Bangku Kosong

Hari ini di sekolah ada acara perayaan hari Ibu, setiap murid membawa ibunya masing-masing untuk di bacakan sebuah puisi, yang dikarang oleh para murid.

Dinda masuk ke dalam kelasnya, semua anak-anak murid nampak sangat antusias, namun ada satu bangku yang kosong, hari ini Chika tidak masuk sekolah, mungkin karena Chika tidak punya ibu yang bisa dia bacakan puisi.

Sejenak Dinda tertegun di depan kelasnya, semua murid nampak bersemangat untuk mengikuti perayaan hari Ibu di sekolah, yang akan dimulai sebentar lagi, namun ada salah satu murid yang dengan terpaksa tidak hadir dalam perayaan itu, hanya karena satu alasan, Dia tidak punya ibu.

Ada yang tersentuh di sudut hati Dinda, dia juga pernah merasakan apa yang Chika rasakan saat ini, bedanya Dinda tidak punya ayah, sejak kecil dia selalu di bully karena dia tidak punya ayah, bahkan sampai dia batal menikah, hanya karena alasan dia tidak punya ayah, ini sangat menyedihkan.

"Bu Dinda! Kapan kita mulai acaranya? Orang tua kita sudah menunggu lho di lapangan bawah, kelas yang lain juga sudah berkumpul di bawah!" tanya seorang murid, yang membuyarkan lamunan Dinda.

"Oh iya, sebentar lagi kita akan turun anak-anak! Nanti pada saat kalian tampil, kalian harus fokus pada ibu kalian masing-masing, dan membacanya juga harus lancar, tidak harus panjang, yang penting jelas!" jelas Dinda.

"Jadi kita kapan bisa mulai Bu? Sudah tidak sabar nih ingin tampil di depan mama!" cetus Putri.

"Oke anak-anak, sekarang kalian bisa turun, ingat pesan Ibu tadi ya, jangan grogi dan tetap percaya diri!" ujar Dinda.

"Horeee!!!"

Anak-anak murid kelas satu pun berlari berhamburan keluar kelas, Dinda masih termangu di kelas itu, sambil menatap Bangku Kosong milik Chika.

Kemudian dengan langkah gontai, Dinda keluar dari kelas, dan berjalan menuruni tangga, untuk mengikuti acara perayaan hari Ibu tersebut.

"Bu Dinda!" Panggil seseorang di belakang Dinda.

Dinda menoleh, orang yang memanggilnya ternyata adalah Pak Roni kepala sekolah SD tempatnya mengajar.

"Ada apa Pak Roni? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Dinda.

"Begini bu Dinda, saya baru dapat pesan singkat dari Papanya Chika, Kalau hari ini Chika tidak bisa mengikuti acara di sekolah, minta tolong di absen kan ya Bu!" jawab Pak Roni.

"Baik Pak, walaupun acara ini masuk dalam nilai sekolah, saya akan memberikan pengecualian untuk Chika, karena yang saya dengar, Chika tidak punya ibu!" ucap Dinda.

"Benar Bu, kasihan Chika, sebenarnya dia anak yang cukup pintar, hanya saja tertutup oleh kenakalannya!" ujar Pak Roni.

"Kalau begitu, saya pamit ke bawah dulu ya Pak, anak-anak sudah menunggu saya, mereka tidak sabar untuk tampil!" pamit Dinda. Pak Roni menganggukan kepalanya mempersilahkan.

Dinda kemudian langsung turun ke bawah, mendampingi para murid-muridnya, untuk tampil naik ke atas panggung.

Tiba-tiba Bu Dita, guru kesenian itu, datang tergopoh-gopoh menghampiri Dinda, nafasnya nampak tersengal-sengal, seperti habis berlari dengan jarak jauh, keringat membasahi wajahnya.

"Bu Dinda! Gawat Bu! Itu si Chika baru datang sama seorang suster, datang-datang dia langsung berbuat ulah, dia melempari mobil-mobil yang terparkir pakai batu, suster nya juga kualahan!!" seru Bu Dita.

"Apa?? Chika datang? Tadi Pak Roni baru saja memberitahu, kalau Papanya Chika bilang Chika tidak datang ke sekolah, kenapa tiba-tiba dia datang?" tanya Dinda bingung.

