Dinda menjadi sedikit risih karena tatapan Dio yang begitu tajam dan dalam menatapnya, seolah seperti singa yang hendak menelannya hidup-hidup.
Dinda menunduk tidak berani menatap mata itu, mata yang membuat darahnya sedikit berdesir.
"Selama ini tidak pernah ada yang memperdulikan aku, mau aku mabuk atau tidak, aku perhatian atau tidak dengan anakku, atau aku mau berbuat apapun! Tapi, kenapa kau berani mempertanyakan itu padaku?" tanya Dio, yang masih terus menatap lurus ke arah Dinda.
"Eh, itu karena saya kasihan melihat Chika, seharusnya anak sekecil Chika, mendapatkan banyak perhatian dan kasih sayang dari anda selaku Papanya, tapi sepertinya..." Dinda menghentikan ucapannya.
"Stop mengurusi hidup orang lain! Chika itu anakku, aku tahu apa yang harus aku lakukan padanya! Permisi!" ujar Dio yang langsung masuk ke dalam mobilnya, dan menyalakan mesin mobilnya itu.
Dinda tertegun melihat sikap dingin Dio, namun Dinda yakin kalau jauh dilubuk hati Dio, dia tidak pernah punya maksud buruk terhadap Chika, terlihat dari wajah khawatir yang terpancar dari wajahnya, saat melihat Chika sakit.
Sebuah tepukan lembut mendarat di bahu Dinda, Dinda sedikit terkejut dan langsung menoleh ke belakang.
Bu Dita sudah berdiri di belakangnya sambil tersenyum menggodanya.
"Duh sampai segitunya memandang Papanya Chika, aku maklum sih, Papanya Chika itu memang ganteng banget, walaupun dia duda, tapi pesonanya tidak kalah dengan perjaka!" ujar Bu Dita.
"Bu Dita apaan sih? Tadi itu aku membawakan tas Chika yang ketinggalan, karena papanya sedang menggendong Chika ke parkiran mobilnya, jangan salah paham deh bu!" tukas Dinda.
"Belakangan ini, Chika selalu menjadi murid spesialmu, ku lihat Kau sangat perhatian dan sayang pada anak itu! Sepertinya akan ada ada benih-benih yang mulai bertumbuh mekar!" goda Bu Dita. Dinda semakin keki.
"Sudah deh Bu Dita, Aku buru-buru mau pulang ke kosan!" sahut Dinda yang langsung berjalan meninggalkan Bu Dita, yang terdengar tertawa cekikikan menggodanya.
Dinda terus berjalan sampai ke depan gerbang, kemudian dia berbelok menuju ke tempat kosannya.
Tin ... Tin ...
Suara klakson mobil mengagetkan Dinda, mata Dinda membola saat menoleh, dan melihat mobil siapa yang berhenti tepat di sampingnya.
"Ken?!" pekik Dinda tertahan.
Ken, mantan tunangan Dinda, yang pernah membuat Dinda sakit hati karena membatalkan pernikahannya secara sepihak, terlihat turun dari dalam mobilnya.
Dia langsung berlari mengejar Dinda dan berdiri tepat di hadapannya.
"Dinda please, Berikan aku kesempatan bicara, aku sangat ingin bicara padamu Dinda! Berikan aku waktu, aku hanya butuh bicara padamu!" ujar Ken sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya, sebagai tanda permohonan.
"Kau mau bicara apa lagi Ken? Aku muak melihat wajahmu! Sekarang minggir! Aku mau pulang!" berang Dinda.
"Dinda, asal kau tahu, aku begitu sangat menyesal atas apa yang telah aku perbuat padamu, sekarang Ijinkan aku untuk memperbaiki semuanya! Aku benar-benar menyesal!" ucap Ken.
"Ken, asal kau tahu, aku sudah memaafkanmu, atas apa yang pernah kau lakukan padaku dan keluargaku! Tapi aku tidak akan pernah bisa untuk kembali lagi padamu! Kau ingat itu!" cetus Dinda yang langsung melangkah pergi dari tempatnya.
Dengan cepat Ken berlari mengejar Dinda, dan langsung mencekal tangannya dengan keras.
"Apakah begitu mudahnya Kau melupakan aku? Bukankah kau begitu mencintai aku? Jawab Dinda!" seru Ken sambil memegang keras tangan Dinda, hingga Dinda meringis.
"Lepaskan Ken!" sengit Dinda yang berusaha untuk melepaskan cekatan tangan Ken.
"Tidak akan! Sebelum kau memberikan kesempatan aku untuk bicara!" sahut Ken.
