Malam Itu

Dinda terperanjat dari tidurnya, ternyata tanpa sadar tadi dia tertidur di kamar ini.

Sekilas Dinda menengok ke arah jendela kamar itu, matahari telah turun, berubah menjadi senja dengan warna cahayanya yang kemerahan.

Dinda buru-buru bangun dari tidurnya, kemudian cepat-cepat mandi dan berganti pakaian, sore ini dia berjanji akan datang ke kamar Chika untuk menemaninya.

Setelah selesai berpakaian, Dinda kemudian keluar dari kamar itu, lalu menuju ke kamar Chika yang ada di lantai dua.

Saat melewati ruang makan, Dinda melihat Mbak Yuyun nampak sibuk menyiapkan meja makan untuk makan malam.

"Selamat sore Mbak Yuyun, ah, tadi aku ketiduran! Chika pasti menungguku di kamar!" kata Dinda.

"Sore Bu Dinda, tadi Chika memang menanyakan Bu Dinda, tapi saya tidak tega membangunkan Ibu, karena kelihatannya Bu Dinda tertidur pulas!" ujar Mbak Yuyun.

"Iya Mbak, ini juga aku mau ke kamarnya Chika, Papanya Chika Sudah pulang belum?" tanya Dinda.

"Belum Bu, biasanya kalau tidak pulang sore, Pak Dio akan pulang malam karena mampir ke klub malam!" jawab Mbak Yuyun.

"Ke klub malam? Mabuk?" tanya Dinda.

"Iya Bu!" jawab Mbak Yuyun sambil menganggukan kepalanya.

"Keterlaluan singa itu!!" dengus Dinda.

"Apa Bu?? Singa?" tanya Mbak Yuyun.

"Ah sudah! Lupakanlah, sekarang aku mau ke kamar Chika dulu!" sahut Dinda yang langsung berjalan naik ke atas tangga, menuju ke kamar Chika.

Mbak Yuyun terlihat bingung sambil mengerutkan dahinya mendengarkan kata Singa.

Di kamarnya, Chika nampak duduk di tepi ranjangnya, sambil memeluk boneka kesayangannya.

Dia langsung tersenyum saat melihat Dinda membuka pintu kamarnya dan langsung berjalan mendekatinya.

"Chika, maafkan Ibu ya, tadi ibu ketiduran di kamar, habis ac-nya dingin sekali sih! Sampai kebablasan deh!" ucap Dinda ada yang kemudian duduk di samping Chika.

"Wah Asyik! Berarti Bu Dinda betah dong di rumahku!" sahut Chika senang.

"Eh, bukannya begitu juga!"

"Selama ini di sekolah, guru-guru tidak ada yang menyukaiku, karena kata mereka aku ini nakal! Jadi mereka mana ada yang mau ngobrol lama-lama denganku! Tapi kalau Bu Dinda beda, Bu Dinda masih mau mengobrol denganku, dan kadang suka membelaku!" ungkap Chika.

"Chika, mereka Bukannya tidak mau dekat dan mengobrol dengan Chika, tapi coba Chika sedikit berubah, jadi anak baik, sopan, ramah, pasti banyak orang yang akan menyukai Chika!" ucap Dinda.

"Tapi kan banyak teman-teman sekolah yang ngatain aku, Mereka bilang kalau aku ini tidak punya ibu, nakal, bandel, aku sering diledek, makanya aku marah!" sahut Chika.

"Nah, makanya mulai sekarang, Chika berubah, kalau ada yang ngatain Chika, jangan didengarkan, dan jangan terpancing emosi! Pasti mereka akan capek sendiri ngatain Chika!" ujar Dinda.

"Iya deh Bu! Aku lapar, kita makan yuk Bu, ke ruang makan!" ajak chika.

"Lho, memangnya Chika sudah sembuh?" tanya Dinda.

"Sudah dong! Nih pegang saja, aku sudah tidak demam lagi!" sahut Chika sambil menarik tangan Dinda ke arah keningnya.

Dinda tersenyum, karena Chika sudah tidak demam lagi, hati yang gembira ternyata bisa menjadi obat yang manjur.

****

Setelah selesai makan malam, Dinda menemani Chika sebentar di kamarnya, sampai anak itu benar-benar tertidur.

Setelah itu Dinda kemudian beranjak dari kamar Chika lalu menuju ke kamarnya, hari sudah malam, dan dia akan beristirahat di kamar tamu yang sudah disiapkan untuknya itu.