"Ya mana aku tahu bu? Sudah, kau urusi saja tuh murid mu, biar aku yang menunggui anak-anak yang akan tampil, daripada nanti Chika mengganggu anak-anak yang lain!" sergah Bu Dita yang langsung duduk menggantikan posisi Dinda.

Tanpa menunggu, Dinda langsung berjalan cepat menuju ke arah parkiran yang dimaksud oleh Bu Dita tadi.

Dari kejauhan, Dinda melihat Chika yang melempari mobil-mobil dan motor-motor yang terparkir itu, dengan batu-batu Kerikil yang dipungut, tidak jauh dari tempat parkiran itu.

Seorang wanita yang mengenakan seragam suster, nampak kebingungan dan beberapa kali mencegah tindak brutal anak itu.

"Chika!!" teriak Dinda.

Chika menghentikan aksinya, kemudian dia menoleh kearah Dinda, tatapan matanya menyiratkan kemarahan, entah apa yang terjadi dengan anak ini.

Perlahan Dinda mendekati Chika, lalu memegang bahunya yang mungil itu.

"Kalau Chika datang, Kenapa tadi tidak naik ke atas? Kenapa kau melempari mobil dan motor-motor itu dengan batu-batu? Itu kan akan merusak, dan kau pasti akan dimarahi oleh pemilik kendaraan itu!" tanya Dinda.

"Biarkan saja Bu! aku sengaja kok supaya acaranya batal! Aku benci hari ibu!" seru Chika.

Suster yang dari tadi nampak kebingungan, seketika mendekat ke arah Dinda dan Chika.

"Aduh maaf bu guru, padahal dari pagi Papanya sudah wanti-wanti Chika jangan berangkat sekolah, tapi tadi Chika mengancam kalau Saya tidak Mengantar ke sekolah, dia akan mengamuk di rumah, ya terpaksa saya antar dia ke sekolah!" ungkap Suster itu.

Dinda menganggukkan kepalanya, kemudian Dinda menuntun Chika berjalan ke arah lobby, dan kemudian mereka duduk di sana, sang Suster juga mengikuti dari belakang.

"Chika, Ibu tidak suka perbuatanmu barusan, dengan alasan apapun, perbuatanmu itu tetap salah!" tegas Dinda.

"Tapi Bu..."

"Tidak ada alasan apapun! Sekali salah, tetap salah, dan Ibu tidak suka sifat brutal mu yang seperti itu!" cetus Dinda.

"Jadi ibu juga membenci Aku sama seperti yang lain??" tanya Chika sambil berdiri.

"Tidak!"

"Tapi Ibu bilang Ibu tidak suka!"

"Ibu tidak suka perbuatanmu, bukan berarti Ibu membencimu! kau harus paham itu!" ujar Dinda.

Chika diam saja tanpa menjawab lagi ucapan dari Dinda, anak itu hanya diam dengan sorot mata yang terlihat ada ada raut kesedihan dan kekecewaan.

Tiba-tiba turun gerimis, disertai dengan suara petir yang menggelegar, acara yang digelar di lapangan sekolah, tiba-tiba bubar dan dialihkan ke ke aula sekolah.

Dari pintu kaca lobby, yang menembus ke arah parkiran, terlihat sebuah mobil mewah yang terparkir di parkiran itu, kemudian turunlah seorang laki-laki membawa payung setengah berlari menuju ke lobby.

"Chika! kau ini nakal sekali! Papa sudah katakan kau jangan datang ke sekolah! Tapi Kau tidak mendengarkan papa! Apa maumu?? kau selalu saja membuat Papa malu!!" sengit Papanya Chika itu, sambil menjewer telinga Chika, hingga Chika meringis kesakitan.

"Aduh! Sakit Pa! Sakit!!" jerit Chika.

"Ayo pulang!!" Papa Chika langsung menyeret anak itu keluar dari lobby, di ikuti oleh susternya, menembus derasnya hujan yang mulai mengguyur.

Dinda terpana melihat pemandangan di depannya, hatinya tiba-tiba sakit, sangat sakit, sama sakitnya seperti saat dia gagal menikah.

Bersambung ...

