Malam itu Dinda berkemas membereskan beberapa pakaiannya, rencananya besok pagi dia akan pulang ke Bandung.
Meskipun dia telah mengatakan pada Chika, kalau dirinya tidak jadi pulang ke Bandung, namun itu hanya alasan saja, supaya anak itu tidak terus mendesaknya untuk ikut dengannya.
Chika memang merepotkan, liburan kali ini Dinda ingin sejenak bebas dari teroran Chika.
Ceklek!
Pintu kamar kos Dinda dibuka dari luar, Asti, teman kos Dinda sudah masuk dan langsung duduk di sampingnya.
"Kau jadi pulang ke Bandung besok Din?" tanya Asti.
"Iya As, lebih cepat lebih baik!" sahut Dinda.
"Belakangan kau selalu disibukkan dengan murid luar biasa mu itu Din, yang tadi mengantarmu pulang ke kosan itu dia kan?" tanya Asti.
"Iya!" sahut Dinda.
"Tadi sempat ku lihat dari atas, Papanya itu ganteng lho Din, kalau aku jadi kamu, aku banyak-banyak cari perhatian deh!" ujar Asti.
"Hmm, kau belum tahu saja sifat aslinya, Bahkan dia lebih menakutkan daripada singa yang kelaparan!" cetus Dinda.
"Masa sih? Aku jadi penasaran! Kapan-kapan kalau dia mengantarmu lagi, aku mau kenalan ah!" sahut Asti.
"Silakan saja, kalau aku sih sudah tidak mau berurusan lagi dengannya, anaknya saja merepotkan! Papanya bahkan lebih merepotkan!" ujar Dinda sambil menutup kopernya, karena dia sudah selesai mengemasi barang dan pakaiannya.
"Hati-hati Din, kau jangan terlalu membencinya nanti kau akan jatuh cinta padanya!" kata Asti.
"Jatuh cinta pada singa galak dan Arogan itu? Bermimpi pun aku tidak pernah!" cetus Dinda.
Asti tertawa mendengar ucapan Dinda, gadis manis berkacamata, yang berprofesi sebagai agen asuransi itu pun kemudian menepuk-nepuk bahu Dinda.
"Ya ya, kita lihat saja nanti! Sudah, aku ngantuk mau balik ke kamarku dulu, besok pagi kalau mau nitip kunci, titip di Ibu Nur dulu ya, barangkali besok aku akan bangun siang!" ujar Asti yang kemudian bangun dari duduknya dan melangkah keluar dari kamar Dinda.
Dinda langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya, setelah semuanya selesai.
Dia kemudian mulai membuka ponselnya dan mencari aplikasi tempat menjual tiket kereta api online.
Besok pagi-pagi Dinda harus segera berangkat ke Bandung, sebelum ada hal-hal yang menghalanginya lagi.
Tring ... Tring ...
Sebuah notifikasi pesan singkat di ponsel Dinda pun berbunyi, Dinda kemudian mulai membuka pesan singkat, yang ternyata dari Pak Roni tersebut.
[Bu Dinda, jangan kelamaan liburannya, ingat rapot murid-murid harus diisi dan harus selesai sebelum masuk sekolah! ]
[Beres Pak!]
"Dasar Pak Roni, tidak bisa melihat orang senang sedikit!" gumam Dinda.
Kemudian Dinda Kembali ke aplikasi tempat penjualan tiket online tersebut, dan dia memesan 1 tiket kereta api untuk besok pagi.
Setelah selesai, Dinda kemudian menutup layar ponselnya dan meletakkannya di atas meja.
Dia mulai mencoba untuk memejamkan matanya, tapi entah kenapa kejadian siang tadi, saat dia diantar pulang oleh Pak Dio dan Chika terbayang-bayang di ingatannya.
Chika memintanya untuk menginap di rumahnya, tapi Dio dengan keras melarangnya, bahkan Dio sampai harus berjanji didepan Chika, untuk tidak mabuk lagi asalkan Chika tidak meminta Dinda lagi untuk menginap di rumahnya.
Mau tidak mau Chika menuruti ucapan Papanya itu, karena ada mengandung janji di dalamnya.
"Kita lihat saja nanti, apakah singa garang itu bisa menepati janjinya pada anaknya sendiri!" gumam Dinda sebelum dia benar-benar memejamkan matanya.
****
Setelah Dinda Bangun tidur, mandi dan berpakaian, dia kemudian mengambil kopernya dan keluar dari kamar kosnya setelah menguncinya.
Setelah itu dia Berjalan ke depan, ada satu kamar yang paling besar milik Bu Nur, ibu kos Dinda itu.
Bu Nur nampak duduk di teras depan kos seperti biasanya.
"Selamat pagi Bu Nur, saya pamit mau pulang ke Bandung, saya mau nitip kunci sebentar, nanti Asti akan mengambilnya!" pamit Dinda sambil menyodorkan kunci kamar kosnya.