Dio masih belum terlihat pulang ke rumah, karena tidak ada lagi orang yang datang dari tadi.

Dinda bisa merasakan betapa kesepiannya Chika saat Papanya belum pulang, kalau seandainya Dinda tidak ada saat ini, mungkin Chika akan kembali bersedih.

Dinda kemudian masuk ke kamarnya, lalu menghempaskan tubuhnya di tempat tidur besar itu.

Dia mengambil ponselnya dan mulai memencet nomor Bu Lilis ibunya yang tinggal di Bandung.

"Halo Bu, Ibu Belum tidur kan?" tanya Dinda saat panggilan teleponnya diangkat oleh ibunya.

"Belum Nak, Kapan kamu berangkat ke Bandung? Katanya liburan tahun baru kamu mau pulang ke Bandung?" tanya Bu Lilis balik.

"Iya sih Bu, aku juga sudah kangen sama Ibu! Tapi... aku sedang ada urusan disini, kalau urusanku sudah selesai, mungkin aku akan pulang ke Bandung Bu, walaupun tidak lama, karena liburan kali ini waktunya pendek!" jawab Dinda.

"Iya Dinda, Ibu maklum kok, kamu pasti sibuk di Jakarta! Mendengar kabarmu baik-baik saja, Ibu sudah senang kok!" ucap Bu Lilis.

"Iya Bu, disana Ibu juga jangan capek-capek bekerja! kalau aku ada rezeki lebih, aku pasti akan kirimkan uang ke ibu rutin setiap bulan, Jadi Ibu tidak usah capek-capek menjahit pakaian orang lagi!" kata Dinda.

"Iya nak, ibu paham, tapi Ibu juga tidak mau sepenuhnya tergantung padamu, selama Ibu masih sehat dan kuat!" ujar Bu Lilis.

Bruuukkk!!

Tiba-tiba terdengar suara seperti benda berat terjatuh ke bawah, suara itu datang dari arah pintu depan, Dinda sedikit terkejut.

"Maaf Bu, aku tutup dulu teleponnya ya, besok aku pasti akan telepon Ibu lagi! Selamat malam Bu!" ucap Dinda yang langsung menutup sambungan teleponnya.

Dinda kemudian beranjak dari tempat tidurnya, dia membuka pintu kamarnya dan berjalan ke arah depan.

Pintu depan terlihat sudah terbuka, dan Dinda membulatkan matanya saat melihat Dio jatuh tertelungkup di depan pintu itu, Sepertinya dia sedang mabuk berat.

Dari arah luar masuklah Bang Jarwo, security yang menjaga gerbang rumah itu.

"Apa yang terjadi Bang? Pak Dio kenapa?" tanya Dinda cemas.

"Sudah biasa bu, Pak Dio memang sering seperti ini, pulang dalam keadaan mabuk, untung selamat tidak kecelakaan!" sahut Bang Jarwo.

"Aduh! singa ini benar-benar menyusahkan! Kalau begitu, tolong bawa dia ke kamarnya Bang!" ujar Dinda.

"Iya Bu, tolong bantu saya papah dia, Mbak Yuyun di telepon dari tadi nggak diangkat-angkat! Sudah tidur kali!" kata Bang Jarwo.

Dinda menganggukkan kepalanya, kemudian dia membantu Bang Jarwo memapah Dio sampai ke kamarnya, setelah itu mereka membaringkan Dio di atas tempat tidurnya yang besar itu.

"Maaf bu, saya tidak bisa lama-lama! Tidak ada yang jaga gerbang, mana pintu terbuka lagi!" ujar Bang Jarwo yang langsung buru-buru meninggalkan kamar itu.

Dinda masih termangu di tempatnya, sambil menatap Dio yang terlihat mabuk berat, dari mulutnya tercium aroma khas minuman keras, yang sangat menyengat, sehingga Dinda harus menahan nafasnya.

Walaupun Dinda begitu kesal dengan Dio, karena mengingkari janjinya pada Chika untuk tidak mabuk lagi, tapi dalam hati dia merasa kasihan terhadap laki-laki itu, laki-laki yang terlihat rapuh dan putus asa.

Kemeja kantor lengkap masih melekat di tubuhnya, juga sepatu dan kaus kakinya juga belum dilepas.

dengan perlahan Dinda maju dan membuka sepatu serta kaos kaki Dio kemudian dia menyelimuti tubuh laki-laki itu.