****

Terpopuler

Comments

Adiba Shakila Atmarini

Adiba Shakila Atmarini

ceritax bgs..lnjut up

2022-09-05

0

Meylin

Meylin

anak seusia gtu ko kasar kasian lah berarti Dio BPK kejam

2022-02-07

0

LILI SUPARLI

LILI SUPARLI

bu dinda baper...

2022-02-04

1

lihat semua
Episodes
1 Kejadian Hari Ini
2 Pertemuan Pertama
3 Bangku Kosong
4 Perkelahian
5 Demo
6 Hujan
7 Mengantar Pulang
8 Singa Arogan
9 Chika Demam
10 Sebuah Permintaan
11 Diam-Diam Pergi
12 Terpaksa Menginap
13 Malam Itu
14 Trauma Masa Lalu
15 Ada Yang Usil
16 Menunda Liburan
17 Semalam Bersama Chika
18 Curahan Hati Dio
19 Kejutan Di Pagi Hari
20 Hadiah
21 Di Mall
22 Banjir
23 Datang Bulan
24 Kedatangan Ibu
25 Di Pesta Itu
26 Kejadian Memalukan
27 Tepat Waktu
28 Masa Lalu Yang Pahit
29 Kencan Pertama
30 Memulai Hubungan Baru
31 Mulai Cinta
32 Pergi Ke Makam
33 Baju Bekas
34 Percaya Padaku
35 Menentang Perjodohan
36 Jadi Perbincangan
37 Makan siang Bersama
38 Dio Kecewa
39 I Love You
40 Ada Yang Datang
41 Tulisan Di Mading
42 Ada Yang Cemburu
43 Meminta Restu
44 Menghadapi Bersama
45 Berenang
46 Memilih Pergi
47 Rindu
48 Restu Ayah
49 Kembali Ke Jakarta
50 Permintaan Pak Dirja
51 Kondisi Dio Dan Chika
52 Perasaan Khawatir
53 Dio Mulai Sadar
54 Kedatangan Pak Frans
55 Kunjungan Dokter Dicky
56 Persiapan Lamaran
57 Pulang Ke Apartemen
58 Menjelang Kedatangan Dio
59 Rencana Pernikahan
60 Curhatan Hati Keyla
61 Undangan
62 Mr. Sam
63 Dio Mulai Posesif
64 Gaun
65 Calon Pengantin
66 Mencari Ibu
67 Ada Apa Dengan Pak Dirja
68 Rahasia Pak Dirja
69 Menjelang Hari H
70 Sebuah Pengakuan
71 Permohonan Maaf
72 Ulang Tahun Chika
73 Kemarahan Keyla
74 Malam Penuh Hujan
75 Darah
76 Nasib Keyla
77 Pesan Bu Lian
78 Mengantar Ke Sekolah
79 Rencana Bulan Madu
80 Memperbaiki Hubungan
81 Putus Asa
82 Pertemuan Keluarga
83 Keputusan Bu Lilis
84 Bulan Madu
85 Janji Dio
86 Saat Chika Di Sekolah
87 Pulang Cepat
88 Keinginan Bu Lian
89 Kembali Mengajar
90 Kapan Hamil
91 Rahasia Keyla
92 Tamparan Untuk Ken
93 Pengakuan Ken
94 Berita Mengejutkan