Buuggghh!!
Tiba-tiba sebuah tonjokan mendarat di wajah Ken, hingga pria itu jatuh tersungkur.
Dio tiba-tiba datang dari arah belakang mereka, mobilnya berhenti di tepi jalan itu, tidak jauh dari tempat mereka.
"Seorang laki-laki sejati tidak akan pernah berbuat kasar pada wanita!" seru Dio. Ucapannya begitu dalam, namun datar.
"Siapa kau berani mencampuri urusan ku?!" tanya Ken sambil berusaha bangkit dari posisinya.
Darah terlihat sudah menetes dari sudut bibir Ken.
"Aku adalah orang tua murid dari wanita itu, dan sebagai orang tua murid, aku tidak akan membiarkan kau menyentuh guru anakku! Camkan itu!" sahut Dio.
"Oke! Tapi kau ingat, ini belum selesai!" dengus Ken, yang kemudian berjalan kearah mobilnya yang terparkir, kemudian dia langsung melajukan nya dengan kecepatan tinggi meninggalkan tempat itu.
"Dasar pengecut!!" umpat Dio.
"Terima kasih Pak Dio! Anda sudah menyelamatkan saya!" ucap Dinda.
"Bukan aku yang mau menyelamatkanmu! Tapi Chika anakku yang melihat kau dikasari oleh laki-laki itu!" sahut Dio.
Sekilas Dinda melirik ke arah mobil Dio, dari kaca jendela mobil, Chika melambaikan tangannya.
"Bu Dinda ayo sini!" Panggil Chika.
"Naik kedalam mobil Bu! Aku tidak bisa menolak permintaan putriku, apalagi dia sedang demam!" ujar Dio.
dengan refleks Dio menarik tangan Dinda berjalan ke arah mobilnya.
"Eh?!"
Dinda merasa kikuk, namun dia juga tidak bisa menolak.
Dio kemudian membukakan pintu mobil, dan meminta Dinda agar masuk ke dalam mobil itu.
Dinda yang tidak bisa menolak karena tiba-tiba lidahnya terasa kelu, mau tidak mau mengikuti perintah Dio dan masuk ke dalam mobilnya itu.
"Papa, antarkan Bu Dinda pulang sampai rumah!" kata Chika.
"Ehm, Bu Dinda turun di depan gang saja! Bukankah Chika harus ke Dokter?" tukas Dinda sungkan.
"Chika akan dirawat di rumah saja, karena dokter kesayangan Chika, masih liburan ke Jogjakarta!" ujar Dio.
"Oh ..."
Dinda tak bisa lagi beralasan, dan membiarkan Chika dan Papanya mengantarnya sampai di tempat kosannya.
"Bu Dinda liburan ini mau kemana?" tanya Chika yang masih setengah berbaring di jok depan mobilnya itu.
"Bu Dinda mau pulang ke Bandung, mau ke rumah Ibunya Bu Dinda!" jawab Dinda.
"Yaaaah!" terdengar nada kecewa dari mulut Chika.
"Kau tenang saja Chika, Papa akan mengajakmu jalan-jalan ke luar negeri, ke Disneyland, seperti yang Chika inginkan!" ujar Dio cepat.
"Bosan!!" cetus Chika.
"Lalu kau mau kemana??" tanya Dio.
"Ikut Bu Dinda pulang ke Bandung!" sahut Chika.
Ciiiiit!!
Tiba-tiba Dio menginjak pedal rem nya mendadak, dan menghentikan mobilnya.
"Tidak!!" cetus Dio singkat.
"Papa jahat!!" teriak Chika.
Dinda kebingungan melihat perdebatan antara papa dan anak itu, dia bingung apa yang harus dilakukannya.
Dalam hati dia menyesal, sudah mengatakan pada Chika kalau dia akan pulang ke Bandung.
"Maaf, sepertinya Bu Dinda tidak jadi pulang ke Bandung Chika, Bu Dinda akan di tempat kosan Bu Dinda saja!" ucap Dinda untuk menetralkan suasana.
"Yeeeaaaay! Kalau begitu, Bu Dinda harus menginap di rumahku!" seru Chika senang.
Dio langsung melotot ke arah Chika.
Bersambung ...
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 189 Episodes
Comments
Maria Agustina Bungalay
papa Dio dilema
2022-05-21
1
Mom F
bagus bgd ceritanya thor beda dri yg lain..
cemunguuuut...
2022-02-10
1
LILI SUPARLI
sepertinya chika sang sutradara cinta...
2022-02-04
4