"Dasar singa! kalau bukan demi Chika, mana sudi aku melakukan ini padamu! Bisanya hanya menyusahkan anak, pantas saja anaknya begitu menderita lahir batin, orang Papanya seperti singa!" gumam Dinda yang terus merutuki Dio.

Setelah selesai, Dinda kemudian membalikkan tubuhnya hendak keluar dari kamar itu.

Namun tiba-tiba, Dio membuka matanya dan terbangun, kemudian langsung memeluk Dinda dari belakang.

Dinda sangat terkejut dan berusaha melepaskan pelukan Dio, yang sedang tidak sadar itu.

Bersambung...

****

Terpopuler

Comments

citra marwah

citra marwah

singa lg gk sadar dinda nnti kena terkam...gk mau ngaku mlah menyalahkan

2022-06-09

2

Meylin

Meylin

Dinda guru bego org mabuk di samperin🥵🥵

2022-02-08

0

Rini Arismawati

Rini Arismawati

jgn sampai Bu Dinda di terkam singa

2022-01-30

1

lihat semua
Episodes
1 Kejadian Hari Ini
2 Pertemuan Pertama
3 Bangku Kosong
4 Perkelahian
5 Demo
6 Hujan
7 Mengantar Pulang
8 Singa Arogan
9 Chika Demam
10 Sebuah Permintaan
11 Diam-Diam Pergi
12 Terpaksa Menginap
13 Malam Itu
14 Trauma Masa Lalu
15 Ada Yang Usil
16 Menunda Liburan
17 Semalam Bersama Chika
18 Curahan Hati Dio
19 Kejutan Di Pagi Hari
20 Hadiah
21 Di Mall
22 Banjir
23 Datang Bulan
24 Kedatangan Ibu
25 Di Pesta Itu
26 Kejadian Memalukan
27 Tepat Waktu
28 Masa Lalu Yang Pahit
29 Kencan Pertama
30 Memulai Hubungan Baru
31 Mulai Cinta
32 Pergi Ke Makam
33 Baju Bekas
34 Percaya Padaku
35 Menentang Perjodohan
36 Jadi Perbincangan
37 Makan siang Bersama
38 Dio Kecewa
39 I Love You
40 Ada Yang Datang
41 Tulisan Di Mading
42 Ada Yang Cemburu
43 Meminta Restu
44 Menghadapi Bersama
45 Berenang
46 Memilih Pergi
47 Rindu
48 Restu Ayah
49 Kembali Ke Jakarta
50 Permintaan Pak Dirja
51 Kondisi Dio Dan Chika
52 Perasaan Khawatir
53 Dio Mulai Sadar
54 Kedatangan Pak Frans
55 Kunjungan Dokter Dicky
56 Persiapan Lamaran
57 Pulang Ke Apartemen
58 Menjelang Kedatangan Dio
59 Rencana Pernikahan
60 Curhatan Hati Keyla
61 Undangan
62 Mr. Sam
63 Dio Mulai Posesif
64 Gaun
65 Calon Pengantin
66 Mencari Ibu
67 Ada Apa Dengan Pak Dirja
68 Rahasia Pak Dirja
69 Menjelang Hari H
70 Sebuah Pengakuan
71 Permohonan Maaf
72 Ulang Tahun Chika
73 Kemarahan Keyla
74 Malam Penuh Hujan
75 Darah
76 Nasib Keyla
77 Pesan Bu Lian
78 Mengantar Ke Sekolah
79 Rencana Bulan Madu
80 Memperbaiki Hubungan