95 Pertolongan Chika
96 Sikap Dio
97 Keputusan Bu Dita
98 Di Pernikahan Keyla
99 Dingin
100 Dinda Sakit
101 Memberikan Kue
102 Kecemasan Dio
103 Berita Tak Terduga
104 Permintaan Dinda
105 Sepenggal Masa Silam
106 Dinda Mulai Sadar
107 Kunjungan Teman
108 Di Jenguk Para Guru
109 Pulang Kembali Ke Rumah
110 Pengakuan Dio
111 Cerita Pak Dirja Dan Bu Lilis
112 Selamat Tinggal Masa Lalu
113 Nasehat Ken
114 Sebuah Restu
115 Saat Menjemput Sekolah
116 Senyum Seorang Dio
117 Kembali Ke Rumah Sakit
118 Harapan Dinda
119 Lagu Untuk Dinda
120 Belajar Lembut
121 Siapa Yang Masuk Ke Rumah?
122 Ada Yang Aneh
123 Menyimpan Dalam Hati
124 Chika Hilang
125 Sebuah Jebakan
126 Tabir Misteri
127 Ingin Menyelamatkan Chika
128 penyerangan
129 Ken Terluka Parah
130 Pengakuan Keyla
131 Chika Di Perbolehkan Pulang
132 Pengakuan Chika
133 Ken Mulai Sadar
134 Masih Menjadi Misteri
135 Malam Mencekam
136 Membongkar Pintu
137 Suster Anna
138 Berkunjung Ke Rumah Keyla
139 Pernikahan Pak Dirja Dan Bu Lilis
140 Apakah Halusinasi?
141 Berita Bahagia
142 Bayangan Ilusi
143 Sosok Misterius
144 Mulai Curiga
145 Penemuan
146 Yang Tak Terduga
147 Mama Palsu
148 Hampir Tertangkap
149 Penghuni Lain Dalam Rumah
150 Suster Anna Kabur
151 Wanita Misterius
152 Menyelamatkan Dinda
153 Dia Yang Tak Terduga
154 Mulai Tenang
155 Sahabat Dulu
156 Kesedihan Hati Dinda
157 Kondisi Pak Dirja
158 Itikad Baik
159 Siap-Siap Ke Papua
160 Perut Keram
161 Penantian Keyla
162 Dalam Perjalanan
163 Keyla Cemburu
164 Dilema Dio
165 Rencana Pergi
166 Berhasil Kabur
167 Kembali Pulang Ke Jakarta
168 Berita Di Pagi Hari
169 Persiapan Persalinan
170 Menunggu Kelahiran
171 Keyla Mulai Kontraksi
172 Perjuangan Keyla
173 Selamat Datang Baby Girl
174 Konsultasi Dinda
175 Nasib Mr. Sam
176 Dekorasi Kamar Bayi
177 Sinetron
178 Hujan Syahdu
179 Perjuangan Dinda
180 Perawatan Dinda
181 Hadiah Seorang Teman
182 Setelah Lima Hari
183 Ambil Rapot
184 Juara Satu
185 Syukuran
186 Kondisi Bu Lian
187 Berita Menggelegar
188 Selamat Tinggal Bu Lian
189 Pengumuman
Episodes

