Mentari pagi kini kembali menyapa lahir kekaisaran Xiangyang ini, salju turun dengan dengan cukup deras menujukan badai salju tak akan berakhir dalam waktu singkat,
Saat ini Chen Mian Li duduk diam di gazebo sembari menatap kesunyian taman yang tertutup salju yang memutih, memang tak ada yang menarik dari ini, hanya saja untuk beberapa saat Mian Li memang cukup menikmati ketenangan ini, hidup dengan nyaman Tampa harus memikirkan sebuah kematian di hari esok,
Ia masih terdiam sembari menatap taman kosong itu, tangan kecilnya terulur untuk mengambil teh yang baru saja di tuang oleh Fei yang, teh hangat di cuaca yang di ingin, sangat membantu mengusir rasa dingin karena hujan salju ini
Jangan lewatkan sebuah buku kultivasi yang berada di tangannya, buku tua ini adalah benda yang ia temukan saat membukakan mata, buku ini akan sangat berguna untuk di masa depan, anggap saja ini sebagai kompensasi dari dewa karena memberikanya tubuh lemah
“Pakailah jubah bulu rubah ini nona, musim salju di awal seperti ini akan terasa sangat dingin” Fei yang memasangkan bulu rubah di pundak junjungannya,
Mian li menyuruh Fei Yang duduk di dekatnya, dan mengobrol ringan menanyai apa saja yang tidak bisa di lakukan permaisuri ini, tubuh ini terlalu lemah hal itu membuatnya harus berhati hati,
Karena tidak bisa melakukan apapun maka akan lebih baik menyusun banyak rencana untuk di lakukan jika tubuhnya pulih, memastikan jika istana heboh sepanjang hari
Jangan salah sangka ia bukan sedang berusaha untuk mendapatkan perhatian kecil dari kaisar, Ia hanya tak ingin terjebak di kehidupan seperti ini.
Seorang gadis berumur 14 tahun Nampak berlari dengan girang menuju gazebo dan langsung memamerkan senyum lebar serta gigi putihnya, Mian li diam sejenak mencari di memori milik tubuh ini,
Ia bertanya tanya siapakah gerangan gadis ceria yang berada di hadapannya ini, gadis cantik menggunakan hanfu berwarna merah muda dan terlihat begitu cocok dengan tubuh langsing dan kulit seputih susu
Ah ternyata dia Xian Zi saudara ke 6 kaisar dari selir janda ke 3, gadis ini adalah teman Mian Li selama berada di istana, hanya Xian Zi yang bisa menerima Mian Li dengan begitu tulus, Xian Zi gadis yang begitu ceria meski ia sudah di tinggalkan ibunya sejak kecil
Pertarungan wanita istana memang cukup sengit bahkan mereka tampa ragu untuk membunuh, Min menghela nafas pelan, nasib Xian Zi tak jauh lebih baik darinya,di tinggal ibu saat masih kecil sangatlah tidak menyenangkan baiklah mulai hari ini Min memperlakukan gadis ini dengan baik
“Adik ini menyapa kakak ipar, bagai mana keadaan mu” Xan Zi berucap dengan pelan, bagai manapun ia adalah putri kekaisaran ini, sejak kecil tentu mereka telah di ajarkan etika putri bangsawan
“Duduk lah A zi, lama tak berjumpa, membuat kakak merindukan mu”
Karena gadis ini adalah teman Mian Li di masa lalu ia tak perlu merasa cemas, menguji kesetiaan dan ketulusan seseorang adalah saat diri berada di titik bawah, jika ia teman dan saudara yang tulus maka ia akan bertahan, jika tidak maka memilih untuk meninggalkan dan menjauh
“Adik ini juga sangat merindukan mu” Ucap Xian Zi Memeluk Mian li, hal ini membuatnya meringis pelan, luka cambukan seminggu yang lalu belum sepenuhnya sembuh dan bocah ini malah menekannya menyakitkan
“Apakah mereka menunggu mu lagi?"