81 Putus Asa
82 Pertemuan Keluarga
83 Keputusan Bu Lilis
84 Bulan Madu
85 Janji Dio
86 Saat Chika Di Sekolah
87 Pulang Cepat
88 Keinginan Bu Lian
89 Kembali Mengajar
90 Kapan Hamil
91 Rahasia Keyla
92 Tamparan Untuk Ken
93 Pengakuan Ken
94 Berita Mengejutkan
95 Pertolongan Chika
96 Sikap Dio
97 Keputusan Bu Dita
98 Di Pernikahan Keyla
99 Dingin
100 Dinda Sakit
101 Memberikan Kue
102 Kecemasan Dio
103 Berita Tak Terduga
104 Permintaan Dinda
105 Sepenggal Masa Silam
106 Dinda Mulai Sadar
107 Kunjungan Teman
108 Di Jenguk Para Guru
109 Pulang Kembali Ke Rumah
110 Pengakuan Dio
111 Cerita Pak Dirja Dan Bu Lilis
112 Selamat Tinggal Masa Lalu
113 Nasehat Ken
114 Sebuah Restu
115 Saat Menjemput Sekolah
116 Senyum Seorang Dio
117 Kembali Ke Rumah Sakit
118 Harapan Dinda
119 Lagu Untuk Dinda
120 Belajar Lembut
121 Siapa Yang Masuk Ke Rumah?
122 Ada Yang Aneh
123 Menyimpan Dalam Hati
124 Chika Hilang
125 Sebuah Jebakan
126 Tabir Misteri
127 Ingin Menyelamatkan Chika
128 penyerangan
129 Ken Terluka Parah
130 Pengakuan Keyla
131 Chika Di Perbolehkan Pulang
132 Pengakuan Chika
133 Ken Mulai Sadar
134 Masih Menjadi Misteri
135 Malam Mencekam
136 Membongkar Pintu
137 Suster Anna
138 Berkunjung Ke Rumah Keyla
139 Pernikahan Pak Dirja Dan Bu Lilis
140 Apakah Halusinasi?
141 Berita Bahagia
142 Bayangan Ilusi
143 Sosok Misterius
144 Mulai Curiga
145 Penemuan
146 Yang Tak Terduga
147 Mama Palsu
148 Hampir Tertangkap
149 Penghuni Lain Dalam Rumah
150 Suster Anna Kabur
151 Wanita Misterius
152 Menyelamatkan Dinda
153 Dia Yang Tak Terduga
154 Mulai Tenang
155 Sahabat Dulu
156 Kesedihan Hati Dinda
157 Kondisi Pak Dirja
158 Itikad Baik
159 Siap-Siap Ke Papua
160 Perut Keram
161 Penantian Keyla
162 Dalam Perjalanan
163 Keyla Cemburu
164 Dilema Dio
165 Rencana Pergi
166 Berhasil Kabur
167 Kembali Pulang Ke Jakarta
168 Berita Di Pagi Hari
169 Persiapan Persalinan
170 Menunggu Kelahiran
171 Keyla Mulai Kontraksi
172 Perjuangan Keyla
173 Selamat Datang Baby Girl
174 Konsultasi Dinda
175 Nasib Mr. Sam
176 Dekorasi Kamar Bayi
177 Sinetron
178 Hujan Syahdu
179 Perjuangan Dinda
180 Perawatan Dinda
181 Hadiah Seorang Teman
182 Setelah Lima Hari
183 Ambil Rapot
184 Juara Satu
185 Syukuran
186 Kondisi Bu Lian
187 Berita Menggelegar
188 Selamat Tinggal Bu Lian
189 Pengumuman
Episodes