Updated 189 Episodes

1
Kejadian Hari Ini
2
Pertemuan Pertama
3
Bangku Kosong
4
Perkelahian
5
Demo
6
Hujan
7
Mengantar Pulang
8
Singa Arogan
9
Chika Demam
10
Sebuah Permintaan
11
Diam-Diam Pergi
12
Terpaksa Menginap
13
Malam Itu
14
Trauma Masa Lalu
15
Ada Yang Usil
16
Menunda Liburan
17
Semalam Bersama Chika
18
Curahan Hati Dio
19
Kejutan Di Pagi Hari
20
Hadiah
21
Di Mall
22
Banjir
23
Datang Bulan
24
Kedatangan Ibu
25
Di Pesta Itu
26
Kejadian Memalukan
27
Tepat Waktu
28
Masa Lalu Yang Pahit
29
Kencan Pertama
30
Memulai Hubungan Baru
31
Mulai Cinta
32
Pergi Ke Makam
33
Baju Bekas
34
Percaya Padaku
35
Menentang Perjodohan
36
Jadi Perbincangan
37
Makan siang Bersama
38
Dio Kecewa
39
I Love You
40
Ada Yang Datang
41
Tulisan Di Mading
42
Ada Yang Cemburu
43
Meminta Restu
44
Menghadapi Bersama
45
Berenang
46
Memilih Pergi
47
Rindu
48
Restu Ayah
49
Kembali Ke Jakarta
50
Permintaan Pak Dirja
51
Kondisi Dio Dan Chika
52
Perasaan Khawatir
53
Dio Mulai Sadar
54
Kedatangan Pak Frans
55
Kunjungan Dokter Dicky
56
Persiapan Lamaran
57
Pulang Ke Apartemen
58
Menjelang Kedatangan Dio
59
Rencana Pernikahan
60
Curhatan Hati Keyla
61
Undangan
62
Mr. Sam
63
Dio Mulai Posesif
64
Gaun
65
Calon Pengantin
66
Mencari Ibu
67
Ada Apa Dengan Pak Dirja
68
Rahasia Pak Dirja
69
Menjelang Hari H
70
Sebuah Pengakuan
71
Permohonan Maaf
72
Ulang Tahun Chika
73
Kemarahan Keyla
74
Malam Penuh Hujan
75
Darah
76
Nasib Keyla
77
Pesan Bu Lian
78
Mengantar Ke Sekolah
79
Rencana Bulan Madu
80
Memperbaiki Hubungan
81
Putus Asa
82
Pertemuan Keluarga
83
Keputusan Bu Lilis
84
Bulan Madu
85
Janji Dio
86
Saat Chika Di Sekolah
87
Pulang Cepat
88
Keinginan Bu Lian
89
Kembali Mengajar
90
Kapan Hamil
91
Rahasia Keyla
92
Tamparan Untuk Ken
93
Pengakuan Ken
94
Berita Mengejutkan
95
Pertolongan Chika
96
Sikap Dio
97
Keputusan Bu Dita
98
Di Pernikahan Keyla
99
Dingin
100
Dinda Sakit
101
Memberikan Kue
102
Kecemasan Dio
103
Berita Tak Terduga
104
Permintaan Dinda
105
Sepenggal Masa Silam
106
Dinda Mulai Sadar
107
Kunjungan Teman
108
Di Jenguk Para Guru
109
Pulang Kembali Ke Rumah
110
Pengakuan Dio
111
Cerita Pak Dirja Dan Bu Lilis
112
Selamat Tinggal Masa Lalu
113
Nasehat Ken
114
Sebuah Restu
115
Saat Menjemput Sekolah
116
Senyum Seorang Dio
117
Kembali Ke Rumah Sakit
118
Harapan Dinda
119
Lagu Untuk Dinda
120
Belajar Lembut
121
Siapa Yang Masuk Ke Rumah?
122
Ada Yang Aneh
123
Menyimpan Dalam Hati
124
Chika Hilang
125
Sebuah Jebakan
126
Tabir Misteri
127
Ingin Menyelamatkan Chika
128
penyerangan
129
Ken Terluka Parah
130
Pengakuan Keyla
131
Chika Di Perbolehkan Pulang
132
Pengakuan Chika
133
Ken Mulai Sadar
134
Masih Menjadi Misteri
135
Malam Mencekam
136
Membongkar Pintu
137
Suster Anna
138
Berkunjung Ke Rumah Keyla
139
Pernikahan Pak Dirja Dan Bu Lilis
140
Apakah Halusinasi?
141
Berita Bahagia
142
Bayangan Ilusi
143
Sosok Misterius
144
Mulai Curiga
145
Penemuan
146
Yang Tak Terduga
147
Mama Palsu
148
Hampir Tertangkap
149
Penghuni Lain Dalam Rumah
150
Suster Anna Kabur
151
Wanita Misterius
152
Menyelamatkan Dinda
153
Dia Yang Tak Terduga
154
Mulai Tenang
155
Sahabat Dulu
156
Kesedihan Hati Dinda
157
Kondisi Pak Dirja
158
Itikad Baik
159
Siap-Siap Ke Papua
160
Perut Keram
161
Penantian Keyla
162
Dalam Perjalanan
163
Keyla Cemburu
164
Dilema Dio
165
Rencana Pergi
166
Berhasil Kabur
167
Kembali Pulang Ke Jakarta
168
Berita Di Pagi Hari
169
Persiapan Persalinan
170
Menunggu Kelahiran
171
Keyla Mulai Kontraksi
172
Perjuangan Keyla
173
Selamat Datang Baby Girl
174
Konsultasi Dinda
175
Nasib Mr. Sam
176
Dekorasi Kamar Bayi
177
Sinetron
178
Hujan Syahdu
179
Perjuangan Dinda
180
Perawatan Dinda
181
Hadiah Seorang Teman
182
Setelah Lima Hari
183
Ambil Rapot
184
Juara Satu
185
Syukuran
186
Kondisi Bu Lian
187
Berita Menggelegar
188
Selamat Tinggal Bu Lian
189
Pengumuman

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!