"Oh ya sudah, jangan lupa oleh-olehnya ya Din! Memangnya kamu berapa lama menginap di Bandung?" tanya Bu Nur, ibu kos yang berusia hampir separuh baya itu.
"Paling lama lima hari bu, orang dikasih libur cuma satu minggu dari sekolah!" sahut Dinda.
"Ya sudah kamu hati-hati Din!" ucap Bu Nur.
Dinda tersenyum dan kemudian melangkahkan kakinya keluar dari rumah kos itu, dia berjalan kaki sebentar sampai di Jalan Raya depan, untuk naik bemo, sampai ke stasiun yang kebetulan tidak terlalu jauh dari tempat kosnya itu.
Setelah itu Dinda berdiri di depan halte, sambil menunggu bemo yang akan lewat di depannya.
Namun bukannya bemo yang berhenti di depan halte, tapi malah sebuah mobil mewah.
Dinda terkejut saat melihat Dio yang tiba-tiba turun dari dalam mobil itu, dan langsung menghampirinya.
Dia sama sekali tidak menyangka, kalau laki-laki itu akan datang lagi untuk menemuinya.
Tidak ada orang lagi di dalam mobil itu, Chika juga tidak ada di dalam mobil itu.
"Bu Dinda mau kemana? Pasti mau ke Bandung! Kemarin itu kau bohong kan, katanya tidak jadi pergi ke Bandung!" tanya Dio.
"Maaf Pak Dio, mau ke Bandung atau tidak Itu urusan saya! Tidak ada hubungannya dengan bapak!" sahut Dinda.
Dio terdiam mendengar ucapan Dinda, tiba-tiba raut wajahnya sedikit berubah, tidak segarang seperti biasanya.
"Bu Dinda, Chika masih sakit dan sekarang sedang istirahat di rumah, semalam itu badannya panas dan dia mengigau menyebut-nyebut nama Bu Dinda!" ungkap Dio.
"Kenapa Pak Dio tidak membawanya ke dokter?!" tanya Dinda.
"Chika tidak mau ke dokter manapun, dia hanya mau berobat ke dokter Dicky, tapi dokter Dicky baru pulang besok dari Yogyakarta!" jawab Dio.
"Lalu Apa yang bisa saya bantu untuk membantu Chika? Bukankah Pak Dio Ini Papanya?" tanya Dinda.
"Bu Dinda, demi Chika, bersediakah Bu Dinda bermalam sehari saja di rumah saya? Untuk membujuk dia agar mau makan! Aku akan membayarmu mahal, karena semua orang rumah kewalahan menghadapi Chika! Saya juga putus asa!" mohon Dio.
Dinda terhenyak, Baru kali ini Dio memiliki permohonan terhadap Dinda, seolah sikap dingin dan arogannya luntur hanya demi seorang anak.
Dinda diam saja, tidak tahu harus berkata apa, sementara waktu terus berjalan, jam keberangkatan kereta api juga semakin dekat, Dinda benar-benar Dilema.
"Maaf Pak Dio, saya harus berangkat sekarang ke stasiun, atau saya akan ketinggalan kereta!" ucap Dinda.
"Jadi kau akan tetap pulang ke Bandung? kau tidak ingin merawat Chika? Baiklah, aku tidak bisa memaksamu!" sahut Dio, wajahnya terlihat mendung, karena Putri semata wayangnya sakit, dan mengharapkan Dinda datang untuk menemaninya.
Dinda benar-benar Dilema, Sebenarnya dia juga tidak bersungguh-sungguh mengucapkan itu, tidak masalah dia akan ketinggalan kereta atau tidak.
Tapi Chika, saat ini Chika pasti merindukan seseorang yang selalu ada di sisi-nya untuk menemaninya, apalagi saat ini dia dalam keadaan sakit.
Dinda benar-benar bingung, sementara Dio sudah membalikkan tubuhnya dan melangkah gontai menuju ke mobilnya.
"Pak Dio!" panggil Dinda dengan mengumpulkan segenap keberaniannya.
Dio menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Dinda.
"Aku ... aku mau menemani Chika dan merawatnya!" ucap Dinda terbata.
Dio tersenyum dan melangkah mendekati Dinda, yang masih berdiri terpaku di tempatnya.
Bersambung....
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
mamak"e wonk
hari ini saya baca novel sambil nonton serial india d ANYV..mae benci lihat si ahem yg membenci ibu nya..hanya karna ego dalam hati yg tinggi..mmm..
aku koq emosi..😡😡😈
jgn nonton india y??? cem emak..karna KOLESTROL NAIK..??😁😁😅😅
baca NOVELTOON aja..😅😅😘 walawpon sering jengkel jumpa ama mbak cantik yg iklan sopi..COD 🤪🤪
2022-01-31
2
Rini Arismawati
pak Dio Uda bs senyum Pepsodent ya 😬😬
2022-01-30
3
Nova Yuliati
jangan bilang pak dio langsung meluk dinda ya sangking senangnya....modus 😂😂😂
2022-01-02
8