Updated 189 Episodes

1
Kejadian Hari Ini
2
Pertemuan Pertama
3
Bangku Kosong
4
Perkelahian
5
Demo
6
Hujan
7
Mengantar Pulang
8
Singa Arogan
9
Chika Demam
10
Sebuah Permintaan
11
Diam-Diam Pergi
12
Terpaksa Menginap
13
Malam Itu
14
Trauma Masa Lalu
15
Ada Yang Usil
16
Menunda Liburan
17
Semalam Bersama Chika
18
Curahan Hati Dio
19
Kejutan Di Pagi Hari
20
Hadiah
21
Di Mall
22
Banjir
23
Datang Bulan
24
Kedatangan Ibu
25
Di Pesta Itu
26
Kejadian Memalukan
27
Tepat Waktu
28
Masa Lalu Yang Pahit
29
Kencan Pertama
30
Memulai Hubungan Baru
31
Mulai Cinta
32
Pergi Ke Makam
33
Baju Bekas
34
Percaya Padaku
35
Menentang Perjodohan
36
Jadi Perbincangan
37
Makan siang Bersama
38
Dio Kecewa
39
I Love You
40
Ada Yang Datang
41
Tulisan Di Mading
42
Ada Yang Cemburu
43
Meminta Restu
44
Menghadapi Bersama
45
Berenang
46
Memilih Pergi
47
Rindu
48
Restu Ayah
49
Kembali Ke Jakarta
50
Permintaan Pak Dirja
51
Kondisi Dio Dan Chika
52
Perasaan Khawatir
53
Dio Mulai Sadar
54
Kedatangan Pak Frans
55
Kunjungan Dokter Dicky
56
Persiapan Lamaran
57
Pulang Ke Apartemen
58
Menjelang Kedatangan Dio
59
Rencana Pernikahan
60
Curhatan Hati Keyla
61
Undangan
62
Mr. Sam
63
Dio Mulai Posesif
64
Gaun
65
Calon Pengantin
66
Mencari Ibu
67
Ada Apa Dengan Pak Dirja
68
Rahasia Pak Dirja
69
Menjelang Hari H
70
Sebuah Pengakuan
71
Permohonan Maaf
72
Ulang Tahun Chika
73
Kemarahan Keyla
74
Malam Penuh Hujan
75
Darah
76
Nasib Keyla
77
Pesan Bu Lian
78
Mengantar Ke Sekolah
79
Rencana Bulan Madu
80
Memperbaiki Hubungan
81
Putus Asa
82
Pertemuan Keluarga
83
Keputusan Bu Lilis
84
Bulan Madu
85
Janji Dio
86
Saat Chika Di Sekolah
87
Pulang Cepat
88
Keinginan Bu Lian
89
Kembali Mengajar
90
Kapan Hamil
91
Rahasia Keyla
92
Tamparan Untuk Ken
93
Pengakuan Ken
94
Berita Mengejutkan
95
Pertolongan Chika
96
Sikap Dio
97
Keputusan Bu Dita
98
Di Pernikahan Keyla
99
Dingin
100
Dinda Sakit
101
Memberikan Kue
102
Kecemasan Dio
103
Berita Tak Terduga
104
Permintaan Dinda
105
Sepenggal Masa Silam
106
Dinda Mulai Sadar
107
Kunjungan Teman
108
Di Jenguk Para Guru
109
Pulang Kembali Ke Rumah
110
Pengakuan Dio
111
Cerita Pak Dirja Dan Bu Lilis
112
Selamat Tinggal Masa Lalu
113
Nasehat Ken
114
Sebuah Restu
115
Saat Menjemput Sekolah
116
Senyum Seorang Dio
117
Kembali Ke Rumah Sakit
118
Harapan Dinda
119
Lagu Untuk Dinda
120
Belajar Lembut
121
Siapa Yang Masuk Ke Rumah?
122
Ada Yang Aneh
123
Menyimpan Dalam Hati
124
Chika Hilang
125
Sebuah Jebakan
126
Tabir Misteri
127
Ingin Menyelamatkan Chika
128
penyerangan
129
Ken Terluka Parah
130
Pengakuan Keyla
131
Chika Di Perbolehkan Pulang
132
Pengakuan Chika
133
Ken Mulai Sadar
134
Masih Menjadi Misteri
135
Malam Mencekam
136
Membongkar Pintu
137
Suster Anna
138
Berkunjung Ke Rumah Keyla
139
Pernikahan Pak Dirja Dan Bu Lilis
140
Apakah Halusinasi?
141
Berita Bahagia
142
Bayangan Ilusi
143
Sosok Misterius
144
Mulai Curiga
145
Penemuan
146
Yang Tak Terduga
147
Mama Palsu
148
Hampir Tertangkap
149
Penghuni Lain Dalam Rumah
150
Suster Anna Kabur
151
Wanita Misterius
152
Menyelamatkan Dinda
153
Dia Yang Tak Terduga
154
Mulai Tenang
155
Sahabat Dulu
156
Kesedihan Hati Dinda
157
Kondisi Pak Dirja
158
Itikad Baik
159
Siap-Siap Ke Papua
160
Perut Keram
161
Penantian Keyla
162
Dalam Perjalanan
163
Keyla Cemburu
164
Dilema Dio
165
Rencana Pergi
166
Berhasil Kabur
167
Kembali Pulang Ke Jakarta
168
Berita Di Pagi Hari
169
Persiapan Persalinan
170
Menunggu Kelahiran
171
Keyla Mulai Kontraksi
172
Perjuangan Keyla
173
Selamat Datang Baby Girl
174
Konsultasi Dinda
175
Nasib Mr. Sam
176
Dekorasi Kamar Bayi
177
Sinetron
178
Hujan Syahdu
179
Perjuangan Dinda
180
Perawatan Dinda
181
Hadiah Seorang Teman
182
Setelah Lima Hari
183
Ambil Rapot
184
Juara Satu
185
Syukuran
186
Kondisi Bu Lian
187
Berita Menggelegar
188
Selamat Tinggal Bu Lian
189
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!