“Ampun putri, keadaan permaisuri sekarang sedang kurang sehat, lukanya juga belum sepenuhnya sembuh” Fei yang bersuara saat melihat perubahan wajah sang permaisuri
“Ah maaf kan aku tak bisa membantu mu, A Zi tak bisa membantu kakak ipar”
Ia sudah mendengar jika kakak iparnya jatuh koma beberapa hari ini, saat itu ia di hukum karena tampa sengaja menjatuhkan pangeran kecil ke danau saat bermain, ia di kurung di kediaman dan setelahnya akan kembali di kirim ke akademi untuk melanjutkan pendidikan,
Mengingat usianya yang sudah mencukupi ia harus meninggalkan istana, begitu lah nasibnya, dengan alasan pelajaran ia harus meninggalkan rumahnya, pergi ke akademi satu dan yang lainya hanya untuk belajar dan kali ini ia akan pergi ke sebuah akademi yang terletak cukup jauh dari istana
“Ah tak apa, A Zi, jangan menangis semua baik baik saja, aku baik baik saja, ini bukan kesalahan mu”
“A Zi menyesal, karena tak ada di saat kakak ipar di tindas oleh para putri kejam itu”
“A Zi tak perlu menyalakan diri sendiri, kita berada di istana selama bertahun tahun, aku sudah biasa, kau pun juga tau bukan bagai mana cara bermain orang orang ini”
Mian li memeluk putri dengan lembut, ingatan milik Mian Li mengatakan jika ia harus menjaga putri malang ini, ia sudah menjalani kehidupan yang sulit sejak kecil ia tak ingin adiknya menanggung derita lebih banyak lagi
“Putri, kereta anda sudah siap, dan sudah waktunya berangkat” seorang pelayan menganggu kehangatan keduanya
“A Zi akan pergi lagi, A Zi harap kakak ipar baik baik saja di sini A Zi akan kembali tahun depan A Zi harus menjadi sarjana yang berbakat agar mendiang ibu selir dan ayah kaisar bangga” Ucapnya memeluk Mian li, setelah membungkuk beberapa derajat Xian Zi berjalan pelan meninggalkan valium menuju kereta kuda yang sudah menantinya sejak tadi
Mian Li menghela nafas pelan dan kembali menatap derasnya salju, ia menyesap tehnya pelan, suasana terlalu tenang membuat pikirannya kembali melayang mengingat kehidupanya di dunia moderen,
Bagai mana bisa ia begitu percaya pada pak tua bajingan yang bahkan telah memperalat dan membunuhnya, sungguh sial bahkan di masa ini pun nasibnya tak begitu baik,ia hanya di kenal sebagai gadis sampah yang tak memiliki kemampuan,
Tunggulah tanggal mainnya maka mulut besar tak berguna kalian akan ku bungkam
Fei yang melihat wajah junjungan yang menggelap membuatnya bergidik ngeri,
"Nona Hari sudah hampir gelap dan cuaca juga semakin dingin, akan lebih baik kita kembali ke kediaman"
Fei Yang berucap, sang junjungan sudah berada di sini dalam waktu yang cukup lama, duduk diam sembari menatap hamparan salju yang memutih,
Karena sore sudah menyapa maka akan lebih baik meminta junjungannya masuk, udara akan menjadi begitu dingin di malam hari, dan ia tak ingin junjungannya jatuh sakit
"Baiklah, minta pelayan menyiapkan air mandi, setelah ini aku akan segera beristirahat"
Memang, jika di ingat mungkin ia sudah duduk di sini selama beberapa jam, hanya duduk diam, membaca dan terkadang hanya melihat hamparan salju
Semua tak begitu menarik sebenarnya, karena saat ia menatap salju tatapan itu hanyalah sebuah kekosongan, pikirannya melayang buana mencari jawaban atas segala pertanyaan yang selalu berada di dalam benaknya
"Baik nona"
Fei yang mengguk patuh, sudah hampir malam, mandi makan malam dan beristirahat, itu adalah hal yang terbaik untuk saat ini, tubuh sang junjungan masih begitu lemah, jika di paksakan lebih lama maka ia kahwatir jika junjungannya akan tumbang
Sejak bangunannya dari koma beberapa hari yang lalu sang junjungan terlihat sangat aneh dan sangat bertolak belakang dengan sifat lembut permaisuri li yang ia ketahui selama ini
Fei yang merasakan perubahan itu, ia adalah orang yang berada di sisi Permaisuri Li sedari muda, segala perubahan itu adalah hal yang tak pernah ia duga, namun ia merasa lega dan bahagia untuk itu
setelah bertahun tahun diam dan membiarkan siapapun menindas mereka, namun kali ini nonanya bertindak tegas, menujukan otoritasnya sebagai seorang permaisuri
Karena para budak itu melawannya maka sang nona menjualnya, Fei yang tak menyangka jika sang junjungan benar benar melakukan apa yang ia katakan, awalnya ia berfikir jika sang junjungan hanya menggertak pelayan tak tau diri itu
"Huh hari yang melelahkan, karena masih ada hari esok mari menyimpan tenaga terlebih dahulu, karena kehidupan di hari esok akan jauh lebih berat dari ini"
Mian Li bergumam sembari melangkah masuk ke dalam kediaman, tak ada yang bisa ia lakukan dan tak ada gunanya sebuah rasa sesal, ia hanya perlu melanjutkan hidup dan memperbaikinya
"Semangat, kamu pasti bisa, orang orang kuno ini bukan lawan mu"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 155 Episodes
Comments
Monalisa Oktaviana Sinaga
tinggalkan kaisar bodoh itu
2022-08-02
3
Yuli Yanti
🌹❤️🌹
2022-05-08
1
yudi
🌹
2022-05-08
1