
Kunjungan Teman
108
Di Jenguk Para Guru
109
Pulang Kembali Ke Rumah
110
Pengakuan Dio
111
Cerita Pak Dirja Dan Bu Lilis
112
Selamat Tinggal Masa Lalu
113
Nasehat Ken
114
Sebuah Restu
115
Saat Menjemput Sekolah
116
Senyum Seorang Dio
117
Kembali Ke Rumah Sakit
118
Harapan Dinda
119
Lagu Untuk Dinda
120
Belajar Lembut
121
Siapa Yang Masuk Ke Rumah?
122
Ada Yang Aneh
123
Menyimpan Dalam Hati
124
Chika Hilang
125
Sebuah Jebakan
126
Tabir Misteri
127
Ingin Menyelamatkan Chika
128
penyerangan
129
Ken Terluka Parah
130
Pengakuan Keyla
131
Chika Di Perbolehkan Pulang
132
Pengakuan Chika
133
Ken Mulai Sadar
134
Masih Menjadi Misteri
135
Malam Mencekam
136
Membongkar Pintu
137
Suster Anna
138
Berkunjung Ke Rumah Keyla
139
Pernikahan Pak Dirja Dan Bu Lilis
140
Apakah Halusinasi?
141
Berita Bahagia
142
Bayangan Ilusi
143
Sosok Misterius
144
Mulai Curiga
145
Penemuan
146
Yang Tak Terduga
147
Mama Palsu
148
Hampir Tertangkap
149
Penghuni Lain Dalam Rumah
150
Suster Anna Kabur
151
Wanita Misterius
152
Menyelamatkan Dinda
153
Dia Yang Tak Terduga
154
Mulai Tenang
155
Sahabat Dulu
156
Kesedihan Hati Dinda
157
Kondisi Pak Dirja
158
Itikad Baik
159
Siap-Siap Ke Papua
160
Perut Keram
161
Penantian Keyla
162
Dalam Perjalanan
163
Keyla Cemburu
164
Dilema Dio
165
Rencana Pergi
166
Berhasil Kabur
167
Kembali Pulang Ke Jakarta
168
Berita Di Pagi Hari
169
Persiapan Persalinan
170
Menunggu Kelahiran
171
Keyla Mulai Kontraksi
172
Perjuangan Keyla
173
Selamat Datang Baby Girl
174
Konsultasi Dinda
175
Nasib Mr. Sam
176
Dekorasi Kamar Bayi
177
Sinetron
178
Hujan Syahdu
179
Perjuangan Dinda
180
Perawatan Dinda
181
Hadiah Seorang Teman
182
Setelah Lima Hari
183
Ambil Rapot
184
Juara Satu
185
Syukuran
186
Kondisi Bu Lian
187
Berita Menggelegar
188
Selamat Tinggal Bu Lian
189
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!